Makalah : PENDIDIKAN DI MASA ROSULULLAH SAW

PENDIDIKAN DI MASA ROSULULLAH SAW
makalah ini dibuat guna memenuhi tugas
mata kuliah : Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Dra. Hj. Fatikhah., M.Ag











Kelas F

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) PEKALONGAN
2018









BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang Masalah
Dalam sejarah Islam, pendidikan adalah bagian yang tidak bisa terlepas dari sejarah Islam, karena pendidikan Islam masa lampau terdapat relevansi yang signifikan dengan aspek-aspek ajaran islam. Sejak permulaan kemunculan Islam dari zaman Rosulullah, Islam telah dibangun dan dikembangkan berdasarkan universalitas Islam, tidak terbelah oleh satu aspek dengan aspek lainnya. Dalam situasi itulah terselip aspek pendidikan, menjadi salah satu aspek fundamental yang berguna dalam membangun peradaban Islam. Sejak Islam disyiarkan di Mekkah, unsur dakwah, politik dan pendidikan berada pada satu poros.
Dakwah, politik dan pendidikan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan dalam penyebaran Islam. Demikian juga pada periode Madinah. Pada masa  tersebut unsur politik lebih tampak daripada periode sebelumnya, tetapi politik dibangun selalu beriringan dengan penanaman pendidikan Islam. Di dalam penanaman pendidikan disinergikan dengan politik, terdapat dakwah didalamnya. Dari kejadian itulah ketiga unsur tersebut selalu dikembangkan oleh Rosulullah secara beriringan.
2.      Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kondisi sosial budaya, ekonomi, politik, keberagamaan dan pendidikan masyarakat arab sebelum islam ?
2.      Bagaimana pendidikan Islam masa Rosulullah SAW, pada periode Mekkah ?
3.      Bagaimana pendidikan Islam masa Rosulullah SAW, pada periode Madinah ?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kondisi Sosial Budaya, Ekonomi, Politik, Keberagamaan, dan Pendidikan Masyarakat Arab sebelum Islam.
1.      Kondisi sosial  budaya pada zaman Rasulullah
Masyarakat Arab sebelum islam disebut masyarakat Jahiliyyah, masyarakat jahiliyyah menurut philip k. Hitti, adalah suatu masyarakat yang dikenal dengan’’ masa kebodohan’’. ‘’ketidaktahuan’’ atau ‘’kebiadaban’’. Diantara perilaku hina masyarakat jahiliyyah terhadap anak perempuan adalah perbuatan menanam bayi perempuan hidup-hidup karena takut terhadap hinaan atau noda. Motif masyarakat kelas bawah melakukan hal yang sama karena takut jatuh miskin (fakir), terutama dilingkungan Bani Asad dan Tamim. Sementara anak laki-laki diperlakukan dengan kasih sayang kecuali kaum dhu’afa. Dikalangan kaum dhu’afa mereka membunuh anak laki-laki karena takut miskin.
2.      Kondisi Ekonomi pada masa Rasulullah
Menurut Abudin Nata dan Fauzan, dalam hal perekonomian bangsa arab pra-Islam berada dalam kondisi kesesatan, terlihat dari sikap mereka dalam mehalalkan segala cara untuk mendapatkan uang atu sesuatu yang diperlukan. Seperti mencuri, berjudi, meraampok. Menipu, memeras dan melipatgandakan bunga (riba) kepada orang yang meminjam uang kepadanya.
3.      Kondisi Politik pada masa Rasulullah
Kesesatan dalam bidang politik antara lain terlihat sikap mereka (para penguasa) yang diktator, otoriter,zalim, dan korup. Dengan sikapnya demikian, mereka menentukan apa saja yang dikehendakinya tanpa mempertimbangkan akibatnya bagi masyarakat. Mereka bertindak tanpa batas, menindas rakyatnya serta berbuat  apa saja yang menguntungkan kelangsungan kekuasaanya.
4.      Kondisi Keberagamaan pada masa Rasulullah
Ajaran agam Allah yang di bawa dan disarankan oleh Nabi sebelumnya makin lama makin luntur, dan cahayanya makin suram. Ajaran agama yang berubah-rubah menjadi agama paganisme yang sulit dipahami dan menimbulkan pencampuradukan antara Tuhan dan Manusia.
5.      Kondisi Pendidikan pada masa Rasulullah
Ilmu yang mereka kenal saat itu terbagi tiga bidang ilmu pengetahuan. Pertama, ilmu tentang Nasab (keturunan), sejarah, dan perbandingan agama. Kedua, ilmu Rukyah (mimpi), dalam bidang ini pada masa jahiliyyah, Abu bakar dikenal sebagai pentakbir mimpi, sehingga banyak dikalangan orang Arab yang mendatanginya untuk mengetahui tafsir mimpinya. Ketiga, ilmu tentang bertenung. Kaum Arab pada masa jahiliyyah dikenal dengan kaum Ummi, karena mereka tidak bisa baca tulis. Merek hanya mengandalkan kekuatan  otak dalam menghafal dan meriwayatkan syair akan tetapi dalam Arab masih terdapat orang yang bisa baca tulis.[2]
B.     Pendidikan di Masa Rasulullah Saw, pada Periode Mekkah.
Salah satu karakteristik perkembangan pendidikan Islam pada periode Mekkah erat hubungannya dengan pengajaran Al-Qur’an dan sunah Rasul. Pelaksanaan pendidikan Islam pada periode Mekkah bertujuan menegakkan akidah yang berdasarkan Al-Qur’an dan sunah Rasul. semua persoalan dan kebutuhan umat islam pada masa Nabi Muhammad Saw. Dikembalikan kepada beliau secara langsung.Pada periode Mekkah Rasulullah mendidik sahabatnya melalui pendidikan rohani terlebih dahullu, setelah itu penidikan intelektual baru dapat diteruskan.[3]    
Nabi Muhammad Saw. Sebagai seorang pendidik Muslim Pertama, melaksanakan aktivitas pendidikanna ssecara bertahap dan bergerak secara evolusif. Beliau memulai aktivitas pendidikan bermula dari keluarga dekat dan dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi.Pendidikan Islam pada masa Rasulullah di Mekkah, belum murni seperti aktivitas pendidikan yang dikenal sekarang ini. Pelaksanaan pendidikan masih menyatu dengan gerakan dakwah dan politik.[4]
1.      Tahapan pembinaan pendidikan
a.      Tahapan sembunyi-sembunyi
Mula mula pola pendidikan dilaksanakan secara sembunyi karena kondisi sosial politik yang belum stabil, dimulai dari keluarganya  sendiri dan keluarga dekatnya. Pertama, beliau mendidik istrinya, khadijah, untuk beriman kepada allah dan menerima petunjuk dari allah, kemudian diikuti oleh oleh Ali bin Abi Thalib (anak pamanya) dan Zaid bin Haritsah (pembantu rumah tangga yang kemudian diangkat sebagai anak angkatnya).
b.      Tahapan terang-terangan
Firman Allah yang artinya :
‘’Maka sampaikanlah (muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik.’’QS. Al Hijr: 94.
Perintah dakwah terang-teranganan ini seiring dengan semakin bertambahnya jumlah sahabat Nabi SAW. Serta untuk meningkatkan jangkauan seruan dakwah.
c.       Tahapan seruan umum
Rasulallah SAW. Mengubah srategi dakwah dengan seruan umum, umat manusia secara keseluruhan. Hal ini dilakukan pada musim-musim haji ketika banyak kaum diluar mekkah berdatangan untuk melaksanakan haji. Pada tahap ini, berkat semangat yang tinggi dari para sahabat dalam mendakwahkan ajaran islam, seluruh penduduk Yastrib masuk islam, kecuali orang-orang yahudi.[5]
C.    Pendidikan di Masa Rasulullah Saw, pada PeriodeMadinah
Pada periode ini, tahun 622-632 M atau 1-11 H. Nabi Muhammad tiba di Madinah, usaha pertama yang dilakukan adalah membangun masjid. Masjid tersebut diberi nama masjid Quba yang dijadikan sebagai tempat untuk beribadah dan institusi pendidikan, melalui pendidikan ini beliau memberi pengajaran dan pendidikan islam.[6] Setelah selesai pembangunan masjid itu, maka dimasjid itulah beliau mendirikan sholat berjama’ah. Bahkan disitulah beliau membacakan dan memberikan pengajaran dan pendidikan islam. Selain sebagai itu mesjid digunakan sebagai tempat musyawarah antara beliau dan para sahabat-sahabatnya.[7]
1)      Pokok pembinaan pendidikan di Madinah
Pokok pembinaan pendidikan islam di Madinah adalah menanamkan nilai-nilai tauhid kedalam jiwa setiap individu muslim agar dari jiwa mereka terpancar sinar tauhid dan tercermin dalam perbuatan dan tingkah laku dalam kehiduoan sehari-hari.
2)      Arah pembinaan pendidikan di Madinah
Cara atau usaha Nabi Muhammad melakukan pembinaan dan pengajaran pendidikan agama islam di Madinah dalah sebagai berikut:
a.       Pembentukan dan pembinaan Masyarakat Baru menuju satu kesatuan sosial dan politik
Nabi SAW meletakkan dasar-dasar terbentuknya masyarakat yang bersatu padu secara internal dan disegani oleh masyarakat lainnya sebagai satu kesatuan politik. Dasar-dasar tersebut adalah:
a)      Nabi Muhammmad mengikis habis sisa-sisa permusuhan dan pertentangan diantara mereka
b)      Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nabi Muhammad SAW menganjurkan kepada kaum Muhajirin untu beruaha dan bekerja sesuai dengan kemampuan dan pekrjaan masing-masing.
c)      Untuk menjalin kerja sama dan saling menolong dalam rangka membentuk tata kehidupan masyarakat yang adil dan makmur dengan cara berzakat dan berpuasa.
d)     Mensyariatkan media komunikasi berdasarkan wahyu yaitu sholat jum’at berjamaah dan adzan.[8]
b.      Pendidikan sosial politik dan kewarganegaraan
Pendidikan sosial politik dan kewarganegaraan dilaksanakan melalui:
a)      Pendidikan ukhuwah antara kaum muslimin
b)      Pendidikan kesejahteraan sosial dan tolong menolong
c)      Pendidikan kesejahteraan keluarga kaum kerabat.[9]
c.       Pendidikan anak dalam islam
Dalam islam, anakmerupakan ahli waris ajaran islam yang dikembangkan oleh Nabi Muhammad SAWdan mereka akan melanjutkan misi menyampaikan islam keseluruh penjuru alam. Oleh karena itu, banyak peringatan dalam Al-Qur’an berkaitan dengan hal tersebut, yaitu :
a)      Peringatan agar diri dan anggota keluarga (termasuk anak-anak) dari kehancuran (api neraka). Terdapat di dalam surat At-Thrim ayat 6.
b)      Peringatan agar tidak meninggalkan anak dan keturunan dalam keadaan lemah dan tidak berdaya menghadapi tantangan hidup. Terdapat dalam surat An-Nisa’ ayat 9.[10]
c)      Perintah untuk berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai keluarga dan keturunan yang menyenangkan. Terdapat dalam surat Al-Furqon ayat 74.[11]
Hijrah dari Makkah ke Madinah bukan hanya sekedar berpindah dan menghindarkan diri dari tekanan dan ancaman kaum Quraiys, tetapi juga sebagai taktik dan strategi untuk mengatur dan menuyusun kekuatan dalam menghadapi tantangan-tantangan lebih lanjut, sehingga akhirnya nanti terbentuklah masyarakat baru yang bersinar kembali mutiara tauhid warisan Ibrahim yang akan di sempurnakan oleh Nabi Muhammad SAW melalui wahyu Allah SWT.





BAB III
PENUTUP

SIMPULAN
Sebelum kemunculan agama Islam di Jazirah Arab, kondisi wilayah tersebut masih “gelap”. Kehidupan masyarakat tidak stabil, mereka hidup di alam yang gersang dan selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dalam kehidupan beragama, berhala merupakan sarana utama yang dijadikan sebagai dari keyakinan yang telah mengental dalam tradisi kehidupan masyarakat Arab, faktor keyakinan itu pula yang menjadin penghalang bagi Nabi Muhammad Saw, dalam menyebarkan dakwah.
Perkembangan Islam di madinah berbeda dengan di Mekah. Islam di Mekah berkembangg sebagai kekuatan dakwah. Tiga belas tahun Nabi Muhammad Saw. Berjuang dan berdakwah di mekkah tidak sama kondisinya dengan di Madinah. Islam sebagai gerakan dakwah secara jelas dipraktikan pada periode mekkah. Situasi kota Madinah setelah peristiwa Hijrah berbeda dengan sebelum peristiwa hijrah. Kondisi tersebut memberi peluang besar bagi perkembangan islam, apalagi setelah islam mengambil bentuk kekuatan kenegaraan.



DAFTAR PUSTAKA
Asrahah, Hanun, 1999, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu)
Kodir, Abdul, 2015, Sejarah Pendidikan Islam, ( Bandung: Pustaka Setia)
Misdar, Muh., 2017, Sejarah pendidikan dalam Islam, (Jakarta: Rajawali Pers)
Syakur, Fatah, 2015, Sejarah Pendidikan Islam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra)
Yunus, M. Mahmud, 1992, Sejarah Pendidikan Islam, ( Jakarta: Hidakarya Agung)
Zuhairini, 1997, Sejarah Pendidikan Islam,(Jakarta: Sinar Grafiksa Offset)



[1]LihatMuqaddimahkitabTahdziirAhlillimaan ‘anilHukmibighairiMaaAnzalarRahmaan(hlm.6) karyaSyaikh Abu HibatillahIsma’il bin Ibrahim al-Khatib al-Khasani al-As’ardi  al-Azhari as-Salafirahimahullah, tahqiqSyaikhSalim bin ‘Ied al-HilaliHafidzahullah, cet. I, Maktabah ash-Shahabah, th 1413 H.
[2]Fatah Syakur, Sejarah Pendidikan Islam, (Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2015), hlm. 11-17
[3]Muh, Misdar, Sejarah pendidikan dalam Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2017), hlm. 56.
[4]Muh, Misdar, Sejarah pendidikan dalam Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2017), hlm. 57-58
[5]Hanun Asrahah, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 40
[6] Abdul Kodir, Sejarah Pendidikan Islam, ( Bandung: Pustaka Setia, 2015), hlm. 48
[7] M. Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, ( Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), hlm. 14
[8]Abdul Kodir, Sejarah Pendidikan Islam, ( Bandung: Pustaka Setia, 2015), hlm49-50
[9] Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Sinar Grafiksa Offset)hlm 34-37
[10] Abdul Kodir, Sejarah Pendidikan Islam, ( Bandung: Pustaka Setia, 2015)hlm. 50-51
[11] Zuhairini., Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Sinar Grafiksa Offset), hlm. 25

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : PENDIDIKAN DI MASA ROSULULLAH SAW"

Posting Komentar