Makalah
Pendidikan Masa Bani Umayyah
Disusun guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah : Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Dra. Hj. Fatikhah, M.Ag
Kelas : F
FAKUKTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dengan berakhirnya kekuasaan khalifah
Alin bin Abi Thalib, maka lahirlah kekuasaan Bani Umayyah. Pada periode Ali dan
Khalifah sebelumnya pola kepemimpinan masih mengikuti keteladanan Nabi. Pra
khalifah di pilih melalui proses musyawarah. Hal ini berbeda dengan masa
setelah khulafaur rasyidin atau masa dinasti-dinasti yang berkembang
sesudahnya, yang dimulai pada masa dinasti Bani Umayyah. Adapun bentuk
pemerintahannya adalah berbentuk kerajaan, kekuasaan bersifat feodal
(penguasaan tanah/daerah/wilayah, atau turun menurun). Untuk mempertahankan
kekuasaan, khilafah berani bersifat otoriter, adanya unsur kekerasan, diplomasi
yang diiringi dengan tipu daya, serta hilangnya musyawarah dalam pemilihan
khilafah.
Bani Umayyah berkuasa kurang lebih
selama 90 tahun. Reformasi cukup banyak terjadi, terkait pada bidang
perkembangan dan kemajuan pendidikan Islam. perkembangan ilmu tidak hanya dalam
bidang Agama semata melainkan juga dalam aspek teknologinya. Sementara sistem
pendidikan masih sama ketika Rasul dan Khulafaur Rasyidin yaitu Kuttab yang
pelaksanaanya berpusat di Masjid.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
Gambaran umum Pendidikan pada masa Bani Umayyah ?
2. Bagaimana
Karakteristik Pendidikan Islam pada Masa Bani Ummayah ?
3. Bagaimana
Prodak yang dihasilkan pada Masa Bani Ummayah ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Gambaran Pendidikan Pada Masa Bani
Umayyah
Dinasti
Umayyah adalah kerajaan Islam pertama yang didirikan oleh Mu’awiyyah bin Abi
Sufyan pada tahun 41 H/661 M. Tahun ini disebut dengan ‘Aam al-Jama’ah karena pada tahun ini semua umat Islam sepakat atas
ke-khalifahan Mu’awiyyah dengan gelar Amir al-Mu’minin. Setelah Mu’awiyyah
diangkat menjadi khalifah, sistem pemerintahannya berubah menjadi monarchiheridetis (Kerajaan turun
temurun).
Mu’awiyyah
bin Abi Sufyan adalah pendiri Dinasti Umayyah yang berasal dari suku Quraish
keturunan Bani Umayyah yang merupakan khalifah pertama dari tahun 661-750 M,
nama lengkapnya ialah Mu’awiyyah bin Abi Hard bin Umayyah bin ‘Abdi Syam bin
Manaf. Mu’awiyyah lahir 4 tahun menjelang Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wa sallam menjalankan dakwah Islam di kota
Makkah.[1]
Pendidikan
Islam pada dinasti Umayyah tidak jauh berbeda pada masa Khulafaur Rasyidin. Namun
ada perbedaan dan perkembangan sendiri. Hanya saja perhatian para raja dibidang
pendidikan tidak maksimal, tetapi oleh para ulama yang memiliki pengetahuan
yang mendalam. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah hampir
tidak ditemukan. Jadi sistem pendidikan pada masa itu berjalan secara alamiah.
Ada dinamika yang secara karakteristik pendidikan Islam ketika itu, yaitu
bukanlah wacana kalam yang berkembang di kalangan masyarakat. Kondisi ketika
itu diwarnai oleh kepentingan-kepentingan politis dan golongan, maka di dunia
pendidikan, terutama di dunia sastra, sangat rentan identitasnya masing-masing.[2]
Kita
belum menemukan pemikiran pada masa Umayyah kecuali pada beberapa wasiat para khalifah kepada guru dan beberapa
pemikiran pendidikan yang tersebar diantara buku-buku yang ditulis oleh ulama nahwu,al-adab, hadist, dan tafsir pada masa Umayyah ini. Mungkin
hanya Abd al-Hamid Yahya (w. 132/750)
seorang guru yang kemudian berhasil menjadi menteri Umayyah untuk kemudian
meninggal terbunuh pada masa Abbasiyah, yang dianggap sebagai orang yang telah
menulis pemikiran pendidikan pada masa Umayyah.[3]
Namun
demikian, pendidikan pada Dinasti Umayyah semakin meningkat dibanding masa
sebelumnya. Para penguasa Dinasti Umayyah sering menyelenggarakan mejelis
keilmuan. Pada masa ini juga mulai ada perhatian terhadap pembidangan ilmu
tafsir, hadis, fikih, dan ilmu kalam. Di bidang hadis muncul seorang ahli
hadis, Hasan al-Basri. Di bidang fikih muncul Ibn Sihab al-Zuhri. Di bidang
ilmu kalam dapat ditelusi cikal bakal gerakan teologi Islam, yakni Wasil bin
Ata’ yang dianggap sebagai pendiri aliran Mu’tazilah.[4]
Pendidikan
Islam pada Dinasi Umayyah tidak jauh berbeda dengan pendidikan Islam pada masa
Khulafaur Rasyidin. Pada masa itu telah ada tingkat pengajaran. Tingkat pertama
ialah Kuttab, tempat anak-anak belajar menulis dan membaca/menghafal Al-Qur’an
serta belajar pokok-pokok agama Islam. Setelah tamat Al-Qur’an mereka
meneruskan pelajaran ke masjid. Pelajaran di masjid itu terdiri dari tingkat
menengah dan tingkat tinggi. Ilmu yang diajarkan diantaranya Al-Qur’an dan
tafsirnya, hadits, dan fiqih.[5]
Walaupun
perkembangan pendidikan pada masa Dinasti Umayyah tidak sepesat pada masa
Dinasti Abbasiyah, namun usaha-usaha umat Islam pada masa ini memiliki pengaruh
yang besar bagi masa-masa sesudahnya.[6]
B.
Karakteristik
Pendidikan pada Masa Bani Umayyah
1. Pola
Pendidikan
Pada masa Daulah Umayyah pola
pendidikan bersifat desentralisasi, atau tidak memiliki standar umur. Kajian
keilmuan yang ada pada periode ini berpusat di Damaskus, Kuffah, Mekkah,
Madinah, Mesir, Cordova, dan bebrapa kota lainnya seperti Basrah, Damsyik dan
Palestina (Syam), dan Fistat (Mesir).[7]
Pola pendidikan Islam padaperiode
dinasti Umayyah telah berkembang bila dibandingkan pada masa Khulafaur Rasyidin
yang ditandai dengan semaraknya kegiatan ilmiah di masjid-masjid dan
berkembangnya Khuttab serta Majelis Sastra
2. Lembaga
Pendidikan
Pada masa ini, lembaga pendidikan
adalah masjid dan Kuttab. Masjid telah memegang peranan sebagai lembaga
pendidikan sejak zaman Rasulallah.[8]
Dalam sumber lain dijelaskan sebagai berikut:
a. Kutab
Seperti yang dijelaskan sebelumnya,
Kutab sudah ada sejak zaman Khulafaur Rasyidin. Namun pada masa ini Kutab tidak
hanya dilaksanakan di masjid tetapi juga di rumah guru dan istana. Bagi guru
Kutab yang mengajar di masjid tidak diberi gaji. Namun guru yang mengajar di
istana diberi gaji. Ada diantara penguasa yang membayar atau menggaji guru
untuk mengajar anak-anaknya bahkan disediakan tempat mukim guru di istana.
Khuttab atau Maktab berasal dari
kata dasar kataba yang berarti
menulis atau tempat menulis, jadi Khuttab adalah tempat belajar menulis.
Khuttab merupakan tempat anak-anak belajar menulis dan membaca, menghafal
Al-Qur’an serta belajar pokok-pokok ajaran Islam. Sebelum datangnya Islam
diturunkan Allah SWT, sudah ada diantara para Sahabat yang pandai tulis baca.
Kemudian tulis tersebut ternyata mendapat tempat dan dorongan yang kuat dalam
Islam, sehingga berkembang luas dikalangan umat Islam. Karena tulis baca
semakin terasa perlu, maka Kuttab sebagai tempat belajar menulis dan membaca
terutama bagi anak-anak berkembang pesat. Pada mulanya, di awal perkembangan
Islam kuttab tersebut dilakukan di rumah guru-guru yang bersangkutan dan yang
diajarkan adalah semata-mata menulis dan membaca. Sedangkan yang ditulis atau
dibaca adalah sha’ir-sha’ir yang terkenal pada masanya.[9]
Kemudian pada akhir abad pertama
Hijriyah mulai timbul jenis kuttab yang disamping memberi pelajaran menulis dan
membaca, juga mengajarkan membaca Al-Qur’an dan pokok-pokok ajaran Agama. Pada
mulanya kuttab jenis ini merupakan pemindahan dari pengajaran Al-Qur’an yang
berlangsung di masjid dan bersifat umum (bukan saja bagi anak-anak, tetapi
terutama bagi orang dewasa). Anak-anak ikut pengajian didalamnya, tetapi karena
mereka tidak dapat menjaga kesucian dan kebersihan masjid, maka diadakan tempat
khusus di samping masjid. Selanjutnya berkembanglah kuttab-kuttab yang bukan hanya mengajarkan Al-Qur’an,
tetapi juga pengetahuan-pengetahuan dasar lainnya. Dengan demikian kuttab
berkembang menjadi lembaga pendidikan dasar yang bersifat formal.
b. Istana
Pendidikan di istana tidak hanya
tingkat rendah, tetapi berlanjut pada pengajaran tingkat-tingkat sebagaimana
halaqah, masjid, dan madrasah. Guru istana dinamakan muaddib. Tujuan pendidikan
istana bukan saja mengajarkan ilmu pengetahuan bahkan mauddib harus mendidik
akal, hati, dan jasmani anal.
Timbulnya pendidikan istana untuk
anak-anak para pejabat adalah berdasarkan pemikiran bahwa pendidikan harus
bersifat menyiapkan anak didik agar mampu melaksanakan tugas-tugasnya kelak
setelah ia dewasa. Oleh karena itu, mereka memanggil guru-guru khusus untuk
memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka.
Pendidikan anak di istana berbeda
pendidikananak di kuttab pada umumnya. Di istanaorang tua murid (para pembesar
di istana) adalah yang membuat rencana peajaran tersebut selaras dengan tujuan
yang dikehandaki oleh orang tuannya. Guru yang mengajar istana disebut muaddib,
karena berfungsi mendidik budi pekerti dan mewariskan kecerdasan dan
pengetahuan kepada anak-anak pejabat.[10]
c. Badiah
Dengan adanya arabisasi oleh Khalifah
Abdul Malk Ibn Marwan, maka muncullah istilah baiah yaitu usun badui di padang
Sahara yang masih fasih dan murni bahasa arabnya sesuai dengan aidah bahasa
arab itu akibat dari aarabisasi ini muncullah ilmu qawaid dan cabang ilmu
lainnya untuk mempelajari bahasa arab.
Sehingga banyak khalifah yang
mengirimkan anaknya ke badiah untuk mempelajari bahasa arab yang fasih dan
murni. Banyak ulama-ulaa para ahli ilmu pengetahhuan lainnya yang pergi ke
badiah dengan tujuan untuk mepelajari bahasaa dan kesustraan arab yang asli
lagi murni. Badiah-badiah tersebut lalu menjadi sumber ilmu pengetahuan
terutama bahasaa daan sastra arab dan berfungsi sebagai lembaga pendidikan
islam.[11]
d. Perpustakaan
Al Hakam Ibn Nasir mendirikan
perpustakaan yang besar di Qurtubah (Cordova). Perpustakaan ini tidak hanya
dipergunakan untuk membaca buku, tetapi juga di sana disediakan ruangan untuk
melaksanakan proses pembelajaran yang dibimbing oleh para ulama sesuai dengan
bidang keahliannya.
e. Bamaristan
(Rumah Sakit)
Rumah sakit selain berfungsi untuk
mengobati dan merawat orang sakit, tetapi juga berfungsi sebagai tempat
mendidik para calon tenaga medis dan perawaat, dan juga untuk mempelajari ilmu
kedokteran.[12]
f. Masjid
Semenjak zaman nabi Muhammad SAW masjid
telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kehidupan kaum
muslimin. Menjdi tempat bermusyawarah,
tepat mengadili perkara, tempat menyampikan penerangan agama, dan tempat
menyelenggarakan pendidikan, baik untuk anak-anak atau orang dewasa. Kemudian
pada masa khalifah Bani Umayyah berkembang fungsinya sebagai tempat
penembaangan ilmu pengetahuan, terutama yang bersifat keagamaan.[13]
Pada Dinasti Umayyah, masjid merupakan
tempat pendidikan tingkat menengah dan tingkat tinggi setelah khuttab.
Pelajaran yang diajarkan meliputi al-qur’n, tafsir, hadits dan fiqh, juga
diajarkan kesusteraan, sajak, gramatika bahasa, ilmu hitun dan ilmu
perbintangan. Diantara jasa besar pada periode Dinasti Umayyah dalam
perkembangan ilmu pengethuan adalah enjdian masjid sebaa pusataktivtas lmiah
termasuk syr, sejarah bngs terdahulu susi dan akidah. Pa perodeini juga
didirikan asjid ke seluruh pelosok aerah islam. Masjid nabawi madinah dan masjidil haram di makkah selalu
menjadi tupun penuntut lmu diseluruh dunia la sl tp jug pad peerntahn Walid bin
Abd al-Malik (707-714) yang merupakan Unversitas terbesar dan jua didirikan
masjid Zaitunnah di Tunisia yang dianggap Universitas tertua sampai sekarang.[14]
g. Majelis
Sastra
Majelis sastra adalah suatu majelis
husus yang di adakan oleh khalifah untuk membahas berbagai macam ilmu
pengetahuan. Majelis sastra merupakan baai perteuanyan disiapkan oleh
khalifahdihiasi denan hiasan yang ndahhanya
diperuntukanbagisastrawandanulaaterkemuka. Ajelis ini bernula sejak zaman
khulafa ar-Rsydin yan biasanyaeberikanfatwadanusyawarah serta diskusi dengan
para sahabat untuk memecahkan berbagai masalah yang mengahadapi pada masa itu.[15]
Pada Dinasti Umayyah, wilayah Islam
mengalami perluasan. Oleh karenanya, pada sumber lain ditambahkan beberapa
karakteristik di antaranya:
1) Sahabat-sahabat
Nabi yang banyak berpindah ke berbagai daerah taklukan merupakan sumber daya
manusia andal yang menjadi pembimbing keagamaan dan kerohanian bagi masyarakat
muslim.
2) Banyaknya
orang yang baru masuk Islam pada daerah-daerah penaklukan menjadikan pendidikan
Islam memegang fungsi yang sangat strategis pada ketika itu.
C.
Produk
yang dihasilkan
Di antara ilmu pengetahuan yang
berkembang pada masa itu adalah:
1. Ilmu
agama, seperti Al-Qur’an, hadits, dan fiqh. Proses pembukuan hadits terjadi
pada masa khalifah Umar Ibn Abdul Aziz. Sejak saat itulah hadits mengalami
perkembangan pesat.
2.
Ilmu sejarah dan geografi yaitu segala
ilmu yang membahas tentang perjalanan hidup, kisah, dan riwayat. Ubaid Ibn
Syariyah al Jurhumi berhasil menulis berbagai peristiwa sejarah.
3. Ilmu
pengetahuan bidang bahasa, yaitu segala ilmu yang mempelajari bahasa, nahwu,
sorof, dan lain-lain.
4. Bidang
filsafat, yaitu segala ilmu yang pada umumnya berasal dari bahasa asing,
seperti ilmu mantiq, kimia, astronomi, ilmu hitung, dan ilmu yang berhubungan
dengan kedokteran.
5. Seni
sastra Arab, juga berkembang dengan baik. Pada masa itu banyak penyair Arab
yang terkenal seperti Umar Ibn Rabiah Jarir, Qyas Ibn Malawah yang terkenal
dengan Laila Majnun, dan lain-lain.
6. Seni
kaligrafi dan seni arsitektur juga berkembang. Salah satu arsitektur yang indah
adalah Istana (Qushair) Amrah tempat istirahat di Padang Pasir.[16]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan
bahwa keadaan pendidikan pada masa Bani Umayyah sudah lebih berkembang
dibandingkan pada zaman Khulafaur Rasyidin. Perkembangan pendidikan tersebut
yang paling menonjil adalah pada aspek kelembagaan dan ilmu yang diajarkan.
Pada aspek kelembagaan telah muncul dan berkembang lembaga pendidikan baru,
yakni istana, badiah, perpustakaan dan bimaristan. Adapun ilmu yang
diajarkanbukan hanya bidang agama saja, melainkan juga ilmu-ilmu umum. Namun
demikian, ilmu-ilmu agama masih dominan dibandingkan dengan ilmu umum. Adapun
bila kita lihat dari segi sistemnya masih bersifat sederhana dan konvensional,
dan belum dapat disamakan dengan sistem pendidikan yang sudah berkembang
seperti pada saat ini.
B.
Saran
Ada
sebuah pepatah yang mengatakan “tidak ada gading yang tak retak”. Karena itulah
menulis senantiasa menyadari bahwa begitu banyak kekurangan-kekurangan dan
kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam makalah ini. maka dari pada itu,
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sekalian
agar kedepannya penulis bisa berusaha menjadi lebih baik lagi.
DAFTAR
PUSTAKA
Silsilah Ta’limi al-Lughoh
al-Arobiyyah al-Mustawa ar-Robi suroh min at-Tarikh al-Islami
Engku Iskandar & Siti Zuhaidah.
2014. Sejarah Pendidikan Islami. Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Assegaf
Abdur Rahman. 2007. Pendidikan Islam di
Indonesia. Yogyakarta. Suka Press.
Nizar
Samsul. 2009. Sejarah Pendidikan Islam
Cet. III. Jakarta. Kencana.
Yunus
Mahmud. 1992. Sejarah Pendidikan Islam
Cet. VII. Jakarta. Hidakarya Agung.
Ramayulis.
2012.Sejarah Pendidikan Islam.
Jakarta. Kalam Mulia.
Daulay Haidar Putra dan Nurgaya
Pasa.Pendidikan Islam dalam Lintasan
Sejarah. 2013. Jakarta. K:encana.
Zuhairini.
2008.Sejarah Pendidikan Islam.
Jakarta. PT. Bumi Aksara.
Ran in World, “Pendidikan Islam Bani Umayyah (Filsafat Pend. Islam)” dalam
http//pendidikan-islam-masa-bani-umayyh.htlm, diakses pada tangl 19 februari
2018.
[1]Silsilah
Ta’limi al-Lughoh al-Arobiyyah al-Mustawa ar-Robi suroh min at-Tarikh al-Islami, hlm. 136-137.
[2]Iskandar Engku & Siti
Zuhaidah, Sejarah Pendidikan Islami,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2014), hlm. 17.
[3]Abdur Rahman Assegaf, Pendidikan Islam di Indonesia,
(Yogyakarta: Suka Press, 2007), hlm. 6
[4]Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, Cet. III
(Jakarta: Kencana, 2009), hlm. 22.
[5]Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Cet. VII
(Jakarta: Hidakarya Agung, 1992), hlm. 39-40.
[6]Samsul Nizar, Op.Cit., hlm. 23.
[7]Ramayulis, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2012), hlm. 71.
[8]Haidar Putra Daulay dan Nurgaya
Pasa, Pendidikan Islam dalam Lintasan
Sejarah, (Jakarta: Kencana, 2013), hlm. 51.
[9]Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008), hlm.
89-90.
[10]Ran
in World, “Pendidikan Islam Bani Umayyah
(Filsafat Pend. Islam)” dalam http//pendidikan-islam-masa-bani-umayyh.htlm,
diakses pada tangl 19 februari 2018.
[11]Zuhairini,
Op. cit., hlm.97.
[12]Ramayulis,
Op.Cit., hlm. 71-72.
[13]Zuhairini,
Op. Cit., hlm.99
[14]Hasan
Langgulung, Pendidikan Islam Menghadapi
Abad-21 (Jakarta, Pustaka Al Husna,
1980), hlm.19.
[15]Zuhairini,
Op. Cit., hlm.95-96
[16]Ibid,. Hlm. 72-73

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : PENDIDIKAN ISLAM MASA BANI UMAYYAH"
Posting Komentar