PENDIDIKAN ISLAM MASA BANI ABASIYAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Dra. Fatikhah,M.Ag
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Dra. Fatikhah,M.Ag
Kelas F
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN/PAI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2018
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Identifikasi Sejarah dari Bani Abbasiyah
Bani Abbasiyah berkuasa selama 524
tahun yaitu dari tahun 132-556 Hijriyah atau 750-1258 Masehi. Sistem
pemerintahan Bani Abbasiyah meniru cara Umayyah. Dasar-dasar pemerintahan
Abbasiyah diletakkan oleh khalifah kedua, yakni Abu Ja’far al-Mansyur. Sistem
politik Abbasiyah yang dijalankannya antara lain; para Daulah tetap dari
turunan Arab murni, kota Baghdad sebagai ibu kota negara yang menjadi pusat
kegiatan politik, ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sangat
penting, kebebasan berpikir dan HAM diakui penuh, serta para menteri turunan
Persia diberi hak penuh dalam menjalankan pemerintahan. Sedangkan dari sistem sosial-kemasyarakatan
terjadi perubahan yang amat menonjol, di antaranya adalah sebagai berikut.
1.
Tampilnya kelompok Mawali
yang menduduki peran dan posisi penting di pemerintahan.
2.
Masyarakat terdiri dari
dua kelompok, yaitu:
a. kelompok khusus, seperti Bani
Hasyim, pembesar negara, dan bangsawan yang bukan dari Bani Hasyim.
b. kelompok umum, seperti
seniman, ulama, pengusaha, pujangga, dan lain-lain.
3. Di dalam
kekuasaan Daulah Abbasiyah terdapat bangsa yang berbeda-beda (seperti bangsa
Mesir, Syam, jazirah Arab, Irak, Persia, dan Turki).
4. Lahirnya
keturunan baru akibat terjadinya perkawinan campuran dari berbagai bangsa.
5. Lahirnya
kebudayaan baru akibat dari terjadinya pertukaran pikiran dan budaya yang
dibawa oleh masing-masing bangsa.[1]
Pada masa Abbasiyah tujuan
pendidikan itu telah bermacam-macam karena pengaruh masyarakatnya pada masa
itu. Tujuan itu dapat disimpulkan sebagai berikut.
- Tujuan keagamaan dan akhlak. Seperti pada masa sebelumnya, anak-anak didik diajar membaca/menghafal al-Quran, karena hal itu suatu kewajiban dalam agama, supaya mereka mengikut ajaran agama dan berakhlak menurut agama. Begitu juga mereka diajari ilmu tafsir, hadis, dan sebagainya adalah karena tuntutan agama.
- Tujuan kemasyarakatan. Selain tujuan keagamaan dan akhlak ada pula tujuan kemasyarakatan, yaitu pemuda-pemuda belajar dan menuntut ilmu, supaya mereka dapat mengubah dan memperbaiki masyarakat, dari masyarakat yang penuh kejahiliyahan menjadi masyarakat yang tersinari dengan ilmu pengetahuan, dari masyarakat yang mundur menjadi masyarakat yang maju dan makmur.[2]
B. Perkembangan Pendidikan Islam pada Era
Abbasiyah
1. Faktor-Faktor yang Mendorong Kemajuan
Pendidikan
a.
Adanya kekayaan yang
melimpah dari hasil kharaj, baik pertanian maupun perdagangan. Dengan
dana dari kekayaan tersebut para khalifah dapat dengan mudah merealisasikan
perencanaannya, di dalam dan luar negeri, serta pengembangan ilmu pengetahuan.
b.
Perhatian beberapa
khalifah yang amat besar kepada dunia ilmu pengetahuan, seperti al-Mansyur
(754-775 M.), al-Mahdi (775-785 M.), Harun al-Rasyid (785-809 M.), al-Ma’mun
(813-833 M.), al-Wathiq (824-847 M.), dan al-Mutawakkil (847-861 M.).[3]
c.
Kecenderungan umat
Islam di dalam menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan besar sekali, maka
banyaklah ulama di setiap kota Islam pada masa itu.
d.
Kondisi masyarakat
Irak, yang mendesak perlunya suatu ilmu baru karena Sungai Dajlah dan Furat
menuntut penataan sistem pengairan yang ideal dan sistem fiskal (perpajakan)
yang baik.[4]
e.
Baghdad sebagai pusat
pemerintahan, lebih dahulu maju dalam ilmu pengetahuan daripada Damaskus pada
masa itu.
f. Lancarnya
hubungan kerja sama, dengan negara-negara maju lainnya seperti India,
Bizantium, dan sebagainya.[5]
2. Lembaga-Lembaga Pendidikan Islam pada Era
Abbasiyah
Kemajuan dalam bidang pendidikan melalui
berbagai bentuk dan jenis lembaga pendidikan. Berikut adalah
penjelasan-penjelasannya.
a. Kutab
atau Maktab
Kutab pada masa ini merupakan
kelanjutan dari kutab pada masa Daulah Umayyah. Para ahli sejarah
pendidikan Islam sepakat bahwa keduanya merupakan istilah yang sama, dalam arti
lembaga pendidikan Islam tingkat dasar yang mengajarkan membaca dan menulis,
kemudian meningkat kepada pengajaran al-Quran dan pengetahuan agama tingkat dasar.
Sedangkan kurikulum pendidikan yang
digunakan di kutab ini berorientasi kepada al-Quran sebagai suatu textbook.
Hal ini mencakup pengajaran membaca dan menulis, kaligrafi, gramatikal bahasa
Arab, dan sejarah (khususnya yang berkaitan dengan Nabi Muhammad Saw.).[6]
b. Masjid
Sistem pembelajaran
di dalam masjid berbentuk khalaqah, berkembang dengan baik pada era ini,
sejalan dengan munculnya bermacam-macam pengetahuan agama, sehingga terkadang
di dalam suatu masjid besar terdapat beberapa khalaqah dengan materi
pembelajaran berbeda seperti nahwu, ilmu kalam, fikih, dan lain-lain. Ini
intens terjadi di Masjid al-Kasai dan al-Manshur di Baghdad.
Agaknya, yang
menjadikan masjid sebagai salah satu pusat kegiatan pendidikan ialah karena
materi pembelajaran yang diajarkan pada tahun-tahun pertama lahirnya Islam
adalah mata pelajaran agama saja yang tentulah erat pertaliannya dengan masjid.
Dalam perkembangan selanjutnya, di
samping mata pelajaran agama, mata pelajaran umum juga diajarkan kepada anak
didik, seperti bahasa, ilmu hisab, kedokteran, dan sebagainya.[7]
c. Zawiyah
Zawiyah ini adalah lembaga
pendidikan yang lebih kecil daripada kutab dan masjid dan dibangun untuk
orang-orang tasawuf yang fakir supaya mereka dapat belajar dan beribadat. Contohnya
salah seorang raja dari al-Mamalik membangun sebuah Zawiyah al-Jumairah di abad
ke-13 Masehi dan ditempatkan di dalamnya beberapa orang sufi yang fakir. Dan
kadang-kadang pula, zawiyah itu didirikan untuk seorang syaikh yang termasyur
yang bertugas untuk menyiarkan ilmu pengetahuan dan mengasingkan diri untuk
beribadat.
d. Al-Ribath
Menurut pengertian yang diberikan
oleh al-Maqrizi yang dimaksudkan dengan al-Ribath adalah rumah-rumah orang sufi
dan tempat tinggal mereka yang didiami oleh sejumlah orang yang terbatas dari
para fuqara yang mengasingkan diri yang tidak memiliki keluarga dan
mempersiapkan diri mereka semata-mata untuk belajar dan beribadah.[8]
e. Observatorium dan Rumah Sakit (al-Bimaristan)
Sebagaimana
halnya sebuah perpustakaan, observatorium juga difungsikan sebagai lembaga
pendidikan atau sebagai tempat untuk transmisi ilmu pengetahuan. Di sini sering
diadakan kajian-kajian ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Para ilmuwan
melakukan pengamatan dan riset di observatorium tersebut.[9]
Rumah sakit di samping berfungsi untuk
mengobati dan merawat orang sakit, tetapi juga berfungsi sebagai tempat
mendidik para calon tenaga medis dan perawat, serta untuk mempelajari ilmu-ilmu
kedokteran.[10]
C. Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada Era (Daulah)
Abbasiyah
Kemajuan
yang dicapai oleh Daulah Abbasiyah, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan
merupakan puncak kejayaan Islam sepanjang sejarah dan patut mendapat atensi
yang baik. Hal ini disebabkan karena:
1. situasi
dan kondisi yang sangat menunjang.
2. keterlibatan semua pihak secara ikhlas dan
sungguh-sungguh .
3.
adanya kemerdekaan dan
kebebasan dalam berpikir, membuat umat Islam menjadi sangat dinamis dan
kreatif, jauh dari sikap fatalis dan taklid.
Perkembangan
ini juga membawa Daulah Abbasiyah ke tempat utama dan terhormat di dalam
kebudayaan, peradaban, dan dunia pemikiran atau filsafat.
Pada masa ini
telah dilahirkan ulama-ulama besar seperti Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam
Syafi’i, dan Imam Ibnu Hambal dalam bidang hukum, Imam al-Asyari, Imam
al-Maturidi, pemuka-pemuka Mu’tazilah seperti Wasil ibn Atha, Abu Huzail,
al-Nazzam, dan al-Juba’i dalam bidang theologi, serta lain sebagainya.[11]
D. Ilmu-Ilmu yang Tumbuh dan Berkembang pada
Masa Daulah Abbasiyah
1.
Ilmu-Ilmu Agama
a).
Ilmu Tafsir
Tumbuh
dan berkembangnya ilmu tafsir dalam abad ketiga Hijriyah dalam rangka memenuhi
kebutuhan dasar yang mendesak, untuk memahami arti maksud dari ayat-ayat
al-Quran, sebagai akibat semakin bertambah-banyaknya pemeluk Islam yang bukan
Arab.
Terdapat
dua metode tafsir pada masa itu, yakni sebagai berikut.
1. Tafsir bi al-Mas’ur, yakni menafsirkan
al-Quran dengan al-Quran, al-Hadis, riwayat sahabat, dan para tabiin.
2. Tafsir bi al-Ra’yi, yakni menafsirkan
al-Quran dengan menggunakan akal pikiran.
b).
Ilmu Hadis
Pembukuan
hadis secara lebih sempurna, baru mulai dilakukan pada masa ini. Beberapa karya
besar yang terkenal seperti Shahih al-Bukhari, Shahih al-Muslim, Sunan
ibn Majah, Sunan ibn Daud, Sunan at-Tirmizi, Sunan
al-Nasai, dan al-Muwatha oleh Imam Malik.
Karya-karya
yang datang kemudian lebih banyak bersumber dari kitab-kitab tersebut.
c). Ilmu Tarikh (Sejarah)
Muhammad
ibn Ishak (w. 152 H.) yang mula-mula menulis tarikh Nabi Muhammad Saw.,
kemudian diringkaskan oleh Ibn Hisyam (w. 218 Hijriyah) dengan bukunya Syarh
al-Hisyam.
d). Ilmu Nahwu
Setelah
kuasa pemerintahan dipegang oleh Daulah Abbasiyah, perkembangan ilmu nahwu
semakin pesat daripada di zaman Daulah Umayyah. Terbukti, di Bashrah dibangunlah
madrasah-madrasah yang khusus mendalami ilmu ini.[12]
2. Ilmu Umum
a). Ilmu Filsafat
Ilmu
ini muncul dan berkembang pada masa Daulah Abbasiyah. Ilmu ini diperoleh melalui
penerjemahan buku-buku filsafat Yunani yang terdapat di berbagai negeri,
seperti Mesir, Suriah, Mesopotamia, dan Persia. Bahkan dari itu Yunani sendiri.
Filosof-filosof
muslim, sebagaimana halnya dengan filosof Yunani, bukan hanya memiliki sifat
filosof, tetapi juga sifat ahli ilmu pengetahuan. Karangan-karangan mereka
bukan hanya terbatas dalam lapangan filsafat saja akan tetapi juga meliputi
berbagai ilmu pengetahuan lainnya.[13]
Tokoh-tokohnya adalah seperti Yakub
ibnu Ishak al-Kindi (w. 873 Masehi), Abu Nashr al-Farabi (w. 950 Masehi), dan
Ibnu Sina (w. 1037 Masehi).
b). Ilmu Falak
Pada
masa ini, dikemukakan teori tentang terjadinya gerhana dan tidak
tampaknya matahari di daerah kutub. Teori ini telah
disempurnakan dengan alat pengukur dan kecepatan perjalanan bintang atau
astrologi.[14]
c). Ilmu Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam
Ilmu ini telah dipakai
secara praktis, ketika membuat perencanaan pembangunan Kota Baghdad pada masa
al-Manshur. Pada masa al-Mahdi, Jabir ibnu Hayyam (721-815 Masehi) telah
menulis ilmu kimia, pertambangan, dan batu-batuan (geologi) yang dimanfaatkan
oleh dunia Barat di kemudian hari.
Tokoh-tokohnya
adalah al-Khawarizmi, Umar al-Khayyam, Nasir al-Din al-Tusi, dan lain-lain.
d). Ilmu Fisika
Ada suatu hal yang merupakan ciri khas dari karya ahli fisika
muslim pada saat itu, yakni terpadunya kepekaan terhadap asas-asas teori dasar
yang mencerminkan kekaguman dan penghormatan terhadap ciptaan Tuhan Yang Maha
Esa dengan pendekatan praktis.
Ahli
fisika muslim yang terkenal antara lain adalah al-Biruni dan Ibnu Sina yang
bekerja sama secara ulet dan bersungguh-sungguh dalam menganalisis
konsep-konsep fisika pada masa itu.[15]
BAB III
PENUTUP
A.
Simpulan
Bani Abbasiyah
berkuasa selama 524 tahun yaitu dari tahun 132-556 Hijriyah atau 750-1258
Masehi. Sistem pemerintahan Bani Abbasiyah
meniru cara Umayyah. Dasar-dasar pemerintahan Abbasiyah diletakkan oleh
khalifah kedua, yakni Abu Ja’far al-Mansyur. Sistem politik Abbasiyah yang
dijalankannya antara lain; para Daulah tetap dari turunan Arab murni, kota
Baghdad sebagai ibu kota negara yang menjadi pusat kegiatan politik, ilmu
pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sangat penting, kebebasan berpikir
dan HAM diakui penuh, serta para menteri turunan Persia diberi hak penuh dalam
menjalankan pemerintahan. Kemajuan
dalam bidang pendidikan melalui berbagai bentuk dan jenis lembaga pendidikan seperti Kutab
atau Maktab, masjid, zawiyah, Al-ribath, Observatorium
dan Rumah Sakit (al-Bimaristan). Ilmu-Ilmu yang Tumbuh
dan Berkembang pada Masa Daulah Abbasiyah
adalah ilmu ilmu agama dan ilmu umum.
B. Saran
Dengan terselesainya makalah Sejarah Pendidikan Islam yang berjudul Sejarah
Pendidikan Islam pada Masa Kejayaan Era Abbasiyah ini, diharapkan kepada
semua pembaca agar pelajari dan pahamilah ilmu-ilmu yang Anda baca. Agar
dapat menambah pengetahuan yang nantinya dapat menjadi ilmu pelengkap dalam
menginfestasikan aplikasi kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ahwani,
Ahmad Fuad, 1962. Al-Falsafah Al-Islamiyah, Kairo: Dar al-Qalam.
Fahmi, Asma Hasan, 1979. Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam,
Jakarta: Bulan Bintang.
Fakhrudin, Muh., 1979.
Alam Pikiran Islam, Bandung:
Diponegoro.
https://sajidadotinggulo.wordpress.com/2014/12/29/makalah-sejarah-pendidikan-islam-pada-masa-dinasti-abbasiyah
Ismail,
Chadijah, 1981. Sejarah Pendidikan Islam, Padang: IAIN Press.
Nasution, Harun, 1982. Pembaruan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Jakarta: Bulan Bintang.
Nasution, Harun, 2001. Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya,
Jilid 1 dan 2, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Ramayulis,
2011. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Radar Jaya Offset.
Syalabi,
Ahmad, 1973. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang.
Yatim,
Badri, 2004. Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada.
[1] Ramayulis, Sejarah Pendidikan
Islam, (Jakarta: Radar Jaya Offset, 2011), hlm. 76
[2]https://sajidadotinggulo.wordpress.com/2014/12/29/makalah-sejarah-pendidikan-islam-pada-masa-dinasti-abbasiyah/ diakses
pada tanggal 4 Oktober 2017 pukul 14.51 WIB
[3] Harun
Nasution, Pembaruan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan,
(Jakarta: Bulan Bintang, 1982), hlm. 13
[4] Ahmad
Fuad, al-Ahwani, Al-Falsafah Al-Islamiyah, (Kairo: Dar al-Qalam, 1962),
hlm. 47
[5] Ibid.,
hlm. 48
[6] Op. Cit.,
hlm. 77-78
[7] Ibid.,
hlm. 78
[8] Asma
Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1979), hlm. 46-47
[9] Chadijah
Ismail, Sejarah Pendidikan Islam, (Padang: IAIN Press, 1981), hlm. 58
[10] Ibid.,
hlm. 59
[11] Harun
Nasution, Op. Cit., hlm. 13
[12] Ahmad
Syalabi, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), hlm. 242
[13] Harun
Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid 1 dan 2,
(Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 2001), hlm. 10
[14] Muh.
Fakhrudin, Alam Pikiran Islam, (Bandung: Diponegoro, 1979), hlm. 60
[15] Badri
Yatim, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2004), hlm. 35

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : PENDIDIKAN ISLAM MASA BANI ABASIYAH"
Posting Komentar