Makalah : KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK


MAKALAH
KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Bimbingan dan Konseling
Dosen Pengampu : Muhammad Fajar, M.Pd.I


 
 
Disusun Oleh :
Alifah                                      (2021116010)
Silvi Riyantika                        (2021116275)
Khoirudin                                (2117285)


Kelas G
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2018









BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Salah satu tujuan dari seorang konselor adalah mampu memahami hal-hal yang berkaitan dengan kliennya, baik itu masalah yang dihadapi klien atau tentang kepribadian klien itu sendiri agar mampu menjadi problem solving bagi setiap permasalahan yang dihadapinya.
Salah satu hal yang penting adalah memahami tentang perkembangan klien atau peserta didik baik itu menyangkut perkembangan psikis maupun motoriknya. Tentulah menjadi tantangan tersendiri bagi seorang konselor dalam menghadapi perkembangan peserta didiknya, baik itu masalah terkait dengan hambatan-hambatan dalam perkembangannya atau masalah lainnya yang serupa.
Jadi untuk menjadi konselor yang baik sangat perlu untuk memahami berbagai karakteristik perkembangan peserta didiknya, diantaranya mengenai Perkembangan Fisik-Motorik, Perkembangan Fisik-Motorik, Perkembangan Bahasa, Perkembangan Emosi, Perkembangan Sosial , Perkembangan Moral, Perkembangan Kesadaran Beragama dan lain sebagainya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaiman karakteristik perkembangan pada peserta didik?
2.      Apa saja permasalahan yang dihadapi dimasa perkembangan remaja?
C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui karakteristik perkembangan peserta didik
2.      Untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi remaja





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Definisi Perkembangan
Perkembangan adalah perubahan yang bersifat kualitatif yang didalamnya berupa perubahan secara psikologis. Perkembangan lebih mengacu kepada karakteristik yang khas dari gejala-gejala psikologis ke arah yang lebih maju. Para ahli psikologi pada umumnya menunjuk pada pengertian perkembangan sebagai suatu proses perubahan yang bersifat progresif dan menyebabkan tercapainya kemampuan dan karakteristik psikis yang baru. Perubahan seperti itu tidak terlepas dari perubahan yang terjadi pada struktur biologis, meskipun tidak semua perubahan kemampuan dan sifat psikis dipengaruhi oleh perubahan struktur biologis.[1]
B.     Karakteristik Perkembangan Anak Sekolah Dasar
Masa usia sekolah dasar pada umumnya berlangsung dari usia 6-12 tahun. Usia ini ditandai dengan mulainya anak masuk sekolah dasar dan untuk pertama kalinya menerima pendidikan formal.
Karakteristik perkembangan pada anak sekolah dasar berhubungan dengan perubahan aspek-aspek berikut :
Pertumbuhan fisik cenderung lebih stabil atau tenang sebelum memasuki remaja yang pertumbuhannya begitu cepat. Masa yang tenang ini diperlukan oleh anak untuk belajar berbagai kemampuan akademik.
Menurut Seifert dan Hoffnung (1994), perkembangan fisik meliputi :
a.       Perubahan dalam tubuh seperti: pertumbuhan otak, sistem saraf, organ-organ indrawi, pertambahan tinggi dan berat, serta hormon.
b.      Perubahan cara individu dalam menggunakan tubuhnya seperti: perkembangan keterampilan motorik.
c.       Perubahan dalam kemampuan fisik seperti: penurunan fungsi jantung, dan penglihatan.[2]
Seiring dengan pertumbuhan fisik yang beranjak matang, maka perkembangan motorik anak usia dasar ditandai dengan gerak atau aktifitas motorik yang lincah oleh karena itu usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik baik halus maupun kasar.
a. Motorik halus : menggambar, menulis.
b. Motorik kasar : berenang, senam.
Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu faktor penentu kelancaran proses belajar baik dalam bidang pengetahuan maupun keterampilan, oleh karena itu perkembangan motorik sangat menunjang keberhasilan peserta didik.[3]
2.      Perkembangan Intelektual
Pada usia sekolah dasar (6-12 tahun) anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif seperti membaca, menulis, dan menghitung.  Anak usia 6-12 tahun ditandai dengan tiga kemampuan baru yaitu mengklasifikasikan (mengelompokkan), menyusun dan mengasosiasikan (menghubungkan atau menghitung) angka-angka atau bilangan. Kemampuan yang berkaitan dengan perhitungan angka seperti nemambah, mengurangi, mengalikan, dan membagi. Di samping itu anak pada akhir masa ini anak memiliki kemampuan memecahkan masalah yang sederhana.
Bahasa merupakan sarana berkomunikasi dengan orang lain, di mana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, atau isyarat. Melalui bahasa, setiap manusia dapat mengenal dirinya, sesamanya, alam sekitar, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai moral atau agama.
Usia sekolah dasar merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai kata (vocabulary). Pada awal masa ini, anak sudah menguasai sekitar 2.500 kata, dan pada masa akhir (kira-kira usia 11-12 tahun) anak telah dapat menguasai sekitar 5.000 kata. Bagi anak sekolah dasar, perkembangan bahasa ini minimal dapat menguasai 3 kategori, yaitu: dapat membuat kalimat yang lebih sempurna, dapat membuat kalimat majemuk, dan dapat menyusun serta mengajukan pertanyaan.
Dengan diberikannya pelajaran bahasa di sekolah, para siswa diharapkan dapat menguasai dan menggunakannya sebagai alat untuk berkomunikasi secara baik dengan orang lain, mengekspresikan pikiran, perasaan, sikap, atau pendapatnya, memahami isi dari setiap bahan bacaan yang dibacanya.
Untuk mengembangkan kemampuan berbahasa atau keterampilan berkomunikasi anak melalui tulisan, sebaiknya anak dilatih untuk membuat karangan atu tulisan tentang berbagai hal, seperti tentang kehidupan keluarga, dan cita-cita.
Bahasa merupakan alat komunikasi dalam pergaulan sosial karena dengan komunikasi bisa menghasilkan pembelajaran yang efektif untuk mendapatkan pendidikan yang optimal. Apabila guru dan siswa saling komunikasi dengan baik dan anak mengerti apa yang dikatakan oleh seorang guru, tentunya dapat menghasilkan pembelajaran yang optimal. 

4.      Perkembangan Emosi
Emosi adalah perasaan yang terefleksikan dalam bentuk perbuatan atau tindakan nyata kepada orang lain atau kepada diri sendiri untuk menyatakan suasana batin atau jiwanya. Emosi seseorang akan tercermin dalam segala tindakan dan perilakunya yang terwujud dalam perkataan dan perbuatan serta sikap yang ditunjukkanya.
Menurut Syamsu Yusuf (2007: 139) pada usia sekolah dasar ini anak mulai belajar mengendalikan dan mengontrol ekspresi emosinya, dan karakteristik emosi yang stabil ditandai dengan menunjukkan wajah yang ceria, bergaul dengan teman secara baik, dapat berkonsentrasi dalam belajar, dan bersikap menghargai kepada diri sendiri dan orang lain.
5.      Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial berkenaan dengan bagaimana anak berinteraksi sosial. Perkembangan sosial sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi, dan moral keagamaan.
Proses perkembangan sosial berlangsung secara berirama. Pada masa anak sekolah masuk pada masa objektif, dimana perkembangan sosial pada anak-anak sekolah dasar ditandai dengan adanya perluasan hubungan, disanping dengan keluarga juga ia mulai membentuk ikatan baru dengan teman sebaya atau teman sekelas, sehingga ruang gerak hubungan sosialnya telah bertambah luas. Anak mulai berminat terhadap kegiatan-kegiatan teman sebaya dan bertambah kuat keinginannya diterima menjadi anggota kelompok dan tidak senang apabila tidak diterima oleh kelompoknya.
6.      Perkembangan Moral
Perkembangan moral pada anak usia sekolah dasar adalah bahwa anak sudah dapat mengikuti peraturan atau tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini (11-12 tahun) anak sudah dapat memahami alasan yang mendasari suatu peraturan. Disamping itu, anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep benar dan salah atau baik dan buruk.[4]
7.      Perkembangan Kesadaran Beragama
Pada masa ini kesadaran beragama anak ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1.        Sikap keagamaan anak masih bersifat reseptif namun sudah disertai dengan pengertian.
2.        Pandangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara rasional berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman kepada indikator-indikator alam semesta sebagai manifestasi dari keagungan-Nya.
3.        Penghayatan secara rohaniyah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterimanya sebagai keharusan moral.
Dalam mengenalkan Tuhan kepada anak, sebaiknya ditonjolkan sifat-sifat pengasih dan penyayangnya, bukan menonjolkan sifat-sifat Tuhan yanng menghukum, mengazab, atau memberikan siksaan dengan neraka.
Sampai kira-kira berusia 10 tahun, ingatan anak masih bersifat mekanis, sehingga kesadaran beragamanya hanya merupakan hasil sosialisasi orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, pengamalan ibadahnya masih bersifat peniruan, belum dilandasi kesadarannya.
Periode sekolah dasar merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama yang paling mendasar. Kualitas keagamaan anak di usia dewasa sangat dipengaruhi pula oleh proses pembentukan atau pendidikan yang diterimanya waktu kecil. Maka dari itu, pendidikan agama pada usia SD/MI sangatlah penting.
Menurut Zakiah Darajat (1968: 58) mengemukakan bahwa pendidikan agama di sekolah dasar merupakan dasar bagi pembinaan sikap positif terhadap agama dan pembentukan kepribadian dan akhlak anak. Apabila berhasil, maka pengembangan sikap keagamaan pada masa remaja akan mudah, karena anak telah mempunyai pegangan atau bekal dalam menghadapi berbagai goncangan yang biasa terjadi pada masa remaja.[5]

C.     Karakteristik  Perkembangan Remaja
                        Remaja sebenarnya tidak memiliki tempat, mereka tidak termasuk golongan anak-anak tetapi belum juga diterima secara penuh dalam golongan dewasa. Oleh karena itu sering disebut dengan fase “pencari jati diri”.
Karakteristik remaja yang berhubungan dengan pertumbuhan (perubahan-perubahan fisik) ditandai oleh adanya kematangan seks primer dan sekunder. Sedangkan karakteristik perkembangan pada remaja berhubungan dengan perubahan-perubahan aspek psikologis dan sosial. Diantaranya sebagai berikut :
1.         Secara fisiologis
Kematangan seks primer merupakan kematangan yang berhubungan dengan fungsi reproduksi. Tanda kematangan seks primer bagi remaja perempuan adalah datangnya menstruasi. Timbulnya kematangan primer ini menyebabkan rasa sakit kepala, pinggang, perut, dan sebagainya yang menyebabkan merasa capek, cepat lelah, cepat marah.  Sedangkan kematangan seks primer bagi remaja laki-laki ditandai dengan mimpi basah (neoturnal emmission).
     Karakteristik seks sekunder remaja perempuan ditandai dengan perkembangan pinggul yang membesar dan menjadi bulat, perkembangan buah dada, timbul “public hair” rambut di daerah kelamin, timbulnya “axillary hair” rambut di ketiak, kulit menjadi kasar dibandingkan pada anak-anka, timbul jerawat, kelenjar keringat bertambah aktif sehingga banyak keringat yang keluar dan tumbuhnya rambut di lengan dan kaki.

2.      Secara Psikologi
Karakteristik yang berhubungan dengan perkembangan (aspek psikologis dan soaial) ditandai oleh : emosionalitas tinggi, keadaannya tidak stabil, sangat sugestibel, mencari identitas diri, pergaulan dengan teman sebaya menjadi amat kuat (aktivitas kelompok), tertarik dengan lawan jenis, bersifat kritis, berkeinginan besar mencoba segala hal yang belum diketahuinya, seringkali mengadakan pertentangan, keinginan menjelajah ke alam sekitar yang lebih luas, dan mengkhayal dan berfansi.[6]

D.    Karakteristik Peserta Didik dalam Belajar
Karakteristik yang dimiliki setiap peserta didik sangan beragam (berbeda). Adapan karakteristik peserta didik dalam belajar adalah sebagai berikut :
1.      Cepat dalam Belajar
Siswa yang cepat dalam belajar merupakan siswa yang dapat menyelesaikan proses belajar dengan waktu yang lebih cepat, medah menerima materi pelajaran yang disajikan, dan mereka juga tidak memerlukan waktu yang lama untuk memecahkan suatu permasalahan yang dihadapinya. Karakteristik Peserta didik jenis ini ditandai dengan memiliki IQ (tingkat kecerdasan) yang tinggi di atas 130.
2.      Lambat dalam Belajar
Peserta didik ini kebalikan dari peserta didik yang cepat dalam belajar. Mereka memerlukan waktu yang relatif lama dalam memahami materi mata pelajaran yang diajarkan. Hal ini menyebabkan mereka tertinggal dalam proses belajarnya. Peserta didik yang lambat dalam belajar memiliki IQ yang rendah dibawah rata-rata (normal), sehingga mereka memerlukan perhatian khusus dan waktu yang lebih lama dalam proses belajarnya.
3.      Peserta didik yang kreatif
Peserta didik yang kreatif adalah peserta didik yang mampu menunjukkan kreatifitas yang tinggi dalam kegiatan-kegiatan tertentu. Peserta didik yang kreatif ini dalam proses belajarnya mampu memecahkan masalah dengan berbagai variasi. Mereka lebih senang bekerja sendiri, percaya diri sendiri, dan berani menanggung resiko yang sulit.

4.      Peserta didik yang Drop Out (Putus Belajar)
Peserta didik drop out ini merupakan peserta didik yang tidak berhasil dalam kegiatan belajarnya. Adapun faktor yang menyebabkan hal ini berasal dari diri mereka sendiri, seperti kurang minat, malas sekolah, dan sebagainya. dan faktor eksternal, seperti kurikulum, metode mengajar yang digunakan guru, lingkungan masyarakat yang kurang mendukung, atau keluarga broken home dan sebagainya. peserta didik inilah yang sangat membutuhkan bimbingan lebih agar mereka dapat berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
5.      Peserta didik yang “underachiever”
Peserta didik yang tergolong dalam karakteristik ini adalah peserta didik yang memiliki taraf intelegensi yang tergolong tinggi. Akan tetapi memperoleh prestasi belajar yang tergolong rendah (dibawah rata-rata).  Peserta didik mengalami kesulitan dalam belajar disekolah. Hal ini disebabkan karena aspek motivasi, minat, sikap, kebiasaan belajar, ciri-ciri kepribadian tertentu ataupun pola-pola pendidikan yang diterima dari orang tua dan suasana keluarga yang tidak mendukung.[7]
Jadi peserta didik mempunyai karakter yang berbeda-beda dalam proses belajarnya. Oleh karena itu, sebagai pendidik atau konselor harus bisa memahami setiap kebutuhan belajar siswanya, agar peserta didik dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan sekolah.

E.     Masalah-masalah yang dihadapi Remaja
Permasalahan yang mungkin timbul  pada masa remaja diantaranya :
1.      Permasalahan berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik
Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting, namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual.
2.      Permasalahan Berkaitan dengan Perkembembangan Perilaku Sosial, Moralitas dan Agama
Masa remaja disebut juga masa social hunger (kehausan sosial) yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Penolakan dari peer group akan menimbulkan frustasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. Namun sebaliknya jika remaja dapat diterima oleh teman sebayanya dia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya. Problem perilaku sosial tidak hanya terjadi pada teman sebayanya saja namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dan dewasa lainnya termasuk dengan guru disekolah.

3.      Permasalahan Berkaitan dengan Perkembangan Kepribadian, dan Emosional
Masa remaja disebut juga dengan masa menemukan identitas diri (self identy). Usaha pencarian identitaspun banyak dilakukan dengan menunjukan perilaku coba-coba, perilaku imitasi, atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya.[8]


BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Perkembangan adalah perubahan yang bersifat kualitatif yang didalamnya berupa perubahan secara psikologis. Perkembangan lebih mengacu kepada karakteristik yang khas dari gejala-gejala psikologis ke arah yang lebih maju. Para ahli psikologi pada umumnya menunjuk pada pengertian perkembangan sebagai suatu proses perubahan yang bersifat progresif dan menyebabkan tercapainya kemampuan dan karakteristik psikis yang baru. Perubahan seperti itu tidak terlepas dari perubahan yang terjadi pada struktur biologis, meskipun tidak semua perubahan kemampuan dan sifat psikis dipengaruhi oleh perubahan struktur biologis.
Karakteristik perkembangan pada anak sekolah dasar berhubungan dengan perubahan aspek-aspek berikut :
1.      Perkembangan Fisik-Motorik
2.      Perkembangan Intelektual
3.      Perkembangan Bahasa
4.      Perkembangan Emosi
5.      Perkembangan Sosial
6.      Perkembangan Moral
7.      Perkembangan Kesadaran Beragama
Sedangkan karakteristik perkembangan pada remaja berhubungan dengan perubahan-perubahan aspek psikologis dan sosial. Diantaranya sebagai berikut :
1.      Secara fisiologis
2.      Secara Psikologi
Adapan karakteristik peserta didik dalam belajar adalah sebagai berikut :
1.      Cepat dalam Belajar
2.      Lambat dalam Belajar
3.      Peserta didik yang kreatif
4.      Peserta didik yang Drop Out (Putus Belajar)
5.      Peserta didik yang “underachiever”
Berbagai permasalahan yang dihadapi oleh seorang remaja diantaranya adalah:
1.      Permasalahan berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik
2.      Permasalahan Berkaitan dengan Perkembembangan Perilaku Sosial, Moralitas dan Agama
3.      Permasalahan Berkaitan dengan Perkembangan Kepribadian, dan Emosional
B.     Saran
Penyusun dan penulis makalah ini tentulah jauh dari kata sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan makalah-makalah berikutnya.


DAFTAR PUSTAKA

Honggowiyono, Puger. 2015. Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik untuk Guru dan Calon Guru. Malang: Gunung Samudera
Desmita. 2011. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Remaja Rosdakarya
Yusuf, Syamsu  dan  M. Sugandhi  Nani. 2011.  Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Susanto, Ahmad. 2013.  Teori Belajar dan Pembelajaran Di Sekolah Dasar. Jakarta: Prenadamedia Group
A , Hallen. 2002. Bimbingan dan Konseling Dalam Islam. Jakarta : Ciputat Pers
http://umptbo2011.wordpress.com/2011/12/13/pertumbuhan-dan-perkembangan-remaja/
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/masalah-pada-masa-remaja/










[1] Puger Honggowiyono, Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta Didik untuk Guru dan Calon Guru, (Malang: Gunung Samudera, 2015), hlm. 1-2.
[2] Desmita, Psikologi Perkembangan Peserta Didik, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), hlm. 73.
[3] Syamsu Yusuf  dan M. Sugandhi Nani, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), hlm. 59.
[4] Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran Di Sekolah Dasar, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2013), hlm.73-76.
[5] Op.Cit., hlm. 62-63.
[6] http://umptbo2011.wordpress.com/2011/12/13/pertumbuhan-dan-perkembangan-remaja/  diaksestanggal 29/03/2018 jam 20.00
[7] Hallen A, Bimbingan dan Konseling Dalam Islam, (Jakarta :Ciputat Pers, 2002), hlm. 124-128
[8] https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/masalah-pada-masa-remaja/ diakses pada 1 April 2018 pukul 17:50

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK"

Posting Komentar