PENDIDIKAN PADA MASA AWAL MASUK
ISLAM DAN PADA MASA WALISONGO
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah sejarah pendidikan islam
Dosen
Pengampu: Dra. Hj. Fatikhah.M.Ag
Disusun
oleh:
1. Mufarikha
(2021115376)
2. Imam
Rifki (2021115356)
3. Arifnal
Huda (2117030)
Kelas:
F
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN /PAI
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Pendidikan merupakan sebuah usaha yang dilakukan untuk membimbing
dan memberikan pengajaran kepada peserta didik sebagai bekal mereka dimasa
mendatang. Islam hadir sebagai sebuah agama yang meyerukan tentang pentingnya pendidikan ditandai dengan diturunkannya surah Al- Alaq ayat 1 -5. Perkembangan pendidikan dan modernisasi dewasa ini membuat daya dan persaingan hidup semakin tinggi, kompetitif, dan cepat.
mendatang. Islam hadir sebagai sebuah agama yang meyerukan tentang pentingnya pendidikan ditandai dengan diturunkannya surah Al- Alaq ayat 1 -5. Perkembangan pendidikan dan modernisasi dewasa ini membuat daya dan persaingan hidup semakin tinggi, kompetitif, dan cepat.
Metode pendidikan masyarakat yang
dilakukan Walisongo nampaknya terinspirasi dari metode pendidikan yang
dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sederhananya, prinsip pendidikan yang dilakukan
oleh Rasulullah adalah Pendidikan Kreatif dan Inovatif dengan cara
memahami dengan baik konstruk sosial budaya yangberkembang di Masyarakat Arab,
berbaur dengan denyut nadi kehidupan masyarakat tersebut, kemudian melahirkan
ide-ide kreatif untuk melancarkan aksi pendidikannya
B.
RUMUSAN
MASALAH
1. Bagaimana
pendidikan islam pada awal masuk islam di indonesia ?
2. Bagaimana
pendidikan islam pada masa walisongo ?
3.
Bagaimana lembaga pendidikan di
masa awal masuk islam dan masa walisongo ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENDIDIKAN ISLAM MASA PADA AWAL
MASUK ISLAM KE INDONESIA
Banyak
teori yang menjelaskan tentang awal masuk isalm di nusantara antara lain
sebagai berikut :
Pertama, teori Arab. Teori ini menyatakan
bahwa Islam dibawa dan disebarkan ke Nusantara langsung dari Arab pada abad
ke-7/8 M, saat Kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya. Tokoh-tokoh teori
ini adalah Crawfurd, Keijzer, Niemann, de Hollander, Hasymi, Hamka, Al-Attas, Djajadiningrat,
dan Mukti Ali. Bukti-bukti sejarah teori ini sangat kuat. Pada abad ke-7/8 M,
selat Malaka sudah ramai dilintasi para pedagang muslim dalam pelayaran dagang
mereka ke negeri-negeri Asia Tenggara dan Asia Timur. Berdasarkan berita Cina
Zaman Tang pada abad tersebut, masyarakat muslim sudah ada di Kanfu (Kanton)
dan Sumatera. Ada yang berpendapat mereka adalah utusan-utusan Bani Umayah yang
bertujuan penjajagan perdagangan. Demikian juga Hamka yang berpendapat bahwa
Islam masuk ke Indonesia tahun 674 M. Berdasarkan Catatan Tiongkok, saat itu
datang seorang utusan raja Arab bernama Ta Cheh atau Ta Shih (kemungkinan
Muawiyah bin Abu Sufyan) ke Kerajaan Ho Ling (Kalingga) di Jawa yang diperintah
oleh Ratu Shima. Ta-Shih juga ditemukan dari berita Jepang yang ditulis tahun
748 M. Diceritakan pada masa itu terdapat kapal-kapal Po-sse dan Ta-Shih KUo.
Menurut Rose Di Meglio, istilah Po-sse menunjukan jenis bahasa Melayu sedangkan
Ta-Shih hanya menunjukan orang-orang Arab dan Persia bukan Muslim India. Juneid
Parinduri kemudian memperkuat lagi, pada 670 M, di Barus Tapanuli ditemukan
sebuah makam bertuliskan HaMim. Semua fakta tersebut tidaklah mengherankan
mengingat bahwa pada abad ke-7, Asia Tenggara memang merupakan lalu lintas
perdagangan dan interaksi politik antara tiga kekuasaan besar, yaitu Cina di
bawah Dinasti Tang (618-907), Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7-14), dan Dinasti
Umayyah (660-749).[1]
Kedua, teori Cina. Dalam teori ini
menjelaskan bahwa etnis Cina Muslim sangat berperan dalam proses penyebaran
agama Islam di Nusantara. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya pada teori
Arab, hubungan Arab Muslim dan Cina sudah terjadi pada Abad pertama Hijriah.
Dengan demikian, Islam datang dari arah barat ke Nusantara dan ke Cina
berbarengan dalam satu jalur perdagangan. Islam datang ke Cina di Canton
(Guangzhou) pada masa pemerintahan Tai Tsung (627-650) dari Dinasti Tang, dan
datang ke Nusantara di Sumatera pada masa kekuasaan Sriwijaya, dan datang ke
pulau Jawa tahun 674 M berdasarkan kedatangan utusan raja Arab bernama Ta
cheh/Ta shi ke kerajaan Kalingga yang di perintah oleh Ratu Sima
Ketiga, teori Persia. Berbeda
dengan teori sebelumnya teori Persia lebih merujuk kepada aspek bahasa yang
menunjukan bahwa Islam telah masuk ke Nusantara dan bahasanya telah diserap.
Seperti kata „Abdas‟ yang dipakai oleh masyarakat Sunda merupakan serapan dari
Persia yang artinya wudhu. Bukti lain pengaruh bahasa Persia adalah bahasa Arab
yang digunakan masyarakat Nusantara, seperti kata-kata yang berakhiran ta’marbūthah
apabila dalam keadaan wakaf dibaca “h” seperti shalātun dibaca shalah.
Namun dalam bahasa Nusantara dibaca salat, zakat, tobat, dan lain-lain.10
Keempat, teori India. Teori ini
menyatakan Islam datang ke Nusantara bukan langsung dari Arab melainkan melalui
India pada abad ke-13. Dalam teori ini disebut lima tempat asal Islam di India
yaitu Gujarat, Cambay, Malabar, Coromandel, dan Bengal.11 Teori India yang
menjelaskan Islam berasal dari Gujarat terbukti mempunyai kelemahankelemahan.
Hal ini dibuktikan oleh G.E. Marrison dengan argumennya “Meskipun batu-batu
nisan yang ditemukan di tempat-tempat tertentu di Nusantara boleh jadi berasal
dari Gujarat atau Bengal, seperti yang dikatakan Fatimi. Itu tidak lantas
berarti Islam juga didatangkan dari sana”. Marrison mematahkan teori ini dengan
menuujuk pada kenyataan bahwa ketika masa Islamisasi Samudera Pasai, yang raja
pertamanya
Kelima, teori Turki. Teori ini diajukan oleh Martin Van
Bruinessen yang dikutip dalam Moeflich Hasbullah. Ia menjelaskan bahwa selain
orang Arab dan Cina, Indonesia juga diislamkan oleh orangorang Kurdi dari
Turki. Ia mencatat sejumlah data. Pertama, banyaknya ulama Kurdi yang
berperan mengajarkan Islam di Indonesia dan kitabkitab karangan ulama Kurdi
menjadi sumber-sumber yang berpengaruh luas. Misalkan, Kitab Tanwīr al-Qulūb
karangan Muhammad Amin alKurdi populer di kalangan tarekat Naqsyabandi di
Indonesia. Kedua, di antara ulama di Madinah yang mengajari ulama-ulama
Indonesia terekat Syattariyah yang kemudian dibawa ke Nusantara adalah Ibrahim
alKurani. Ibrahim al-Kurani yang kebanyakan muridnya orang Indonesia adalah
ulama Kurdi. Ketiga, tradisi barzanji populer di Indonesia dibacakan
setiap Maulid Nabi pada 12 Rabi‟ul Awal, saat akikah, syukuran, dan
tradisi-tradisi lainnya. Menurut Bruinessen, barzanji merupakan nama keluarga berpengaruh dan syeikh tarekat
di Kurdistan. Keempat, Kurdi merupakan istilah nama yang populer di
Indonesia seperti Haji Kurdi, jalan Kurdi, gang Kurdi, dan seterusnya. Dari
fakta-fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa orang-orang Kurdi berperan dalam
penyebaran Islam di Indonesia. [2]
Dari teori-teori tersebut
tampak sekali bahwa fakta-fakta Islamisasi diuraikan dengan tidak membedakan
antara awal masuk dan masa perkembangan atau awal masuk dan pengaruh kemudian.
Kedatangan Islam ke Nusantara telah melalui beberapa tahapan dari individualis,
kelompok, masyarakat, negara kerajaan, sampai membentuk mayoritas.
Teori Persia, India, Cina,
dan Turki semuanya menjelaskan tentang pengaruh-pengaruh setelah banyak
komunitas dan masyarakat muslim di Nusantara. Jadi, sebenarnya teori tersebut
tidak menggugurkan atau melemahkan teori sebelumnya, tetapi melengkapi proses
Islamisasi
Dari uraian di atas dapat diperkirakan bahwa Islam sudah masuk ke
Nusantara sejak awal abad Hijriah. Meskipun sifatnya masih dianut oleh bangsa
asing dan belum ada pengakuan dari pribumi yang beragama Islam. Jelaslah
sejarah bagaimana Islam datang ke Indonesia akan tetapi yang menjadi pertanyaan
di atas ialah kepastian asal kedatangan, pembawanya, tempat yang didatangi,
waktu, dan bukti sejarah. Perbedaan sudut pandang dan bukti-bukti tersebut
menyebabkan beragamnya teori-teori masuknya Islam ke Indonesia. Berdasarkan
tempat terdapat lima teori tentang masuknya Islam ke Nusantara, sebagaimana
uraian berikut.
Dari uraian di atas dapat dipastikan bahwa bangsa Arab berperan
penting dalam perdagangan. Dan telah ditemukan bukti-bukti yang menunjukan
bahwa telah terjadi interaksi perdagangan antara Cina, Arab dan Nusantara.
Sehingga Islam sudah mulai masuk ke dalam kepulauan Nusantara dan tampak sekali bahwa fakta-fakta
Islamisasi diuraikan dengan tidak membedakan antara awal masuk dan masa
perkembangan atau awal masuk dan pengaruh kemudian. Kedatangan Islam ke
Nusantara telah melalui beberapa tahapan dari individualis, kelompok,
masyarakat, negara kerajaan, sampai membentuk mayoritas.
B.
Strategi
Penyebaran Islam di Nusantara
Dalam penyebaran Islam di Nusantara
terdapat strategi yang dilakukan sehingga Islam lebih mudah diterima
dibandingkan dengan agama lain. Strategi yang dilakukan bermacam-macam dan
tidak terdapat unsur paksaan. Di antara strategi penyebaran islam tersebut
Pertama, melalui jalur perdagangan. Awalnya
Islam merupakan komunitas kecil yang kurang berarti. Interaksi antar pedagang
muslim dari berbagai negeri seperti Arab, Persia, Anak Benua India, Melayu, dan
Cina yang berlangsung lama membuat komunitas Islam semakin berwibawa, dan pada
akhirnya membentuk masyarakat muslim. Selain berdagang, para penyebar agama
Islam dari berbagai kawasan tersebut, juga menyebarkan agama yang dianutnya,
dengan menggunakan sarana pelayaran.
Kedua, melalui jalur dakwah bi al-hāl yang
dilakukan oleh para muballigh yang merangkap tugas menjadi pedagang. Proses
dakwah tersebut pada mulanya dilakukan secara individual. Mereka melaksanakan
kewajiban-kewajiban syari‟at Islam dengan memperhatikan kebersihan, dan dalam
pergaulan mereka menampakan sikap sederhana
Ketiga, melalui jalur perkawinan, yaitu perkawinan antara pedagang
Muslim, muballigh dengan anak bangsawan Nusantara. Berawal dari kecakapan ilmu
pengetahuan dan pengobatan yang didapati dari tuntunan hadits Nabi Muhammad
Saw. ada di antara kaum muslim yang berani memenuhi sayembara yang diadakan
oleh raja dengan janji, bahwa barang siapa yang dapat mengobati puterinya
apabila perempuan akan dijadikan saudara, sedangkan apabila laki-laki akan
dijadikan menantu. Dari perkawinan dengan puteri raja lah Islam menjadi lebih
kuat dan berwibawa.
Keempat, melalui jalur pendidikan. Setelah kedudukan para pedagang
mantap, mereka menguasai kekuatan ekonomi di bandar-bandar seperti Gresik.
Pusat-pusat perekonomian itu berkembang menjadi pusat pendidikan dan penyebaran
Islam. Pusat-pusat pendidikan dan dakwah Islam di kerajaan Samudra Pasai
berperan sebagai pusat dakwah pertama yang didatangi pelajar-pelajar dan
mengirim muballigh lokal, di antaranya mengirim Maulana Malik Ibrahim ke Jawa.
Kelima, melalui jalur kultural. Awal mulanya kegiatan islamisasi selalu
menghadapi benturan denga tradisi Jawa yang banyak dipengaruhi Hindu-Budha.
Setelah kerajaan Majapahit runtuh kemudian digantikan oleh kerajaan Islam. Di
Jawa Islam menyesuaikan dengan budaya lokal sedang di Sumatera adat
menyesuaikan dengan Islam. 15 Islam terus berkembang dan menyebar dari masa ke
masa hingga sekarang melalui tahapan-tahapan dan jasa para mubaligh. Meskipun
demikian masih terdapat perbedaan-perbedaan dalam cara ibadah disebabkan oleh
faktor kultural. Maka apa yang harus dilakukan oleh para penerus bangsa
Indonesia untuk dapat menyatukan pemahaman tentang Islam.[3]
C. PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA
WALISONGO
Walisongo
memiliki arti wali yang berjumlah sembilan. Dalam perkembangan islam walisongo
samgat berperan penting dalam menyebarkan islam di pulau jawa. Walisongo ini
hidup pada masa kesultanan demak antara tahun 1500-1550. Wali sembilan tersebut
antara lain.
1. Syaikh Maulana Malik Ibrahim
Beliau terkenal
dengan nama maulana malik ibrahim atau maulanan malik maghribi, dia berasal
dari negara arab, keturunan zainal abidin bin hasan bin ali Ra. Wafat pada
tanggal 12 rabiul awal 882 hijriyah. Dan di makamkan di gersik. [4] Sementara itu, sumber cerita lokal menuturkan bahwa daerah
yang dituju Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang pertama kali saat mendarat di
Jawa ialah Desa Sembalo, di dekat Desa Leran Kecamatan Manyar Kabupaten
Gresik,. Dengan mendirikan masjid pertama di Desa Pasucian, Manyar, ia mulai menyiarkan agama Islam. Awal aktivitasnya
ialah berdagang di Desa Rumo Setelah dakwahnya berhasil di Sembalo, Maulana
Malik Ibrahim kemudian pindah ke Gresik. Setelah itu mendatangi raja Majapahit
dan mengajak raja masuk agama Islam. Walaupun raja tidak memeluk Islam, Maulana
Malik Ibrahim diberikan tanah di Pinggiran kota Gresik yang bernama Desa
Gapura. Di desa inilah ia mendirikan pesantren untuk mendidik kader-kader
pemimpin umat dan penyebar Islam di masa yang akan datang sebagai pengganti
dirinya.[5]
2.
Sunan
Ampel (Raden Rahmat)
Raden
rahmat ayahnya bernama Syaikh Ibrahim As-Samarkandi berasal dari aru dan ibunya
berasal dari campa. Raden rahmat menikah dengan tuan puri tuban yaitu nyi ageng manila yang di karuniai 3 orang
anak yang bernama : makdum ibrahim ( sunan drajat), masih ma’unat ( sunan
bonang ).nyai gede malihah (istri sunan giri). Hasil didikan beliau yang
terkenal adalah falsah moh lim atau tidak mau melakukan lima hal tercela :
a.
Moh main atau tidak mau berjudi
b.
Moh ngombe atau tidak mau minum arak atau bermabuk
mabukan.
c.
Moh Maling atau tidak mau mencuri
d.
Moh Madat atau tidak mau
menghisap candu, candu ganja dan lain lain
e.
Moh Madon atau tidak mau
main perempuan yang bukan istrinya.[6]
3. Sunan
Bonang
Nama lain Sunan
Bonang adalah Raden Makdum atau Maulana Makdum Ibrahim. beliau lahir di Bonang,
Tuban pada tahun 1465 M. Sunan Bonang merupakan putra keempat Sunan Ampel dari
hasil pernikahannya dengan Candrawati alias Nyai Gede Manila putri Arya Teja Bupati
Tuban. Dakwah awal yang dilakukan Sunan Bonang di daerah Kediri. Dengan
membangun masjid di Singkal yang terletak di sebelah barat Kediri, Sunan Bonang
mengembangkan dakwah di pedalaman yang masyarakatnya masih menganut ajaran
Tantrayana. Setelah meninggalkan Kediri Sunan Bonang berdakwah di Lasem. Sunan
Bonang dikenal mengajarkan Islam melalui wayang, tembang, dan sastra sufistik.
Karya sufistik yang digubah Sunan Bonang dikenal dengan nama Suluk Wujil[7]
Beliau
juga menciptakan karya sastra yang disebut suluk hingga sekarang karya sastra
sunan bonang itu di anggap sebagai karya
yang sangat hebat, penuh keindahan dan makna kehidupan beragama. Suluk sunan
bonang di simpan rapi di perpustakaan
universitas laiden belanda.
Suluk
berasal dari bahsa arab ‘ salakattariqa
‘ artinya menempuh jalan ( tasawuf ) atau tarekat. Ilmunya sering di sebut ilmu suluk.. Ajaran yang
biasa di sampaikan dengan sekar atau
tembang di sebut suluk, sedangkan bila di ungkapkan secara biasa
dalam bentuk prosa di sebut wirid.[8]
4. Sunan
Kalijaga ( raden mas joko said)
Sunan kali jaga adalah putra temanggung wilatikta bupati
tuban, sunan kalijaga di kenal sebagai
tokoh keramat oleh masyarakat dan di anggap sebagai wali pelindung jawa
Kalijaga
artinya orang yang menjaga sungai karena dia
pernah bertapa di tepi sungai. Ada juga yang mengartikan legenda pertemuan raden said dengan sunan
bonang hanya sekedar simbol saja
,kemanapun sunan bonang pergi selalu membawa tongkat atau pegangan hidup, itu
artinya sunan bonang selalu membawa
agama , membawa iman sebagai penunjuk jalan kehidupan .
Raden
said kemudian di suruh menunggui tongkat atau agama di tepi sungai. Itu artinya
raden said di perintahkan untuk terjun ke dalam kancah masyarakat jawa yang
banyak mempunyai aliran kepercayaan dan
masih berpegang pada agama lama yaitu hindu dan budha.
Di
Cirebon beliau bertemu dengan Sunan Gunungjati dan dinikahkan dengan adiknya
Siti Zaenab. Cara dakwah Sunan Kalijaga berbeda dengan para wali lainnya.
Beliau berani memadukan dakwahnya dengan seni budaya yang telah menjadi
kebiasaan adat masyarakat Jawa. Seperti berdakwah dengan wayang, gamelan,
tembang, ukir dan batik. .[9]
5. Sunan
Gunung Jati
Sunan Gunung Jati
berasal dari Persia dan Arab. Sampai sekarang belum ada catatan sejarah yang
pasti mengenai kelahiran beliau. Dan berdasarkan beberapa babad dan sumber
sejarah beliau mempunyai banyak nama, di antaranya Muhammad, Nuruddin, Syeikh
Nurullah, Sayyid Kamil, Bulqiyyah, Syeikh Madzkurullah, Syarif Hidayatullah,
Makdum Jati.
Sejak
kecil Sunan Gunung Jati tinggal di Mekkah dan di sana beliau memperdalam ilmu
agama Islam. Di sana beliau tinggal kurang lebih 3 tahun. Sunan Gunung Jati
datang kembali ke tanah airnya dan pergi ke Pulau Jawa. Kedatangannya di sambut
baik oleh Kerajaan Islam Demak yang saat itu mencapai puncaknya berada di bawah
pemerintahan Raden Trenggono (1521 -1546). Ketika datang ke pulau Jawa, beliau
berdakwah di daerah Jawa bagian barat. Berkat dakwahnya, banyak rakyat Jawa
Barat yang memeluk agama Islam. Raden Trenggono pun menaruh simpati kepadanya
sehingga Sunan Gunung Jati dinikahkan dengan adik Raden Trenggono. Dakwahnya
terus berlanjut, Raden Trenggono memerintahkan Sunan Gunung Jati untuk memimpin
ekspedisi ke Banten dan Sunda Kelapa yang masyarakatnya masih beragama
Hindu-Budha dan berada di bawah kekuasaan Pajajaran
6.
Sunan
Drajat (Raden Qasim)
Nama
lain dari Sunan Drajat adalah Raden Qasim atau Syarifudin. Sunan Drajat merupakan
putra dari Sunan Ampel hasil pernikahannya dengan Candrawati alias Ni Gede
Manila. Dikisahkan bahwa sejak berusia muda Sunan Drajad telah diperintahkan
ayahnya untuk menyebarkan agama Islam di pesisir Gresik.[10]
Ajaran sunan drajad bersumber dari:
a.
Al-quran
b.
Sunah
c.
Ijma
d.
Qiyas
e.
Ajaran guru dan pendidik
seperti sunan ampel atau orang tuanya
f.
Ajaran dan pemikiran atau
paham yang telah tersebar luas di masyarakat,
g.
Tradisi di masyarakat
setempat yang telah ada yang sesuai dengan ajaran islam
h.
Fatwah sunan drajat sendiri
Sunan drajad ahli di di bidang kesenian di samping
terkenal sebagai ahli ukir, beliau juga pertaama kali yang menciptakan gending pangkur, hingga sekarang gending
tersebut masih di sukai rakyat jawa sunan drajat semikian gelar raden qosim diberikan
kepada beliau karena beliau bertempat tinggal di bukit yang tinggi seakan
melambangkan tingkat ilmunya yang tinggi yaitu tingkat para ulama
muqarrobin ulama yang dekat dengan allah[11]
7.
Sunan
Giri (Raden Paku)
Nama
lain Sunan Giri adalah Raden Paku atau Maulana Ainul Yaqin. Ayahnya bernama
Maulana Ishaq yang berasal dari Pasai serta ibunya bernama Sekardadu, Putri
Raja Blambangan. Ia adalah tokoh Wali Songo yang berkedudukan sebagai raja
sekaligus guru suci. Ia memiliki peran penting dalam pengembangan dakwah Islam
di Nusantara dengan memanfaatka kekuasaan dan jalur perniagaan. Sebagaimana
guru sekaligus mertuanya, Sunan Ampel, Sunan Giri mengembangkan pendidikan
dengan menerima murid-murid dari berbagai daerah di Nusantara. Sejarah
mencatat, jejak dakwah Sunan Giri bersama keturunannya mencapai daerah Banjar,
Martapura, Pasir, Kutai di Kalimantan, Buton dan Gowa di Sulawesi, Nusa
Tenggara, Bahkan di kepulauan Maluku.[12]
Ketangguhanya
dalam menyiarkan agama islam secara murni dan konsekwen membawa dampk positif
bagi generasi islam berikutnya islam
yang di siarkannya adalah islam sesuai ajaran nabi tanpa di campuri kepercayaan atau adat
istiadat lama .
Di bidang kesenian beliau juga berjasa besar
karena beliau yang pertama kali menciptakan asmaradana dan pucung beliau pula yang menciptakan tambang
dan tembangan dolanan anak anak
yang bernafas islam antara lain cublek cublek suweng, jamuran, jitungan dan
delikan .[13]
8.
Sunan
Kudus (Ja’far Shadiq)
Salah
satu sumber , sunan kudus adalah putra
raden usman haji yang bergelar sunan ngudung dari jipang panolan ada
yang mengatakan letak jipang panolan ini di sebelah utara kota blora didalam babad tanah jawa, di
sebutkan bahwa sunan ngundung pernah
memimpin pasukan majapahit. Sunan ngudung selaku senopati demak berhadapan dengan husain atau
adipati terung dari majapahit.dalam pertempuran
yang sengit dan saling mengeluarkan aji kesaktian itu sunan ngudung
gugur sebagai pahlawan sahid. Kedudukannya
sebagai senopati demak kemudian
di ganti kan oleh sunan kudus yaitu putranya sendiri yang bernama ja’far shodiq
Cara
berdakwah sunan kudus yang luwes :
a.
Strategi pendekatan kepada massa
Sunan
kudus termasuk pendukung gagasan sunan kalijaga dan sunan bonang yang menerapkan strategi dakwah kepada
masyarakat sebagai berikut :
a.
Membiarkan dulu adat
istiadat dan kepercayaan lama yang sukar di ubah. Mereka sepakat untuk tidak
menggunakan jalan kekerasan atau radikal menghadapi masyarakat yang demikian
b.
Bagian adat yang tidak
sesuai dengan ajaran islam tetapi mudah di rubah maka segera di hilangkan
c.
Tut wuri handayani artinya
mengikuti dari belakang terhadap kelakuan dan adat rakyat tetapi diusahakan
untuk mdapat mempengaruhi sedikit demi sedikit dan menerapkan prinsip tut
wuri hangiseni artinya mengikuti daribelakang
sambil engisi ajaran agama islam.
d.
Menghindarkan konfrontasi
secara langsung atau secara keras di dalam cara menyiarkan agama islam dengan
prinsip mengambil ikan tetapi tidak mengeruhkan airnya.
e.
Pada akhirnya boleh saja merubah adat dan kepercayaan
masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran islam tetapi dengan prinsip tidak menghalau masyarakat dari umat islam. Kalangan umat islam yang
sudah tebal imannya harus berusaha menarik simpati masyarakat non muslim agar mau mendekat dan tertarik pada ajaran islam. Hal itu tak bisa mereka lakukan kecuali melaksanakan
ajaran agama islam secara konsukwen. Sebab dengan melaksanakan ajaran
islam secara legkap otomatis tingkah laku dan gerak gerik mereka sudah
merupakan dakwah nyata yang dapat
memikat masyarakat non muslim.
9.
Sunan
Muria (Raden Umar Said)
Beliau
adalah putra sunan kalijaga dengan dewi saroh. Nama aslinya raden umar said
seperti seperti ayahnya, dalam berdakwah
beliau menggunakan cara halus, ibarat mengambil ikan tidak sampai mengeruhkan
airnya. Itulah cara yang di tempuh untuk menyiarkan agama islam di sekitar
gunung muria
Tempat
tinggal beliau di gunung muria yang salah satu puncak bernama colo. Letaknya di
sebelah utara kota kudus . menurut solichin salam, sasaran dakwah beliau adalah
para pedagang nelayan, pelaut, dan rakyat jelata. Beliaulah satu satunya wali
yang tetap mempertahankan kesenian gamelan
dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan islam dan beliau pula
yang menciptakan tembang sinom dan kinanti. Yang berisi nasehat nasehat dan
ajaran tauhid seperti ayahnya , sunan muria di kenal pintar mendalang dengan
membawa lakon lakon carangan karya sunan kalijaga.[14]
D.
LEMBAGA PENDIDIKAN PADA MASA AWAL MASUK ISLAM DAN WALISONGO
Seperti yang kita tahu bahwa agama islam
telah dikembangkan melalui cara pendidikan, dalam hal ini islam menandai
pendidikan di indonesia, pertama kali
adalah mesjid dan pondok pesantren. Masjid atau langgar adalah tempat
penbentukan dasar islam yang menanamkan pelajaran dasar aqidah yang kuat, juaga
pelajaran mengenai huruf arab sebagai modal untuk dapat membaca Al Qur’an, masa
pendidikan yang non formal ini berjalan dengan waktu yang kurang ditentukan dan
biasanya disebut dengan mengaji.
Sebagai tindak lanjut pendidikan
dimasjid atau di langgar, maka pesantren meneruskan pendidikan selanjutnya,
dipesantren mulai diberiakn pelajaran agama islam secara luas yang antara lain:
pelajaran tauhid secara mendalam,pelajaran ini menjadi pokok ajaran islam,
ushul fiqih diberikan sebagai sumber penggali hukum islam , ilmu bahasa arab
sebagai alat untuk menperdalam bahasa arab juga berfungsi dalm mempelajari
alquran, dan masih banyak mata pelajaran yang lainnya.[15]
BAB
III
PENUTUP
KESIMPULAN
Setiap pendidikan yang diajarkan oleh wali wali itu
sangat berbeda dengan satu dan yang lainya,
beliau tidak mengutamakan paksaan untuk maemeluk agama islam melainkan
dengan kerelaan dan sabar untuk mendidik rakyat rakyatanya, walisongo dalam
mengajarkan atau menyebarkan agam islam menggunakan metode metode yang sangat diterima masyarakat
untuk mengikuti ajaran apa yang di ajar oleh wali wali , metode metode yang di
ajarkan pun sangat menarik dan menyenangkan salah satunya wayang, kesenian
gamelan kesenian tembang,dsb
Daftar
pustaka
Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo (Depok:Pustaka
IIman, 2012 )
Roschidin Wahab
Fzh., M.Pd, sejarah pendidikan islam di indonesia
(Bandung:cvalfabeta.2004)
Ust. Imam Turmudzi, Gus Dur Wali Kesepuluh ( jombang
: Zahra Book, 2011 )
http://www.ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/islamuna/article/view/664/617
[1] http://www.ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/islamuna/article/view/664/617
di kutip tanggal 23 /03/2018
[2] http://www.ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/islamuna/article/view/664/617
di kutip tanggal 23 /03/2018
[3] http://www.ejournal.stainpamekasan.ac.id/index.php/islamuna/article/view/664/617
di kutip tanggal 23 /03/2018
[4] Roschidin Wahab Fzh., M.Pd, sejarah pendidikan islam di
indonesia (Bandung:cvalfabeta.2004) .hlm 13
[6] Ust. Imam Turmudzi, Gus Dur Wali
Kesepuluh ( jombang : Zahra Book, 2011 ), hlm 18
[8] Ust. Imam Turmudzi, ibid.hlm 42
[9] Agus Sunyoto, Atlas Wali
Songo (Depok:Pustaka IIman, 2012 ), hlm 210-211
[11] Ust. Imam Turmudzi. Op.Cit, hlm 71
[13] Ust. Imam Turmudzi,Op.Cit, hlm 38
[14] Ust. Imam Turmudzi,Op.Cit, hlm 71
[15]
Roschidin Wahab Fzh.,ibid.hlm
8

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : PENDIDIKAN PADA MASA AWAL MASUK ISLAM DAN PADA MASA WALISONGO"
Posting Komentar