BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pendidikan
memegang peranan penting dalam membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Kualitas SDM
yang dibentuk mesti sesuai dengan kebutuhan lingkungan dan kebutuhan zaman.
Oleh karena itu, pembaruan-pembaruan di bidang pendidikan merupakan upaya
mutlak untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang
sangat urgen dan tidak bisa lepas dari kehidupan. Karena dengan pendidikan akan
membantu manusia untuk menyingkapkan dan menemui rahasia alam, mengembangkan
fitrah manusia yang merupakan potensi untuk berkembang. Sangat urgennya masalah
pendidikan, sehingga begitu banyak para
pakar ataupun tokoh yang senantiasa berupaya untuk melahirkan pemikiran-pemikiran
tentang pendidikan. Pemikiran itu ada yang sifatnya pengetahuan yang
benar-benar baru yang sebelumya belum ada ataupun pemikiran-pemikiran yang
sifatnya pengembangan atau diadakan inovasi dari pemikiran yang ada. Hal ini
dilakukan semuanya tidak lain adalah supaya pendidikan benar-benar mengena pada
sasaran, yakni dapat bermanfaat dalam
kehidupan terlebih lagi supaya peradaban yang ada semakin maju dan
berkembang. Oleh karena kehidupan dan peradaban manusia senantiasa mengalami
perubahan.[1]
Setelah
sempat membahas tentang masa kemunduran pendidikan umat Islam, yang bersamaan
dengan runtuhnya Daulah Abbasiyyah, kini kita masuk pada pembahasan masa
pembaharuan bagi pendidikan Islam. Masa pembaharuan ditandai dengan kemunculan
tokoh-tokoh cendekiawan muslim yang mulai mendobrak pemikiran-pemikiran yang dirasa menyimpang dari corak pemikiran Islam
yang sebenarnya.
B.
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan
dari latar belakang di atas maka penulis merumuskan beberapa pokok masalah
untuk dibahas dalam makalah ini. Pokok-pokok masalah tersebut antara lain:
1. Bagaimana
Latar Belakang Masalah Pembaharuan Pendidikan Islam ?
2. Siapa
saja Tokoh dan Sasaran Pembaharuan Pendidikan Islam ?
3. Bagaimana
Dampak Pembaharuan Pendidikan Islam ?
4. Bagaimana
Pola Pembaharuan Pendidikan Islam ?
BAB
II
PEMBAHASAN
A. LATAR
BELAKANG LAHIRNYA PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM
Kelemahan
dan kemunduran umat Islam secara berangsur-angsur membenagkitkan kekuatan
Eropa. Mereka berhasil menudukkan kekuasaan umat Islam dan terjadilah
penjajahan diseluruh wilayah yang pernah dikuasai oleh kekuasaan Islam. Eksploitasi
kekayaan dunia Islam oleh bangsa-bangsa Eropa semakin memperlemah kedudukan
kaum Muslim dalam segala segi kehidupannya.
Kekalahan
tersebut mendorong para penguasa dan pemuka Islam untuk menyelidiki sebab-sebab
kekalahan mereka dan rahasia keunggulan lawan. Hal itu berdampak pada timbulnya
pembaharuan pendidikan islam, baik dalam bidang agama, sosial, maupun
pendidikan, yang diawali dan dilatar belakangi oleh pemikiran Islam yang timbul
di belahan dunia Islam lainya, terutama di Mesir, Turki, dan India.
Adanya kontak
Islam dengan barat pada masa ke-20 memunculkan dua respon umat Islam. Pertama,
rasa simpati umat Islam akan kemajuan yang dialami Barat berimplikasi pada
lahirnya gerakan yang mencoba melakukan pembaharuan melalui pengadopsian Ilmu
pengetahuan, Teknologi, dan nilai-nilai Barat ke dalam dunia Islam dengan
tujuan pembangkitan kembali Islam kepentas Dunia. Kedua, rasa prihatinan
dari sebagian golongan umat Islam akan kemunduran yang dialami Islam. Kondisi
ini telah membawa pada gerakan yang melihat bahwa kemunduran Islam disebabkan
oleh ketidaksetiaan umat Islam terhadap ajaran-ajaran Islam yang sesungguhnya.[2]
1. Faktor-faktor
lahirnya Pembaharuan Pendidikan Islam
Awal abad XX pendidikan islam di
Indonesia mulai memasuki pembaruan. Gerakan pembaruan ini dilatarbelakangi oleh
2 faktor :
a. Faktor
Internal
Dorongan untuk meningkatkan
perlawanan terhadap kolonial belanda. Bangsa Indonesia tidak mungkin harus
mempertahankan segala aktivitas dengan cara tradisional untuk melawan
kekuatan-kekuatan kolonialisme Belanda mereka mulai menyadari perlunya
perubahan-perubahan apakah dengan menggali mutiara-mutiara islam dari masa lalu
yang telah memberi kesanggupan umat islam pada abad pertengahan untuk mengatasi
barat dalam pengetahuan serta dalam memperluas pengaruh, atau dengan
mengggunakan metode-metode baru yang telah dibawa ke Indonesia oleh Belanda.
1) Rasa
Tidak Puas Terhadap Sistem Pendidikan Kolonial Belanda
Perasaan tidak puas terhadap sistem
pendidikan kolonial Belanda, membias pada pemikiran tokoh-tokoh nasional dan
pemuka agama di Indonesia. Sistem pendidikan kolonial yang bersifat
deskriminatif itu, dinilai sebagai cenderung melahirkan golongan elit yang
sengaja dipersiapkan untuk menjaga status quo antara rakyat jelata dengan kaum
aristocrat, yang diharap dapat memerintah terus bagi kepentingan Belanda.
Di kalangan pemuda islam, rasa tidak
puas sudah lama dipendam. Beberapa ordonasi yang dikeluarkan pemerintah sejak
tahun 1905 menjadikan gerak penyelenggarakan pendidikan agama kian dipersulit.
Apalagi beberapa kebijakan yang diambil pemerintah untuk membantu
sekolah-sekolah Missie dan Zending lebih memperlihatkan sikap berat sebelahnya.
2) Rasa
Tidak Puas Terhadap Pengalaman Islam dan penerapan Adat di Tengah-Tengah
Masyarakat.
Para pembaru di Minangkabau yang disebut
dengan kaum muda mengkritisi pemangku adat yang cenderung bepihak pada ulama
tradisional untuk mempertahankan status quo dan keharmonisan yang telah lama
terjalin. Kaum Muda menyeru kepada pemangku adat untuk menyederhanakan
pelaksanaan adat seperti dalam perkawinan, penguburan maupun tata cara
memperingati hari-hari perayaan islam. Dengan adanya serangan dari kaum muda,
sangat dapat dipahami bila pemangku adat bersatu dengan ulama tradisional untuk
melawan gerakan ini.
3) Keinginan
Kalangan Kaum Muda Untuk Memurnikan Ajaran Islam
Pada umumnya tedapat kesadaran di
kalangan kaum muda khususnya di Minangkabau, Sumatra Barat bahwa praktek-praktek
keagamaan dalam masyarakat sudah bercampur aduk dengan adat istiadat da
kebiasaan lokal. Hal ini antara lain karena pengalaman (taqlid) dan
tidak didasar pada pemahaman yang langsung (ijtihad) sebab utama
munculnya praktik keagamaan yang bersifat taqlidi. Ajaran-ajaran agama dipahami
sebatas konsep yang diperkenalkan dan diajarkan oleh para pengikutnya tidak
terangsang untuk mempelajari Al-qur’an dan Hadits .
Dalam hal ini usaha pembaruan
dimaksudkan untuk melakukan pemurnian ajaran islam dengan mengembalikan
praktek-praktek keagamaan itu kepada sumber utamanya dan memisahkannya dari
adat dan kebiasaan lokal.
b. Faktor
Eksternal
Pengaruh pemikiran tokoh-tokoh pembaru
timur tengah
Gerakan pembaruan di Indonesia agaknya
dipengaruhi secar kuat oleh pemikiran dan usaha tokoh-tokoh pembaruan Timur
Tengah pada akhir abad 19. Meskipun sikap politik mereka secar tegas menunjukan
anti barat karena praktek penjajahan yang dilakukannya terhadap negara-negara
islam, jamaludin al-afghani dan Muhammad abduh memberi dukungan kepada umat
islam untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang lebih luas sebagaimana sudah
dialami juga lebih dulu oleh sebagian negar-negara barat. Dalam kaitan inilah
mereka menyerukan penataan sistem kelembagaan sosial, politik, ekonomi, dan
termasuk pendidikan, yang lebih memungkinkan bagi umat islam untuk
mengembangkan semangat yang leboh progesif.
Gerakan pembaruan yang datang dari timur
tengah ini masuk ke Indonesia melalui dua jalur yaitu :
a. Jalur
publikasi, terlihat bahwa sejak awal Abad XX majalah al-Manar yang banyak
memuat ide pembaruan banyak menyebar ke Indonesia. Dalam banyak ulasan
disebutkan, bahwa sejumlah tokoh pembaruan di Indonesia XX membaca secara rutin
majalah al-manar yang sekaligus merangsang mereka untuk melakukan pembaruan
melalui perkumpulan-perkumpulan di tanah air.
b. Jalur
pendidikan. Dapat dilihat karena terbukanaya kesempatan untuk memperdalam Islam
dibeberapa pusat pendidikan Islam Arab, khususnya Kairo, Madinah, dan Makkah.
Kesempatan ini dilakukan mahasiswa-mahasiswa Indonesia untuk belajar di kota-kota
tersebut sehingga mereka mengalami langsung suasana pembararuan yang dtawarkan oleh tokoh-tokoh seperti Jamaluddin
Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad Quthub, dll. Dalam
korespondensi mereka dengan teman-temannya ditanah air, para mahasiswa asal Indonesia
memperkenalkan ide-ide pembaruan itu antara lain dengan mengirim
tulisan-tulisan kalangan pembaru timur tengah.[3]
2. Latar
Belakang Perlunya Pembahuruan Dalam Islam
Tumbuhnya gerekan pembahruan dalam Islam merupakan
wujud dari bentuk kesadaran umat Islam dari ketertinggalan dan terbelakangan
mereka. Banyaknya persoalan yang
dihadapi umat islam, dari persoalan internal seperti adanya penyimpangan ajaran
islam dari ajaran sebenarnya dengan bermunculan hadis palsu, sistem
pemerintahan otoriter yang dipimpin Khadewi Islmail, serta keadaan sosial
keagaaman di Mesir yang sangat memperihatinkan dengan munculnya takhayul,
bid’ah, dan kurafat, ditambah persoalan eksternal umat yang timbul dari tekanan
penjajahan bangsa-bangsa barat yang menuntut segera diatasi dan dipecahkan
masalahnya.
Gerekan moderanisasi dalam dunia Islam dipelapori
oleh para Tokoh Islam, yang berusaha sekuat tenaga untuk kembali pada jaran
Islam yang benar dan berusaha kembali untuk memajukan Islam dan umatnya, mereka
menyadari, kelemahan, ketertinggalan, dan keterbelakangan dari berbagai
aspeknya setelah banyak diantara mereka yang berdialog atau berhadapan langsung
dengan kemajuan peradapan bangsa Barat.
Menyadari kekalahan dan kelemahan dalam berbagai
aspek kehidupan dari bangsa-bangsa Barat, umat Islam mulai Bangkit untuk
mengejar ketertinggalan dan keterbelakangan. Bangsa yang pertama kali merasakan
ketertinggalan dan ketrbelakangan itu adalah Turki Utsmani dan Mesir.
Secara garis besar, ada beberapa faktor yang
mendorong terjadinya proses pembaharuan Islam, yaitu sebagai berikut:
1.
Kebutuhan Pragmatis Umat Islam
Kebutuhan pragmatis umat Islam yang sangat membutuhkan
satu sistem yang benar-benar dapat dijadikan rujukan dalam rangka mencetak
manusia-manusia Muslim yang berkualitas, bertakwa, dan beriman kepada Allah
SWT.
2.
Anjuran Al-Quran
Agama
Islam melalui ayat suci Al-Quraan menyuruh atau mengajurkan umat Islam untuk
selalu membaca dan menganalisis sesuatu untuk bisa diterapkan atau dapat
memciptakan sesuatu yang baru.
3.
Adanya Kontak Islam dengan Barat
Adanya
kontak Islam dengan Barat, bahwa secara historis kesadaran pembahruan dan
modernisasi pendidikan dimesir berawal dari datangnya Napoleon Bonaparte di
Alexandria, Mesir pada tanggal 2 juli 1798 M. Tujuan utamanya adalah menguasai
daerah Timur, terutama India. Napoleon Bonaparte menjadikan Mesir hanya sebagai
batu loncatan untuk menguasai India, yang pada saat itu berada dibawah pengaruh
kekuasaan Kolonial Inggris.
Menurut
Joseph S, Szy Liowics (1956), untuk memnuhi
kebutuhan ekspedisinya napoleon berusaha mengenalkan Teknologi dan pemikiran
modern pada Mesir dengan cara mengalihkan budaya tinggi prancis kepada
masyarakat setempat. Oleh karena itu, dalam waktu singkat, administrasi, dan
arkeologi.
Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi prancis memberikan banyak inspirasi bagi tokoh-tokoh
Mesir untuk melakukan perubahan secara mendasar sistem dan kurikulum pendidikan
yang sebelumnya dilakukan secara konvensional.[4]
B. TOKOH
DAN SASARAN PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM
Tokoh pembaharuan pendidikan Islam bercorak
modernis. Pembaharuan ini dilakukan di tiga wilayah kerajaan besar, yaitu
Kerajaan Turki Utsmani, Mesir, dan India.
1. Wilayah
Turki
Pembaharuan
pendidikan di dunia Islam di mulai di Kerajaan Turki Utsmani. Adapun tokoh yang
mencoba melakukan upaya tersebut, yaitu sebagai berikut:
a. Sultan
Ahmad III.
Kekalahan yang dialami
Kerajaan Turki Utsmani menyebabkan Sultan Ahmad III prihatin dan melakukan intropeksi
dengan melakukan pengiriman duta ke Eropa untuk mengamati perkembangan Barat.
Dengan mendirikan sekolah teknik militer dan mendirikan percetakan untuk
mempermudah akses buku pengetahuan. Upaya ini dilakukan sampai ia wafat dan
kedudukannya digantikan oleh Sultan Mahmud II.
b. Sultan
Mahmud II.
Sultan Mahmud II merupakan kelanjutan dari Sultan
Mahmud III. Pembaharuan yang dilakukannya, yaitu dengan memperbaiki sistem
pendidikan madrasah dengan memasukkan ilmu pengetahuan umum. Kemudian, ia
mendirikan model di sekolah Barat.
2. Wilayah
Mesir
Tokoh
yang melakukan upaya pembaharuan pendidikan di wilayah Mesir adalah sebagai
berikut:
a. Muhammad
Ali Pasya.
Ia mendirikan
kementrrian pendidikan dan lembaga pendidikan, membuka sekolah teknik,
kedokteran, pertambangan, dan mengirimkan siswa untuk belajar ke negara barat.
Gerakan pembaharuan memperkenalkan ilmu pengetahuan dan teknologi barat kepada
umat Islam.
b. Muhammad
Abduh.
Ia melakukan
pembaharuan pendidikan di Al-Azhar dengan memasukkan ilmu modern. Ia mendirikan
komite perbaikan administrasi Al-Azhar tahun 1895, melaksanakan pembaharuan
administrasi yang bermanfaat.[5]
Konsep pembaharuannya
meliputi:
-
Purifikasi (pemurnian ajaran Islam)
-
Reformasi
-
Pembela Islam
-
Reformulasi.[6]
3. Wilayah
India
Pembaharuan pendidikan Islam di
India bertujuan menghilangkan diskriminasi pendidikan Islam tradisionalis
dengan pendidikan sekuler. Adapun yang menjadi tokoh pembaharuan di India
adalah Sayyid Akhmad Khan (1817-1898). Ia berpendapat bahwa peningkatan
kedudukan umat Islam di India dapat diwujudkan dengan bekerja sama dengan
Inggris, kemudian mendirikan lembaga pendidikan,sekolah inggris mudarabbah
1864, mendirikan pula Scientific Society, mendirikan lembaga pendidikan
yang di dalamnya ilmu pengetahuan umum. Itulah beberapa orang tokoh pembaharuan
yang serig mengadopsi tata cara dan pengetahuan yang datang dari Barat.
C. DAMPAK
PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM
Sebagai
akibat dari usaha pembahruan pendidikan Islam yang dilaksanakan untuk mengejar
kekurangan dan ketertinggalan dari Dunia Barat dalam segala aspek kehidupan,
terdapat kecenderungan adanya dualisme dalam sistem pendidikan Dunia Islam.
Pola pembahruan Pendidikan, membentuk suatu sistem atau Pola pendidikan modern
yang mengambil pola sistem pendidikan Barat, dengan penyesuaian dengan Islam
dan kepentingan nasional serta tetap mempertahankan sistem pendidikan
tradisional yang telah ada dikalangan umat Islam.
Sistem
pendidikan modern pada umumnya dilaksanakan oleh pemerintah dalam rangka
memenuhi tenaga ahli untuk kepentingan pemerintah, sedangkan sistem pendidikan
tradisional yang ada dikalangan masyarakat tetap mempertahankan kurikulum
tradisional yang hanya memberikan pendidikan dan pengajaran keagamaan. Dualisme
sistem dan pola pendidikan inilah yang mewarnai pendidikan Islam di semua
negara dan masyarakat Islam pada zaman modern.
Dengan adanya dualisme sistem pendidikan
Islam, sistem pendidikan tradisional diharapkan akan berkembang secara
berangsur-angsur mengarah pada sistem pendidikan modern. Inilah yang
dikehendaki oleh pembaharu pendidikan Islam yang berorientasi pada ajaran Islam
yang murni.[7]
D. POLA
PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM
1. Golongan
yang berorientasi pada pola pendidikan modern di Barat (Eropa)
Pada
dasarnya mereka berpandangan
bahwa sumber kekuatan
dan kesejahteraan bangsa Barat disebabkan oleh perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi
modern yang mereka capai. Dan pengembangan
dan kemajuan ilmu
pengetahuan bangsa barat tidak lain bersumber dari yang pernah
berkembang dari dunia Islam. Oleh karena itu, maka untuk mengembalikan
kekuatan dan kejayaan umat Islam, sumber kekuatan dan
kejayaan tersebut harus dikuasai kembali. Cara pengembalian itu tidak lain
adalah melalui pendidikan, karena pola pendidikan Barat dipandang sukses dan
efektif, maka harus meniru pola Barat yang sukses itu. Mereka berpandangan bahwa usaha
pembaharuan pendidikan Islam adalah
dengan jalan mendirikan
lembaga pendidikan atau sekolah
dengan pola pendidikan Barat, baik sistem maupun isi pendidikannya. Jadi intinya, Islam harus meniru Barat agar bisa
maju.
Pembaharuan pendidikan dengan pola Barat, mulai timbul di
Turki Utsmani akhir abad ke 11 H /17 M
setelah mengalami kalah perang dengan berbagai negara Eropa Timur pada masa
itu.
2. Gerakan pembaharuan
pendidikan Islam yang
berorientasi pada sumber ajaran
Islam yang murni
Pola ini berpandangan bahwa sesungguhnya Islam
sendiri merupakan sumber bagi kemajuan dan perkembangan peradaban dan ilmu
pengetahuan modern. Dan Islam telah
membuktikannya pada masa kejayaannya. Menurut analisa mereka, sebab kemunduran
umat Islam, adalah karena tidak lagi melaksanakan ajaran-ajaran Islam dengan
semestinya. Ajaran Islam yang mengandung sumber kemajuan dan kekuatan telah
ditinggalkan dan melaksanakan ajaran-ajaran Islam yang tidak murni
yang dimulai sejak
berhentinya perkembangan filsafat Islam dan ditinggalkannya pola
pemikiran secara rasional yangt dialihkan
kearah pemikiran yang pasif.Dan selain itu,
menutupnya pintu ijtihad
membuat berkurangnya daya kemampuan umat Islam untuk mengatasi
problematika hidup yang terus berubah.
Pola pembaharuan
ini telah dirintis oleh Muhammad bin Abdul Wahab,
kemudian dicanangkan kembali oleh Jamaluddin
Al-Afghani dan Muhammad Abduh
(akhir abad 19
M). Menurut Jamaluddin
Al-Afghani, pemurnian ajaran Islam
dengan kembali kepada
Al-Qur‟an dan Hadist dalam
artinya yang sesungguhnya, tidaklah mungkin
tidak dilakukan. Ia berkeyakinan bahwa Islam adalah sesuai untuk semua bangsa, zaman
dan semua keadaan. Dalam hal ini, apabila
ditemukan adanya pertentangan antara ajaran
Islam dengan kondisi yang ada pada perubahan zaman,
penyesuaian akan diperoleh dengan mengadakan interpretasi baru pada ajaran
Islam. Oleh karenanya, pintu ijtihad harus dibuka.
Menurut
Jamaluddin Al-Afghani, kemunduran
umat Islam bukanlah karena Islam,
sebagaimana dianggap oleh
kebanyakan orang karena
tidak sesuai dengan
perubahan zaman dan
kondisi baru. Umat
Islam mundur, karena telah meninggalkan ajaran-ajaran Islam yang
sebenarnya dan mengikuti ajaran yang datang dari luar lagi asing bagi Islam.
Jadi, umat Islam harus kembali kepada ajaran Islam murni yang tidak
terkontaminasi oleh ajaran dan
paham asing. Kalau
manusia berpedoman kepada
agama, ia tidak sesat untuk selama-lamanya.
3. Usaha
pembaharuan pendidikan Islam yang berorientasi pada nasionalisme
Rasa nasionalisme muncul bersamaan
dengan Berkembangan pola kehidupan modern yang dipelopori oleh bangsa Barat. Bangsa
barat dapat maju dan berkembang dikarenakan
rasa nasionalismenya yang
kemudian menimbulkan
kekuatan-kekuatan politik yang
berdiri sendiri. Dan
hal ini mendorong pada umumnya
bangsa-bangsa timur dan bangsa yang terjajah, menyorakan semangat nasionalisme
masing-masing. Umat Islam menyadari
keberagaman bangsa yang
berlatar belakang dan
sejarah yang berbeda-beda. Mereka hidup
beragama dengan agama
lainnya yang sebangsa.
Dan hal ini
mendorong perkembangan rasa
nasionalisme di dunia Islam. Golongan ini
berusaha memperbaiki kehidupan
umat Islam dengan memperhatikan situasi dan kondisi
objektif umat Islam yang bersangkutan. Dalam
usaha mereka bukan
semata mengambil unsur-unsur
budaya Barat yang sudah maju,
tetapi juga mengambil unsur dari budaya warisan bangsa yang bersangkutan.
Ide kebangsaan inilah
yang akhirnya menimbulkan timbulnya usaha merebut kemerdekaan dan
mendirikan pemerintahan
sendiri dikalangan pemeluk
Islam. Sebagai akibat
dari pembaharuan dan kebangkitan kembali
pendidikan ini terdapat kecendrungan dualisme sistem pendidikan
kebanyakan negara tersebut, yaitu
sistem pendidikan modern dan sistem pendidikan tradisional. Usaha pendidikan
modern yang sebagaimana telah diuraiankan yang berorientasi pada
tiga pola pemikiran,
membentuk suatu sistem
atau pola pendidikan modern, yang
mengambil pola sistem pendidikan barat dengan penyesuaian-penyesuaian dengan
Islam dan kepentingan
nasional. Di samping tetap menjalankan
mempertahankan pendidikan tradisional
yang telah ada.
Sistem pendidikan modern, pada umumnya dilaksanakan
oleh pemerintah yang pada mulanya untuk memenuhi tenaga ahli untuk kepentingan pemerintah, dengan
menggunakan kurikulum dan pengembangan ilmu-ilmu pengetahuan modern. Sedangkan
sistem pendidikan tradisional yang merupakan sisa-sisa dan pengembangan sistem
zawiyah, ribat atau pondok pesantren dan madrasah yang telah ada di kalangan masyarakat, pada
umumnya tetap mempertahankan kurikulum tradisional yang hanya memberikan
pendidikan dan pengajaran keagamaan. Dualisme sistem pola pendidikan inilah yang
selanjutnya mewarnai pendidikan
Islam di semua negara dan masyarakat Islam, di zaman modern. Dualisme
ini pula yang merupakan problema pokok yang dihadapi oleh usaha pembaharuan
pendidikan Islam.[8]
BAB
III
PENUTUP
Simpulan
Persinggungan antara dunia Islam dan Barat kembali
menyadarkan para pemikir Islam betapa
umat Islam jauh
tertinggal dari bangsa-bangsa
Eropa. Keadaan tersebut
segera mendapatkan respon yang beragam dari para cendekiawan muslim
dengan tujuan yang sama yaitu
kembalinya umat Islam
dalam pentas percaturan
dunia seperti pada
masa kejayaan Islam masa lampau,
hal itu disepakati dapat dicapai melalui pembaharuan Pendidikan.
Pembaharuan
Pendidikan pada dasarnya adalah pembaharuan
pemikiran dan prespektif intelektual yang dapat membentuk pola pemikiran
yang beragam, yaitu pemikiran yang secara murni ingin kembali pada ajaran Islam
yang benar dan menolak segala apa yang datang
dari Barat. Meraka
adalah golongan tradisionalis, golongan
yang mengadopsi secara besar-besaran termasuk
dalam pendidikan yang
pada akhirnya melahirkan
dualisme sistem pendidikan dalam Islam
seperti yang terjadi
di Mesir dan
Turki dan kelompok yang pemikirannya berangkat
dari perasaan nasionalismenya. Dalam pergumulannya
masing-masing memiliki peranan untuk menghasilkan perubahan hingga
mencapai kemajuan umat.
DAFTAR
PUSTAKA
Assajdah,
Nisa. Skripsi. 2015. PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM (Studi atas Pemikiran
Muhammad Ali Pasya). Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.
Khobir,
Abdul. 2015. Sejarah Pendidikan Islam dari masa Rasulullah hingga Reformasi
di Indonesia cet ke-1. Bandung: Pustaka Setia.
Mustapa,
Leyan. “PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM STUDI ATAS TEOLOGI SOSIAL PEMIKIRAN KH.
AHMAD DAHLAN”, Jurnal Pembaharuan Pendidikan Islam ( JPPI ), Vol. 1 No 1
Desember 2014.
Nizar,
Samsul. 2007. Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Era
Rasulullah sampai Idonesia. Jakarta: Kencana.
Ramayulis.
2012. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia.
[1] Leyan Mustapa, “PEMBAHARUAN
PENDIDIKAN ISLAM STUDI ATAS TEOLOGI SOSIAL PEMIKIRAN KH. AHMAD DAHLAN”, Jurnal
Pembaharuan Pendidikan Islam ( JPPI ), Vol. 1 No 1 Desember 2014. Diakses pada
tanggal 21 Maret 2018 pukul 19.05.
[2]Abdul Khobir, Sejarah
Pendidikan Islam dari masa Rasulullah hingga Reformasi di Indonesia cet ke-1, (Bandung:
Pustaka Setia, 2015) , hlm., 103-104
[3]Ramayulis, Sejarah Pendidikan
Islam, (Jakarta : Kalam Mulia, 2012). Hlm 295-298
[4] Abdul Khobir, Op.Cit .,
104-106
[5] Ibid., 111
[6]
Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam: Menelusuri Jejak Sejarah Era Rasulullah
sampai Idonesia, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm., 246-247
[7] Abdul Khobir, Op.Cit .,
112-113
[8] Nisa Assajdah, skripsi,
PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM (Studi atas Pemikiran Muhammad Ali Pasya),
(Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2015), hlm 29-32
Belum ada tanggapan untuk "Makalah : PENDIDIKAN ISLAM MASA PEMBAHARUAN"
Posting Komentar