BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Bimbingan dan konseling memiliki beberapa landasan diantaranya
landasan filosofis, religius, psikologis, sosial budaya, ilmiah dan teknologis,
dan pedagogis. Setiap landasan memiliki peran yang sama pentingnya dalam proses
bimbingan dan konseling. Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian
integral dari pendidikan di Indonesia. Sebagai sebuah layanan profesional,
kegiatan layanan bimbingan dan konseling tidak bisa dilakukan secara
sembarangan, namun harus berpijak dari suatu landasan yang kokoh, yang didasarkan
pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Dengan adanya pijakan
yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan konseling
dan mampu mmeberikan manfaat besar bagi kehidupan, khususnyabagi para penerima
jasa layanan (klien).
B. Rumusan
Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan Landasan Bimbingan dan Konseling?
2.
Apa saja
Landasan-landasan dalam Bimbingan dan Konseling?
3.
Hubungan
Antarlandasan Bimbingan dan Konseling.
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui pengertian Landasan Bimbingan dan Konseling.
2.
Untuk
mengetahui Landasan-landasan Bimbingan dan Konseling.
3.
Untuk
mengetahui Hubungan Antarlandasan
Bimbingan dan Konseling.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Landasan
Landasan dalam bimbingan dan konseling pada hakikatnya merupakan
faktor-faktor yang harus diperhatikan, dan dipertimbangkan, khususnya oleh
konselor selaku pelaksana utama dalam mengembangkan layanan bimbingan dan
konseling. Ibarat sebuah bangunan, untuk berdiri tegak dan kokoh, bangunan
tersebut tentu membutuhkan fondasi yang kuat dan tahan lama. Apabila bangunan
tersebut tidak memiliki fondasi yang kokoh, bangunan itu akan mudah goyah atau
bahkan ambruk. Demikian pula, dengan layanan bimbingan dan konseling, apabila
tidak didasari oleh fondasi atau landasan uang kokoh akan merusak layanan
bimbingan dan konseling itu sendiri, yang menjadi taruhannya adalah individu
yang dilayaninya (klien). Landasan-landasan bimbingan dan konseling meliputi landasan
filosofis, religius, psikologis, sosial budaya, ilmiah dan teknologi,
pedagogis, dan yuridis-formal.[1]
B. Landasan Bimbingan dan Konseling
1. Landasan Filosofis
Kata
filosofi atau filsafat berasal dari bahasa Yunani: philos berarti
cinta, dan shopos berarti bijaksana. Jadi filosofis berarti kecintaan terhadap kebijaksanaa. Lebih
luas, kamus Webster New Universal memberikan pengertian bahwa filsafat merupakan
ilmu yang mempelajari kekuatan yang didasari proses berfikir dan bertingkah
laku, teori tentang prinsip-prinsip atau hukum-hukum dasar yang mengatur alam
semesta serta mendasari semua pengetahuan dan kenyataan, termasuk ke dalamnya
studi tentang estetika, etika, logika, metafisika, dan lain sebagainya. Dengan
kata lain, filsafat merupakan pemikiran yang sedalam-dalamnya, seluas-luasnya,
setinggi-tingginya, selengkap-lengkapnya, serta setuntas-tuntasnya tentang
sesuatu. Tidak ada lagi pemikiran yang lebih dalam, lebih luas, lebih tinggi,
lebih lengkap ataupun lebih tuntas daripada pemikiran filosofis.
Pemikiran
yang paling dalam, paling luas, paling tinggi, dan paling tuntas itu mengarah
kepada pemahaman tentang hakikat sesuatu. Sesuatu yang dipikirkan itu dikupas,
diteliti, dikaji, dan direnungkan segala seginya melalui proses pemikiran yang
selurus-lurusnya dan setajam-tajamnya sehingga diperoleh pemahaman menyeluruh
tentang hakikat keberadaan dan keadaan sesuatu itu.[2]
Landasan
filosofis bimbingan dan konseling perkenaan dengan pandangan terhadap makna
atau hakikat manusia. Pemaknaan terhadap hakikat manusia ini biasanya
dikembangkan sesuai dengan pendekatan suatu teori.
Landasan
filosofis dalam bimbingan dan konseling mencakup komponen-komponen sebagai
berikut: 1) makna, fungsi dan prinsip filosofis bimbingan dan konseling; 2)
pandangan tentang hakikat manusiadalam dimensi bimbingan dan konseling, dan 3)
implikasinya terhadap kegiatan bimbingan dan konseling.
Ditinjau dari aspek prinsip filosofis dalam bimbingan dan
konseling, Yusuf & Nurihsan (2005) menyitir pendapat Pietrofesa
mengemukakannya sebagai berikut:
Objective Viewing. Dalam konsep ini konselor membantu klien agar
memperoleh suatu perspektif tentang masalah khusus yang dialaminya dan
membantunya untuk menilai atau mengkaji berbagai alternatif atau strategi
kegiatan yang memungkinkan klien mampu merespon minat ataupun
harapan-harapannya secara lebih konstruktif. Melalui layanan bimbingan dan
konseling seorang klien akan dapat menggali atau menemukan potensi dirinya, dan
kemampuan untuk beradaptasi terhadap peristiwa kehidupan baru yang dimilikinya.
Prinsip berikutnya, the conselor must have the best interest of the
client at the heart. Yaitu perasaan puas dan bangga dalam diri konselor setelah
memberikan bantuan dan mampu mengatasi masalah klien.
Secara lebih rinci Yusuf & Nurihsan (2005) mengutip pendapat
James Cobbin mengemukakan tentang berbagai prinsip filosofis bimbingan dan
konseling sebagai berikut:
a.
Bimbingan dan
konseling hendaknya didasarkan pada pengakuan akan kemuliaan dan harga diri
individu beserta haknya untuk memperoleh bantuan.
b.
Bimbingan dan
konseling merupakan proses pendidikan yang berkesinambungan.
c.
Bimbingan dan
konseling harus respek terhadap hak-hak setiap klien yang meminta bantuan dan
layanan.
d.
Fokus bimbingan
dan konseling adalah membantu individu dalam merealisasikan potensi dirinya.
e.
Bimbingan dan
konseling merupakan elemen pendidikan yang bersifat individualisasi,
personalisasi, dan sosialisasi.[3]
Para penulis Barat telah banyak yang mencoba untuk memberikan
deskripsi tentang hakikat manusia (antara lain dalam Patterson, 1966, Alblaster
& Lukes, 1971; Thompson & Rudolph, 1983. Beberapa di antara deskripsi
tersebut mengemukakan:
a)
Manusia adalah
makhluk rasional yang mampu berpikir dan mempergunakan ilmu untuk meningkatkan
perkembangan dirinya.
b)
Manusia dapat
belajar mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya, khususnya apabila ia
berusaha memanfaatkan kemampuan-kemampuan yang ada pada dirinya.
c)
Manusia
berusaha terus-menerus memperkembangkan dan menjadikan dirinya sendiri,
khususnya melalui pendidikan.[4]
Berdasarkan paparan tentang kajian landasan filosofis, maka
implikasinya terhadap kegiatan bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut:
a.
Bimbingan dan
konseling berorientasi kepada aspek kemanusiaan yang bertujuan untuk membantu
klien mengembangkan potensi insaniah kemanusiaannya sehingga selalu berada
dalam alur kehidupan yang bermartabat dan beradab.
b.
Setiap konselor
seyogyanya memiliki pemahaman yang mendalam tentang filsafat manusia agar
memilki pedoman akurat dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada
klien ke arah kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang
dimiliki klien.
c.
Harga yang
tidak dapat ditawar lagi adalah keharusan konselor menjadi suri teladan yang
dapat dijadikan model oleh klien. Bekalnya adalah dengan meneladani pola dan
tatacara kehidupan yang sesuai dengan aturan dan hukum Tuhan, khususnya di
tempat kerja, keluarga, dan dalam kehidupan bermasyarakat.
2. Landasan Religius
Landasan religius berkenaan dengan nilai-nilai dan pemaknaan
manusia sebagai makhluk bermoral dan memiliki etika, baik dalam pengembangan
otonomi individu, berhubungan dengan orang lain maupun dalam penghambaan
terhadap Tuhan.
Konsepsi landasan religius dalam bimbingan dan konseling
mengimplikasikan bahwa konselor sebagai “helper” (pemberi bantuan) dituntut
untuk memiliki pemahaman akan nilai-nilai agama, dan komitmen yang kuat dalam
mengamalkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya sehari-hari, khususnya
dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada klien atau peserta
didik. Konselor seyogyanya menyadari bahwa memberikan layanan bimbingan dan
konseling kepada klien merupakan salah satu kegiatan yang bernilai ibadah, karena
di dalam proses bantuannya terkandung nilai mengembangkan kebaikan dan mencegah
keburukan.agar layanan bantuan yang yang diberikan itu bernilai ibadah, maka
kegiatan tersebut harus didasarkan kepada keikhlasan dan kesabaran.
Nilai-nilai agama menjadi pedoman bagi penganutnya dalam berbuat
dan bertindak. Nilai-nilai yang terpancar dari agama menjadi sarana terapi bagi
seseorang karena ia memberikan petunjuk tentang berbagai kehidupan, dan menjadi
pengembang mental yang sehat. Berkaitan dengan ini agama dapat berfungsi
sebagai pemelihara fitrah, akal, jiwa, dan keturunan, serta penguat keyakinan
dalam mencari kesembuhan.[5]
Landasan religius bagi layanan bimbingan dan konseling perlu
ditekankan tiga hal pokok yaitu:
a.
Keyakinan bahwa
manusia dan seluruh alam semesta adalah makhluk Tuhan,
b.
Sikap yang
mendorong perkembangan dan perikehidupan manusia berjalan ke arah dan sesuai
dengan kaidah-kaidah agama, dan
c.
Upaya yang
memungkinkan berkembang dan dimanfaatkannya secara optimal suasana dan
perangkat budaya (termasuk ilmu pengetahuandan teknologi) serta kemasyarakatan
yang sesuai dan meneguhkan kehidupan beragama untuk membantu perkembangan dan
pemecahan masalah individu.[6]
3. Landasan Psikologis
Psikologi
merupakan kajian tentang tingkah laku individu. Landasan psikologis dalam
bimbingan dan konseling berarti memberikan pemahaman tentang tingkah laku
individu yang menjadi sasaran layanan (klien).[7]Individu tersebut adalah manusia tertentu yang
memiliki karakteristik dan keunikan tertentu, yang bersifat spesifik atau khas
yang terdiri atas aspek jasmani dan rohani. [8]Hal ini sangat penting karena bidang garapan bimbingan dan
konseling adalah tingkah laku klien yang perlu dirubah atau dikembangkan
apabila ia hendak mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya atau ingin mencapai
tujuan-tujuan yang dikehendakinya.Untuk keperluan bimbingan dan konseling
sejumlah daerah kajian dalam bidang psikologi perlu dikuasai, yaitu tentang:
1)
Motif dan
motivasi
2)
Pembawaan dasar
dan lingkungan
3)
Perkembangan
individu
4)
Belajar, balikan
dan penguatan, dan
5)
Kepribadian[9]
Motif dan Motivasi
Motif dan motivasi
berkenaan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang untuk berperilaku baik
atau motif primer, yaitu motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki
oleh individu semenjak dia lahir, seperti: rasa lapar, bernapas, dan sejenisnya
maupun motif sekunder yang terbentuk dari hasil belajar, seperti rekreasi,
memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu, dan sejenisnya. Selanjutnya,
motif-motif tersebut diaktifkan dan digerakkan, baik dari dalam diri individu
(motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik), menjadi
bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu
tujuan.
Pembawaan dan Lingkungan
Pembawaan dan
lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan memengaruhi
perilaku individu. Pembawaan adalah segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan
merupakan hasil dari keturunan, yang mencakup aspek psikofisik, seperti
struktur otot, warna kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri
kepribadian tertentu. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu
dikembangkan. Untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan
tempat individu itu berada. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi
dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah.
Perkembangan individu
Perkembangan individu
berkenaan dengan proses tumbuh dan berkembang individu yang merentang sejak
masa konsepsi (pranatal) hingga akhir hayatnya, di antaranya meiputi aspek
fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral, dan sosial.
Belajar
Belajar merupakan salah satu konsep yang amat mendasar dari
psikologi. Setiap orang belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak
akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya, dan dengan belajar,
seseorang mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiannya.[10]
Kepribadian
Menurut Gordon W. Allport (Calvin S.
Hall dan Gardner Lindzey, 20005), kepribadian adalah organisasi dinamis dalam
diri individu sebagai sistem psikofisik, yang menentukan cara yang unik dalam
menyesuaikan diri terhadap lingkungannya. Sementara itu, Abin Syamsuddin (2003)
mengemukakan aspek-aspek kepribadian yang mencakup :
1)
Karakter, yaitu
konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsisten tidaknya dalam memegang
pendirian atau pendapat.
2)
Temperamen,
yaitu cepat lambatnya mereaksi terhadap rangsangan yang datang dari lingkungan.
3)
Sikap, sambutan
terhadap objek yang bersifat positif, negatif, dan ambivalen.
4)
Stabilitas
emosi, yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari
lingkungan.
5)
Responsibilitas,
yaitu kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang
dilakukan.
6)
Sosiabilitas,
yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal.[11]
4. Landasan Sosial-Budaya
Landasan sosial mencakup
tindakan sosial yang dilakukan oleh individu, kultural dapat diartikan sebagai
gagasan dan karya manusia beserta hasil dan budi karya tersebut.[12]
Jadi, Landasan Sosial-Budaya merupakan landasan yang dapat memberikan pemahaman
kepada konselor tentang dimensi kesosialan dan dimensi kebudayaan sebagai
faktor yang memengaruhi perilaku individu.
Dalam proses konseling
terjadi komunikasi interpersonal antara konselor dan klien yang mungkin
memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda sehingga menimbulkan beberapa
macam hambatan. Terkait dengan itu, Moh. Surya (2006) mengetengahkan bimbingan
dan konseling multikultural yang sangat tepat untuk lingkungan berbudaya
plural. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya berpangkal pada nilai-niali budaya
bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmonidalam kondisi
pluralistik.[13]
5. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
Pengetahuan (knowledge) merupakan segala
sesuatu yang diperoleh melalui berbagai cara pengindraan terhadap fakta,
penalaran, intuisi dan wahyu.[14]
Dan dalam hal teknologi, peranan komputer telah banyak dikembangkan dalam
Bimbingan dan Konseling sejalan dengan perkembangan teknologi. Sehubungan
dengan itu, interaksi antara konselor dan klien tidak hanya dilakukan melalui
hubungan tatap muka, tetapi dapat juga dilakukan melalui hubungan secara
virtual (maya) melalui internet dalam bentuk ‘Cyber Counseling’.
6. Landasan Pedagogis
Landasan pedagogis dalam layanan
bimbingan dan konseling ditinjau dari 3 sisi, yaitu: (1) pendidikan sebagai
upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan salah satu bentuk kegiatan
individu; (2) pendidikan sebagai inti proses bimbingan dan konseling; (3)
pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan dan konseling.
7. Landasan Yuridis-Formal
Landasan Yuridis-Formal berkenaan dengan
berbagai peraturan dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang
penyelenggaraan bimbingan dan konseling, yang bersumber dari Undang-Undang
Dasar, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri serta berbagai
aturan dan pedoman lainnya.
C. Hubungan Antarlandasan Bimbingan dan Konseling
Antarlandasan bimbingan dan konseling
saling berpengaruh dan berkaitan satu sama lain. Landasan historis adalah
landasan yang mengawali penyebaran kegiatan bimbingan dan konseling. Landasan
filosofis dalam pelayanan bimbingan dan konseling bertujuan agar konselor dapat
memahami hakikat, tujuan, dan tugas hidup manusia. Landasan sosial budaya
memengaruhi proses bimbingan konseling dalam ruang lingkup sosial-budaya.
Landasan psikologis meninjau dasar keperluan bimbingan dan konseling dari segi
psikologis.
Landasan-landasan tersebut memberikan fondasi yang
kokoh terhadap penyelenggaraan bimbingan dan konseling dalam rangka peningkatan
sumber daya manusia untuk mencapai hidup yang lebih sejahtera.[15]
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Landasan bimbingan dan
konseling meliputi; 1) Landasan filosofis, yaitu bimbingan dan konseling
perkenaan dengan pandangan terhadap makna atau hakikat manusia; 2) Landasan
religius, yaitu berkenaan dengan nilai-nilai dan pemaknaan manusia sebagai
makhluk bermoral dan memiliki etika, baik dalam pengembangan otonomi individu,
berhubungan dengan orang lain maupun dalam penghambaan terhadap Tuhan; 3)
Landasan psikologis, yaitu berkenaan dengan pemaknaan terhadap manusia yang
memiliki fitrah kehidupan sebagai makhluk berpotensi; 4)Landasan Sosial-Budaya merupakan landasan tentang kesosialan
dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang memengaruhi perilaku individu; 5)Landasan
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), yaitu berkenaan dengan ilmu-ilmu lain
dan teknologi; 6)Landasan pedagogis dalam layanan bimbingan dan konseling
yaitu: pendidikan sebagai upaya pengembangan individu dan bimbingan merupakan
salah satu bentuk kegiatan individu, pendidikan sebagai inti proses bimbingan
dan konseling, pendidikan lebih lanjut sebagai inti tujuan layanan bimbingan
dan konseling; 7)Landasan Yuridis-Formal berkenaan dengan berbagai peraturan
dan perundangan yang berlaku di Indonesia tentang penyelenggaraan bimbingan dan
konseling. Antarlandasan bimbingan dan konseling saling berpengaruh dan
berkaitan satu sama lain.
B. Saran
Penulis menyadari dalam proses pembuatan dan penyampaian makalah
terdapat banyak kesalahan dan kekhilafan. Penulis sangat mengharapkan kritik
dan saran yang membangun guna mengingatkan dan memperbaiki. Terakhir penulis
mengucapkan rasa syukur kehadirat Allah SWT. serta terimakasih kepada
pihak-pihak yang membantu dalam proses pembuatan makalah.
DAFTAR PUSTAKA
Dahlan, Syarifuddin. 2014. Bimbingan
dan Konseling di Sekolah; Konsep Dasar dan Landasan Pelayanan. (Yogyakarta:
GRAHA ILMU).
Hamdani. 2012. Bimbingan dan
Penyuluhan. (Bandung: CV Pustaka Setia).
Prayitno, H.
dan Erman Amti. 2009. DASAR-DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING. (Jakarta: PT
RINEKA CIPTA).
Salahudin, Anas. 2010. BIMBINGAN & KONSELING. (Bandung:
CV Pustaka Setia).
Sukmadinata,
Nana Syaodih. 2003. Landasan Psikologis
Proses Pendidikan. (Bandung: PT
Remaja Rosadakarya).
Tirtarahardja,Umar.2000. Pengantar
Pendidikan.(Jakarta: PT Rineka Cipta).
[1]Drs. Anas
Salahudin, M.Pd., BIMBINGAN & KONSELING, (Bandung: CV Pustaka Setia,
2010), hlm. 105.
[2]Prof. Dr. H.
Prayitno, M.Sc.Ed dan Drs. Erman Amti, DASAR-DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING,
(Jakarta: PT RINEKA CIPTA, 2009), hlm. 137.
[3]Dr. Syarifuddin
Dahlan, M.Pd., Bimbingan dan Konseling di Sekolah; Konsep Dasar dan Landasan
Pelayanan, (Yogyakarta: GRAHA ILMU, 2014), hlm. 12.
[4]Prof. Dr. H.
Prayitno, M.Sc.Ed dan Drs. Erman Amti,Op.Cit., hlm. 139-140.
[5]Dr. Syarifuddin
Dahlan, M.Pd.,Op.Cit., hlm. 13-16.
[6]Prof. Dr. H.
Prayitno, M.Sc.Ed dan Drs. Erman Amti, Op.Cit., hlm. 146.
[7]Prof. Dr. H.
Prayitno, M.Sc.Ed dan Drs. Erman Amti, Op.Cit., hlm. 154
[8]Nana Syaodih
Sukmadinata, Landasan Psikologis Proses
Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosadakarya, 2003), hlm. 16
[9]Prof. Dr. H.
Prayitno, M.Sc.Ed dan Drs. Erman Amti, Op.Cit., hlm. 154-155.
[10]Drs. Anas
Salahudin, M.Pd., Op.Cit.,hlm. 105-107.
[11]Hamdani, Bimbingan dan Penyuluhan, (Bandung: CV
Pustaka Setia, 2012), hlm. 66-67.
[12]Umar
Tirtarahardja, Pengantar Pendidikan, (Jakarta:
PT Rineka Cipta, 2000), hlm. 100.
[13]Hamdani, Op.
Cit., hlm. 69.
[14]Umar
Tirtarahardja, Op. Cit., hlm. 113.
[15]Hamdani, Op.
Cit., hlm. 70-73.
Belum ada tanggapan untuk "Makalah : LANDASAN BIMBINGAN DAN KONSELING"
Posting Komentar