KARAKTERISTIK ORANG BERILMU : Berpaling dari Lingkaran Setan


KARAKTERISTIK ORANG BERILMU
(BERPALING DARI LINGKARAN)
 Q.S. AL-A’RAAF AYAT 199
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah                : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu        : Muhammad Hufron,M.S.I

Disusun oleh:
Maulana Ilham (2117056)
Kelas : D
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM (IAIN)
PEKALONGAN
2018


KATA PENGANTAR
   Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Tafsir Tarbawi yang berjudul “Berpaling dari Lingkaran Setan” dengan baik, kami berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai “Berpaling dari Lingkaran Setan”. Makalah ini kami buat berdasarkan reverensi yang kami temukan dari berbagai sumber-sumber yang ada.
Demikian sedikit pengantar dari kami, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya. Terimakasih kami ucapkan kepada Muhammad Hufron, M.S.I yang telah memberikan tugas makalah ini, dan kami beharap adanya kritik, saran, dan usulan demi perbaikan makalah yang akan kami buat dimasa yang akan datang. 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



Pekalongan, 11 September 2018
                                                                       

Penulis





BAB I
PENDAHULUAN
a.      Latar Belakang
        Manusia belajar ilmu agama dan ilmu pengetahuan itu pasti ada guru yang mendampingnya, jika orang tersebut tidak mempunyai guru maka orang tersebut mudah memprovokasi orang lain. Guru itu harus sabar mendidik muridnya, pasti setiap murid itu kualitasnya berbeda dari murid yang satu ke yang lainya. Sebaliknya murid itu harus taat kepada gurunya agar mendapatkan ilmu barakahnya guru.
    Kemudian  Allah SWT menunjukan supaya kita meminta perlindungan kepadaNYA dari setan, jin, karena dia tidak  hanya menghalangimu untuk berbuat kebaikan, namun dia menghendaki kebiasaanmu dan kehancuranmu secara total.
      Ibnu jarir menafsirkan ayat, “dan apabila kamu ditimpa suatu godaan setan” dengan : jika setan membuat kamu marah  sehingga menghalang-halangimu untuk berpaling dari orang-orang bodoh dan mendorong untuk menyerangnya, “maka berlindunglah kepada Allah”, yakni mengatakan, “aku berlindung dari Allah dari hasutanya.”
b.      Rumusan Masalah
1.      Apa saja ciri-ciri orang yang berpaling dari lingkaran setan?
2.      Apa dalil tentang berpaling lingkaran setan?
3.      Apa saja yang termasuk dari kebodohan ketuhanan?

c.       Tujuan Penulisan Makalah
1.      Mengetahui ciri orang yang berpaling dari lingkaran setan
2.      Mengetahui dalil tentang berpaling lingkaran setan
3.      Mengetahui perbuatan yang termasuk dari kebodohan ketuhanan





BAB II
PEMBAHASAN
A.    Lingkaran Setan
1.      Bodoh
Terdapat dalam surah Al-A’raf ayat 199:
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’aruf, serta berpaling dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-a’raf:199)
Kebodohan dalam pandangan Rasulullah SAW
Sam’un bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai tanda-tanda orang jahil (bodoh). Beliau SAW bersabda: “kalau kita berkawan dengan dia (orang bodoh), dia selalu merepotkan kita, kalau kita meninggalkan dia (orang bodoh), dia akan mencela kita, kalau dia (orang bodoh), memberikan sesuatu kepada kita, pasti ada maunya (keinginan), kalau kita memberi sesuatu kepada dia (orang bodoh), maka dia suka cepat lupa, kalau kita menyampaikan rahasia kepada dia (orang bodoh) maka dia berkhianat, kalau kita merahasiakan sesuatu dari dia (orang bodoh), maka dia akan marah (menyerang) kepada kita, kalau dia (orang bodoh) punya kebutuhan, dia lupa terhadap kenikmatan-kenikmatan Allah SWT, kalau dia (orang bodoh) sedang gembira, dia berlebihan (lupa daratan), kalau dia (orang bodoh) sedang sedih, dia putus asa, kalau dia (orang bodoh)  sudah tertawa, maka tertawanya berlebihan, kalau dia (orang bodoh) sudah menangis, maka tangisannya menjadi musibah (mengganggu) orang lain, Orang ini (orang bodoh) tidak pernah cinta kepada Allah, dan tiada pernah berusaha untuk bertaqarrub (dekat) dengan-Nya, dia (oramg bodoh) tidak malu dan tidak ingat (lalai) kepada pencipta-Nya, kalau kita melakukan sesuatu kepada dia (orang bodoh), dan dia merasa rela (ridha), maka dia akan memuji kita secara berlebihan, bahkan sampai menyebutkan berbagai kebaikan yang tidak ada pada kita, dan kalau kita (orang bodoh) sedang kesal (emosi), maka dia akan mencaci dengan berlebihan, bahkan sampai menyebutkan berbagai kejelekan yang tidak ada pada kita.”[1]
2.      Miskin
Dalam Kamus Bahasa Indonesia, kata “miskin” diartikan tidak berharta benda, serba kekurangan (berpenghasilan rendah). Miskin dalam bahasa Arab berasal dari kata sakana-yaskunu yang berarti tenang atau berdiam diri. Dari kata sikkina juga mempunyai korelasi arti pisau yakni pisau mempunyai kegunaan memotong/memutuskan. Jadi, orang orang miskin adalah orang yang memutuskan dirinya dari berusaha (ikhtiyar) dengan berdiam diri.[2]
            Faktor utama penyebab kemiskinan adalah bersikap berdiam diri, enggan, atau tidak bergerak dan berusaha. Keengganan berusaha adalah penganiayaan terhadap diri sendiri, sedang ketidakmampuan berusaha antara lain disebabkan oleh penganiayaan manusia lain.  
      
B.     Dalil Berpaling dari Lingkaran Setan
خُذِ الْعَفْوَ وَٲْمُرْ بِالْعُرْفِ وَٲَعْرِضْ عَنِ الْجَهِلِيْنَ   ١٩٩
“Jadikan engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Al-A’raf:199)
            Tafsir ayat 199 :
Ayat ini mengumpulkan kebaikan akhlak dengan manusia apa yang harus dilakukan dalam bergaul dengan mereka. Perkara yang selayaknya dijadikan pedoman dalam bergaul dengan manusia adalah memberi maaf, yakni perangai yang disukai oleh diri mereka, serta merupakan perbuatan dan akhlak yang mudah atas mereka. Jangan membebani mereka dengan apa yang tidak sesuai dengan tabiat mereka, akan tetapi berterima kasihlah kepada setiap orang atas apa yang dia dapatkan darinya dalam bentuk ucapan dan berbuat baik, memaklumi kelalaian dan memaafkan kekurangan mereka. Tidak menyombongkan diri kepada yang lebih kecil karena kecilnya, atau kepada orang bodoh karena kebodohannya, atau kepada orang miskin karena kemiskinannya, akan tetapi dia bergaul dengan semuanya dengan lemah lembut dan perlakuan yang sesuai dengan kondisi, dengan dada yang lapang. (وَٲْمُرْ بِالْعُرْفِ) “Dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf”. Yakni mengerjakan semua ucapan dan perbuatan yang baik dan akhlak yang sempurna, baik kepada orang yang dekat maupun kepada orang yang jauh. Jadikanlah sesuatu yang kamu berikan kepada manusia, dalam bentuk pengajaran ilmu atau dorongan kepada manusia, dalam silaturahim, berbuat baik kepada orang tua, mendamaikan perselisihan di antara manusia, memberi nasihat yang berguna, memberi pendapat yang benar, tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, melarangb yang buruk, atau memberi petunjuk kepada kemaslahatan agama dan dunia. Karena gangguan dari orang bodoh adalah suatu keniscayaan, maka Allah SWT memerintahkan agar menyikapinya dengan berpaling darinya dan tidak membalas kebodohannya. Barangsiapa menyakitimu dengan ucapan dan perbuatannya, maka jangan tidak memberinya, dan barangsiapa menzhalimimu, maka bersikap adillah kepadanya.[3]
            Pandangan mufassir atau  pandangan ulama terhadap dasar-dasar pendidikan akhlak dalam kajian QS.Al-A’raf ayat 199
a.       Menurut Prof.Dr.Hamka dalam surah Al-A’raf ayat 199 merupakan suatu pedoman perjuangan yang diperingatkan Allah kepada Rasul-Nya. Ada tiga unsur yang wajib diperhatikan dan dipegang teguh di dalam menghadapi pekerjaan besar menegakkan dakwah kepada umat Islam.
Pertama : Jadilah engkau pemaaf, kemudian laksanakan yang kedua : Dan suruhlah orang mengerjakan berbuat kebaikan (ma’ruf). Kemudian datanglah perintah yang ketiga : Dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. Inilah tiga pokok ajaran yang berikan Allah kepada Rasul SAW di dalam memimpin umatnya, menyatu padukan pengikutnya, menangkis serangan dan menolak segala bala’ dan bencana.
Ayat 199 adalah bimbingan atas Rasulullah SAW di dalam memimpin umat. Memberi maaf yang lemah, menganjur-anjurkan berbuat baik dan berpaling dari yang bodoh, seperti yang dijelaskan Prof.Dr.Hamka dalam bukunya yang berjudul “Tafsir Al-Azhar (Juz 9).
b.      Dalam kitab Tafsir Jalalain, Imam Jalaluudin Al-Mahalli dan Imam Jalaludin As-Suyuti memaparkan bahwa dalam surah Al-A’raf ayat 199 dijelaskan dalam firman-Nya : “Jadilah engkau pemaaf” maksudnya mudah memaafkan di dalam menghadapi perlakuan orang-orang, dan jangan membalas. Kemudian “dan suruhlah orang mengerjakan makruf” yaitu mengerjakan perkara kebajikan. Selanjutnya “serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh” maksudnya janganlah engkau meladeni kebodohan mereka.[4]

C.    Kebodohan Ketuhanan
·         Syirik
Syirik dari segi bahasa artinya mempersekutukan, secara istilah adalah perbuatan yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Orang yang melakukan syirik disebut musyrik. Perbuatan syirik termasuk dosa besar. Ditinjau dari sifat dan tingkat sanksinya, syirik dapat dibagi menjadi dua yaitu:
a.       Syirik Akbar (Syirik besar)
Syirik akbar merupakan syirik yang tidak akan mendapat ampunan Allah. Syirik akbar dibagi menjadi dua, yang pertama yaitu zahirun jali (tampak nyata), yakni perbuatan kepada tuhan-tuhan selain Allah atau baik tuhan yang berbentuk berhala, binatang, bulan, matahari, batu, gunung, pohon besar, sapi, ular, manusia dan sebagainya. Yang kedua yaitu syirik akbar bathinun khafi (tersembunyi) seperti meminta pertolongan kepada orang yang telah meninggal.
b.      Syirik Asghar (Syirik kecil)
Syirik asghar termasuk perbuatan dosa besar, akan tetapi masih ada peluang diampuni Allah jika pelakunya segera bertobat. Contoh perbuatan syirik asghar antara lain: bersumpah dengan nama selain Allah, memakai jimat,sihir, peramalan, dll. Adapun akibat negatif yang ditimbulkan dari syirik antara lain : Sulit menerima kebenaran, munculnya perasaan bimbang dan ragu, menjadi musuh Allah, dan Orang musyrik dinilai sebagai makhluk terburuk
Seseorang yang dapat membebaskan dirinya dari perbuatan syirik memiliki pengaruh dalam kehidupan manusia secara nyata, antara lain:
1)      Mengangkat manusia ke derajat paling tinggi dan mulia
2)      Mengalirkan rasa kesederhanaan dan kesehajaan
3)      Membuat manusia menjadi suci dan benar
4)      Memunculkan kepercayaan yang teguh dalam segala hal.[5]

·         Kafir
Kafir berasa dari bahasa arab yaitu : kafara-yakfuru-kufran yang artinya menyembunyikan, menutupi, menghalangi, dinding, selubung, mengingkari dan menentang. Secara istilah berarti seseorang yang menolak, atau menutupi kebenaran dari Allah SWT, yang disampaikan kepada Rasul-Nya, khususnya Nabi Muhammad SAW dan ajaran-ajaran yang dibawanya. Macam-macam kufur antara lain:
a.       Kufur akbar, yaitu kekafiran yang mengeluarkan pelakunya dari agama. Kufur akbar terdiri atas :
Ø  Kufur takzib (mendustakan)
Ø  Kufur ibaa’i wa istikbar (menolak dan sombong)
Ø  Kufur syak (ragu-ragu), yaitu kufur prasangka
Ø  Kufur i’radh (berpaling)
Ø  Kufur nifaq
b.      Kufur asghar, yaitu kekafiran yang tidak mengeluarkan pelakunya dari agama, diantaranya:
Ø  Kufur terhadap nikmat Allah SWT
Ø  Mencela sesama muslim[6]





·         Zalim
                  Menurut ajaran islam, dzolim atau aniaya berasal dari kata dzalama-yadlimu-dzulman yang artinya aniaya. Zalim (arab:  ظلم ) adalah meletakan sesuatu bukan pada tempatnya. Orang yang berbuat zalim disebut zalimin, lawan kata dari zalim adalah adil. Zalim merupakan suatu sikap menganiaya, menyakiti, menghardik, atau menyiksa orang lain dengan sadis dengan alasan yang belum jelas.
Zalim dibagi menjadi tiga kategori yaitu:
·         Kezaliman terhadap Allah (syirik) , contohnya: menyembah berhala, memuja benda-benda gaib
·         Kezaliman terhadap diri sendiri, keluarga, contoh: homoseksual, narkoba, minuman keras
·         Kezaliman terhadap sesama manusia, contoh: merusak lingkungan, membunuh, merampok[7]











BAB III
PENUTUP
a.       Simpulan
            Dalam surat al ‘araf ayat199 menjelaskan bahwa jadilah kamu orang yang pemaaf, dan mengerjakan yang ma’ruf serta berpaling dari orang-orang yang bodoh. Berarti Allah itu menyuruh manusia untuk menjadi orang yang pemaaf, dan Allah juga menyuruh manusia untuk mengerjakan yang baik, jika ada seseorang yang ingin membantu kita maka bantulah dengan baik, kebaikan satu kali akan di lipatkan pahalanya oleh Allah SWT, Allah juga menyuruh manusia untuk berpaling orang yang bodoh, baik bodoh ilmu agama, ilmu pengetahuan. Ilmu itu penting bagi manusia, jika manusia tidak memiliki ilmu maka manusia akan bodoh, orang yang bodoh pasti akan miskin baik miskin harta, ilmu, jika orang yang miskin pasti akanterbelakang kehidupanya. Jangan seperti orang dahulu yang disebut dengan kaum jahiliyah atau kaum bodoh










DAFTAR PUSTAKA
Ar-Rifa’i Muhammad Nasib. Tafsir al-Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir. Jilid. Depok: Gema Insani, 1999
Syihab Quraisy. Wawasan Al-Qur’an. Tafsir Maudhu’i atas perbagai  Persoalan Umat, Bandung: Mizan.1996
Abdurrahman Syaikh  bin Nashir as-Sa’di. Tafsir Al-Qur’an (3). Jakarta: Darul haq. 2013
Al-Mahalli Imam jalaludin Al-Mahalli dan as-suyuti Imam Jalaludin. tafsir jalalain. jakarta:penerbit pustaka 2013
Tim penyusun. Akidah Akhlak al-Hikmah. Surabaya: Akik Pusaka. 2008
Azra Azyumardi . Kajian Tematik Al-Qur’an Tentang Ketuhana. Bandung: Angkasa. 2008


[1]Muhammad Nasib ar-Rifa’i, Tafsir al-Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, (Depok: Gema Insani, 1999)hlm.473  
[2]Quraisy Syihab, Wawasan Al-Qur’an. Tafsir Maudhu’i atas perbagai  Persoalan Umat, (Bandung: Mizan,1996), hlm. 448-449
[3] Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, Tafsir Al-Qur’an (3),( Jakarta: Darul haq,2013), hlm.155-1556
[4]  Imam jalaludin Al-Mahalli dan Imam Jalaludin as-suyuti, tafsir jalalain,(surabaya:el ba 2015) hal.677
[5]Tim penyusun, Akidah Akhlak al-Hikmah, (Surabaya: Akik Pusaka, 2008), hlm.28
[6]Azyumardi Azra, Kajian Tematik Al-Qur’an Tentang Ketuhanan, (Bandung: Angkasa, 2008), hlm.348

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "KARAKTERISTIK ORANG BERILMU : Berpaling dari Lingkaran Setan "

Posting Komentar