DOA AGAR
TAMBAHKAN ILMU
QS. THAHA 20:114
Disusun
guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Muhammad Ghufron, M.S.I
Disusun oleh :
Wiji Iswanti (2117099)
Kelas : D
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
JURUSAN PENDIDIKAN AGAM ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) PEKALONGAN
2018
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Al-Qur’an adalah mukjizat
islam yang abadi dimana semakin maju pengetahuan, semakin tampak validitas
kemukjizatannya. Allah Swt menurunkannya kepada Nabi Muhammad Saw demi
membebaskan manusia dari kegelapan hidup menuju cahaya Illahi, dan membimbing
mereka ke jalan yang lurus. Rasulullah menyampaikannya kepada para sahabatnya sebagai penduduk asli Arab yang sudah tentu dapat memahami tabiat mereka.
Jika terdapat sesuatu yang kurang jelas bagi mereka tentang ayat-ayat yang
mereka terima, mereka langsung menanyakan kepada Rasullah. Diantara kemurahan
Allah terhadap manusia ialah Dia tidak saja menganugerahkan fitrah yang suci
yang dapat membimbingkan kepada kebaikan bahkan juga dari masa ke masa mengutus seorang Rosul yang membawa kitab sebagai
pedoman hidup dari Allah, mengajak manusia agar beribadah kepadaNya semata.
Menyampaikan kabar gembira dan memberika peringatan agar tidak ada alasan bagi
manusia untuk membantah Allah setelah datangnya para Rasul.
Dilihat dari sisi
kebahasaan, doa berarti panggilan. Sedangkan secara syara’ doa berarti
permohonan kepada Allah SWT agar segala keinginan dan kebutuhan kita terpenuhi,
dengan disertai kerendahan hari dan ketundukan kepada-Nya. Dengan demikian
hakikat doa itu adalah permohonan seorang hamba kepada Allah SWT agar segala
kebutuhannya dapat diperoleh serta terhindar dari segala bencana dan kesusahan
yang akan menimpanya. Doa dan permohonan merupakan sesuatu
yang berperan sebagai senjata. Sedangkan senjata itu bergantung pada yang
menggunakannya bukan sekedar ketajamannya belaka. Apabila senjata tersebut tidak dimanfaatkan dengan
baik, tentu tidak ada gunanya sedikitpun. Lengan tangan orang yang
menggunakannya harus kuat dan orang yang menggunakannya mengerti cara
menggunakannya. Maka apabila doa itu sendiri tidak baik
dan orang yang berdoa tidak khusyu’ dalam qolbu dan lidahnya, atau hal-hal yang
mencegah terkabulnya doa tersebut, seperti makan dan minum barang-barang yang
haram, maka tentu doa yang dipanjatkan itu tidak ada gunanya.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan ilmu?
2. Sebutkan keutamaan ilmu!
3. Apa pengertian doa?
4. Sebutkan ayat-ayat Al-quran tentang ilmu.
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian Doa dan ilmu.
2. Untuk mengetahui dalil mengenai doa di tambahkan ilmu
3. Untuk mengetahui keutamaan ilmu
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Doa Dan Ilmu
1.
Ilmu
“Ilmu” merupakan suatu istilah yang berasal
dari bahasa Arab, yaitu ‘alima yang terdiri dari huruf ‘ayn, lam dan mim.
Secara harfiah “ilmu” dapat diartikan kepada tahu atau mengetahui. Secara
istilah ilmu berarti memahami hakikat sesuatu, atau memahami hukum yang berlaku
atas sesuatu. Al-ilm (ilmu) adalah tergambarnya hakikat sesuatu pada akal, di
mana gambaran tersebut merupakan abstraksi dari sesuatu, baik
kuantitas,kualitas, maupun substansi (jawhar)-nya.
Dalam pandangan Al-Qur’an, ilmu tersebut
dapat membentuk sikap atau sifat-sifat manusia. Atau dengan kata lain, sikap
atau karakter sesseorang merupakan gambaran pengetahuan yang dimilikinya.
Penguasaan ilmu bukanlah tujuan utama suatu pembelajaran, penguasaan ilmu hanya
sebagai jembatan atau alat yang dapat mengantarkan manusia kepada kesadaran,
keyakinan, dan perasaan atau sikap positif terhadap fenomena alam dan kehidupan
sebagai suatu system ilahiyah.[1]
2.
Keutamaan Ilmu
Tidak ada agama selain islam,dan tidak ada
kitab suci selain Al-Qur’an yang demikian tinggi menghargai untuk mencarinya, dan memuji orang
-orang yang menguasainya. Termasuk
di dalamnya menjelaskan ilmu
dan
pengaruhnya dan akhirat,
mendorong untuk belajar dan mengajar, serta meletakkan kaidah-kaidah yang pasti untuk tujuan tersebut dalam
sumber-sumber islam yang asasi: al-Qur’an dan Sunnah.[2]
3.
Pengertian
Doa
Doa diartikan sebagai kegiatan yang menggunakan
kata-kata baik secara terbuka bersama-sama atau secara pribadi untuk mengajukan
tuntutan-tuntutan (petitions) kepada Tuhan. Ibnu Arabi memandang doa sebagai
bentuk komunikasi dengan Tuhan sebagai satu upaya untuk membersihkan dan
menghilangkan nilai-nilai kemusrikan dalam diri. Menurut Zakiyah Darajat yang
dikutip oleh Dadang Ahmad fajar doa merupakan suatu dorongan moral yang mampu
melakukan kinerja terhadap segala sesuatu yang berada diluar jangkauan
teknologi. Doa merupakan suatu bentuk penyadaran tingkat tinggi guna mencapai
kesuksesan rohani seseorang. Di kalangan awam, doa muncul ketika mereka berada
dalam keadaan cemas akan menuju sebuah keadaan fana’ (kehancuran). Dalam hal
ini, doa merupakan wujud penyadaran atas diri yang tidak mempunyai daya upaya
dalam diri ini, selanjutnya akan terpancar keyakinan bahwa Yang Maha Esa dan
Maha Benar itu pasti ada.
Doa adalah permohonan kepada Allah yang disertai
kerendahan hati untuk mendapatkan suatu kebaikan dan kemaslahatan yang berada
di sisi-Nya. Sedangkan sikap khusyu’ dan tadharru’ dalam menghadapkan diri
kepada-Nya merupakan hakikat pernyataan seorang hamba yang sedang mengharapkan
tercapainya sesuatu yang dimohonkan. Itulah pengertian doa secara syar’i yang
sebenanya. Doa dalam pengertian pendekatan diri kepada Allah dengan sepenuh
hati, banyak juga dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Bahkan Al-Qur’an banyak
menyebutkan pula bahwa tadharu’ (berdoa dengan sepenuh hati) hanya akan muncul
bila di sertai keikhlasan. Hal tesebut merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh
orang-orang shalih. [3]
B. Dalil Doa Tambahan Ilmu Dan
Kepahaman
QS. Thaha 114
فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَـقُّ
ۚ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْاٰنِ
مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰٓى اِلَيْكَ وَحْيُهٗ وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
Artinya :
"Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang
sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum
disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku,
tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan".
1. Tafsir Al-Maraghi
Pengertian secara Ijmal
Larangan kepada Nabi saw. Untuk Membaca Al-Qur’an
dengan Tergesa-gesa Sebelum Wahyu Disempurnakan
Diriwayatkan bahwa Nabi saw.
Sangat ingin mengambil Al-Qur’an dari Jibril as, maka dia tergesa-gesa
membacanya karena takut lupa sebelum Jibril menyempurnakannya. Maka, beliau
dilarang berbuat demikian, dan dikatakan padanya, ”Janganlah kamu tergesa-gesa
membacanya sebelum disempurnakan mewahyukannya, agar kamu mengambilnya dengan
mantap dan tenang. Dan berdoalah kepada Tuhanmu agar Dia menambahkan pemahaman
dan pengetahuan.”
Penjelasan:
فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَـقُّ
Maha
Suci Allah Yang Kuasa untuk memerintah dan melarang. Yang berhak untuk
diharapkan janji-Nya dan ditakuti ancaman-Nya, yaitu yang tetap dan tidak
berubah dari penurunan Al-Qur'an kepada mereka tidak mengenai tujuan yang untuk
itu ia diturunkan, yaitu mereka meninggalkan perbuatan maksiat dan melakukan
segala ketaatan.
Tidak
diragukan lagi, ayat ini mengandung perintah untuk mengkaji Al-Qur'an, dan
penjelasan bahwa segala anjuran dan larangannya adalah siasat Ilahiyah yang
mengandung kemaslahatan dunia dan akhirat, hanya orang yang dibiarkan oleh
Allahlah yang akan menyimpang daripadanya; dan bahwa janji serta ancaman yang
dikandungnya benar seluruhnya, tidak dicampuri dengan kebatilan; bahwa orang
yang haq adalah orang yang mengikutinya, dan orang yang batil adalah orang yang
berpaling dari, memikirkan larangan-larangannya.
وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْاٰنِ مِنْ قَبْلِ اَنْ
يُّقْضٰٓى اِلَيْكَ وَحْيُهٗ
"Janganlah kamu tergesa-gesa membacanya di dalam hatimu
sebelum Jibril selesai menyampaikannya kepadamu".
Diriwayatkan,
apabila Jibril menyampaikan Al-Qur’an, Nabi saw. mengikutinya dengan
mengucapkan setiap huruf dan kalimat, karena beliau khawatir tidak dapat
menghafalnya. Maka, beliau dilarang berbuat demikian, karena barangkali
mengucapkan kalimat akan membuatnya lengah untuk mendengarkan kalimat
berikutnya.
وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
"Mohonlah tambahan ilmu
kepada Allah tanpa kamu tergesa-gesa membaca wahyu, karena apa yang diwahyukan
kepadamu itu akan kekal".[4]
2.
Tafsir
Ibnu Katsir
Allah SWT,
berfirman bawasanya karena hari kiamat dan hari pembalasan pasti tiba, maka
diturunkanlah Al-Qur’an yang berbahasa Arab, untuk membawa berita gembira bagi
Orang-orang yang Mukmin dan peringatan bagi orang-orang yang kafir dan yang
berdosa. Di dalamnya Allah SWT. berulang-ulang menerangkan ancaman-Nya agar
mereka bertakwa, meninggalkan dosa-dosa dan maksiat dan agar mereka mendapat
pengajaran dan petunjuk ke jalan yang benar. Maka Maha Sucilah Allah yang
janji-Nya, ancaman-Nya dan Rasul-rasulNya adalah semuanya hak dan benar, tidak
diragukan sedikit pun.
Allah berfirman, ”Janganlah
engkau tergesa-gesa membaca al-Quran sebelum disempurnakan mewahyukannya
kepadamu, hai Muhammad”.
Diriwayatkan
oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. jika menerima wahyu mengalami kesukaran,
menggerakkan lidahnya untuk mengikuti Jibril membacakan ayat-ayat yang
dibawa-nya, maka oleh Allah diberi petunjuk agar jangan tergesa-gesa membacanya
sebelum Jibril selesai membacakannya, agar Nabi Muhammad saw. menghafal dan
memahami betul-betul ayat yang diturunkan. [5]
C.
Berdoa
untuk Menambah llmu
Diterangkan dalam Al-Qur’ an, salah satu
etika dalam mencari ilmu adalah tidak boleh puas setelah sampai pada batas tertentu
jenjang ilmu pengetahuan. Karena, ilmu pengetahuan ibarat lautan yang tidak
bertepi dan tidak pula berbatas. Sejauh mana pun manusia meraih ilmu
pengetahuan, ia harus terus menambahnya, dan ia tidak akan mungkin sampai pada
batas kapuasan. Dalam hal ini Allah telah mengajar Rasul saw. dengan
firman-Nya,
”…Dan katakanlah, 'Ya Tuhanku tambahkanlah kepadaku
ilmu pengetahuan.” (Thaha: 114)
Tidaklah ditemukan didalam Al-Qur'an perintah Allah
kepada Rasul untuk menambah sesuatu kecuali ilmu. Ini adalah satu bukti
kelebihan ini kita pengetahuan dibandingkan yang lain. Kaum salafus saleh dalam
proses belajarnya selalu berupaya untuk menambah ilmu. Mereka tidak pernah
berhenti walaupun tingkat keilmuannya di mata umum telah mencapai titik teratas
dan mereka telah memasuki usia senja. Bahkan, semakin bertambah ilmu yang
diraih, Semakin besar keinginan mereka untuk meraih lebih banyak lagi.
Abu Amr bin Ala pernah ditanya, ”Kapan seyogianya
seseorang mencari ilmu?" Ia menjawab, "Selama nyawa masih bersemayam
di badannya." Abdullah bin Mubarak saat ditanya kapankah batas akhir
seseorang mencari ilmu, ia menjawab, ”Sampai ajal menjemputnya., insya
Allah."
Ketika Khalifah al-Makmun disodori pertanyaan,
apakah seyogianya orang lanjut usia belajar? Beliau menjawab, ”Kalau seandainya
ia bodoh, maka itu aib baginya dan belajar lebih baik baginya." Kalau kita
perhatikan sangatlah indah kata-kata Ibnu Abi Ghasan, ”Seseorang menjadi alim
selama ia menuntut ilmu, dan akan menjadi bodoh kembali ketika berhenti
(menuntut ilmu).”
Qatadah mengatakan, ”Kalaulah ada batas seseorang
mencari ilmu, maka cukuplah bagi Musa a.s., akan tetapi Allah berfirman,
"Musa berkata kepada Khidir, 'Bolehkah aku
mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara
ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (al-Kahfi: 66)[6]
BAB
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Dari
paparan atau penjelasan diatas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwa menguasai atau mencari ilmu hukumnya wajib.
Terdapat kecemerlangan, kemuliaan dan keistimewaan-keistimewaan bagi mereka
yang berilmu. Bahkan Allah SWT mengancam kepada umat Islam yang enggan mencari,
mengamalkan dan menyalurkan/mengajarkan ilmunya kepada orang lain.
Seseorang yang senantiasa belajar maka akan memiliki pengetahuan, wawasan yang
luas dan membuat orang tersebut menjadi bijaksana dalam menyikapi suatu
permasalahan sehingga sangat erat kaitannya seseorang tersebut dapat memiliki sifat, adab dan akhlak yang terpuji.
Jika umat manusia menyadari urgensi dari kegiatan belajar mengajar maka bukan
hal yang mustahil terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas secara
pengetahuannya juga secara kepribadiannya dan tingkah lakunya.
Mengetahui
doa untuk menambah ilmu Penguasaan ilmu bukanlah tujuan utama suatu
pembelajaran, penguasaan ilmu hanya sebagai jembatan atau alat yang dapat
mengantarkan manusia kepada kesadaran, keyakinan, dan perasaan atau sikap
positif terhadap fenomena alam dan kehidupan sebagai suatu system ilahiyah.
2. Saran
Dalam
kaitannya dengan makalah kewajiban belajar dan mengajar ini diharapkan agar dapat dijadikan wawasan dan arahan bagi
para pendidik maupun calon pendidik sehingga dapat mengambil pelajaran dari
makalah ini. Kami sangat menerima kritik, saran demi perbaikan dan sempurnanya
makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Hamka,2013. Tafsir Al-Azhar juz XVI. Jakarta :
amzah.
Dr. Yusuf Qardhawi. Al-Qur’an Berbicara Tentang Akal dan Ilmu
pengetahuan.Jakarta: Gema Insani.
Dadang Ahmad Fajar. Epistemologi Doa.
Ahmad Musthafa. Tafsir Al-Maraghi Juz 16.
Semarang: Penerbit CV Putra Toha.
Said, Salim, 1990. Tafsir Ibnu Katsier.
Surabaya: Pt Bina Ilmu.
[1]
Hamka, Tafsir Al-Azhar juz
XVI (Jakarta : amzah, 2013) hal 115
[2]
Dr. Yusuf Qardhawi,
Al-Qur’an Berbicara Tentang Akal dan Ilmu pengetahuan (Jakarta: Gema
Insani, 1998) hal 90
[3]
Dadang Ahmad Fajar, Epistemologi
Doa, hal 53
[4]
Ahmad Musthafa, Tafsir
Al-Maraghi Juz 16 (Semarang: Penerbit CV Putra Toha) hal 266-270
[5]
Said, Salim, Tafsir Ibnu
Katsier (Surabaya: Pt Bina Ilmu,
1990) hal 78-79
[6]
Ibid, hlm. 230-240

Belum ada tanggapan untuk "KEWAJIBAN BELAJAR “SPESIFIK” : Doa agar Tambahkan Ilmu "
Posting Komentar