Makalah : PERADABAN ISLAM DI ANDALUSIA


BAB I
PENDAHULUAN
                                                                                 
A.    Latar Belakang Masalah
Di awal abad ke-7 masehi, ketika Nabi Muhammad SAW memulai misinya di negeri Arab, seluruh pantai tengah merupakan bagian dari dunia masyarakat Kristen sepanjang Eropa, Asia, dan pantai Afrika Utara ditinggali penduduk beragama Kristen dari berbagai sekte.
      Setelah berakhirnya periode klasik, ketika islam mulai memasuki masa kemunduran, Eropa bangkit dari keterbelakangannya. Kebangkitan itu bukan hanya terlihat dari bidang politik. Kemajuan Eropa ini tidak lepas dari pemerintahan islam di Spanyol. Dari islamlah, Eropa banyak menimba ilmu.
Sejarah pernah mencatat bahwa peradaban islam pernah mencapai puncak kejayaan, berkat adanya ketekunan pemeluk islam dalam mencari dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Hal tersebut dikarenakan adanya dorongan yang kuat dari ajaran islam itu sendiri, yang dapat membuat pemeluknya lebih giat dalam menggali dan menemukan sesuatu yang baru dan berguna bagi umat islam.
Eropa sebelum abad ke-10 merupakan dunia yang tananhnya gersang dan tandus dari ilmu pengetahuan. Dengan adanya penguasaan islam dan kegiatan penerjemahanbuku-buku berbahasa arab hasil karya pemikir islam ke dalam bahasa eropa, maka terbukalah pintu ilmu pengetahuan di Eropa.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah masuknya islam di Andalusia?
2.      Bagaimana kemajuan peradaban islam dan pola pemerintahan islam di Andalusia?
3.      Apa saja penyebab kemunduran dan kehancuran peradaban islam di Andalusia?


C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui sejarah masuknya islam di Andalusia.
2.      Untuk mengetahui kemajuan peradaban islam dan pola pemerintahan islam di Andalusia.
3.      Untuk mengetahui penyebab kemunduran dan kehancuran peradaban islam di Andalusia.
                                                  
























BAB II
PEMBAHASAN
A.    Masuknya Islam di Spanyol (Andalusia)
            Spanyol diduduki umat islam pada zaman khalifah Al-Walid (705-715 M), salah seorang khalifah pada masa dinasti Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus. Sebelum penaklukan Spanyol, umat islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya sebagai salah satu provinsi dari Dinasti Umayyah. Penguasaan sepenuhnya atas Afrika Utara itu terjadi dizaman khalifah Abdul Malik (685-705 M). Khalifah Abdul Malik mengangkat Hasan bin Nu’man Al-Ghassani menjadi gubernur di daerah itu. Pada masa khalifah Al-Walid, Hasan bin Nu’man sudah digantikan oleh Musa bin Nushair. Pada zaman khalifah Al-Walid itu, Musa bin Nushair memperluas wilayah kekuasaannya dengan menduduki Aljazair dan Maroko. Selain itu, dia juga menyempurnakan penaklukan ke daerah-daerah bekas kekuasaan bangsa Barbar di pegunungan-pegunungan, sehingga mereka mau berjanji setia untuk tidak melakukan kekacauan seperti yang pernah mereka perbuat.
            Sebelum dikalahkan dan dikuasai islam, dikawasan Barbar ini terdapat kantung-kantung yang menjadi basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gothik. Kerajaan ini sering menghasut penduduk agar melakukan kerusuhan dan menentang kekuasaan islam. Setelah kawasan ini benar-benar dikuasai, umat islam mulai memusatkan perhatiannya untuk menaklukkan Spanyol. Dalam penaklukkan Spanyol, terdapat tiga pahlawan yang sangat berjasa dalam memimpin pasukan ke wilayah tersebut. Mereka adalah Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad, dan Musa bin Nushair.
            Tharif dapat dikatakan perintis dan penyidik. Ia menyebrangi selat yang berada diantara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang, 500 orang diantaranya adalah tentara berkuda, mereka menaiki empat buah kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan itu Tharif tidak mendapat perlawanan yang cukup berarti. Ia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan perang yang tidak sedikit. Didorong oleh keberhasilah Tharif tersebut, dan kemelut yang terjadi di kerajaan Visigoths yang berkuasa di Spanyol pada saat itu. Maka Musa bin Nushair pada tahun 711 M mengirim psukan ke spanyol sebanyak 7.000 orang dibawah pimpinan Thariq bin Ziyad.
Sejarah mencatat bahwa panglima Thariq setelah seluruh pasukan selesai mendarat diwilayah tersebut, membakar seluruh alat penyebrangan. Lalu beliau berkata “Aduwwu amamakum wal bahru wara’akum fakhtar ayyuma syi’tum” (Musuh ada didepanmu, dan laut ada dibelakangmu, silahkan pilih mana yang kamu kehendaki).[1]
            Bersamaan dengan kedatangan Thariq, King Roderick sedang mengatasi kerusuhan di bagian utara Spanyol. Theodomir yang berpapasan dengan pasukan Thariq langsung melapor kepada King Roderick, lalu roderick pun menyiapakan 100.000 orang pasukan siap tempur. Karena mendengar pasukan yang disiapkan Roderick begitu besar, maka Thariq meminta bantuan Musa di Afrika. Musa pun mengirim 5000 pasukan, sehingga pasukan islam menjadi 12.000 orang. Pertempuranpun akhirnya terjadi pada tanggal 19 juli 711 M ditepi sungai Lakkah yang sekarang dinamakan Salado. Pertempuran itu terjadi selama delapan hari dan pasuka roderick dapat dikalahkan oleh pasukan islam. Raja Roderick penguasa terakhir kerajaan Visigoth tewas dalam pertempuran itu.
            Pasukan Thariq yang ditemani Ratu Julian bergerak ke utara dan menguasai kota-kota Sidonia, Carmona, Ecija.kemudian atas usul Ratu Julian, Thariq mempersiapkan empat pasukan, yang masing-masing dipimpin oleh prajurit prajurit pilihan. Mugis al-Rumi mengepalai pasukan yang menuju Cordova, dan kota ini dapat ditaklukkan pada bulan Oktober 711 M. Pasukan kedua menuju Malaga, pasukan ketiga menuju Granada dan Elvira, dan pasukan keempat dipimpin oleh Thariq bergerak ke Toledo untuk menghentikan pasukan Visigoth yang melarikan diri dari kota itu menjelang Thariq masuk kota. Pengejaran itu sampai dikota Astorga. Penaklukan yang dilakukan Thariq pada tahun 711 M sesungguhnya sudah menguasai separuh dari wilayah Spanyol. Dalam catatan sejarah, tahun 711 M inilah yang dijadikan acuan tahun resmi penaklukan Spanyol oleh islam. Nama Thariq bin Ziyad tercatat sebagai penakluk sejati jazirah ini.
            Pada tahun 712 M, Musa bin Nushair membawa pasukannya yang sangat besar yaitu 18.000 orang menuju Spanyol. Untuk itu Musa menyerahkan penguasaan Afrika Utara kepada anaknya yaitu, Abdullah. Dalam usahanya menuju pertahanan Spanyol, Musa memilih jalan yang telah dirintis Thariq. Dari sana ia mengepung Seville, dan akhirnya kota ini dapat ditaklukkan Musa pada tahun 713 M. Dan ditahun yang sama Merida juga ditaklukkan. Selanjutnya pasukan Musa bergabung dengan pasukan Thariq di Toledo, dari Toledo penaklukkan dilanjutkan keutara. Sebagai hasilnya Zaragosa, Aragon, Leon, Austrias, dan Galisia berhasil ditklukkan pasukan islam. Setelah itu pasukan islam bergerak ketimur sampai ke pegunungan Pyneria. Tapi sayangnya mereka tidak dapat menaklukkan daerah pegunungan itu, karena itu menjadi tempat pengungsian bangsa Ghotic yang melarikan diri dari serangan kaum muslimin.
            Yang perlu dicatat bahwa keberhasilan pasukan islam menguasai Spanyol ini, tidak lepas dari bantuan orang Spanyol sendiri yaitu Ratu Julian yang sedang berselisih dengan King Roderick. Dan dengan keberhasilan umat islam menaklukkan Spanyol ini mulailah babak baru islam diwilayah ini. Setelah penaklukkan ini, Spanyol menjadi salah satu provinsi dari kekhalifahan Bani Umayyah dengan nama Andalusia.[2]
B.     Pemerintahan Islam di Spanyol (Andalusia)
            Sebagaimana disebutkan oleh para ahli sejarah, sesungguhnya masa pemerintahan islam di Spanyol cukup lama, yaitu hampir delapan abad. Pada masa yang cukup lama itu umumnya ahli sejarah membagi masa pemerintahan islam di Spanyol kedalam beberapa periode atau masa. Berikut periode-periode tersebut.
1.      Masa Pemerintahan Kewalian atau Kepala Daerah, Ahd al-Wulah (714-755 M)
      Menurut Abd al-Rahman Ali al-Hujji, dengan kembalinya Musa bin Nushair dan Thariq bin ziyad ke Damaskus, maka dimulailah pemerintahan kepala daerah atau pemerintahan kewalian di Spanyol sampai dengan datangnya Abd al-Rahman al-Dakhil. Pemerintahan ini kurang lebih berlangsung selama 41 tahun dengan 22 wali atau kepala daerah, diantara mereka ada yang memerintah dua kali yaitu, Abd al-Rahman al-Gafiqi dan Abd al-Malik ibn al-Qatan.
      Pada masa kewalian ini, Spanyol menjadi salah satu bagian dari kekhalifahan Bani Umayyah yang berkedudukan di Damaskus. Ketika itu wali di Andalus dibawah gubernur Afrika Utara dan tidak dibawah kekhalifahan secara langsung. Hal ini disebabkan karena komusikasi dan transportasi antara Damaskus dan Andalus masih sangat sulit karena jauh dan membutuhkan perjalanan dengan waktu lama.
      Pada masa pemerintahan kewalian ini, dapat dikatakan bahwa umat islam pada proses pencarian bentuk. Prioritas utama yang diberikan adalah pada penataan masyarakat dan politik, disebabkan stabilitas politik pada masa ini belum tercapai karena masih seringnya terjadi gangguan dari luar maupun dari dalam tubuh umat islam sendiri.
2.      Masa Pemerintahan Keamiran, Ahd al-Imarah (756-912 M)
      Pada masa ini, Andalus berada dibawah pemerintahan seorang yang bergelar amir, yang tidak tunduk pada pemerintahan islam di Baghdad, ini merupakan pembentukan dasar peletakan Dinasti Umayyah II namun menggunakan sistem yang berbeda yaitu, keamiran. Amir pertama adalah Abd al-Rahman al-Dakhil yang berhasil mendirikan Dinasti Bani Umayyah di Spanyol dengan ibu kota negara di Cordova. Penguasa-penguasa Spanyol pada periode ini antara lain adalah Abd al-Rahman al-Dakhil (756-788 M), Hisyam I (788-769 M), Hakam I (769-822 M), Abd al-Rahman al-Ausath (822-852 M), Muhammad ibn Abd al-Rahman (852-886 M), Munzir ibn Muhammad (886-888 M), dan Abdullah ibn Muhammad (888-912 M).[3]
      Berikut adalah beberapa Pemimpin (Amir) dinasti Umayyah II yang menonjol,
a.       Abdurrahman al-Dakhil ( 138-172 H/757-788 M).
            Meskipun Abdurrahman al- Dakhil adalah keturunan Bani Umayah pertama yang menjadi penguasa dan pelangsung kekuasaan Bani Umayah di Andalusia, tapi ia bukan termasuk salah seorang khalifah Bani Umayah. Karena gelar jabatan yang disandangnya bukan khalifah, melainkan Amir. Oleh karena itu, dalam jajaran kekhalifahan Bani Umayah di Andalusia dia dikenal sebagi perintis dan pembuka jalan bagi terbentuknya dinasti Bani Umayah II di Eropa. Abdurrahman al-Dakhil melakukan berbagai rencana kegiatan untuk membangun kerajaan besar, sebagai penerus dari dinasti Bani Umayah yang pernah berkuasa di Damaskus, Syria. Langkah pertama yang dila-kukan untuk memperkuat posisinya adalah memperbaiki keadaan dalam negeri, baik dari segi politik, keamanan, ketertiban dan pem¬bangunan lainnya. Hampir selama masa kekuasaan, energinya dipergunakan untuk mempertahankan berbagai serangan yang datang, baik dari dalam wilayah kekuasaannya sendiri maupun dari luar.
b.      Hisyam Ibn Abdurrahman ( 172-180 H/788-796 M).
            Sepeninggal Abdurrahman, pemerintahan dipegang oleh anaknya bernama Hisyam. Ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang saleh dan adil bijaksana. Masa pemerintahannya dipergunakan membangun dan mening-kat¬kan kesejahteraan hidup rakyatnya. Ia mempunyai perhatian besar ter-hadap rakyatnya yang miskin. Sehingga hampir seluruh lapisan ma¬sya¬ra-katnya merasakan hasil-hasil pembangunan yang dikerjakan pada masa pe-merinatahan Hisyam.
c.       Abdurrahman II ( al-Awsath, 206-238 H/ 822-852 M)
            Dalam usia 31 tahun, al-Awsath telah menerima jabatan sebagai se-orang Amir ( penguasa) Islam di Andalusia, menggantikan posisi ayahnya. Berbeda dengan sikap dan kebijakan ayahnya, al-Hakam. Al-Hakam tidak berlaku adil, kurang peduli terhadap kepentingan masyarakat, sehingga ia sangat dibenci. Sementara al-Awsath disukai, karena kebijakannya yang me¬mihak masyarakat dan sikapnya yang tega dan berani, terutama dalam mengatasi brbagai pebetontakan yang ada.
d.      Abbdurrahman III ( 300-350 H/911-961 M). 
            Abdurrahman III yang dijuluki al-Nashir (penolong) menggantikan kedudukan ayahnya pada usia 21 tahun. Penobatannya disambut baik oleh semua kalangan. Kemudian pada tahun 301 H/913 M Abdurrahman mengumpulkan pasukan militer yang sangat besar. Sehingga para perusuh dan musuh-musuhnya merasa gentar dengan pasukan yang kuat dan besar itu. Dengan kekuatan yang dimi¬liknya, Abdurrahman melakukan penak-lukkan kota-kota di bagian utara Spanyol tanpa perlawanan. Setelah itu, ia berhasil menaklukkan Sevile dan beberapa kota penting lainnya. Para perusuh dan penentangnya, seperti kaum Kristen Andalusia yang selama itu menjadi penentang utama kekua¬saan Islam, tidak berani melakukan perlawanan terhadap Abdurrahman III. Hanya masyarakat kota Toledo yang berusaha menentang kekuasaan Ab¬durrahman III ini. Tetapi, usaha mereka semua dapat digagalkan, karena kekuatan pasukan Abdurrahman III tidak ada tandingannya saat itu.
e.       al-Hakam (350-366 H/961-976 M)
            al-Hakam II adalah putera Abdurrahman III. Ia menggantikan kedu-dukan ayahnya sebagai khalifah dalam usia 45 tahun. Dalam sejarah pemerintahan khalifah Bani Umayah di Andalusia, ia dikenal sebagai salah se-orang pemimpin yang cinta damai. Setiap persoalan yang dihadapi, selalu diselesaikan lewat jalur perdamaian. Meskipun begitu, dalam hal-hal tertentu, ia termasuk pemimpin yang tegas. Misalnya, ketika terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh suku Lyon di bawah pimpinan Sancho, al-Hakam memberantas hingga dapat ditaklukkan. Semula Sancho beranggapan bahwa al-Hakam tidak akan mungkin menumpas mereka dengan cara-cara ke¬kerasan, karena ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang cinta damai. Namun, anggapan itu sangat keliru dan di luar dugaan Sancho sendiri. Sebab al-Hakam mengambil kebijakan lain, bahwa pemberontakan Sancho ini tidak bisa dibiarkan, karena akan mengganggu stabilitas dan kemanan negara. Karena itu, al-Hakam mengirim pasukan untuk memberantas gerakan Sancho yang berusaha ingin memisahkan diri dari wilayah kekuasaan al-Hakam.[4]
3.      Masa Pemerintahan Khalifah, Ahd al-Khilafah (912-1013 M)
      Periode ini diawali dengan naiknya Abd al-Rahman III sampai dengan kemunculan Muluk al-Thawa’if  (raja-raja golongan). Sejal masa Abd al-Rahman III ini mulailah dipakai gelar khalifah, tepatnya pada tahun 929 M, Khalifah Abd al-Rahman III bergelar al-Nashir li dinillah. Pada masa pemerintahan al-Nasir ini, Andalusia mencapai kemajuan paling gemilang, bidang pertahanan dan keamananpun juga diperkuat. Al-Nasir sendiri memerintah sekitar setengah abad. Khalifah ini pulalah yang berhasil mendirikan lembaga pendidikan Cordova yang cukup terkenal dengan dilengkapi sebuah perpustakaan yang memiliki koleksi ratusan ribu buku. Al-Nasir juga menggalang persahabatan dengan raja-raja Kristen disekitarnya. Pada periode ini, keberhasilan daulah bani Umayyah di Andalus dalam berbagai bidang dapat disetarakan dengan keberhasilan daulah Abbasiyah di Baghdad.
4.      Masa Pemerintah Raja-raja Golongan, Muluk al-Thawa’if  (1013-1086 M)
      Pada periode ini, pemerintahan umat islam di Spanyol terpecah menjadi sekitar 30 kerajaan kecil dibawah pemerintahan raja-raja golongan atau Muluk al-Thawa’if , yang berpusat dikota-kota seperti Seville, Toledo, Cordova, dan lain-lain. Pada periode ini, umat islam memasuki periode pertikaian politik. Kesatuan politik yang pernah dibangun oleh Abd al-Rahman al-Nasir mulai menuju kelemahan dan para penerusnya mulai tercabik-cabik. Islam di Spanyol sudah tidak lagi mampu mencetak tokoh pemersatu. Kenyataan yang justru para raja yang berkuasa satu sama lain saling bermusuhan. Bahkan tidak jarang diantara dinasti kecil yang lemah tak segan-segan meminta bantuan kepada pihak Kristen yang ada di utara untuk menghancurkan dinasti islam lain.
5.      Masa Pemerintahan Murabitun dan Muwahhidun, Ahd al-Murabitun wa Ahd al-Muwahhidun (1086-1248 M)
      Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya dalam Muluk al-Thawa’if , pemerintahan islam di Spanyol terpecah dan menjadi kerajaan kecil-kecil. Dan bisa dibayangkan betapa lemahnya kekuasaan islam di Spanyol kala itu karena banyak dinasti kecil yang bertikai. Namun demikian, sungguh kejayaan kekuasaan islam di Spanyol berada dalam kondisi kemundurannya, tapi pada masa itu masih terdapat dua kekuatan dinasti islam yang dapat mengangkat kembali kejayaan kekuasaan islam di Spanyol. Kedua dinasti itu adalah dinasti Murabitun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun (1146-1235 M).
6.      Masa Pemerintahan Andalus kecil, Kerajaan Granada (1248-1492 M)
      Satu-satunya dinasti islam yang masih bertahan pasca jatuhnya dinasti Muwahhidun adalah dinasti bani Ahmar yang berpusat di Granada. Meskipun wilayah kekuasaannya hanya sebatas wilayah Granada namun dinasti ini juga mencatat prestasi dalam sejarah peradaban. Dinasti ini didirikan oleh Abu Abdullah Muhammad I atau al-Syaikh al-Galib Billah. Ia memerintah pada tahun 635-671 M. Kekuasaan islam terakhir ini bisa bertahan kurang lebih satu setengah abad. Kondidi pemerintahan ini cukup memprihatinkan.[5]
C.    Kemajuan Peradaban Islam di Andalusia
Umat Islam Andalusia ( 711-1498 M) telah membuka lembaran baru bagi sejarah perkembangan intelektual Islam, bahkan sejarah intelektual dunia. Para penguasa dan kaum intelektual tidak hanya menyalakan suluh kebudayaan dan peradaban maju, juga sebagai media penghubung ilmu pengetahuan dnan filsafat yang telah berkembang pada masa-masa sebelumnya, terutama pada jaman Yunani dan Romawi. Andalusia pada masa pemerintahan Arab Muslim menjadi pusat peradaban tinggi. Para ilmuan dan pelajar dari berbagai penjuru dunia berdatangan ke negri ini untuk menuntut ilmu pengetahuan. Kota-kota di Andalusia, seprti Granada, Cordova, Seville dan Toledo merupakan pusat kegiatan ilmu pengetahuan dan tempat tinggal kaum intelektual. Selain itu, kota-kota tersebut juga menjadi tempat atau markas tentara terkenal. Mereka orang-orang terpilih, terdidik dan pandai, sehingga menjadi panutan masyarakat dan model dalam berbagai bidang keahlian.  Berikut beberapa cabang ilmu pengetahuan yang berkemang di Andalusia.
1.      Kedokteran
Ahli kedokteran yang terkenal pada saat itu antara lain adalah Abu al-Qasim al-Zahrawi. Di Eropa ia dikenal dengan nama Abulcassis. Beliau adalah seorang ahli bedah terkenal dan menjadi dokter istana. Ia wafat pada tahun 1013 M. Di antara karyanya yang terkenal adalah al-tasrif terdiri dari 30 jilid. Selain al-Qasim, terdapat seorang filosuf besar bernama Ibn Rusyd yang juga ahli dalam bidang kedokteran. Di antara karya besarnya adalah Kulliyat alThib. 
2.      Ilmu Tafsir
Kemajuan dalam bidang ilmu tafsir ditandai dengan munculya ula¬ma ahli tafsir. Mereka antara lain adalah al-Baqi, Ibn Makhlad,al-Zamakhsyari dengan karyanya al-Kasysyaf, dan al-Thabary. Selain mereka, terdapat juga ahli tafsr terkenal saat itu, yaitu Ibn ‘Athiyah. Kebanyakan tafsir yang dibuat mengandung cerita israiliyat. Kumpulan tulisannya itu kemudian dibu¬kukan oleh al-Qurthubi. 
3.      Ilmu Fiqh
Perkembangan dan kemajuan ilmu Fiqh ditandai dengan mun¬cul-nya banyak ulama fiqh (fuqaha). Mereka antara lain adalah Abdul Malik Ibn Ha¬bib al-Sulami, Yahya Ibn Laits, dan Isa Ibn Dinar. Mereka adalah ahli fiqh mazhab Maliki. Di antara mereka yang paling berperan dalam pengem-bangan mazhab ini adalah Abdul Malik Ibn Habib dan Ibn Rusyd dengan karyanya Bidayah al-Mujtahid. Ibn Ruysd menggunakan metode perban-dingan terhadap pemikiran-pemikiran fiqh yang berkembang saat itu. 
4.      Ilmu Ushul al-Fiqh
Selain perkembangan dalam bidang ilmu fiqh, terdapat pula perkembangan ilmu ushul al-fiqh (filsafat hukum Islam). Ibn Hazm dan al-Syatibi adalah dua tokoh terkenal sangat produktif  dalam bidang ini. Di antara karyanya adalah al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam, karya Ibn Hazm, dan al-Muwafaqat karya al-Syatibi.
5.      Ilmu Hadits
Meskipun tidak sepesat perkembangan ilmu lain, ilmu hadits juga menjadi perhatian para ulama di Andalusia. Kebanyakan mereka belajar dari Timur, seperti di Bagdad. Di antara ahli ilmu hadits adalah Abdul Walid al-Baji yang menulis buku al-Muntaqal. 


6.      Sejarah dan Geografi 
Dalam bidang literatur terdapat dua orang penulis terkenal, yaitu Ibn Abdi Rabbi’ dan Ali Ibn Hazm. Keduanya adalah penulis dan pemikir muslim kenamaan pada abad ke-11 M. Mereka telah menulis lebih dari 400 judul dalam bidang sejarah, telogi, hadits, logika, syair, dan cabang-cabang ilmu lainnya. Pada masa ini juga muncul banyak ilmuan yang menekuni bidang sejarah dan geografi. Meraka antara lain adalah Ibn Khaldun, Ibn al-Khatib, alBakry,Abu Marwan Hayyan Ibn Khallaf, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn Hayyan. Salah satu karya monumental Ibn haldun adalah al-Mukaddimah.
7.      Astronomi 
Pengkajian ilmu astronomi berkembang dengan pesatnya pada masa ini. Para ahli ilmu perbintangan muslim saat itu berkeyakinan bahwa radiasi bintang-bintang besar pengaruhnya terhadap kehidupan dan kerusakan di muka bumi. Al-majiriyah dari Cordova, al-Zarqali dari Toledo dan Ibn Aflah dari Seville, merupakan para pakar ilmu perbintangan yang sangat terkenal saat itu.
8.      Ilmu Fisika
Kemajuan dalam bidang fisika ditandai dengan munculnya sejumlah fisikawan muslim terkenal. Di antara mereka adalah al-Zahrawi dan al-Zuhry. Selaian terkenal sebagai fisikawan, mereka juga terkenal sebagai dokter. Al-Zahrawi hidup pada masa al-Hakam II, sedang al-Zuhry pada masa Abu Yusuf Ya’kub al-Mansur, Ubaidillah al-Muzaffar al-Bahily, selain sebagai fisikawan, juga dikenal sebagai pujangga.
9.      Filsafat
 Dalam catatan sejarah, Islam di Andalusia telah memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan intelektual muslim. Agama ini menjadi jembatan penghubung antara peradaban dan ilmu pengetahuan Yunani – Arab ke Eropa pada abad ke-12 M. Minat untuk mengkaji bidang filsafat dan ilmu pengetahuan sudah dilakukan pada masa pemerintahan Bani Umayah, yakni sejak abad ke-9 M pada masa pemerintahan Muhamad Ibn Abdurrahman ( 832-886 M). Gerakan ilmu pengetahuan mulai tampak gencar dilakukan pada masa pemerintahan al-Hakam ( 961-976 M), ketika ia memerintahkan kaum ilmuan dan orang-orang kepercayaannya untuk mencari data dan naskah-naskah dari Timur dibawa ke Barat untuk dikembangkan lebih lanjut. Sehingga pepustakaan-perpustakaan dan universitasuniversitas di Cordova penuh dengan karya-karya intelektual muslim.  Kemajuan intelekual muslim Andalusia yang paling gemilang dalam bidang filsafat ditandai dengan munculnya banyak filsosuf kenamaan, mereka antara lain adalah Abu Bakar Muhamad Ibn Yahya Ibn Bajjah, lahir di Saragosa, lalu pinndah ke Seville dan Granada. eville . Ia merupakan seorang filosuf terbesar yang pernah hidup pada abad ke-12 M. Selain sebagai filosuf, dikenal pula sebagai seorang saintis, fisikawan, musisi, astronom, dan komentator Aristoteles. Karyanya terbesar antara lain adalah Tadbir al-Mutawahhid.  Selain Ibn Bajjah, filosuf terkenal kedua adalah Abu Bakar Ibn Thufail, lahir di Granada. Ia banyak menulis ilmu kedokteran, astronomi dan filsafat. Karya filsafatnya yang cukup terkenal adalah Hay Ibn Yaqdzan ( Si Hidup bin Si Bangkit). Kemudian pada akhir abad ke12, lahirlah seorang filosuf terkenal bernama Ibn Rusyd, lahir di Cordova pada tahun 1126 M. Ia memiliki keahlian tersendiri dalam mengomentari karya-karya filsafat Aristoteles. Pemikiran yang dikembangkannya sangat raional. Karena be¬gi-tu besarnya pengaruh pemikiran Ibn Ruysd di kalangan kaum intelektual Ba¬rat, maka pemikiran yang dikembangkannya dikenal dengan istilah Avveroisme. Ideologi pemikiran inilah yang membuka cakrawala pemikiran filsafat bangsa Barat. Sehingga bangsa Barat mengalami perkembangan yang sangat maju pada masa-masa sesudahnya. 
D.    Penyebab Kemunduran dan Kehancuran Islam di Andalusia
1.      Konflik Islam dengan Kristen
Para penguasa muslim tidak melakukan islaminisasi secara sempurna. Mereka sudah puas dengan hanya menagih upeti dari upeti dari kerajaan-kerajaan Kristen terlukannya dan membiarkan mereka mempertahankan hukum dan adat mereka, termasuk posisi hirarki tradisional, asal tidak ada perlawanan bersenjata. Namun demikian, kehadiran Arab Islam telah memperkuat rasa kebangsaan orang-orang Kristen. Hal ini menyebabkan kehidupan negara islam dispanyoltidak pernah berhenti dari pertentangan anatara Islam dan Kritsten. Pada abad ke-11 umat kristen memperoleh kemajuan pusat, sementara pesat, sementara umat islam sedang mengalami kemunduran.
2.      Tidak Adanya Ideologi Pemersatu
Kalau ditempat-tempat lain para muallaf didiperlakukan sebagai orang Islam yang sederajat, di Spanyol, sebagai poitik yang dijalankan Bani Umayyah di Damaskus, orang-orang Arab pernah menerima orang-orang peribumi. Setidak- tidaknya sampai Abad ke 10 M, mereka masih memberi istilah ibad dan wuwalladun kepada para muallaf itu, suatu ungkapan yang dinilai merendahkan. Akibatnya, kelompok-kelompok etnis non Arab yang ada sering menggerogoti dan merusak perdamaian. Hal itu mendatangkan dampak besar besar terdapat sejarah sosio-ekonomi negeri tersebut. hal ini menunjukan tidak adanya ideologi yang dapat memberi makna persatuan, disamping kurangnya figur yang dapat menjadi personifikasi ideologi itu.
3.      Kesuliitan Ekonomi                                                
      Di paruh kedua masa Islam diSpanyol,para penguasa membangun kota dan mengembangkan ilmu pengetahuan dengan sangat seius, sehingga lalai membina prekonomian. Akibatnya timbul kesulitan ekonomi yang amat memberatkan dan mempengaruhi kondisi politik dan militer.
4.      Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan
Hal ini menyebabkan perebutan kekuasaan diantara ahli waris. Bahkan, karena ini kekuasaan Bani Umayyah runtuh dan Muluk Al-Tawaif muncul. Granada yang merupakan pusat kekuasaan Islam terahir di Spanyol jatuh ke tangan Ferdinan dan Isabella diantaranya juga disebabkan permasalahan ini
5.      Keterpencilan
Spanyol Islam bagaikan terpencil dari Dunia Islam yang lain. Ia selalu berjuang sendirian, tanpa mendapat bantuan sekecil dari Afrika Utara. Dengan demikian, tidak ada kekuatan alternatif yang mampu membendung kebangkitan Kristen disana.[6]















BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Ada dua dinasti besar yang mewarnai sejarah kegemilangan pemerintahan islam di masa klasik, yaitu dinasti bani Umayyah dan Abbasiyah. Kedua dinasti ini berjasa dalam pengembangan peradaban dan ilmu pengetahuan. Khusus dinasti Umayyah dibagi menjadi dua masa yaitu dinasti bani Umayyah yang berpusat di Damskus dan dinasti bani Umayyah II yang berpusat di Andalusia.
Ketika Abd al-Rahman al-Dakhil memproklamirkan berdirinya imarah atau kerajaan di Spanyol. Dengan sendirinya ia telah mendirikan pemerintahan yang berdiri sejajar dengan pemerintahan Abbasiyah di Baghdad. Dalam hal ilmu pengetahuan dan peradaban, masuknya islam di Spanyol memberikan pengaruh besar kepada dunia islam sendiri dan terlebih kepada dunia barat.
                                                                                         










DAFTAR PUSTAKA
Fu’adi, Imam.2012. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Yogyakarta: Teras

Munir Amin, Samsul. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Amzah.

Yatim, Badri. 2003. Sejarah Peradaban Islam. Yogyakarta: PT Grafindo Perkasa.



[1] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Amzah, 2009) hlm.161-162
[2] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Yogyakarta: Teras, 2012) hlm.26-29
[3] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Yogyakarta: Teras, 2012) hlm.30-32
[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: PT Grafindo Perkasa, 2003) hlm. 100-103
[5] Imam Fu’adi, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, (Yogyakarta: Teras, 2012) hlm.35-45

[6] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Yogyakarta: PT Grafindo Perkasa, 2003) hlm. 103-107

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : PERADABAN ISLAM DI ANDALUSIA"

Posting Komentar