Makalah : ALIRAN PROGRESIVISME


MAKALAH
ALIRAN PROGRESIVISME

Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah: Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Mutho’in, M.Ag
Disusun oleh :


1.      Fikri Yandini                     (2117176)
2.      Naili
3.      M. Mashadi Hufron          (2117391)

Kelas C

FAKULTAS TARBIYAH ILMU KEGURUAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018







BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
Filsafat adalah hasil pemikmiran ahli-ahli filsafat atau filosof-filosof sepanjang zaan diseluruh dunia. Dari perkembangan pemikiran para filososf yang berbeda dalam menanggapi segala sesuatu, maka munculah berbagai karakterisitik pemikiran yang kemudian menjadi ciri khas seorang filosof. Brameld membagi pemikiran atau aliran-aliran filsafat menjadi empat macam, diantaranya aliran progresivisme, aliran esensialisme, aliran prennialisme, dan aliran reconstrucsionisme.
Dalam makalah ini akan menjelaskan salah satu aliran filsafat yaitu aliran progresivisme. Aliran progresivisme merupakan aliran yang berakar dari semangat pembaharuan sosial pada awal abad ke 20 yakni gerakan pembaharuan politik Amerika. Adapun aliran progresif pendidikan Amerika mengacu pada pembaharuan pendidikan di Eropa Barat. Progresivisme nmenganggap pendidikan sebagai cultural transition.  Aliran progresivisme dalam filsafat juga mempunyai sifat-sifat diantaranya yaitu sifat postif dan sifat negatif. Perkembangan dari aliran progresivisme antara lain revolusi industry, modern science, dan perkembangan demokrasi. Dalam aliran progresivisme juga memeiliki keyakinan-keyakinan tentang pendidikan.
  1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalahnya adalah sebagai berikut.
1.      Apa pengertian Aliran Progresivisme?
2.      Apa saja sifat-sifat dari Aliran Progresivisme?
3.      Bagaimana perkembangan Aliran Progresivisme?
4.      Bagaimana keyakinan progresivisme tentang pendidikan?
  1. Metode Pemecehan Masalah
Dalam pembuatan makalah ini, kami melakukan metode pemecahan masalah dengan mengambil sumber informasi atau referensi dari buku-buku yang kami dapatkan. Metode pemecahan masalah ini dimulai dari pembuatan latar belakang masalah dan dilanjutkan dengan perumusan masalah. Dalam perumusan masalah terdapat pertanyaan-pertanyaan yang akan dibahas dalam bab pembahasan.
  1. Sistematika Penulisan Makalah
Dalam sistematika penulisan makalah ini dibagi dalam 3 bagian, meliputi:
Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah, sistematika penulisan makalah, serta tujuan dan manfaat pembuatan makalah;
Bab II, pembahasan;
Bab III, bagian penutup yang terdiri dari simpulan dan saran-saran.
  1. Tujuan dan Manfaat pembuatan Makalah
Tujuan pembuatan makalah:
1.      Untuk memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam
2.      Untuk memebrikan pemahaman kepada mahsiswa tentang materi Aliran Progresivisme
3.      Untuk melatih kita bagaimana cara membuat makalah yang baik dan benar
4.      Untuk melatih kita berpikir dan berpendapat
Manfaat pembuatan makalah
Manfaat dalam penulisan makalah ini bagi kami adalah bisa menambah penegtahuan dan pemahaman tentang Aliran Progresivisme karena dalam mebuat makalah diperlukan berbagai macam referensi dari buku-buku yang ada. Kami juga mendapat banyak ilmu yang bermanfaat dengan membaca referensi tersebut.
Adapun manfaat bagi pembaca adalah pembaca dapat memahami dan mengetahui Aliran Progresivisme.






BAB II
PEMBAHASAN
Filsafat adalah hasil pemikiran ahli-ahli filsafat atau filosof-filosof sepanjang zaman diseluruh dunia. Dari perkembangan pemikiran para filosof yang berbeda dalam menanggapi segala sesuatu, maka muncullah berbagai macam karakteristik pemikiran yang kemudian menjadi ciri khas seorang filosof. Brameld membagi pemikiran atau aliran-aliran filsafat menjadi empat macam, diantaranya:
a. Aliran progressivisme
b. Aliran essensialisme
c. Aliran prennialisme
d. Aliran reconstrucsionisme.
A. ALIRAN PROGRESSIVISME
1.         Pengertian Aliran Progressivisme
Awal mula lahirnya aliranprogresivisme ialah dilatar belakangi ketidak puasan terhadap pelaksanaan pendidikan yang sangat tradisional, cenderung otoriter dan peserta didik hanya dijadikan sebagai objek pembelajaran. Menurut Gutek (1974:139) Aliran ini berakar dari semangat pembaharuan social pada awal abadke 20 yakni gerakan pembaharuan politik Amerika. Adapun aliran progresif pendidikan Amerika mengacu pada pembaharuan pendidikan di Eropa barat. Pendapat lain mmenyebutkan bahwa aliran progresivisme secara historis telah muncul pada abad ke-19, namun perkembangannya secara pesat baru terlihat pada awal abad ke-20, khususnya di negara Amerika Serikat (Muhmidayeli, 2011:151).[1]
Progressivisme menurut Brubacher adalah progress is naturalistic, it’s implies change. Progresif (berkembang maju) adalah sifat alamiah, kodrati dan itu berarti perubahan. Dan perubahanberarti sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru sungguh-sungguh merupakan keadaan yang nyata dan bukan sekedar pengertian atas realita yang sebelumnya memang sudah demikian.
Progressivisme menganggap pendidikan sebagai cultural transition. Ini berarti bahwa pendidikan mampu merubah dalam arti membina kebudayaan baru yang dapat menyelamatkan manusia bagi hari depan yang makin kompleks dan menantang. Progressivisme juga percaya bahwa pendidikan dapat menolong manusia dalam menghadapi periode transisi antara zaman tradisional yang segera berakhir untuk siap memasuki zaman progressif (modern).[2]
2.      Sifat-sifat aliran progressivisme
Sifat –sifat umum aliran progressivisme dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok :
a.       Sifat-sifat negatif
Sifat itu dikatakan negative dalam arti bahwa, progressivisme menolak otoritarisme dan absolutisme dalam segala bentuk, seperti misalnya terdapat dalam agama, politik, etika, dan epistemologi.
b.      Sifat-sifat positif
Postif dalam arti, bahwa progressivisme menruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah dari manusia, kekuatan-kekuatan yang diwarisi oleh manusia dari alam sejak ia lahir – man’s natural powers. Terutama yang dimaksud ialah kekuatan-kekuatan manusia untuk terus menerus melawan dan mengatasi kekuatan-kekuatan, takhayul-takhayul dan kegawatan-kegawatan yang timbul dari lingkungan hidup yang selamanya mengancam.[3]

Istilah filsafat yang biasanya dipakai untuk menggambarkan pandangan hidup [4]yang demikian disebut pragmatism. Dalam arti terbatas pragmatism adalah suatu teori pikir.. Menurut John Dewey pragmatisme ialah “The rule of referring all thinking……………. To qonsequences for final meaning and test.  Untuk mengetahui apakah pikir itu benar, perlu dilihat hasil pikiran itu. Jika pikiran itu berhasil, mempunyai arti bagi si pemikir, maka pikiran itu benar. Ini berarti pragmatisme, dipakai dalam arti yang lebih luas., menurut Dewey. Akan tetapi lazim juga istilah pragmatisme yaitu meliputi sekelompok keyakinan-keyakinan filsafat mengenai alam dan manusia.
Progressivisme yakin bahwa manusia mempunyai kesanggupan-kesanggpan untuk mengendalikan hubungannya dengan alam, sanggup meresapi rahasia-rahasia alam, sanggup menguasai alam. Akan tetapi disamping keyakinan-keyakinan ini ada juga kesangsian.[5] Dapatkah manusia menggunakan kecakapannya dalam ilmu-ilmu pengetahuan alam, juga ilmu pengetahuan sosial? Dalam masyarakat manusia? Dalam hubungannya dengan sesama manusia? Pragmatisme (dan progressivisme) yakin bahwa manusia mempunyai kesanggupan itu, akan tetapi apakah manusia dapat belajar bagaiamana mempergunakan kesanggupan itu dalam hal ini, disini timbul sedikit kesangsian. Tetapi, meskipun demikian progressivisme tetap bersikap optimis, tetap percaya bahwa manusia dapat menguasai seluruh lingkungannya, lingkungan alam dan lingkungan sosial.
Maka tugas pendidikan menurut pragmatisme, ialah meneliti sejelas-jelasnya kesanggupan-kesanggupan manusia itu dan menguji kesanggupan-kesanggupan itu dalam pekerjaan yang praktis. Yang dimaksud disini ialah, bahwa manusia hendaknya memperkerjakan ide-ide atau pikiran-pikirannya. Manusia tidak hendaknya berpikir melulu untuk kesenangan berpikir saja, manusia hendaknya berpikir untuk berbuat.

3.      Perkembangan aliran progressivisme
Factor-fakor kebudayaan yang berpengaruh pada perkembangan progressivisme antara lain:
a. Revolusi industry
               Revolusi industry adalah istilah yang dipakai untuk suatu era dari ekonomi modern yang merubah keadaan social politik manusia. Dengan revolusi industry pengaruhnya amat besar atas sikap manusia terutama pada masalah-masalah kekuatan manusia atas alam dalam rangka eksplorasi alam (bumi) dan penggunaan tenaga mesin untuk produksi.
b. Modern science
               Ilmu pengetahuan modern berkembang sejalan dan erat hubungannya dengan revolusi industry. Bahkan hubungan keduanya bersifat kausalitas, sebab akibat. Sebagai akibat (effect) sebab perkembangan science didorong dan dittopang oleh kemajuan ekonomi, sebagai sebab karena science adalah alat utama dalam membina mesin/teknik untuk mengeksplorasi sumber-sumber alamiah.
c. Perkembangan demokrasi        
               Perkembangan masyarakat demokrasi amat berpengaruh atas kebudayaan modern umumnya, khususnya kepada progressivisme. Pengaruh demokrasi seperti pengakuan hak asasi dan martabat manusia, berarti member kemungkinan bagi perkembangan maksimal kepribadian manusia.[6]

4.      Keyakinan-keyakinan progressivisme tentang pendidikan
Istilah progressivisme dalam bagian ini akan dipakai dalam hubungannya dengan pendidikan, dan menunjukkan sekelompok keyakinan-keyakinan yang tersusun secara harmonis dan sistematis dalam hal mendidik. Keyakinan-keyakinan mana yang didasarkan  pada sekelompok keyakinan-keyakinan filsafat yang lazim disebut orang pragmatisme, instrumentalisme dan eksperimentalisme.
Perlu diketahui bahwa pragmatisme sebagai filsafat dan progressivisme sebagai pendidikan erat sekali hubungannya dengan kepercayaan yang sangat luas dari John Dewey dalam lapangan pendidikan. Hal ini dengan jelas dapat di telusuri lewat bukunya Democracy And Education. Dalam bukunya inilah Dewey memperlihatkan keyakinan-keyakinan dan wawasan-wawasannya tentang pendidikan, serta mempraktekannya di sekolah-sekolah yang ia dirikan. Menurut Dewey tujuan umum pendidikan ialah warga masyarakat yang demokratis. Isi pendidikannya lebih mengutamakan bidang-bidang studi, seperti, IPA, sejarah, keterampilan, serta hal-hal yang berguna atau langsung dirasakan oleh masyarakat. Metode scientific lebih dipentingkan, dan bukan metode memorisasi seperti pada aliran esensialisme. Praktek kerja di laboratorium, bengkel, di kebun (lapangan) merupakan kegiatan yang dianjurkan dalam rangka terlaksananya “Learning by doing”. Progressivisme tidak menghendaki adanya mata pelajaran yang diberikan secara terpisah, melainkan harus diusahakan terintergrasi dalam unit. Karena perubahan yang selalu terjadi maka diperlukan fleksibilitas dalam pelaksanaannya, dalam arti tidak kaku, tidak menghindar dari perubahan, tidak terikat oleh doktrin tertentu, bersifat ingin tahu, toleran, dan berpandangan luas serta terbuka. [7]
5.      IMPLEMENTASI ALIRAN PROGRESIVISME DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA
Makna Pendidikan Progresivisme
Dalam pandangan progresivisme pendidikan merupakan suatu sarana atau alat yang dipersiapkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik supaya tetap survive terhadap semua tantangan kehidupannya yang secra praktis akan senantiasa mengalami kemajuan (Muhmidayeli, 2011:156). Selain itu, proses pendidikan dilaksanakan berdasarkan pada asas pragmatis. Artinya, pendidikan harus dapat memberikan kebermanfaatan bagi peserta didik, terutama dalam menghadapi persoalan yang ada di lingkungan masyarakat.Dalam buku Philosofical Alternatives in Education, Gutek (1974:140) menyebutkan bahwa pendidikan progresif menekankan pada beberapa hal;
1) pendidikan progresif hendaknya memberikan kebebasan yang mendorong anak untuk berkembang dan tumbuh secara alami melalui kegiatan yang dapat menanamkan inisiatif, kreatifitas, dan ekspresi diri anak;
2) segala jenis pengajaran hendaknya mengacu pada minat anak, yang dirangsang melalui kontak dengan dunia nyata;
3) pengajar progresif berperan sebagai pembimbing anak yang diarahkan sebagai pengendali kegiatan penelitian bukan sekedar melatih ataupun memberikan banyak tugas;
4) prestasi peserta didik diukur dari segi mental, fisik, moral dan juga perkembangan sosialnya;
5) dalam memenuhi kebutuhan anak dalam fase perkembangan dan pertumbuhannya mutlak diperlukan kerjasama antara guru, sekolah, rumah, dan keluarga anak tersebut;
6) sekolah progresif yang sesungguhnya berperan sebagai laboratorium ynag berisi gagasan pendidikan inovatif dan latihan￾latihan.
Menurut progresivisme proses pendidikan memiliki dua segi, yaitu psikologis dan sosiologis. Dari segi psikologis, pendidik harus dapat mengetahui tenaga-tenaga atau daya-daya yang ada pada anak didik yang akan dikembangkan. Psikologinya seperti yang berpangaruh di Amerika, yaitu psikologi dari aliran Behaviorisme dan Pragmatisme. Dari segi sosiologis, pendidik harus mengetahui kemana tenaga-tenaga itu harus dibimbingnya. Di samping itu, progresivisme memandang pendidikan sebagai suatu proses perkembangan, sehingga seorang pendidik harus selalu siap untuk memodifikasi berbagai metode dan strategi dalam pengupayaan ilmu-ilmu pengetahuan terbaru dan berbagai perubahan-perubahan yang menjadi kencenderungan dalam suatu masyarakat (Muhmidayeli, 2012:156). Dalam konteks ini, pendidikan harus lebih dipusatkan pada peserta didik, dibandingkan berpusat pada pendidik maupun bahan ajar. Karena peserta didik merupakan subjek belajar yang dituntut untuk mampu menghadapi berbagai persoalan kehidupan di masa mendatang. Oleh karena itu, menurut Ahmad Ma’ruf (2012) ada beberapa prinsip pendidikan yang ditekankan dalam aliran progresivisme, di antaranya:
a. Proses pendidikan berawal dan berakhir pada anak.
b. Subjek didik adalah aktif, bukan pasif.
c. Peran guru hanya sebagai fasilitator, pembimbing atau pengarah.
d. Sekolah harus kooperatif dan demokratis.
e. Aktifitas lebih fokus pada pemecahan masalah, buka untuk pengajaraan materi kajian.
Bila dikaitkan dengan pendidikan di Indonesia saat ini, maka progresivisme memiliki andil yang cukup besar, terutama dalam pemahaman dan pelaksanaan
pendidikan yang sesungguhnya. Di mana pendidikan sudah seharusnya diselenggarakan dengan memperhatikan berbagai kemampuan yang dimiliki oleh peserta didik, serta berupaya untuk mempersiapkan peserta didik supaya mampu menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan yang dihadi di lingkungan sosialnya. Hal tersebut senada dengan
pengertian pendidikan di Indonesia, yakni usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dalam pengertian ini, pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai transfer pengetahuan. Pendidikan berarti proses pengembangan berbagai macam potensi yang ada dalam diri manusia, seperti kemampuan akademis, relasional, bakat bakat, talenta, kemampuan fisik dan daya daya seni.Dengan demikian dapat dipahami, bahwa aliran progesivisme telah memberikan sumbangan yang besar di dunia pendidikan di Indonesia. Aliran ini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebaikan, baik secara fisik maupun cara berpikir, guna
mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain.[8]
















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Aliran progresivisme merupakan aliran yang berakar dari semangat pembaharuan sosial pada awal abad ke 20 yakni gerakan pembaharuan politik Amerika. Sedangkan aliran progresif pendidikan Amerika mengacu pada pendidikan di Eropa barat. Progresif menganggap pendidikan sebagai cultural transition. Maksudnya adalah bahwa pendidikan mampu merubah dalam arti mampu mebina kebudayaan baru yang dapat menyelamatkan manusia di hari yang akan datang.
Progresivisme memiliki sifat-sifat antara lain yaitu sifat negatif dan sifat postif. Sifat negatif maksudnya progresif menolak otoritarisme dan absoulutisme. Sedangkan sifat positif aliran progresivisme yakni progrefivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah dari manusia. Selain sifat aliran progresivisme juga memiliki perkembangan anatara lain revolusi industry, modern science, dan perkembangan demokrasi. Aliran progresivisme juga menaruh keyakinan-keyakinan tentang pendidikan.
B.     Saran-saran
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih belum sempurna dan untuk menjadi sempurna kami sangat membutuhkan masukan dari pembaca atau pihak lain. Untuk itu kami mengaharapkan kepada para pembaca memberikan berbagai masukan dan kritik demi perbaikan dan kesempurnaan makalah ini.









DAFTAR PUSTAKA
Khobir Abdul. 2007. Filsafat Pendidikan Islam (Landasan Teoretis dan Praktis). Pekalongan: STAIN Press Pekalongan.
Noorsyam, Mohammad. 1988. Filsafat pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila. Surabaya: Ussana Offset Printing.
Zuhairini dkk. 1995. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Jurnal 19.Mfadillah. Aliran progresivisme dalam Pendidikan di Indonesia. Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran.Vol.5 No. 1 Januari 2017.



[1] Jurnal 19 M.Fadlillah. “ Aliran Progressivisme dalam Pendidikan di Indonesia”, Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 5 No. 1 Januari 2017
[2] Moh. Noor Syam, Filsafat Pendidikan dan Dasar Filsafat Pendidikan Pancasila, (Surabaya: Usana Offset Printing, 1988) hlm. 226-227
[3] Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam (Landasan Teoritis dan Praktis), (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press, 2007) hlm. 48

[5] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam , Jakarta , (Bumi Aksara :1995),  Hlm. 21
[6] Opcit. Noor syam hlm 231-232
[7] Opcit. Zuhairini, hlm. 24
[8] Jurnal 19 M.Fadlillah. “ Aliran Progressivisme dalam Pendidikan di Indonesia”, Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran. Vol. 5 No. 1 Januari 2017. hlm. 20

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : ALIRAN PROGRESIVISME"

Posting Komentar