Makalah : EPISTIMOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN




MAKALAH
EPISTIMOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN 
 
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Muthoin, M.Ag







Disusun Oleh :

1.      Fithrotul ‘Aidah          (2117052)
                                                 2.      Susanti                        (2117081)
3.      Khoirudin                    (2117285)
                                                 4.      Irsyadul Ibad               (2117320)


Kelas C



JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

PEKALONGAN

2018








BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Ada dua dimensi dalam kajian filsafat islam yaitu makro dan mikro dan epistimologi termasuk kajian makro yang mengkaji tentang sumber pengetahuan bagaimana struktur  pengetahuan yang mana berkaitan dengan macam atau jenis pengetahuan dan bagaimana kita dapat memperoleh pengetahuan tersebut.

Pengetahuan merupakan  ilmu yang mempunyai karakteristik yang mencirikan hakikat keilmuan dan sekaligus yang membedakan ilmu dari berbagai cabang pengetahuan lainnya. Selain itu pengetahuan merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu epistimologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit sebab epistimologi menjangkau permasalahan yang membentang seluas metafisika sendiri.



B.     Rumusan Masalah

1.      Apa hakikat ilmu pengetahuan?

2.      Apa saja teori- teori ilmu pengetahuan?

3.      Bagaimana pendekatan dan metode memperoleh ilmu?



C.    Tujuan

1.      Untuk mengetahui hakikat ilmu pengetahuan

2.      Untuk mengetahui apa saja teori- teori ilmu pengetahuan

3.      Untuk mengetahui pendekatan dan metode memperoleh ilmu pengetahuan













BAB II

PEMBAHASAN

A.    Hakikat Ilmu Pengetahuan

Dunia pendidikan dianggap sebagai proses penyerahan kebudayaan umumnya, khususnya ilmu pengetahuan. Apakah sesungguhnya ilmu pengetahuan itu dan merupakan urusan epistimologi. Epistimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu episteme dan logos. Episteme berarti pengetahuan, sedangkan logos berarti teori, uraian atau alasan. Jadi epistimologi dapat diartikan sebagai teori tentang pengetahuan (Theory of Knowleged). Sedangkan dalam istilah epistimologi merupakan suatu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, sestruktur, metode dan validitas pengetahuan (Mohammad Noor Syam, 1988: 32). Epistimologi juga berarti cabang filsafat yang mempelajari soal watak, batas- batas dan berlakunya ilmu pengetahuan.[1]

Ilmu pengetahuan berasal dari 2 kata yaitu ilmu dan pengetahuan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengetahuan berarti segala  sesuatu  yang  diketahui;  kepandaian:  atau  segala  sesuatu  yang diketahui berkenaan dengan hal (mata pelajaran).Menurut Pudjawidjana , pengetahuan adalah reaksi dari manusia atas rangsangannya oleh alam sekitar melalui persentuhan melalui  objek dengan indera  dan  pengetahuan  merupakan  hasil  yang  terjadi  setelah  orang melakukan penginderaan sebuah  objek  tertentu. Sedangkan  menurut Notoatmodjo , pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang  melakukan  penginderaan  terhadap  obyek  tertentu.  Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman,  rasa  dan  raba.  Sebagian  besar  pengetahuan manusia  diperoleh melalui mata dan telinga.

Dari  beberapa  pengertian  pengetahuan  di  atas  dapat  disimpulkan bahwa  pengetahuan  merupakan  segala  sesuatu  yang  diketahui  yang diperoleh  dari  persentuhan  panca  indera  terhadap  objek  tertentu. Pengetahuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat, mendengar, merasakan, dan  berfikir  yang  menjadi  dasar  manusia  dan  bersikap  dan bertindak.

Adapun ilmu berasal dari bahasa  Arab,  ‘alima yang artinya adalah  pengetahuan.  Dalam  bahasa   Indonesia,  ilmu  sering  disamakan dengan  sains  yang berasal  dari bahasa  Inggris  “science”. Kata  “science”  itu sendiri  berasal  dari  bahasa  Yunani  yaitu  “scio”,  “scire”  yang  artinya pengetahuan.   Science  (dari  bahasa  Latin  “scientia”,  yang  berarti “pengetahuan”  adalah  aktivitas  sistematis  yang  membangun  dan mengatur  pengetahuan  dalam  bentuk penjelasan  dan  prediksi  tentang alam semesta. Berdasarkan  kamus  besar  Oxford  Dictionary  bahwa  ilmu didefinisikan  sebagai  aktivitas  intelektual  dan  praktis  yang  meliputi studi sistematis tentang struktur dan perilaku dari dunia fisik dan alam melalui pengamatan dan percobaan”.

Lorens Bagus mengutip  pendapat  Arthur  Thomson  yang mendefinisikan  ilmu  sebagai  pelukisan  fakta-fakta,  pengalaman  secara lengkap  dan  konsisten  meski  dalam  perwujudan  istilah  yang  sangat sederhana. Ilmu  atau  ilmu  pengetahuan  adalah  aktifitas  intelektual  yang sistematis  untuk  menyelidiki,  menemukan,  dan  meningkatkan  pemahaman secara  rasional  dan  empiris  dari  berbagai  segi  kenyataan  tentang  alam semesta.Segi-segi  ini  dibatasi  agar  dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.

Berdasarkan  definisi  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa  ilmu  bukan sekedar  pengetahuan (knowledge), tetapi merupakan rangkuman dari sekumpulan  pengetahuan  atau  hasil  pengetahuan  dan  fakta  berdasarkan teori-teori  yang  disepakati berlaku  umum,  diperoleh  melalui  serangkaian prosedur  sistematik,  diuji  dengan  seperangkat  metode  yang  diakui  dalam bidang ilmu tertentu.[2]

Dengan demikian epstimologi atau teori tentang ilmu pengetahuan adalah inti sentral setiap pandangan dunia. Didalam konteks Islam, ia merupakan parameter yang bisa menetapkan apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidang-bidangnya, apa yang mungkin diketahui atau lebih baik tidak diketahui.



B.     Teori Ilmu Pengetahuan

Teori pengetahuan adalah ways of knowing (cara-cara mengetahui), dengan perkataan lain bagaimana sesungguhnya proses manusia mengetahui sesuatu. Menurut Brubacher ada beberapa teori pengetahuan sebagai berikut:



1.      Teori pengetahuan menurut Correspondence

Proses mengetahui adalah proses partisipasi langsung oleh peserta didik terhadap realita obyek secara wajar melalui studi. Sebab realita obyek itu selalu mewujud didalam sejumlah aspek-aspek perwujudan yang dapat dimengerti. Beberapa aspek itu kadang bersifat accident (kebetulan) dan sebagian lagi bersifat esensial.

Mengetahui suatu obyek adalah dengan mengenal sifat-sifat esensial obyek tersebut dan bukan mengenal aspek-aspek nonesensial (sifat kebetulan) obyek itu. Misalnya bagaimana wujud sebuah jam. Bentuk, ukuran, angka-angka pada jam itu bukanlah esensial, yang esensial pada jam itu adalah mesin dan bagian petunjuk waktu.

2.      Teori pengetahuan menurut Consistency

Menurut teori ini pengetahuan didapat oleh seseorang dari luar melalui pancaindra. Tetapi kesan-kesan yang ditangkap oleh pancaindra bukanlah realitas yang ditangkap langsung secara obyektif. Sebab seseorang tidak akan mampu menangkap realitas obyek secara hakiki.

Apa yang diketahui oleh seseorang melalui kesan-kesan indra itu hanyalah copies of reality (bayangan realita) yang banyak ditentukan oleh pembawaan jiwa pribadi seseorang. lmplikasi teori ini adalah bahwa seseorang dapat memperoleh ilmu pengetahuan didasarkan pada pembentukan pengetahuan yang diperoleh melalui potensi-potensi internal daripada potensi luar. Proses pembentukan pengetahuan dari luar yang ditangkap melaui pancaindra selalu diseleksi oleh mind agar mendapat konsistensi. Semakin konsisten kesan yang diperoleh, semakin mendekati kebenaran-kebenaran yang berlaku umum.

3.      Teori Pengetahuan menurut Intuisi

Cara untuk mendapatkan ilmu pengetahuan melalui pengalaman intuisi atau pengalaman mistik. Dalam hal ini pengetahuan memancar secara tiba-tiba bersifat ilhami (inspiratif).Validitas pengetahuan intuitif ini sangat bersifat pribadi dan merupakan ekspresi dari keunikan individu.

Kelemahan pengetahuan yang bersifat intuitif ini adalah wataknya yang bersifat nonkomunikatif, tak terlukiskan, dan sulit untuk mengetahui apakah seseorang mempunyai atau tidak.

4.      Teori Pengetahuan menurut Pragmatisme

Menurut teori ini pengetahuan diperoleh oleh seseorang dengan belajar melalui interaksi subyek dengan lingkungannya secara langsung. Belajar yang sesungguhnya adalah mempergunakan dan menguji kebenaran-kebenaran teori dengan percobaan-percobaan, dan hasil pengalaman yang kontinu itulah yang disebut pengetahuan.

Dengan kata lain teori pengetahuan menurut pragmatisme adalah kemampuan seseorang didalam memecahkan problema-problema kehidupan secara aktif dengan segala kemampuan, pertimbangan, sikap kritis, analisis dan tindakan-tindakan secara nyata.

5.      Teori Pengetahuan menurut Authorithy

Pengetahuan yang didapat oleh seseorang melalui pendapat orang lain yang didasarkan kepada penelitian dan pembuktian secara ilmiah. Bahkan untuk memperkuat pendapatnya seseorang menunjuk (mengutip) pendapat orang lain yang dianggapnya lebih kuat karena didasarkan pada sumber yang bersifat otoritas seperti: buku-buku literature, encyclopedia, kitab suci, pikiran-pikiran (pendapat) para ahli dalam bidang tertentu (Mohammad Noor Syam, 1988: 116-123).



C.    Pendekatan dan Metode Perolehan Ilmu Pengetahuan

Banyak ilmu Banyak pendekatan yang dapat digunakan dalam perolehan ilmu pengetahuan, dan setiap pendekatan itu mempunyai kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dan kekurangan yang ada tergantung pada subyek yang menggunakannya.

Adapun pendekatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan antara lain:

1.      Skeptisme

Bagi aliran ini, tidak ada suatu cara yang sah untuk memperoleh ilmu pengetahuan, mengingat kemampuan pancaindra dan akal manusia terbatas.

2.      Aliran keraguan (academy doubt)

Suatu aliran yang dalam perolehan ilmu pengetahuan berpangkal dari keraguan sebagai jembatan perantara menuju kepada kepastian…

3.      Empirisme

Cara pencarian ilmu pengetahuan melalui pancaindra, karena indra tersebut yang menjadi instrumen untuk menghubungkan ke alam

4.      Rasionalisme

Suatu cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan dengan mengandalkan akal pikiran, karena akal dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah.

5.      Aliran yang menggabungkan pendekatan empiris dan Rasionalisme

Menurut aliran ini cara untuk memperoleh ilmu pengetahuan adalah dengan mengandalkan pikiran, karena akal dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah.

6.      Intuisi

Suatu pendekatan dalam memperoleh ilmu pengetahuan dengan menggunakan daya jiwa.

7.      Wahyu

Pendekatan ini bersifat metafisik dan bercirikan trasendental.Untuk itu, pendekatan ini' hams didasari oleh kepercayaan (iman).Kepercayaan tersebut adalah apabila akal tidak mampu mengungkapkan sesuatu, akal tersebut tidak perlu dibahas dan diperdebatkan, wahyu berarti isyarat yang cepat yang diperoleh seseorang didalam dirinya serta diyakininya. Wahyu hanya diberikan oleh Allah kepada Nabi dan rasul-Nya tanpa mereka usahakan dan ' mereka pelajari (Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993: 87-88).

Sementara dalam pandangan filsafat Pendidikan Islam, metode memperoleh ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan dua cara sebagai berikut:

1.      Kasbi (khusuli) adalah cara berpikir sistemik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan. Implikasi pandangan tersebut adalah bahwa ilmu pengetahuan dapat diperoleh oleh seseorang jika orang tersebut mau berusaha untuk mendapatkannya dengan cara belajar, penelitian, uji coba dan kerja keras. Tanpa itu semua seseorang tidak akan mendapatkan ilmu yang dia idam-idamkan.

2.      Laduni (khudluri) adalah ilmu yang diperoleh oleh orang-orang tertentu dengan tidak melalui proses ilmu pada umumnya tetapi melalui proses pencerahan atau oleh hadirnya cahaya ilahi kedalam kalbu seseorang. Untuk memperoleh ilmu semacam ini seseorang harus membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran jiwa dengan jalan mujahadah dan riyadhoh (Musa Asy'ari, 1999: 68).

Sedangkan metode yang dapat di gunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan menurut Socrates dapat dilakukan melalui dialektik yang ditandai dengan karakteristik sebagai berikut:

1.      Dialektik artinya metode yang digunakan oleh dua orang atau lebih yang pro dan kontra atau memiliki perbedaan pendapat.

2.      Konferensi adalah metode yang dilakukan dalam bentuk percakapan atau komunikasi lesan.

3.      Tentatif provisional adalah kebenaran yang dicari hanya bersifat sementara dan tidak mutlak, dan merupakan alternatif-alternatif yang terbuka untuk segala kemungkinan-kemungkinan.

4.      Empiris Induktif artinya segala yang dibicarakan dan cara penyelesaiannya bersumber pada hal-hal yang bersifat empiris.

5.      Konsepsional artinya metode yang ditujukan untuk tercapainya pengetahuan, pengertian dan konsep-konsep yang lebih definitif daripada sebelumnya (Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993: 90).



D.    Implikasi Ilmu Pengetahuan dalam Proses Pendidikan Islam

Ilmu pengetahuan dan pendidikan Islam tidak dapat dipisahkan karena perkembangan masyarakat Islam serta tuntutannya dalam membangun seutuhnya (jasmani dan rohani) sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas ilmu pengetahuan yang dicerna melalui proses pendidikan. Proses pendidikan tidak hanya mengembangkan dan menjadikan sains, tetapi yang lebih penting lagi adalah dapat menemukan paradigma baru tentang sains yang bersifat komprehensif, sehingga masyarakat dapat dibangun sesuai dengan keinginan dan kebutuhan yang diharapkan mampu mendukung tata kehidupan umat yang mampu melahirkan peradaban Islam.

Ilmu pengetahuan yang dikembangkan dalam pendidikan Islam hendaknya berorientasi pada nilai-nilai Islam, yaitu ilmu pengetahuan yang bertolak pada fakultas pikir dan fakultas dzikir.Dengan fakultas pikirnya manusia dapat memperoleh kebenaran walaupun pikir (akal) bukan satu-satunya sumber kebenaran. Kebenaran itu dapat diperoleh melalui pendekatan ilmiah dan filosofis. Pendekatan ilmiah dan filosofis ini membutuhkan tenaga pemandu yaitu wahyu yang diperoleh melalui pendekatan imani, antara akal dan wahyu merupakan sumber ilmu pengetahuan yang satu sama lain saling berhubungan dan tidak akan saling bertentangan. Akal dengan kekuatannya mampu menguak ilmu pengetahuan yang rasional, sedangkan wahyu melengkapinya tidak hanya rasional saja, tetapi juga suprarasional.

Dalam pandangan Islam, ilmu itu didasarkan kepada dua pandangan pokok. Pertama ilmu pengetahuan yang didasarkan kepada kepercayaan (iman), yaitu kepercayaan yang disampaikan oleh Allah bersamaan dengan turunnya wahyu. Dimana kita harus meyakini dan mempercayainya. Kedua ilmu pengetahuan eksperimental yaitu ilmu Pengetahuan yang didasarkan kepada penyelidikan dan eksperimen ilmiah yang obyektif.

Berdasarkan pandangan tersebut dapat diketahui bahwa ilmu itu didapat dari pikiran dan kemudian dilanjutkan dengan tindakan dan eksperimen. Walaupun demikian wahyu tidak boleh dilupakan agar ilmu pengetahuan yang kita peroleh tidak keluar dari jalur nilai-nilai keislaman, sebab jika ilmu itu keluar dari nilai-nilai keislaman akan membahayakan umat manusia.

Padahal ilmu pengetahuan yang ada hendaknya dikembangkan dalam rangka mengemban amanah Tuhan dalam mengendalikan alam dan isinya, sehingga dengan bertambahnya ilmu pengetahuan seseorang bertambah pula petunjuknya dan semakin kuat keimanannya, bahkan semakin menyadari kelemahannya dan bukan sebaliknya semakin bertambah ilmu pengetahuannya semakin jauh dia dari Tuhan (Muhaimin dan Abdul Mujib, 1993: 103-105).

Ilmu pengetahuan dalam Islam diharapkan akan mampu membawa kepada kebaikan manusia dan kebaikan masyarakat dan kemanusiaan pada umurnya. Islam mengangkat derajat ilmu dan ulama' yang membawa dan mengajak kepada kebaikan dan kekuatan kaum muslimin. Nilai-nilai yang diajarkan adalah nilai-nilai yang memadukan antara nilai-nilai dunia dan nilai-nilai akhirat sekaligus (Omar Moh. Al-Toumy al-Syaibany, 1987: 264). [3]























BAB III

PENUTUP

A.    Simpulan

Hakikat ilmu pengetahuan merupakan  segala  sesuatu  yang  diketahui  yang diperoleh  dari  persentuhan  panca  indera  terhadap  objek  tertentu. Pengetahuan pada dasarnya merupakan hasil dari proses melihat, mendengar, merasakan,  dan berfikir yang menjadi dasar manusia dan bersikap dan

bertindak.

Sedangkan ilmu sendiri adalah berasal dari kata ilmu adalah dari bahasa Arab, ‘alima. Arti dari kata ini adalah pengetahuan.  Dalam Bahasa Indonesia,  ilmu sering disamakan dengan sains yang berasal dari bahasa Inggris “science”. Kata “ science”  itu sendiri  berasal  dari  bahasa  Yunani  yaitu “ scio”,  “scire”  yang  artinya pengetahuan. Science  (dari  bahasa  Latin “scientia”,  yang  berarti “pengetahuan”  adalah  aktivitas  sistematis yang membangun dan mengatur  pengetahuan  dalam  bentuk  penjelasan  dan  prediksi  tentang alam semesta.

Diantaranya terdapat teori-teori ilmu pengetahuan, yaitu:

1.      Teori pengetahuan menurut Correspondence

2.      Teori pengetahuan menurut Consistency

3.      Teori Pengetahuan menurut Intuisi

4.      Teori Pengetahuan menurut Pragmatisme

5.      Teori Pengetahuan menurut Authorithy

Adapun pendekatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan antara lain:

1.      Skeptisme

2.      Aliran keraguan (academy doubt)

3.      Empirisme

4.      Rasionalisme

5.      Aliran yang menggabungkan pendekatan empiris dan Rasionalisme

6.      Intuisi

7.      Wahyu

Sementara dalam pandangan filsafat Pendidikan Islam, metode memperoleh ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan dua cara sebagai berikut:

1.      Kasbi (khusuli)

2.      Laduni (khudluri)

Sedangkan metode yang dapat di gunakan untuk memperoleh ilmu pengetahuan menurut Socrates dapat dilakukan melalui dialektik yang ditandai dengan karakteristik sebagai berikut:

1.      Dialektik

2.      Konferensi

3.      Tentatif provisional

4.      Empiris Induktif

5.      Konsepsional

Implikasi Ilmu pengetahuan yang dikembangkan dalam pendidikan Islam hendaknya berorientasi pada nilai-nilai Islam, yaitu ilmu pengetahuan yang bertolak pada fakultas pikir dan fakultas dzikir.Dengan fakultas pikirnya manusia dapat memperoleh kebenaran walaupun pikir (akal) bukan satu-satunya sumber kebenaran.





























DAFTAR PUSTAKA

Khobir, Abdul. 2007.Filsafat Pendidikan Islam, Landasan Teoritis dan praktis,   Yogyakarta: Gama Media Offest, 2007.

Makmudah, Siti.2018.Hakikat Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Modern  dan Islam.





[1]Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam, Landasan Teoritis dan praktis, (Yogyakarta: Gama Media Offest, 2007), hal. 26


[2]Siti Makhmudah, Hakikat Ilmu Pengetahuan dalam Perspektif Modern  dan Islam. Volume 4, Nomor 2, Januari 2018, hal. 203-204.


[3]Abdul Khobir, Op. Cit, hal. 24-36

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : EPISTIMOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN"

Posting Komentar