BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Manusia
diciptakan Tuhan mempunyai tujuan yang sangat mulia, dengan dibekali akal
manusia menjadi makhluk yang paling sempurna dibandingkan yang lain. pertama
Allah menciptakan Adam, nenek moyang umat manusia, kemudian menciptakan manusia
dari sari pati yang berasal dari tanah yang diproses dengan sedemikian rupa
sehingga menjadi satu kesatuan yang sempurna. manusia diciptakan untuk mengenal Allah dan menyembahNya, dan
dijadikan sebagai khalifahNya di bumi. Allah menjadikan manusia untuk
memakmurkan bumi ini. Dengan akal yang ada manusia diharapkan memanfaatkannya,
dengan menuntut ilmu serta bekerja keras demi kehidupan yang baik di dunia
maupun diakhirat.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana hakikat Ibadah kepada Allah swt?
2.
Bagaimana penafsiran dari surah Hud ayat 61?
3.
Apa saja sifat-sifat wajib dan sifat Jaiz bagi Allah
swt?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Mengetahui tujuan diciptakannya manusia
2.
Mengetahui isi kandungan surah Hud 61
3.
Mengetahui sifat wajib bagi Allah swt
4.
Mengetahui sifat Jaiz bagi Allah swt
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat ibadah kepada Allah SWT
Manusia diciptakan Tuhan mempunyai tujuan yang sangat mulia, setiap
makhluk yang diciptakan Tuhan sudah tentu mempunyai tujuan dan hikmah bagi
Allah yang tidak diketahui oleh manusia,
karena Allah tidak akan menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Apalagi penciptaan
manusia yang dibekali dengan akal. Allah tidak menciptakan manusia untuk
bersenang-senang sebagaimana hewan, tidak Menciptakannya hanya untuk hidup
bertahun-tahun kemudian ditelan masa dan bumi begitu saja sampai binasa di dalam tanah begitu saja tanpa di bangkit
dan dihisab di hari kiamat.
Sesungguhnya manusia diciptakan
untuk mengenal Allah dan menyembahNya,
dan dijadikan sebagai khalifahNya di bumi. Sayyid Quthub melihat bahwa di
antara tujuan diciptakan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah swt,
karena menurutnya di alam ini harus ada hamba (a’bdun/dan Tuhan (rabbun) yang
disembah. Kehidupan hamba secara menyeluruh harus tertuju kepada dasar ini.
Pendapat Sayyid Quthub ini mungkin berlandaskan pada firman Allah swt dalam
surat Al-Rum ayat 30:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ
اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Q.S. ArRum : 30).
Merujuk kepada fitrah yang dikemukakan di
atas, dapat disimpulkan bahwa manusia sejak asal kejadiannya, membawa potensi
kepada agama yang lurus, yang sebagian ulama memahami sebagai agama yang
berlandaskan ketauhidan. Di pahami juga bahwa fitrah adalah bagian dari khalq
(ciptaan) Allah. Sebagai hamba yang beribadah kepadaNya, di dalam diri manusia
ditanamkan sifat mengakui Tuhan (kebenaran mutlak), bebas, terpercaya, memiliki
rasa percaya diri dan alam semesta ini.
Tujuan yang kedua diciptakannya manusia adalah sebagai khalifah di bumi ini.
Menurut Muhammad Quthub peran khalifah ini sangat luas sekali, yaitu meliputi bermacam aktivitas,
dalam kehidupan duniawi dalam memakmurkan bumi ini. Oleh sebab itu manusia
selaku khalifah Allah harus mengetahui sumber daya yang terkandung di alam ini,
dengan menggunakannya untuk meningkatkan taraf hidup sesuai dengan keinginan
Allah swt. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menegakkan syariat Allah di bumi
sehingga dengan demikian tercapailah metode Ilahi yang sangat sinkron dengan
rahasia alam yang sangat universal. Menjalan tugas kekhalifahan di bumi
(pribadi dan kolektif) merupakan ibadah. Menurut M. Quraisy Shihab ibadah itu
terbagi kepada dua macam, yaitu :
a)
Ibadah murni (
mahdhah ), yaitu ibadah yang telah ditentukan
oleh Allah, bentuk, kadar, atau waktunya, seperti shalat, zakat, puasa dan
haji.
b)
Ibadah ghairu
mahdhah, yaitu segala aktivitas lahir dan
batin manusia yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Menurut Sayyid Quthub hakikat ibadahitu
disimpulkan dalam dua hal pokok, yaitu : Pertama, hakikat menetapkan
dalam diri manusia bahwa ibadah itu
kepada Allah semata, tidak kepada yang lain. Kedua, sama sekali tidak
bersandar kepada yang lain selain kepada Allah.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa
tujuan diciptakan manusia hanya untuk beribadah kepada Allah Sang Pencipta.
Ibadah yang dimaksudkan disini sangat luas artinya, yaitu meliputi dalam segala
tindak tanduk manusia, tidak terbatas pada ibadah mahdhah saja. Oleh karena itu
Allah menjadikan manusia sebagai khalifahNya di bumi, agar manusia mengatur
atau mengelola bumi ini sesuai dengan potensi yang ada pada dirinya
masing-masing, karena Allah tidak akan meminta pertanggungjawaban di luar dari kemampuan
yang telah diberikan kepadanya.[1]
B.
Dalil Ibadah kepada Allah SWT
Q.S Hud 11:61
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ هُوَ
أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ
تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ
Artinya : dan kepada Samud (kami
utus) saudara mereka salih. Salih berkata; "hai kaumku, sembahlah Allah,
sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari
bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya karena itu mohonlah ampunan-Nya,
kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya)
lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).(Q.S Hud 11:61)
Tafsir Ibnu
Katsier
Allah
berfirman, "kami telah mengutus kepada kaum tsamud seorang Rasul, ialah
saudara mereka sendiri Shaleh, yang berseru kepada mereka agar hanya menyembah
kepada Allah yang telah menciptakan mereka dari tanah (bumi) dan menjadikan
mereka berkuasa diatasnya, mengelolanya untuk kepentingan hidup dan kemakmuran
mereka. Karenanya, sebagai imbalan, Shaleh berkata kepada mereka,
"Beristighfarlah (mohon ampun) kamu dari dosa-dosa kamu yang lalu,
kemudian bertaubatlahdari melakukan dosa yang akan datang. Sesungguhnya Tuhanku
adalah dekat yang mendengar doa-doa hamba-hamba-Nya serta memperkenankanya.
Kaum Tsamud tersebut adalah penduduk "al-Hijr" sebuah kota terletak
antara Tabuk dan Madinnah.[2]
Tafsir
Al-Maraghi
وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۚ قَالَ
يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ
Dan kepada Samud, kami utus saudara mereka, Salih, Salih
berkata; "Hai kaumku sembalah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan selain
Dia."
Kata-kata ini, seperti halnya kata-kata semisalnya yang
telah kita baca, yaitu mengenai penyampaian dakwah yang dilakukan Nabi Hud as.
هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ
Allah-lah yang telah memulai penciptaan kalian dari Tana. Yaitu,
pertama Allah menciptakan Adam, nenek moyang umat manusia, kemudian menciptakan
kaliah dari sari pati yang berasal dari tanah. Juga melewati bermacam-macam
perantara karena (nutfah) yang berubah menjadi sesuatu yang melekat pada
uterus ('alaqah), kemudian berubah pula menjadi gumpalan daging (Mudgah),
kemudian menjadi kerangka tulang yang dibalut dengan daging. Asal semuanya
adalah darah, sedang darah yang itu berasal dari makanan. Makanan itu, kadang
terdiri dari tumbuhan yang hidup diatas tanah, kadang tetdiri dari daging yang
berasal dari tumbuhan setelah melewati satu tahapan atau lebih.
وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا
Dan Allah menjadikan kalian orang-orang yang memakmurkan
tanah itu. Artinya, bahwa kaum Nabi Shalih itu ada yang menjadi petani,
pengrajin dan ada pula tukang batu, sebagaimana yang tercantum dalam ayat lain
:
وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا
آمِنِينَ
"Dan mereka memahat rumah-rumah
dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman."(QS Al-Hijr 15:82)
Kesimpulanya : sesungguhnya Allah-lah yangtelah
menciptakan bentuk kejadian kalian, dan menganugerahkan kepadamu sarana-sarana
kemakmuran dan kenikmatan di atas bumi. Maka, tidaklah takut kamumenyembah
Allah, karena Allah-lah yang berjasa dan memberi anugerah pada kalian. Oleh
karena itu, bersyukur kepada-Nya adalah kewajiban mu dengan cara beribadah
kepada-Nya dengan ikhlas.
فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ
Maka, mohonlah kepada Allah supaya mengampuni kalian atas
dosa-dosamu yang lalu karena kemusyrikanmu dengan mempersekutukan Allah kepada
yang lain, juga atas kejahatan-kejahatan yang telah kamu lakukan. Kemudian,
kembalilah kalian kepada-Nya dengan memohon taubat tiap kali kamu terlanjur
melakukan suatu dosa, semoga dia mengampuni kalian.
إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ
Sesungguhnya Tuhanku Maha dekat kepada hamba-hamba-Nya,
tidak samar bagi-Nya permohonan ampun mereka maupun dorongan yang membangkitkan
untuk melakukan permohonan ampun. Allah juga Maha Pengampun dan mengabulkan
do'a bagi siapapun yangberdo'a kepada-Nya dan memohon, apabila dia seorang
mu'min yang ikhlas.[3]
C.
Sifat wajib dan Jaiz bagi Allah SWT
a.
Sifat wajib
Allah
1)
Wujud (ada)
Adanya Allah itu bukan karena ada yang mengadakan atau menciptakan,
tetapi Allah itu ada dengan zat-Nya sendiri.
2)
Qidam
(dahulu/awal)
Sifat Allah ini menandakan bahwa Allah swt sebagai pencipta lebih
dulu ada daripada semesta alam dan isinya yang ia ciptakan.
3)
Baqa’ (kekal)
Allah akan kekal dan abadi selamanya, kekalnya Allah SWT tidak
berkesudahan.
4)
Mukhalafatuhu
Lilhawadith (berbeda dengan ciptaannya/ makhluk-Nya)
Sifat ini menunjukkan bahwa Allah SWT berbeda dengan hasil
ciptaan-Nya. Coba kita perhatikan tukang jahit hasil baju yang dijahit sendiri
tidak mungkin sama dengan baju yang dibuat orang lain.
5)
Qiyamuhu
Binafsihi (Allah berdiri sendiri)
Artinya bahwa Allah SWT itu berdiri dengan zat sendiri tanpa
membutuhkan bantuan yang lain. Maksudnya, keberadaan Allah SWT itu ada dengan
sendirinya tidak ada yang mengadakan atau menciptakan. Contohnya, Allah SWT
menciptakan alam semesta ini karena kehendak sendiri tanpa minta pertolongan
siapapun.
6)
Wahdaniyyah
(tunggal/Esa)
Artinya adalah bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa., baik
itu Esa zat-Nya, sifat-Nya, maupun perbuatannya. Esa zat-Nya maksudnya zat
Allah SWT itu bukanlah hasil dari penjumlahan dan perkiraan atau penyatuan satu
unsur dengan unsur yang lain menjadi satu. Berbeda dengan makhluk, makhluk
diciptakan dari berbagai unsur, seperti wujudnya manusia, ada tulang, daging,
kulit dan seterusnya. Esa sifat-Nya artinya semua sifat-sifat kesempurnaan bagi
Allah SWT tidak sama dengan sifat-sifat pada makhluk-Nya, seperti marah, malas,
dan sombong. Esa perbuatan-Nya berarti Allah SWT berbuat sesuatu tidak
dicampuri oleh perbuatan makhluk apapun dan tanpa membutuhkan proses atau
tenggang waktu. Allah SWT berbuat karena kehendak-Nya sendiri tanpa ada yang
menyuruh dan melarang.
7)
Qudrat
(berkuasa)
Kekuasaan Allah SWT, atas segala sesuatu itu mutlak, tidak ada
batasnya dan tidak ada yang membatasi, baik terhadap zat-Nya sendiri maupun
terhadap makhluk-Nya. Berbeda dengan kekuasaan manusia ada batasnya dan ada
yang membatasi.
8)
Iradah
(berkehendak)
Allah SWT menciptakan alam beserta isinya atas kehendak-Nya
sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak lain atau campur tangan dari siapapun.
Apapun yang Allah SWT kehendaki pasti terjadi, begitu juga setiap sesuatu yang
Allah SWT tidak menghendaki pasti tidak akan terjadi. Manusia mempunyai
keinginan, tetapi keinginan itu kandas di tengah jalan. Apabila manusia
berkeinginan tanpa disertai dengan kehendak Allah SWT. Pasti keinginan itu
tidak terwujud. Hal ini menunjukkan bahwa manusia memiliki keterbatasan,
sedangkan Allah SWT memiliki kehendak yang tidak terbatas. Jadi berbeda dengan
kehendak atau kemauan manusia.
9)
Ilmu
(mengetahui)
Artinya Allah SWT memiliki pengetahuan atau kepandaian yang sangat
sempurna, artinya ilmu Allah SWT itu tidak terbatas dan tidak pula dibatasi.
Allah SWT mengetahui segala sesuatu yang ada di alam semesta, baik yang tampak
maupun yang gaib. Bahkan, apa yang dirahasiakan di dalam hati manusia
sekalipun. Bukti kesempurnaan ilmu Allah SWT, ibarat air laut menjadi tinta
untuk menulis kalimat-kalimat Allah SWT, tidak akan habis kalimat-kalimat
tersebut meskipun mendatangkan tambahan air yang banyak seperti semula. Kita
sering kagum atas kecerdasan dan ilmu yang dimiliki orang-orang pintar di dunia
ini. Kita juga takjub akan indahnya karya dan canggihnya tekhnologi yang
diciptakan manusia. Sadarkah kita bahwa ilmu tersebut hanyalah sebagian kecil
saja yang diberikan Allah SWT kepada kita.
10)
Hayat (hidup)
Artinya hidupnya Allah tidak ada yang menghidupkannya. Melainkan
hidup dengan zat-Nya sendiri, karena Allah Maha Sempurna. Berbeda dengan
makhluk yang diciptakan-Nya. Contohnya: Manusia ada yang menghidupkan. Selain
itu, mereka juga membutuhkan makanan, minuman, istirahat, tidur, dan
sebagainya. Akan tetapi, hidupnya Allah SWT tidak membutuhkan semua itu. Allah
SWT hidup selama-lamanya, tidak mengalami kematian bahkan mengantuk pun tidak.
11)
Sama’
(mendengar)
Allah SWT mendengar setiap suara yang ada di alam semesta ini.
Tidak ada suara yang terlepas dari pendengaran Allah SWT walaupun suara itu
lemah dan pelan. Seperti suara bisikan hati dan jiwa manusia. Pendengaran Allah
SWT berbeda dengan pendengaran makhluk-Nya, karena tidak terhalang oleh suatu
apapun, sedangkan pendengaran makhluk-Nya dibatasi ruang dan waktu.
12)
Bashar (melihat)
Allah SWT melihat segala sesuatu yang ada di alam semesta ini.
Penglihatan Allah bersifat mutlak, artinya tidak dibatasi oleh jarak (jauh atau
dekat) dan tidak dapat dihalangi oleh dinding (tipis atau tebal). Segala
sesuatu yang ada di alam semesta ini, kecil maupun besar, tampak atau tidak
tampak, pasti semuanya terlihat oleh Allah SWT. Dengan memahami
sifat bashar Allah SWT hendaknya kita selalu berhati-hati dalam berbuat.
Mungkin kita bisa berbohong kepada manusia, seperti orang tua, guru, atau teman.
Akan tetapi kita tidak akan bisa berbohong kepada Allah SWT.
13)
Kalam
(berbicara/berfirman)
Allah SWT bersifat kalam artinya Allah SWT berfirman dalam
kitab-Nya yang diturunkan kepada para nabi dan rasul-Nya. Pembicaraan Allah SWT
tentu tidak sama dengan pembicaraan manusia karena Allah SWT tidak berorgan
(panca indra), seperti lidah dan mulut yang dimiliki oleh manusia. Allah SWT
berbicara tanpa menggunakan alat bantu yang berbentuk apapun, sebab sifat kalam
Allah SWT sangat sempurna. Sebagai bukti bahwa adanya wahyu Allah SWT berupa Al
Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan kitab-kitab Allah yang
diturunkan kepada para rasul sebelum Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu kita
sebagai hamba Allah SWT hendaknya membiasakan diri mengucapkan kalimat-kalimat
tayyibah, artinya kata-kata yang mulia, seperti ketika kita berbuat salah, maka
segeralah membaca istighfar.
14)
Kaunuhu qadiron
Yaitu keadaan Allah Ta’ala yang berkuasa mengadakan dan meniadakan.
15)
Kaunuhu muridan
Yaitu keadaan Allah Ta’ala yang menghendaki dan menentukan
tiap-tiap sesuatu, Ia berkehendak atas nasib dan takdir manusia.
16)
Kaunuhu ‘aliman
Yaitu keadaan Allah Ta’ala yang mengetahui akan tiap-tiap sesuatu,
mengetahui segala hal yang telah terjadi maupun yang belum terjadi, Allah pun
dapat mengetahui isi hati dan pikiran manusia.
17)
Kaunuhu hayyan
Yaitu keadaan Allah Ta’ala yang hidup, Allah adalah Dzat yang
hidup, Allah tidak akan pernah mati, tidak akan pernah tidur ataupun lengah.
18)
Kaunuhu sami’an
Yaitu keadaan Allah Ta’ala yang mendengar, Allah selalu mendengar
pembicaraan manusia, permintaan atau doa hamba-Nya.
19)
Kaunuhu basiron
Yaitu keadaan Allah Ta’ala yang melihat akan tiap-tiap yang
maujudat (benda yang ada). Allah selalu melihat gerak-gerik kita. Oleh karena
itu, hendaknya kita selalu berbuat baik.
20)
Kaunuhu mutakaliman
Yaitu keadaan Allah Ta’ala yang berkata-kata, Allah tidak bisu, Ia
berbicara atau berfirman melalui ayat-ayat Al Quran. Bila Al Quran menjadi
pedoman hidup kita, maka kita telah patuh dan tunduk terhadap Allah SWT.[4]
b.
Sifat jaiz bagi
Allah
Sifat
Jaiz Allah hanya ada satu, yaitu "Fi'lu Kulli Mumkinin Au Tarkuhu"
yang berarti Menjadikan sesuatu yang mungkin terjadi atau tidak menjadikannya.
Maksudnya bahwa Allah berwenang untuk menciptakan dan berbuat sesuatu sesuai
kehendaknya, atau tidak menciptakan dan berbuat sesuatu sesuai kehendakNya.[5]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Allah tidak akan menciptakan sesuatu dengan sia-sia.
Apalagi penciptaan manusia yang dibekali dengan akal. Sesungguhnya manusia
diciptakan untuk mengenal Allah dan
menyembahNya, dan dijadikan sebagai khalifahNya di bumi.
Ayat 61 surat huud ini mengandung perintah yang jelas
kepada manusia langsung maupun tidak langsung untuk membangun bumi dalam
kedudukannya sebagai khalifah, sekaligus menjadi alasan mengapa manusia harus
menyembah Allah SWT semata-mata. Tugas manusia di bumi ini sebagai pemakmur
yaitu untuk memakmurkan bumi, mensejahterakan umat manusia sendiri lebih-lebih
lingkungan-nya.
Tujuan pendidikan adalah membina manusia secara pribadi
dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan
khalifah-Nya, guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan
Allah.
Saran
Manusia harus menyembah Allah SWT semata-mata.
Kita jangan pernah mensekutukanNya. Selain itu Manusia diharapkan mensyukuri
nikmat yang telah diberikan Allah swt, dengan menggunakan akalnya untuk
berfikir, yaitu membedakan yang benar dan yang salah, melakukan hal yang
bermanfaat dan meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Sirajudin, and Pusstaka Tarbiyah Baru. "Amak.
Ahlusunnah dan Ahlul Bid’ah. Majalah Aulia: Surabaya, 2006. Abdullah Bin
Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir. Pustaka Imam Asy-syafi’i: Jakarta, 2003.
Abdullah. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Sandro Jaya: Jakarta, 2009
Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir Al-Maraghi
12 (semarang : Karya Toha, 1993)
Muhammad,
Muhammad Thaib. "Kualitas Manusia Dalam Pandangan Al-Qur’an." Jurnal
Ilmiah Al-Mu’ashirah
13.1 (2017): 1-10.
Munawir, Munawir. "Aswaja NU Center dan Perannya
sebagai Benteng Aqidah." SHAHIH: Journal of Islamicate Multidisciplinary
1.1 (2016):
Salim Bahreisy,
Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid 4,(Surabaya :
Bina Ilmu, 1988)
BIOGRAFI PENULIS
Nama lengkap penulis Nikmatul Maulana, namun sejak kecil
biasa dipanggil "Anung",, hobinya menggambar/melukis. Alamat rumah,
Desa Kaligawe, Kec.Karangdadap Kab.Pekalongan, beragama Islam, riwayat
pendidikan : SD N Kaligawe, SMP N 1 Talun, SMA N 1 Talun, dan sedang melanjutkan jenjang
S1 di IAIN Pekalongan, Fakultas Tarbiah dan Ilmu Keguruan, jurusan; Pendidikan
Agama Islam, moto hidup "Bersyukur lalu bahagia, bukan Bahagia lalu
bersyukur"
[1] Muhammad, Muhammad Thaib. "Kualitas
Manusia Dalam Pandangan Al-Qur’an." Jurnal Ilmiah Al-Mu’ashirah 13.1
(2017): 1-10.hlm 6-8
[2]Salim Bahreisy, Said Bahreisy, Terjemah Singkat Tafsir Ibnu
Katsier Jilid 4,(Surabaya : Bina Ilmu, 1988) hlm.308-309
[3] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir
Al-Maraghi 12 (semarang : Karya Toha, 1993) hlm. 97-99
[4] Munawir, Munawir. "Aswaja NU Center dan
Perannya sebagai Benteng Aqidah." SHAHIH: Journal of Islamicate
Multidisciplinary 1.1 (2016): 61-81
[5] Abbas, Sirajudin, and Pusstaka Tarbiyah Baru.
"Amak. Ahlusunnah dan Ahlul Bid’ah. Majalah Aulia: Surabaya, 2006.
Abdullah Bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir. Pustaka Imam Asy-syafi’i: Jakarta,
2003. Abdullah. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Sandro Jaya: Jakarta, 2009
Belum ada tanggapan untuk "TUJUAN PENDIDIKAN “GENERAL” : Ibadah pada Allah "
Posting Komentar