Makalah : BIMBINGAN BAGI PESERTA DIDIK YANG BERMASALAH


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Perilaku bermasalah merupakan persoalan yang harus menjadi kepedulian guru bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran melainkan suatu bentuk perilaku agresif maupun pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam kerja sama dengan teman merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar peserta didik dan hal ini merupakn perilaku bermasalah belajar peserta didik, dan hal ini merupakan perilaku bermasalah. Guru hendaknya menyingkap jauh di balik perilaku yang nampak agar memiliki pemahaman tentang karakteristik perilaku murid yang sesungguhnya.
Pendekatan bimbingan perkembangan membawa implikasi bahwa penghampiran pada perilaku murid bermasalah dapat dilakukan dengan mengkaji masalah-masalah yang berkaitan dengan karakteristik perkembangan murid.
B.  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan bimbingan ?
2.      Apa yang dimaksud dengan peserta didik yang bermasalah ?
3.      Apa saja bentuk-bentuk masalah ?
4.      Apa saja bentuk bimbingan yang dapat mengatasi masalah ?
5.      Bagaimana Tekhnik Bimbingan pada Peserta Didik yang Bermasalah?
C.  Tujuan
1.      Untuk mengetahui maksud dari bimbingan
2.      Untk mengetahui maksud dari peserta didik yang bermasalah
3.      Untuk mengetahui apa saja bentuk-bentuk dari masalah
4.      Untuk mengetahui bentuk bimbingan yang dapat mengatasi masalah sesuai masalah yang di hadapi?
5.      Untk mengetahui Tekhnik Bimbingan pada Peserta Didik yang Bermasalah



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Bimbingan
Bimbingan secara etimoogis merupakan terjemahan dari “Guidance” berasal dari kata kerja “to guide” yang mempunyai arti menunjukkan, membimbing, menuntut, ataupun membantu” sesuai dengan istilahnya maka secara umum bimbingan dapat diartikan suatu bantuan atau tuntunan. Namun, meskipun demikian tidak berarti semua bentuk bantuan atau tuntunan adalah bimbingan.
Definisi bimbingan yang pertama dikemukakan dalam Years book of Education 1995 yang menyatakan:
Guidance is a process of helping individual trought their own effort to discover and develop their potentialities both for personal happiness and social usifulness.
Bimbingan adalah suatu proses yang membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuanya agar memperoleh kebahagian pribadi atau kemanfaatan sosial. [1]
Bimbingan dalam pendidikan di sekolah merupakan proses memberikan bantuan kepada siswa agar ia sebagi pribadi memiliki pemahaman yang benar akan diri pribadinya dan akan dunia di sekitarnya, mengambil keputusan untyk melangkah maju secara optimal dalam perkembanganya dan dapat mendorong dirinya sendiri menghadapi serta memecahkan masalah-masalahnya.[2]
Menurut Lafever, bimbingan merupakan bagian dari proses pendidikan yang teratur dan sistematik guna membantu pertumbuhan anak muda anak muda atas kekuatanya dalam menentukan dan mengarahkan hidupnya sendiri yang pada akhirnya ia dapat meperoleh pengalaman-pengalaman yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat[3]
2. Pengertian peserta didik yang Bermasalah
            Kata “masalah” dalam kamus besar bahasa Indonesia (1995) berarti sesuatu yang harus diselesaikan (dipecahkan). Masalah merupakan sesuatu yang menghambat, merintangi atau mempersulit seseorang untyk mencapai maksud dan tujuan tertentu (Winkel, 1985). Dengan demikian, kondisi bermasalah mengganggu dan dapat merugikan individu ataupun lingkunganya.prayitno mengungkapkan masalah sesorang dapat bercirikan (1) sesuatu yang tidak disukai adanya, (2) sesuatu yang ingin dihilangkan atau, (3) sesuatu yang dapat menghambat atau menimbulkan kerugian.berdasarkan ciri-ciri tersebut maka dapat dirumuskan bahwa masalah pada ciri-ciri masalah tersebut pada diri individu adalah suatu kondisi sulit yang memerlukan pengentasan dan apabila dibiarkan maka akan merugikan. [4]
            Menurut Sunaryo Kartadinata, dkk 1998 dalam kehidupan anak sekolah tidak semua dapat melihat dan merasakan bahwa diantara anak ada yang telah atau sedang menghadapi masalah dan ada yang masih gejala, bahkan bagi anak sendiri juga banyak yang tidak tahu bahwa dirinya sedang bermasalah. Oleh karena itu, perlu mengetahui peserta didik yang berperilaku bermasalah merupakan tingkah laku peserta didik yang menyimpang dari kebiasaan-kebiasaan temanya. Lebih lanjut dikatakan apabila anak mengalami masalah yang segera harus ditangani gurunya.
            Salah satu kesulitan memahami perilaku bermasalah ialah karena perilaku tersebut tampildalam perilaku yang menghindar atau mempertahankan diri. Dalam psikolgi perlaku seperti ini disebut “mekanisme pertahanan diri” karena dengan perilaku tersebut individu dapat mempertahankan diri atau menghindar dari situasi yang menimbulkan ketegangan.
3. Bentuk-Bentuk Masalah
a.       Masalah Pendidikan (pengajaran atau belajar)
Individu merasakan kesulitan dalam menghadapi kegiatan belajar, misalnya cara membagi waktu belajar, cara belajar, mengerjakan tugas-tugas, menyesuaikan dengan pelajaran baru, lingkungan sekolah, guru-guru, tata tertib sekolah dan sebagainya.
b.      Masalah Pribadi dan sosial
Masalah-masalah pribadi dalam lingkup sekolah umumnya becikal bakal dari dalam pribadi individu yang berhadapan dengan lingkungan sekitarnya. Masalah semacam ini banyak dialami oleh klien pada waktu menjelang pada masa andolesens yang ditandai oleh perubahan yang cepat baik fisik maupun mental. Selain itu, berdampak pula terhadap sikap dan perilaku. Misalnya ingin menyendiri, cepat bosan, agresif, emosi yang meninggi, hilangnya kepercayaan diri dan lain sebagainya.
Adapun masalah-masalah sosial yang kerap dihadapi oleh siswa dalam lingkup sekolah yang bersangkutan dengan hubungan antar individu atau hubungan antar individu dengan lingkungan sosialnya, misalnya kesulitan dalam mencari teman, merasa terasing dengan pekerjaan kelompok dan lain-lain.
Dalam suatu kasus ditemukan bahwa kurangnya motivasi anak untuk mengikuti pembelajaran merupakan salah satu karakteristik anak yang nakal. Hal ini misalnya, terjadi pada anak dengan latar belakang keluarga dan lingkungan yang berada di lingkungan lokalisasi PSK. Kehidupan keras di lingkungan lokalisasi menyebabkan anak kurang tertarik terhadap pembelajaran. Kebiasaan jelek lainy, yang menyebabkan anak kurang motivasi dalam pembelajaran anak sering bermain sendiri (gejala autisme) atau mengganggu teman yang lain atau bersikap acuh tak acuh ketika guru memberikan tugas.
c.       Masalah pekerjaan (karir)
Masalah-masalah ini berhubungan dengan pekerjaan. Misalnya dalam memilih jenis-jenis pekerjaan yang cocok dengan dirinya, memilih latihan tertentu untuk suatu pekerjaan mandapatkan informasi tentang jenis pekerjaan dan kesulitan untuk menyesuaikan diri dalam lingkungan pekerjaan.
4.Macam-macam Bimbingan menurut Masalah Yang di Hadapi
a. bimbingan akademik atau pendidikan
bimbingan yang diarahkan untuk membantu para individu dalam mengadapi dan memecahkan masalah-masalah akademik. Yang tergolong masalah-masalah akademik yaitu: pengenalan kurikulum, pemilihan jurusan, cara belajar, penyelesaian tugas-tugas dan latihan, pencarian  dan penggunaan sumber belajar, perencanaan pendidikan dan lain-lain.
b. bimbingan sosial- pribadi
bimbingan sosial pribadi merupakan bimbingan untuk membantu para individu dalam memecahkan masalah-masalah sosial-pribadi.
c.bimbingan karir
bimbingan untuk membantu individu peserta didik dalam perencanaan, pengembangan, dan pemecahan masalah-masalah karir.[5]
5. Tekhnik Bimbingan pada Peserta Didik yang Bermasalah
Permaslahan peserta didik dapat di selesaikan dengan layanan perorangan yakni pelayanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik mendapatkan pelayanan langsung tatap muka (secara perorangan) dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang dialami oleh peserta didik.
            Menurut W.S Winkel dan M.M. Sri Hastuti. 2010. Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan guru untuk memperoleh lingkungan belajar yang sehat, antara lain :
a.       Memanfaatkan pembelajaran di kelas sebagai wahana untyuk bimbingan kelompok, dalam hal ini guru dapat bekerja sama dengan guru lain di Sekolah itu atau guru kelas lain.
b.      Memanfaatkan pendekatan-pendekatan kelompok di dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini guru dapat menggunakan metode yang bervariasi yang menungkinkan murid mengembangkan keterampilan kelompok, seperti: sosiometri, diskusi dan simulasi.
c.       Mengadakan konferensi kasus dengan melibatkan guru dan orang tua siswa. Konferensi kasus ini dimaksudkan untuk menemukan alternatif pemecahan bagi kasus.
d.      Menjadikan segi kesehatan mental sebagai salah satu segi evaluasi. Evaluasi di Sekolah seyogyanya tidak hanya melaksanakan kepada hasil belajar saja tetapi juga perlu memperhatikan kepribadian murid. Walaupun hasil evaluasi kepribadian ini tidak dijadikan faktor penentu keberhasilan siswa.
e.       Memasukkan aspek-aspek insaniah dalam kurikulum, sebagai bagian terpadu dan bahan ajaran yang harus di sajikan guru.
f.       Menaruh kepedulian khusus terhadap faktor-faktor psikologis yang perlu dipertimbangkan dalam mengembang strategi pembelajaran.[6]
Selain itu konseling merupakan salah satu tekhnik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru atau konselor dengan klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik bagi dirinya, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu mengarahkan dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki kearah perkembangan yang optimal, sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaan sosial.
Pada umumnya tekhnik-tekhnik atau pendekatakn yang dipergunakan dalam bimbingan mengambil dua pendekatan, yaitu pendekatan secara kelompok (group guidance) dan pendekatan secara individual (individual Guidance Counseling) .
a.    Bimbingan Kelompok
Tekhnik ini dipergunakan dalam membantu siswa atau sekelompok siswa dalam memecahkan masalah-masalah dengan melalui kegiatan kelompok, yaitu yang dirasakan bersama oleh kelompom atau bersifat individual yaitu dirasakan oleh individu sebagai anggota kelompok.
Teknik ini membawa keuntungan pada diri peserta didik diataranya :
Ø  Menghemat waktu dan tenaga
Ø  Menciptakan kesempatan bagi semua siswa untuk untuk berinteraksi dengan konselor yang memungkinkan siswa lebih berkeinginan membicarakan perencanaan masa depan atau masalah pribadi-sosial.
Ø  Menyadarkan siswa nahwa kenyataan yang sama juga di hadapi oleh teman-temanya sehingga mereka terdorong untuk berusaha menghadapi kenyataan itu bersama-sama dan saling mendiskusikanya.
Ada beberapa tekhnik dalam bimbingan kelompok :
1.      Home room programe
Yaitu suatu program kegiatan yang dilakukan dengan tujuan agar guru dapat mengenal peserta didiknya lebih baik sehingga dapat mebantunya secara efisien. Kegiatan ini dilakukan dalam kelas dalam bentuk pertemuan antara guru dengan siswa diluar jam-jam pelajaran untuk membicarakan beberapa hal yang dianggap perlu.
Di dalam program home room ini hendaknya diciptakan suatu situasi yang bebas dan menyenangkan sehingga murid-murid dapat mengutarakan permasalahanya seperti halnya di rumah.
2.      Karyawisata/ fied trip
Kegitan rekreasi yang dikemas dengan metode mengajar untuk bimbingan kelompok dengan tujuan siswa dapat memperoleh penyesuaian dalam kelompok untuk dapat kerja sama dan penuh tanggungjawab.
3.      Kegiatan kelompok
Kegiatan kelompok meruapakan tekhnik yang baik dalam bimbingan, karena kelompok memberikan kesempatan kepada individu untyk berpartisipasi dengan sebaik-baiknya. Banyak kegiatan tertentu yang lebih berhasil jika dilakukan dalam kelompok. Untk mengembangkan bakat-bakat dan menyalurkan dorongan-dorongan juga dapat mengembangkan tanggung jawab.
4.      Organisasi siswa
Keorganisasian baik dalam lingkungan pendidikan maupun di lingkungan masyarakat. Melalui organisasi ini banyak masalah individu maupun kelompok dapat diselesaikan. Dalam organisasi murid mendapat kesempatan belajar mengenal berbagai aspek kehidupan sosial.
5.      Sosiodrama
Sosiodrama dipergunakan sebagai suaitu tekhnik di dalam memecahkan masalah-masalah sosial dengan melalui kegiatan bermaun permainan peranan. Di dalam sosiodrama ini individu akan memerankan suatu peranan tertentu dari suatu masalah sosial.
6.      Psikodrama
Psikodrama merupakan tekhnik untuk memecahkan masalah-masalah physics yang dialami oleh peserta didik. Dengan memerankan suatu peranan tertentu konflik atau ketegangan yang ada dalam dirinya dapat dikurangi atau dihindari .
b.    Individual Guidance
Bimbingan konseling individu merupakan bimbingan konseling yang memungkinkan klien mendapat layanan langsung tatap muka dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan yang sifatnya pribadi yang didertanya.
Dalam konseling ini hendaknya konselor bersikap penuh simpati dan empati. Simpati artinya menunjukkan adanya sikap turut merasakan apa yang sedang dirasakan oleh klien. Dan empati artinya berusaha menempatkan diri dalam situasi diri klien dengan segala masalah-masalah yang dihadapinya. Dengan sikap ini klien akan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada konselor dan ini sangat membantu keberhasilan konseling. [7]









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Perilaku bermasalah merupakan suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru. Bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran melainkan suatu bentuk perilaku agresif maupun pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam kerja sama dengan teman merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar peserta didik dan hal itu merupakan perilaku bermasalah. Dalam bimbingan pada peserta didik yang bermasalah tidak bisa dilakukan secara langsung tetapi harus melalui tahap-tahap yang secara urut.




















DAFTAR PUSTAKA

Arintoko. 2010.  Wawancara Konseling di Sekolah. Yogyakarta: Andi Press
Hallen. 2002.Bimbingan dan Konseling Dalam Islam. Jakarta: Ciputat Pers
Hamdani. 2012. Bimbingan dan Penyuluhan. Bandung: CV. Pustaka Setia
Prayitno. 2009.Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Salahudin, Anas. 2010.  Bimbingan dan Konseling. Bandung: CV. Pustaka Setia
Slameto. 1998.Bimbingan di Sekolah. Jakarta: Bina Aksara.
W.S Winkel dan M.M. Sri Hastuti. 2010. Bimbingan dan Konseling di Institusi
            Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi



[1]Hallen, Bimbingan dan Konseling Dalam Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm 3-8
[2] Slameto, Bimbingan di Sekolah, (Jakarta: Bina Aksara, 1998), hlm 2
[3] Prayitno, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2009), hlm 94
[4] Hamdani, Bimbingan dan Penyuluhan, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2012), hlm 177
[5]Anas Salahudin, Bimbingan dan Konseling, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2010), hlm 66
[6] W.S Winkel dan M.M. Sri Hastuti, Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan, (Yogyakarta: Media Abadi, 2010), hlm 90
[7] Arintoko, Wawancara Konseling di Sekolah, (Yogyakarta: Andi Press, 2011), hlm 6

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : BIMBINGAN BAGI PESERTA DIDIK YANG BERMASALAH"

Posting Komentar