Makalah : PENDEKATAN BIMBINGAN DAN KONSELING


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendekatan konseling (counseling approach) disebut juga teori konseling, merupakan dasar bagi suatu praktek konseling.  Pendekatan itu dirasakan penting karena jika dapat dipahami berbagai pendekatan atau teori-teori  konseling, akan memudahkan dan menentukan arah proses konseling. Akan tetapi , untuk kondisi Indonesia memilh pendekatan salah satu atau fanatik tidaklah bijaksana. Hal ini disebabkan suatu pendekatan konseling biasanya dilatar belakangi oleh paham filsafat tertentu mungkin saja tidak sesuai sepenuhnya dengan faham filsafat di Indonesia. Disamping itu mungkin layanan konseling yang dilaksanakan berdasar aliran tertentukurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta kondisi sosial, budaya, dan agama. Dunia konseling memilih berbagai macam pendekatan yang dapat dijadikan acuan dasar pada semua praktek konseling. Masing-masing teori tertentu dapat dikemukakan oleh ahli yang berbeda. Memahami nberbagai pendekatan yang ada dalam konseling adalah kewajiban bagi twenaga profesional yang mengatas namakan dirinya konselor. Karena tidak bisa disangkal lagi bahwa teori konseling merupakan landasan dasar terbentuknya konseling yang efektif.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa saja pendekatan yang terdapat dalam bimbingan dan konseling?
2.      Apa pendekatan psikodinamika?
3.      Apa pendekatan berorieentasi eksperensial dan relasi?
4.      Apa saja  macam-macam teori dalam pendekatan eksperensial dan relasi?
C.     Tujuan Penulisan Makalah
Mengetahui beberapa pendekatan yang terdapat dalam bimbingan konseling.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pendekatan Bimbingan dan Konseling
Jika kita memahami bahwa pendidikan sebagai bantuan yang diberikan oleh orang dewasa kepada yang belum dewasa dalam proses perkembangan menuju kekedewasaan. Dalam hal insangat diperlukan bimbingan, dan perlu ada pendekatan dalam bimbingan tersebut. Ada tiga macam pendekatan yaitu:
1.      Bimbingan preventif
Pendekatan bimbingan ini menolong seseorang sebelum seseorang menghadapi masalah. Caranya ialah dengan menghindari masalah itu (jika memungkinkan), mempersiapkan orang tersebut untuk menghadapi masalah yang pasti akan dihadapi dengan memberi bekal pengetahuan, pemahaman, sikap dan ketrampilan untuk menghadapi masalah itu.
2.      Bimbingan kuratif atau korektif
Dalam pendekataan ini pembimbing menolong seseorang jika orang itu menghadapi masalah yang cukup berat hingga tidak dapat diselesaikan sendiri.
3.      Bimbingan perseveratiff
Bimbingan ini bertujuan meninngkatkan yang sudah baik, yang mencakup sifat-sifat dan sikap-sikap yang menguntungkan tercapainya penyesuaian diri dan terhadap lingkungan, kesehatan jiwa yang telah dimilikinya, kesehatan jasmani dan kebiasan-kebiasaan hidup yang sehat, kebiasaan cara belajar atau bergaul yang baik dan sebagainya.[1]

 Bimbingan dapat dilakukan secara individual  dan kelompok sehiingga ada pendekatan individu dan pendekatan kelompok.

a)      Pendekatan individu
Pendekatan bimbingan individu dilakukan dengan pendekatan perseorangan. Tiap orang dicoba didekati, dipahami, ditolong secara perseorangan. Pendekatan ini dilaksanakan melalui wawancara langsung dengan individu.
Dalam pendekatan ini terdapat hubungan yang dinamis. Individu merasa diterima dan dimengerti oleh pembimbing.
Dalam hubungan tersebut pembimbing menerima individu secara pribadi dan tidak memberikan penilaian. Individu merasakan ada orang yang mengerti masalah pribadinya, mau mendengarkan keluhanya dan curahan perasaannya.
Pendekatan bimbingan individu mencakup:
1)      Informasi individual
2)      Penasehat individual
3)      Pengajaran remidial individu
4)      Penyuluhan individual
b)       Pendekatan kelompok.
Pendekatan bimbingan kelomok diberikan oleh pembimbing per kelompok. Beeberapa orang yang bermasalah sama,atau yang dapat memperoleh manfaat dari pembimbingan kelompok. Bimbingan kelompok diaksanakan dalam tiga kelompok, yaitu kelompok kecil (2-6  orang), kelompok sedang (7-12 orang) dan kelompok besar (13-20 orang) ataupun kelas (20-40 orang).[2]

Pendekatan bimbingan kelompok mencakup:
a.       Informasi kelompok
b.      Penasihatan kelompok
c.       Pengajaran remidial kelompok
d.      Penyuluhan kelompok
e.       Home room
f.       Sosiodrama
g.      Karya wisata
h.      Belajar kelompok
i.        Kerja kelompok
j.        Diskusi kelompok
k.      Kegiatan club/pramuka
B.     Pendekatan Konseling
Istilah Pendekatan dalam konseling digunakan sebagai kata lain dari Model Knseling, atau Nama Terapi , atau Nama Teori dan Konseling. Penggunaan keempat istilah tersebut sering dipakai dalam pembahasan untuk menunjuk istilah pendekatan dalam konseling.  Pembahasan mengenai berbagai pendekatan dalam konseling merupakan infrmasi penting dalam membantu calon konselor atau konselor praktik mempersiapkan diri untuk menjadi konselor profesional.  Dengan mengkaji berbagai pedekatan secara mendalam seorang calon akan menemukan  berbagai alternative cara dan teknik bantuan yang dapat digunakannya dalam menjalankan pelayanan bimbingan dan konseling. [3]
Pendekatan dalam terapi psikolgis sebagai dasar pengembangan model konseling yang terkenal ada delapan pendekatan meliputi : Pendekatan psikoanalitik , pendekatan eksistensial-humanistik, terapi client-centered, gestalttherapy, analisis transaksinal, terapi perilaku, terapi rasional-emotif dan terapi realitas. Kedelapan model konseling itu dapat dikelompkan menjadi tiga kategori , kategori pertama yaitu, pendekatan psikodinamika yang berlandaskan terutama pada pemahaman, motifasi tak sadar, serta rekontruksi kepribadian, dan merupakan terapi psiko analitik. Kategori kedua adalah terapi-terapi yang berorientasi eksperiensial dan relasi yang berlandaskan psikologi humanistik, meliputi terapi-terapi ekstensial, client-centered, dan gestalt. Kategori ketiga adalah terapi-terapi yang berorientasi pada perilaku, rasional-kognitif dan “tindakan”, yang mencakup analisis transaksional, terapi-terapi perilaku, terapi rasional-emotif, dan terapi realitas.
1.      Pendekatan psikodinamika
Psikoanalisis adalah sebuah model perekmbangan kepribadian, filsafat entang sifat manusia, dan sekaligus metode psikoterapi yang dipelopori oleh seorang dokter psikiatri yaitu Sigmund Freud (Fine, 1973). Aliran ini memandang bahwa struktur kejiwaan manusia sebagian besar terdiri dari alam ketidaksadaran. Sedangkan alam kesadaranya dapat diumpamakan puncak gunung es yang muncul ditengah laut. Sebagian besar gunung es yang terbenam itu diibaratkan alam ketidaksadaran manusia .
Dalam aplikasinya, psikoanalisis menganut tiga prinsip, yaitu : (1) prinsip konstansi kehidupan psikis manusia cendurung untuk mempertahankan kuantitas konflik psikis pada taraf yang serendah mungkin, atau setidak-tidaknya taraf yang stabil, (2) prinsip kesenangan kehidupan psikis manusia cenderung menghindarkan ketidaksenangan dan sebanyak mungkin memeperoleh kesenangan (pleasure principle). (3) Prinsip realitas- prinip kesenangan yang disesuaikan dengan keadaan nyata.[4]
Menurut pandangan psikoanalitis,struktur kepribadian terdiri atas Id, Ego dan super ego. Id merupakan aspek biologis yang mempunyai energi yang dapat mengaktifkan ego dan super ego. Energi yang meningkat dai Id sering menimbulkan ketegangan dan raa tidak enak. Sedangkan super ego untuk mengatur agar ego bertindak sesuai moral masyarakat. Super ego berfungsi untuk merintangi dorongan-dorongan (impuls) Id terutama dorongan seksual dan agresifitas yang bertentangan dengan moral dan agama.
Individu sering menghadapi rintangan atau hal yang tak menyenangkan yang datang dari lingkungan, sehingga kemungkinan pemenuhan kebutuhan tak terjadi. Kondisi semacam itu dapat menimbulkan kecemasan. Ada tiga macam kecemasan yang dikenal oleh aliran ini,:
1)      Kecemasan realistis-takut akan budaya dari luar; cemas atau takut jenis ini bersumber dari ego,
2)      Kecemasan Neurotis-bersumber dari Id, khawatir jika insting tidak dapat dikendalikan sehingga menyebabkan orang yang berbuat sesuatu yang dapat dihukum,
3)      Kecemasan moral, atau kecemasan kata hati- bersumber pada sumber ego yang disebabkan oleh pertentanga moral yang sudah baik dengan perbuatan-perbuatan yang mungkin menentang norma-norma moral itu. [5]
Tujuan konseling yang menggunakan model psikanalisis adalah membantu konseli membuat hal-hal yang tidak disadari menjadi disadari, membentuk kembali struktur kepribadian  konseling dengan jalan mengembalikan hal yang tidak disadarinya menjadi disadari, menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak dini dengan nembus konflik-konflik yang direpresi, membangkitkan kesadaraan intelektual.
Konseling psikoanalitik menyajikan suatu dasar konseptual untuk memahami-memahami dinamika tak sadar, pentingnya perkembangan dini berkenaan dengan kesulitan-kesulitan sekarang, kecemasan dan pertahanan-pertahanan ego sebagai cara mengatasi kecemasan, serta sifat transferensi dan transferensi balik.
2.      Pendekatan berorientasi eksperiensial dan relasi
a.       Terapi Client-centered
Terapi model ini dikembangkan pertama kali oleh Carel Rogers dengan sebutan Client-centered therapy (Meador dan Rogres, 1973), yaitu suatu metode perawatan psikis yang dilakukan dengan cara berdialog antara konselor dengan konseli agar tercapai gambaran yang serasi antara ideal self (diri konseli yang ideal) dengan actual self (diri konseli sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya). Konselor yang menggunakan model ini memandang manusia secara positif, manusia memiliki suatu kecenderungan ke arah menjadi berfungsi penuh.
Konseling yang dikembangkan berdasarkan terapi model ini bertujuan menyediakan suatu iklim yang aman dan kondusif bagi explorasi diri konseli sehingga ia mampu menyadari penghambat pertumbuhan aspek-aspek pengalaman diri yang sebelumnya di ingkari atau dididstorsinya.
Konseler yang memilih terapi model ini memang menggunakan teknik-teknik, tetapi menitikberatkan kepada sikap-sikap konselor. Teknik-teknik dasar mencakup mendengarkan aktif, merefleksikan perasaan-perasaan, menjelaskan, dan “hadir” bagi konseli. Pendekatan ini tidak memasukan pengetesan diaknostik, penafsiran, kasus sejarah dan bertanya.
Sumbangan unik dari pendekatan ini adalah menjadikan konseli mengambil sikap aktif dan memikul tanggung jawab untuk mengarahkan jalanya terapi. [6]
b.      Terapi Eksistensial-Humanistik
Konseling yang dibangun dengan menggunakan terapi model eksistensial-Humanistik bepusat dari sifat kondisi manusia. Pada dasarnya, konseling eksistensial humanistik merupakan suatu pendekatan terhadap konseling dan terapi ahli-ahli suatu model teoritis tetap. Konseling model ini menekankan kondisi-kondisi inti manusia. Konseling eksistensial humanistik bertujuan menyajikan kondisi-kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan. Memebantu konseli menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dengan memperluas kesadaran diri. Membantu konseli agar bebas dan bertanggung jawab atas arah kehidupanya sendiri.
Konseling model ini mendahulukan pemahaman ahli-ahli teknik. Konselor eksistensial-humanistik bisa meminjam teknikteknik dari model-model lain. Dalam konseling model ini, diagnosis, pengetesan, dan pengukuran-pengukuran eksternal tidak dipandang penting. Dengan demikian konseling model ini dapat menjadi sangat konfrontatif. Terapi ini menyajikan suatu pendekatan bagai konseling dan terapi individual serta kelompok dan untuk menangani anak-anak dan para remaja dan berguna untuk di integrasikan kedalam praktik-praktik di sekolah. Terapi ini mengingatkan perlunya suatu pernyataan filosfis mengenai apa artinya menjadi pribadi.
c.       Terapi Gestalt
Terapi gestalt yang dikembangankan oleh federick perls adalah bentuk terapi eksistensial yang berpijak pada permis bahwa individu-individu harus menemukan jalan hidupnya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan (kempler,1973). Konselor pengguna model ini memutuskann kerjanya pada apa dan bagaimana mengalami di sini- dan sekarang untuk membantu konseli agar menerima polaritas-polaritas dirinya.
Terapi gestalt adalah terapi eksperiensial yang menekankan perasaan-perasaan dan pengaruh-pengaruh urusan yang tidak selesai terhadap perkembangan kepribadian sekarang. Proses konseli model ini secara umum bertujuan membantu konseli memperoleh kesadaran atas pengalaman dari saat ke saat-nya. Menantang konseli agar menerima tanggung jawab atas pengambilan dukungan internal alih-alih dukungan eksternal. Teknik-teknik konseling ini cocok untuk diterapkan pada konseling individual dan kelompok. Juga bisa diterapkan pada situasi-situasi belajar mengajar di kelas.[7]
3.      Pendekatan berorientasi perilaku, rasional-kognitif dan “tindakan”
a)      Analisis Transaksional
Analisis transaksional adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam konseling individual,  tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam konseling kelompok. AT berbeda dengan sebagian besar terapi lain karena merupakan suatu terapi kontraktual dan besisional. AT juga berfokus pada utusan-utusan awal yang dibuat oleh konseli dan aspek kognitif rasional-behavioral dan berorientasi kepada peningkatan kesadaran sehingga konseli akan mampu membuat putusan-putusan baru dan mengubah cara hidupnya.
Konseling dengan model terapi yang dikembangkan oleh Eric Berne ini berlandaskan suatu teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Konselor pada konseli model ini menggunakan tiga pola perilaku atau perwakilan ego yaitu, orang tua, orang dewasa dan anak-anak. Berkenaan dengan konsep-konsep skenario kehidupan, pesan-pesan dan perintah-perintah orang tua, serta putusan-putusan dini itu.
Kerja konselor pada model konseling analisis transaksional ini berfokus pada permainan-permainan yang dimainkan untuk menghindari keakraban dalam transaksi-transaksi. Konseli diajari untuk menyadari ego mana yang berperan dalam transaksi-transaksi yang dijalankan. Tujuan konseling adalah membantu konseli agar bebas dari skenario, bebas dari permainan menjadi pribadi yang otonom yang sanggup memilih posisi dan menentukan kehendak ingin menjadi apa dirinya.
b)      Teori Perilaku
Konseling atau terapi perilaku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada berbagai teori belajar. Konseling perilaku berasal dari dua arah konsep yakni pavlovian dari Ivan Pavlo dan Skinnerian dari B.F. Skinner. Pada awalnya konseling ini dikembangkan oleh wolpe pada tahun 1958 untuk menanggulangi neurosis.  Tujuan umum mempelajari konseling perilaku adalah menghapus pola-pola perilaku yang maladaptif dan membantu konseli dalam mempelajari pola-pola perilaku yang konstruktif.[8]
Dalam konseling perilaku, konselor aktif dan direktif dan berfungsi sebagai guru atau pelatih dalam membantu konseli belajar perilaku yang lebih efektif. Konseli harus aktif dalam proses dan bereksperimen dengan perilaku baru.  Berikut adalah teknik-teknik yang digunakan oleh konselor perilaku antara lain ;
1.      Desensitisasi sistematik .
2.      Terapi implosif dan pembanjiran.
3.      Latihan asertif.
4.      Terapi aversi.
5.      Pekerjaan rumah.
c)      Terapi rasional-emotif
Pendiri terapi ini adalah seorang eksistensialis, yaitu albert ellis (Ellis 1973). Konseling ini di kembangkan pada tahun 1962 yang dilatarbelakangi oleh filsafat eksistensialisme dalam usaha memahami manusia sebagaimana adanya. Dalam pandangan aliran ini, manusia adalah subjek yang sadar akan dirinya dan sabar akan objek-objek yang di hadapinya. Manusia adalah makhluk berbuat dan berkembang; manusia merupakan individu didalam satu kesatuan yang berarti. Menurut pendiri aliran ini, bukanlah pengalaman atau peristiwa eksternal yang menimbulkan emosional, akan tetapi tergantung kepada pengertian yang diberikan terhadap peristiwa atau pengalaman itu.
Menurut pengguna konseling model ini, manusia dilahirkan dengan potensi untuk berfikir, tetapi juga dengan kecenderungan-kecenderungan ke arah berfikir curang. Maka cenderung untuk menjadi korban dari keyakinan-keyakinan yang irasional dan untuk mereindoktrinasi dengan keyakinan-keyakinan yang irasional itu. Pandangan konselor ini menjelaskan bahwa neurosis adalah pemikiran dan perilaku irasional. Pendekatan ini menggunakan prosedur yang beragam seperti mengajar, membaca, “pekerjaan” dan penerapan metode ilmiah logis bagi pemecahan masalah.  Konseling rasional emotif ini menekankan pentingnya pemikiran sebagai dasar dari gangguan-gangguan pribadi.
d)     Terapi Realitas
Pendiri terapi ini adalah William Glaser.  Terapi realitas adalah suatu bentuk pengubahan perilaku karena dalam penerapan-penerapan institusionalnya, merupakan tipe pengondidian operan yang tidak ketat. Terapi ini berlandaskan premis bahwa adasuatu kebutuhan psikolog tunggal yang hadir sepanjang hidup, yaitu kebutuhan akan identitas yang mencakup suatu kebutuhan untuk merasakan keunikkan, keterpisahan, dan ketersendirian. Konselor pengguna model terapi ini menolak model medis dan konsep tentang penyakit mental. Komseling berfokus pada apa yang bisa dilakukan sekarang, dan menolak masa lampau sebagai variabel utama. Pertimbangan nilai dan tanggung jawab moral ditekankan dalam konseling ini. Kesehatan mental dipandang sama dengan penerimaan atas tanggung jawab.
Tujuan umum konseling realitas adalah membimbing konseli kearah mempelajari perilaku yang realistis dan bertanggung jawab serta mengembangkan “identitas keberhasilan”. Tugas utama konselor dalam konseling ini adalah melibatkan diri dengan konseling dan mendorong konseli untuk menghadapi kenyataan dan untuk membuat pertumbangan nilai mengenai perilakunya sekarang. Konseling ini pada mulanya dirancang bagi penanganan para remaja dilembaga-lembaga rehabilitasi dan sekarang digunakan secara luas oleh para pendidik di sekolah-sekolah dasar dan menengah. Ia juga bisa diterapkan pada terapi individual dan kelompok serta pada konseling perkawinan.[9]


[1]Fenti Hikmawati, Bimbingan dan Konseling, (Depok: PT.Raja Grafindo Media, 2014), hlm.75.
[2]Ibid.,hlm.76-77.
[3]Syarifudin  Dahlan, Bimbingan dan Konseling di Sekolah, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2014), hlm.47-48.
[4]Ibid., hlm.48-49.
[5]Ibid.,hlm.49.
[6]Ibid.,hlm.51-52.
[7]Ibid.,hlm.53-54
[8]Ibid.,hlm.56-57.
[9]Ibid.,hlm.62-63.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : PENDEKATAN BIMBINGAN DAN KONSELING"

Posting Komentar