ONTOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN
Disusun guna memenuhi tugas Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu :Mutho’in, M.Ag
DISUSUN OLEH :
1.
KARMILA SARI (2117047)
2.
MARIA ULFAH (2117054)
3.
SUNARTI (2117254)
4.
ALI AKBAR (2117364)
Kelas C
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN)
PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Masalah pendidikan merupakan masalah
pertama dan mendasar dalam hidup dan kehidupan manusia.Oleh karena itu
hendaknya semua manusia harus mengutamakan pendidikan agar kehidupannya menjadi
lebih baik di masa mendatang.
Dalam kaitannya dengan masalah pendidikan
Islam sebagai ilmu terletak pada hakikat (ontologi), dasar-dasar
(epistimologi), dan kegunaan (aksiologi) dari pendidikan Islam itu sebagai
suatu kajian ilmu (sains) yang harus dipelajari dan diajarkan agar ilmu
pendidikan itu bermanfaat dan berguna untuk membina kehidupan manusia,
Pendidikan Islam bersumber pada
Alqur’an dan hadits adalah untukmembentuk manusia yang seutuhnya yakni
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah swt.Dan untuk memelihara
nilai-nilai kehidupan sesama manusia agar dapat menjalankan seluruh
kehidupannya sebagaimana yang telah dituntunkan Allah dan RasulNya demi kebahagiaan
hidup didunia dan akhirat.
Manusia adalah makhluk yang selalu
merindukan kesempurnaan.Oleh karena itu dengan segala potensi yang dimilikinya
manusia berusaha untuk maju dan berkembang untuk mencapai kesempurnaan
itu.Manusia setiap saat membutuhkan ilmu dari manapun datangnya, baik dari
lingkungan atau alam semesta dan juga diperlukan pengaruh dari luar yang oleh
Slamet Imam Santoso disebutnya dengan istilah pendidikan.
B.
RUMUSAN MASALAH
a.
Bagaimana
hakikat, scope kajian, dan implikasi ontologi dalam dunia pendidikan?
C. TUJUAN
a.
Untuk memahami
hakikat, scope kajian, dan implikasi ontologi dalam dunia pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat ontologi
Secara etimologi ontologi berasal dari bahasa Yunani
"ethos" dan "logos", ethos adalah kata kerja dari einai
artinya yang sedang berada, sedangkan logos berarti ilmu (Dick Handoko,
1995:74). Dengan demikian secara bahasa ontologi dapat diartikan ilmu yang
membicarakan segala sesuatu yang ada. Atau dengan kata lain ontologi adalah
bagian cabang filsafat yang membahas tentang hakikat (kebenaran) hidup. (Ahmad
A.K. Muda, 2006:393).
Ontologi merupakan salah satu cabang
filsafat yang ingin mencari dan menemukan hakikat dari sesuatu yang ada.
Sesuatu yang ada itu dicari oleh manusia agar ia dapat mencari dan menemukan
hakikat kenyataan yang bermacam-macam yang pada akhirnya nanti akan memberikan
makna pada kehidupan manusia itu sendiri (Musa Asy'ari, 1999:36).[1]
Runes melihatnya dalam arti luas yang dipakai
dalam filsafat ilmu yang sinonim dengan metafisika. Fokus kajian bab ini adalah
ontologi sebagai paradigma metafisis dalam kaitannya dengan epistimologi dan
aksiologi. Ia mengkaji ontologi buikan hanya mengenai objek ilmu dari sudut
substansi dan hubungan kausal satu sama lain, tapi juga mengenai diri manusia sebagai
subjek ilmu.[2]
Dalam analisis Kunaryo dan Masri pendekatan
ontologi adalah usaha manusia mengenal dirinya (hakikat manusia) dan
beranggapan bahwa manusia adalah subjek dan objek pendidikan. Sebagai manusia
dewasa bertanggungjawab menyelenggarakan pendidikan dan berkewajiban secara
moral atas perkembangan pribadi anak,
sedangkan sebagai manusia yang belum dewasa sebagai objek pendidikan atau
sasaran pembinaan.[3]
Dari deskripsi diatas dapat dipahami bahwa ontologi
merupakan cabang atau istilah filsafat dimana segala sesuatu itu mempunyai
prinsip mendasar yang tidak menimbulkan pertentangan.Sesuatu yang nyata pasti
dapat diterima oleh semua orang sehingga dapat menghasilkan kebenaran.Hakikat
realitas menurut sudut pandang filsafat Islam pada hakikatnya adalah spiritual
(dalam prinsip metafisika Islam, realitas berpusat dan berasal dari
Allah).Prinsip ini mengarah pada aspek fundamental dari spiritual Islam, yaitu
bahwa segala sesuatu yang mengitari kita, semua realitas materi atau kejadian
merupakan pelaksanaan (efektivitas kekuasaanNya). Selanjutnya hakikat esensi
dalam kajian filsafat akan terhenti pada penetapan adanya unsur pokok dari
segala sesuatu, yang sifatnya fundamental. Unsur pokok itu menunjuk pada suatu
jawaban yang abstrak, tidak kelihatan, tidak terukur dan tidak bisa
ditimbang.Hakikat esensi terletak pada eksistensinya, tidak pada bendanya,
tetapi pada kata kerjanya yang aktualis (Musa Asy'ari, 1999:44-46).
Dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa ontologi
sebagai salah satu cabang dari filsafat yang ingin mencoba menemukan hakikat
dari suatu yang ada, realitas merupakan bagian dari yang ada itu
sendiri.Hakikat dari realitas adalah segala sesuatu yang mengitari kita. Sisi
dari realitas merupakan esensi dan hakikat esensi adalah pada eksistensinya, yang
akan berhenti setelah adanya ketetapan atau jawaban yang benar. Dari sudut
pandang Islam semua realitas atau kejadian merupakan kekuasaan Allah.Dapat
dipahami bahwa hakikat ontologi adalah memecahkan permasalahan realitas secara
tepat, karena konsepsi kita tentang realitas mengontrol pertanyaan kita tentang
dunia ini. Dan tanpa adanya pertanyaan, kita jelas tidak akan memperoleh
jawaban darimana kita nantinya akan membina kumpulan ilmu pengetahuan yang kita
miliki dan menetapkan disiplin tentang masalah-masalah pokoknya.
Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa ontologi merupakan cabang filsafat yang membahas masalah tentang
kenyataan, tentang realitas, tentang yang nyata dari sesuatu (Prasetya, 2000:
87).Ontologi mempertanyakan hakikat realitas yang ada di dunia ini.dalam
interaksinya dengan alam semesta manusia mempertanyakan apakah realitas alam
semesta ini merupakan realitas materi. Ataukah ada realitas dibalik sesuatu
yang ada itu.Apakah alam semesta ini bersifat tetap, kekal tanpa
perubahan.Ataukah alam semesta ini bersifat tidak kekal (berubah-ubah).Apakah
unsur alam semesta ini monisme atau dualisme ataukah pluralisme (Mohammad Noor
Syam, 1988: 28).
Untuk melakukan tugas dan
spesifikasinya secara sistematis ada bermacam-macam ontologi yaitu idealisme,
realisme, Islam dan yang lainnya.Dalam kajian ini tidak disebutkan semuanya,
hanya yang perlu saja untuk mengetahui hakikat ontologi.Tokoh pertama dari
golongan idealis adalah Plato. Di dalam aliran filsafat idealis dirasakan
pentingnya untuk membagi semua realitas ke dalam dua bagian besar, yaitu: yang
nampak dan yang sejati. Dalam lingkungan yang nampak ini termasuk segala yang
mengalami perubahan.Di sini terdapat ketidaksempurnaan, ketidakteraturan,
ketidaktenangan, dan inilah alam kesulitan dan kesusahan, alam penderitaan dan
kesengsaraan dan alam kejahatan atau dosa.Sebaliknya keadaan alam realitas yang
sejati tidaklah demikian, dia merupakan alam ideal, alam pikiran sejati dan
murni.Jadi di alam inilah terdapat nilai-nilai yang langgeng, kualitas yang
abadi dan disanalah terdapat keteraturan, kebenaran sejati, kemakmuran,
kedamaian dan kelestarian segala sesuatu (Prasetya, 2000: 99).
Filsafat lain yang masuk dalam
aliran idealis adalah Hegel. Ia mengemukakan bahwa segala realitas adalah
perlombaan yang bergerak dari dua macam pertentangan yang merupakan perwujudan
dari dialektika alam, yaitu semacam dialektika yang muncul berulang kali dalam
sifat dan alam manusia. Menurut Hegel, setiap idea plato pasti ada anti
thesisnya. Hegel memakai tiga serangkai thesis-antithesis-sinthesis
untuk menerangkan yang dimaksud (Prasetya, 2000 :101).
Selain aliran idealis dalam kajian
ini dikemukakan pendapat dari aliran realisme mengenai realitas atau
ontologi.Tokoh atau bapak dari aliran realisme adalah Aristoteles. Pandangan
Aristoteles tentang dunia nyata ini menurut cara ontologis adalah bahwa dunia
ini terbuat dari zat benda (matter).
Zat ini terus menerus mengalami perubahan bahkan lebih hebat dari yang dikatakan Aristoteles,
semua partikel bergerak tanpa henti. Demikian ahli-ahli filsafat realis telah
menetapkan untuk menamakan dunia nyata ini sebagai zat yang bergerak.Filosof
realis menganggap bahwa dunia nyata di mana kita hidup ini adalah dasar utama dari
realitas dan unsur-unsur komponennya semua bergerak dan bertindak tanduk sesuai
dengan hukum alam yang pasti.
Dapat dipahami bahwa hakikat
ontologi menurut kaum idealis adalah bahwa realitas tertinggi itu adalah alam
pikiran (idea), sedangkan menurut kaum realis hakikat ontologi adalah adanya
sebuah dunia yang penuh dengan benda-benda yang senantiasa bergerak semacam
mekanisme yang dikaruniai pola, keterangan dan gerakan yang harmonis (Prasetya,
2000: 107-109).[4]
Pandangan ontologi ini secara praktis akan menjadi
masalah utama di dalam pendidikan. Sebab, anak bergaul dengan dunia
lingkungannya akan mempunyai dorongan yang kuat untuk mengerti sesuatu.
Anak-anak, baik di masyarakat maupun di sekolah selalu menghadapi realita,
obyek pengalaman : benda mati, benda hidup, sub-human dan human. Bagaimana
asas-asas pandangan religious tentang adanya makhluk-makhluk hidup yang
berakhir dengan kematian, bagaimana kehidupan dan kematian dapat
dimengerti.Begitu pula realita semesta, dan esksistensi manusia yang memiliki
jasmani dan rokhani.Bahkan bagaimana sebenarnya eksistensi Tuhan Maha Pencipta.
Memang bukanlah kewajiban sekolah atau pendidikan
semata-mata membimbing pengertian anak-anak untuk memahami realita dunia yang
nyata ini.Kewajiban sekolah juga untuk membimbing kesadaran tentang kebenaran
yang berpangkal atas realita itu tadi.Ini berarti realita itu sebagai tahap
pertama, sebagai stimulus untuk menyelami kebenaran.Anak-anak secara sistematis
wajib dibina potensi berpikir kritis untuk mengerti kebenaran itu.Mereka harus
mampu mengerti perubahan-perubahan di dalam lingkungan hidupnya baik tentang
adat-istiadat, tentang tata sosial dan pola-pola masyarakat, maupun tentang
nilai-nilai moral dan hukum. Daya pikir yang kritis akan sangat membantu
pengertian tersebut. Kewajiban pendidikan melalui latar belakang ontologis ini
ialah pembina daya pikir yang tinggi dan kritis itu.[5]
B. Scope kajian
ontologi
Istilah yang berdekatan dengan ontologi adalah disiplin metafisika
keduanya memiliki arti, maksud dan tujuan yang hampir serupa. perbedaan kecil
Memang ada, yaitu ontologi membahas masalah realitas, sedangkan metafisika
merupakan studi tentang sifat ada atau eksistensi. Oleh karena itu apa yang
nyata itu dianggap ada dan apa yang ada sudah tentu nyata. kita tidak perlu berdalih
dan berdebat tentang perbedaan dua macam persoalan ini. setidak-tidaknya dalam
masalah ini kedua topik akan menyangkut daerah yang sama (Prasetya, 2000:91).
Cakupan kajian ontologi meliputi
yang ada (being) dan yang nyata (realitas) maupun esensi dan eksistensi.Hal ini
karena realitas (yang nyata) merupakan bagian yang ada.berikut ini akan
dijelaskan Scope kajian ontologi antara lain:
- Yang ada (being)
Apakah hakikat sesuatu yang ada itu
diciptakan, atau ada dengan sendirinya. Jika diciptakan siapa yang menciptakan
dan bagaimana proses berlangsungnya penciptaan tersebut dan jika ada dengan
sendirinya apakah mungkin?
Dalam pengalaman hidup kita
sehari-hari, tidak ada yang ada dengan sendirinya dan tidak ada yang ada secara
kebetulan.proses yang berjalan adalah dalam mekanisme hukum alam. Oleh sebab
itu, tidak ada yang ada dan yang mengadakan dalam satu ada.dengan kata lain
tidak ada pencipta dan ciptaan, sebab dan akibat menyatu dalam ada yang satu
dan berada dalam ruang dan waktu yang sama.
Pada prinsipnya ada itu ada dua, ada
yang menciptakan dan ada yang diciptakan, ada yang menyebabkan dan ada yang
diakibatkan.Ada yang menciptakan tidak sepenuhnya tepat untuk disebut sebagai
sebab yang ada, karena hukum sebab-akibat berlainan dengan hukum yang menciptakan
dan yang diciptakan.hukum sebab-akibat bisa bersifat fisik, mekanis, berdimensi
material, sementara pencipta dan ciptaan di dalamnya selalu terkandung dimensi
ideal, yang bersifat spiritual (Musa Asy'ari, 1999: 36-37).
- Yang nyata (realitas)
Masalah realitas dapat dipahami
dengan pernyataan bahwa nyata dan ada mempunyai pengertian serupa. Kata ada
kita pandang sebagai keragaman yang spesifik dan prosedur ontologi yang pertama
digunakan untuk membedakan apa yang sebenarnya nyata atau ada eksistensinya dari
apa yang hanya nampaknya saja nyata. sebagaimana contoh berikut: sebuah tongkat
itu lurus, menurut perasaan dan penglihatan kita, sebelum kita ceburkan ke
dalam air. tetapi setelah di dalam air menurut perasaan dan penglihatan kita
ternyata tongkat tersebut bengkok. kita ambil lagi tongkat tersebut, maka
ternyata keadaan tongkat tersebut terlihat seperti biasa yaitu lurus (Prasetya,
2000:91).
- Esensi dan eksistensi
Dalam setiap yang ada, baik yang
nyata maupun yang tidak nyata selalu ada dua sisi di dalamnya, yaitu sisi
esensi dan sisi eksistensi.Bagi yang ghaib, sisi yang nampak adalah eksistensi,
Sedangkan bagi yang ada yang konkret, sisi yang nampak bisa kedua-duanya, yaitu
esensi dan eksistensi. Dalam kehidupan manusia, yang terpenting adalah eksistensinya,
Seperti kayu akan lebih bermakna ketika sebuah kayu mempunyai eksistensinya
sebagai meja kursi. Eksistensi berada pada hubungan-hubungan yang bersifat
konkret, baik vertikal maupun horizontal dan bersifat aktual dan eksistensi
juga berorientasi pada masa kini dan masa depan, dengan esensi adalah
kemasalaluan (Musa Asy'ari, 1999: 45-46).
C.
Implikasi ontologi dalam dunia pendidikan
Ontologi dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan. pendidikan
terutama yang berkaitan dengan cita-cita dan tujuan pendidikan, muatan
kurikulum dan metode pengajaran sangat menekankan pentingnya pandangan filsafat
pendidikan yang menyeluruh. hal ini menunjukkan bahwa filsafat pendidikan
sangat bergantung pada kepercayaan, keyakinan, atau pandangan hidup individu
atau masyarakat yang terlibat di dalamnya. hal ini juga disokong oleh fakta yang secara eksplisit maupun
implisit mengatakan bahwa setiap ide, keputusan, atau tindakan-tindakan yang
berkaitan dengan pendidikan tidak dapat dipisahkan dari pandangan filsafat, agama
ataupun sains mengenai hakikat manusia, baik jasmaniah maupun ruhaniah (Wan
Mohd Nor Wanita Daud, 2003: 78).
Masalah kurikulum baik jangkauan
maupun isinya, diambil dari hal-hal yang telah diketahui dan dialami oleh orang
sebelumnya, dari nilai-nilai yang diperoleh manusia dari alam semesta yang dia
sendiri menjadi bagiannya.Apa yang harus diketahuinya yang merupakan himpunan
ilmu pengetahuan yang dimilikinya, semua itu merupakan produk dari
keingintahuannya dan penyelidikan-penyelidikan yang dilakukannya yang dihimpun
menjadi pengalamannya. Keingintahuan dan penyelidikan-penyelidikan itu nyata
sekali dikontrol oleh pendapatnya tentang dunia ini dan oleh pertanyaan serta
penyelidikan yang sesuai.
Implikasi ontologi secara nyata
dapat dibuktikan di dunia pendidikan.Pada sebagian SMA, mata pelajaran yang
berpokok pangkal pada idea, seperti kesusastraan umpamanya, masih dianggap oleh
sebagian masyarakat mempunyai derajat yang lebih tinggi.Seluruh kurikulum
berisi macam-macam mata pelajaran yang telah diatur dan ditetapkan secara
hierarki.Di SMA terdapat pula mata pelajaran yang isinya mengandung idea dan
konsep-konsep.Pada tingkatan universitas, pandangan kaum idealis ini lebih
jelas lagi penerapannya.Pengetahuan seni budaya adalah bidang studi yang
mempersiapkan bahan pemikiran dan kebebasan berpikir.Bidang studi yang dianggap
penting adalah mata kuliah yang bersifat teoritis, abstrak dan simbolis
(Prasetya, 2000: 100).
Pertanyaan untuk menetapkan realitas
tertinggi harus melalui media yang samar dari yang terlihat saja. Keyakinan
seorang guru haruslah tercermin dalam pelajaran yang dia ajarkan.Dia harus
merasa yakin bahwa hal tersebut merupakan perwujudan dunia nyata dimana dia dan
para siswanya bertempat tinggal.
Selain itu pandangan ontologi ini
cara praktis akan menjadi masalah utama pendidikan. Sebab anak bergaul dengan
lingkungannya dan mempunyai dorongan yang kuat untuk mengerti sesuatu.
Anak-anak di sekolah atau masyarakat akan menghadapi realita, objek pengalaman,
benda mati, sub human dan human. Bagaimana
asas-asas pandangan religius tentang adanya makhluk-makhluk yang berakhir
dengan kematian.Bagaimana kehidupan dan kematian dapat dimengerti.
Anak-anak harus dibimbing untuk
memahami realitas dunia yang nyata ini dan untuk membimbing pengertian anak-anak
untuk memahami suatu realita bukanlah semata-mata kewajiban sekolah atau
pendidikan.Kewajiban sekolah juga untuk membina kesabaran tentang kebenaran
yang berpangkal atas realitas.Ini berarti realita itu sebagai tahap pertama,
sebagai stimulus untuk menyelami kebenaran.Anak-anak secara sistematis wajib
dibina potensi berpikir kritis untuk mengerti kebenaran.
Dengan pembinaan dan bimbingan
tersebut, diharapkan anak-anak mampu mengerti perubahan-perubahan didalam
lingkungan hidupnya baik tentang adat-istiadat, tata sosial dan pola-pola
masyarakat, maupun tentang nilai-nilai moral dan hukum. Daya pikir yang kritis
akan sangat membantu pengertian tersebut. Kewajiban pendidik kaitanya dengan
ontologis ini ialah membina daya pikir yang tinggi dan kritis pada anak.
Implikasi pandangan ontologi
terhadap pendidikan adalah bahwa dunia pengalaman manusia yang harus memperkaya
kepribadian bukanlah hanya alam raya dan isinya dalam arti sebagai pengalaman
sehari-hari.Melainkan sebagaisesuatu yang tak terbatas realitas fisis,
spiritual, yang tetap dan yang berubah-ubah (Mohammad Noor Syam, 1988:32).[6]
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ontologi adalah ilmu
tentang ada dan realitas. Meninjau persoalan secara ontologis adalah mengadakan
penyelidikan terhadap sifat dan realitas dengan refleksi rasional serta
analisis dan sistesis logis.
Cakupan kajian ontologi meliputi
realitas yang ada (being) dan yang
nyata (realitas) maupun esensi dan
eksistensi. Hal ini karena realitas (yang
nyata) merupakan bagian yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Saeful. Filsafat Ilmu Al-Ghazali, Dimensi Ontologi,
dan Akseologi. 2007. Bandung: CV
Pustaka Setia.
Khobir, Abdul. Landasan Pendidikan Islam. 2007.
Yogyakarta: Gama Media Offset.
Noor
Syam, Muhammad. FILSAFAT PENDIDIKAN DAN
DASAR FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASIA.1988.Surabaya: Usaha Nasional.
Rosyid, Moh. Sosiologi Pendidikan. 2010. Yogyakarta:
Idea Press.
[1] Abdul
Khobir, Landasan Pendidikan Islam, Landasan Teoritis dan Praktis, (Yogyakarta:
Gama Media Offset, 2007), hal. 17-18.
[2]Saeful
Anwar, Filsafat Ilmu Al-Ghazali, Dimensi Ontologi, dan Aksiologi,
(Bandung: CV Pustaka Setia, 2007), hal. 119.
[3]Moh.,
Rosyid, Sosiologi Pendidikan, (Yogyakarta: Idea Press, 2010), hal.
27-28.
[4] Abdul
Khobir, Op. Cit., hal. 18-20.
[5]Mohammad Noor Syam, FILSAFAT
PENDIDIKAN DAN DASAR FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA, (Surabaya: Usaha
Nasional, 1988), hal.
30-31.
[6] Abdul
Khobir, Op.Cit., hal. 20-24.

Belum ada tanggapan untuk "makalah : ONTOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN"
Posting Komentar