Makalah : AKSIOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN



MAKALAH
AKSIOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN


Disusun guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah : Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pengampu : Muthoin, M.Ag 








FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

PEKALONGAN

2018









BAB I

PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang Masalah

Kehidupan manusia pada dasarnya tidak pernah lepas dari nilai. Kita dalam menjalankan aktivitas sehari-hari tentunya menggunakan nilai seperti saat kita bersosialisasi dengan masyarakat, tentu kita akan menggunakan tutur kata yang pantas. Hal tersebut disebut dengan  etika. Dalam hal ini manusia adalah makhluk sosial dan budaya. Untuk itu manusia hidup bersama dan saling berinteraksi sesamanya. Manusia saling membutuhkan sesamanya baik jasmani maupun rohani.

Selain itu, nilai perlu dikembangkan dalam bentuk institusi yang terbaik yakni dengan pendidikan, karena pada hakikatnya pendidikan adalah proses perubahan dan perkembangan nilai, proses pembiasaan nilai, dan proses-proses penyesuaian terhadap nilai.

Oleh karena itu, dalam makalah ini akan menjelaskan mengenai Aksiologi atau nilai-nilai yang ada dalam kehidupan manusia.



B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :

1. Apa hakikat makna nilai ?

2. Apa saja macam-macam nilai dalam kehidupan manusia ?

3. Apa saja sumber nilai dalam kehidupan manusia?



C.    Metode Pemecaham Masalah

Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui metode kajian pustaka, yakni dengan menggunakan beberapa referensi buku yang merujuk pada permasalahan yang dibahas.

D.    Sistematika Penulisan Makalah

Makalah ini ditulis dalam 3 bagian, meliputi :

Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari: latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah dan sistematika penulisan makalah;

Bab II, pembahasan;

Bab III, bagian penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

















BAB II

PEMBAHASAN



A.    Hakikat Makna Nilai



Aksiologi berasal dari kata axios yakni dari bahasa Yunani yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Dengan demikian, maka aksiologi adalah “teori tentang nilai” (Amsal Bakhtiar, 2004). Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh (Suriasumantri, 2000). Menurut Bramel dalam Amsal Bakhtiar (2004), aksiologi terbagi dalam tiga bagian: pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral yang melahirkan etika; kedua, esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan; ketiga, sosiopolitical life, yaitu kehidupan sosial politik yang akan melahirkan filsafat sosiopolitik.

Aksiologi yang dipahami sebagai teori nilai dalam perkembangannya melahirkan sebuah polemik tentang kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang biasa disebut sebagai netralitas pengetahuan (value free). Sebaliknya ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value bound. Terkait dengan pendekatan aksiologi dalam filsafat ilmu maka muncullah dua penilaian yang sering digunakan yaitu etika dan estetika.[1]

Nilai (valuel qimah) dalam pandangan Brubacher tak terbatas ruang lingkupnya. Nilai tersebut sangat erat dengan pengertian-pengertian dan aktivitas manusia yang kompleks, sehingga sulit ditentukan batasannya.

Dalam Encyclopedi Britannica dikatakan bahwa:

Value is a determination or quality of an object which involves any sort or appriciation or interest (28:963).”

“ Nilai adalah suatu penetapan atau suatu kualitas objek yang menyangkut suatu jenis apresiasi atau minat.”

                        Nilai itu praktis dan efektif dalam jiwa dan tindakan manusia dan melembaga secara objektif di dalam masyarakat. Nilai ini merupakan satu realita yang sah sebagai suatu cita-cita yang benar dan berlawanan dengan cita-cita palsu atau bersifat khayali.

                        Dalam arti lain, nilai adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia atau masyarakat, mengenai hal-hal yang dianggap baik, benar dan hal-hal yang dianggap buruk dan salah. Misalnya kita contohkan nilai budaya, maksudnya konsep abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting dan bernilai dalam kehidupan manusia. Atau contoh lain nilai keagamaan, maksudnya adalah konsep mengenai penghargaan yang diberikan oleh warga masyarakat kepada beberapa masalah pokok dalam kehidupan beragama yang bersifat suci sehingga menjadi pedoman bagi tingkah laku keagamaan warga masyarakat bersangkutan.[2]

Nilai adalah ukuran untuk menghukum atau memilih tindakan dan tujuan tertentu. Nilai sesungguhnya tidak terletak pada barang atau peristiwa, tetapi manusia memasukkan nilai kedalamnya. Jadi, barang mengandung nilai karena subjek yang tahu dan menghargai nilai itu. Tanpa hubungan subjek atau objek, nilai tidak ada. Suatu benda ada sekalipun manusia tidak ada. Tapi benda itu tidak bernilai, kalau manusia tidak ada. Karena nilai tidak bernilai, kalau manusia tidak ada. Sebab itulah tidak ada ukuran-ukuran yang objektif tentang nilai dan karenanya ia tidak dapat dipastikan secara kaku.

Sumber nilai bukan budi (pikiran) tapi hati (perasaan). Karena itu, soal nilai berlawanan dengan soal ilmu. Ilmu terlibat dalam fakta, sedangkan nilai dengan cita. Salah benarnya suatu teori ilmu dapat dipikirkan. Indah-jelaknya suatu barang dan baik-buruknya suatu peristiwa dapat dirasakan. Sedangkan perasaan tidak ada ukurannya, karena bergantung kepada setiap orang, jadi bersifat subjektif sekali. Di dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu memberi nilai tinggi atau rendah kepada benda-benda, gagasan-gagasan, fakta-fakta, peradaban serta kejadian berdasarkan keperluan, kegunaan dan kebenarannya. Beberapa benda kita nilai lebih baik atau lebih buruk, lebih berguna atau kurang berguna, lebih cantik dan yang lainnya. Menurut Hoffmeister, nilai adalah implikasi hubungan yang diadakan oleh manusia yang sedang memberi nilai antara satu benda dengan satu ukuran.[3] Jadi, bisa dikatakan bahwa nilai bersifat ideal, abstrak, dan tidak dapat disentuh oleh pancaindra, sedangkan yang dapat ditangkap hanya barang atau tingkah laku yang mengandung nilai tersebut. Nilai tidak mungkin diuji dan ukurannya terletak pada diri yang menilai. Konfigurasi nilai dapat berwujud kebenaran yakni nilai logika yang memberi kepuasan rasa intelek atau berwujud kegunanaan  diperoleh dari suatu barang. Hal ini karena barang tidak memiliki kegunaan, sehingga tidak bernilai yakni nilai pragmatis (guna).

Nilai dan implikasi aksiologi di dalam pendidikan ialah pendidikan menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut di dalam kehidupan manusia dan membinanya di dalam kepribadian anak. Karena untuk mengatakan sesuatu bernilai baik itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi menilai secara mendalam dalam arti untuk membina kepribadian ideal.[4]



B.     Macam-macam Nilai dalam Kehidupan Manusia



Yinger (1970) memandang nilai dalam 3 penampilan, yaitu:

1.      Nilai sebagai fakta watak

Dalam arti sebagai indikasi seberapa jauh seseorang bersedia menjadikannya sebagai pegangan dalam pembimbingan dan pengambilan keputusan.

2.      Nilai sebagai fakta

Dalam arti sebagai indikasi yang diterimanya, nilai tersebut dijadikan kriteria normatif dalam pengambilan keputusan oleh anggota masyarakat.

3.      Nilai sebagai konteks struktural

Nilai yang ada baik sebagai fakta, watak, maupun sebagai fakta kultural mampu memberikan dampaknya pada struktur sosial yang bersangkutan.

                        Sebagian para ahli membedakan bentuk nilai dengan nilai instrumental dan nilai intrinsik. Nilai instrumental adalah nilai yang dianggap baik karena bernilai untuk sesuatu yang lain. Nilai ini terletak pada konsekuensi-konsekuensi pelaksanaannya dalam usaha untuk mencapai nilai yang lain. Nilai ini dapat dikategorikan sebagai nilai yang bersifat relatif dan subjektif.

                        Sebaliknya, nilai intrinsik ialah nilai yang dianggap baik, tidak untuk sesuatu yang lain, melainkan untuk nilai di dalam dan dari dirinya sendiri. Nilai ini bersifat pribadi ideal, dan merupakan pusat dalam hirarki nilai yang terkandung di dalam kodrat manusia. Hal ini karena tujuan akhir pendidikan adalah self-realisasi.

                        Dilihat dari orientasi sistem nilai, nilai dapat dikategorikan dalam empat bentuk, yaitu:

a.       Nilai etis, yang mendasari orientasinya pada ukuran baik dan buruk.

b.      Nilai pragmatis, yang mendasari orientasinya pada berhasil dan gagalnya.

c.       Nilai affek sensorik, yang mendasari orientasinya pada menyenangkan atau menyedihkan.

d.      Nilai religius, yang mendasari orientasinya pada dosa dan pahala, halal dan haramnya.

Kemudian sebagian para ahli memandang bentuk-bentuk nilai berdasarkan bidang apa yang dinilai, misalnya nilai hukum, nilai estetika, nilai etika dan sebagainya.

Namun, pada dasarnya nilai-nilai tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu:

1.)    Nilai formal

Nilai yang tidak ada wujudnya, tetapi memiliki bentuk, lambang serta simbol-simbol. Nilai ini terbagi dua macam, yaitu:

a.)    Nilai sendiri, seperti sebutan “Bapak Lurah” bagi seseorang yang memangku jabatan lurah.

b.)    Nilai turunan, seperti sebutan “Ibu Lurah” bagi seseorang yang menjadi istri pemangku jabatan lurah.

2.)    Nilai material

Nilai yang berwujud dalam kenyataan pengalaman, rohani dan jasmani. Nilai ini terbagi atas dua macam, yaitu:

a.)    Nilai rohani, terdiri atas nilai logika, nilai estetika, nilai etika, dan nilai religi.

b.)    Nilai jasmani atau pancaindra, terdiri atas nilai hidup, nilai nikmat, dan nilai guna.

Nilai material mempunyai wujud karena dapat dirasakan, baik dengan rasa lahir, pancaindra, maupun rasa batin-rasio. Misalnya:

1.      Nilai hidup                        : bebas, menindas, berjuang.

2.      Nilai nikmat           : puas, nyaman, aman.

3.      Nilai guna              : butuh, menunjang, peranan,

4.      Nilai logika            : cerita, membuktikan, paham.

5.      Nilai estetika         : musik, berpakaian, anggun.

6.      Nilai etika              : ramah, serakah, sedekah.

7.      Nilai religi              : sanksi, menyangkal, syirik.

Ø  Nilai Religi

Nilai religi di samping merupakan tingkatan integritas kepribadian yang mencapai tingkat budi (insan kamil), juga sifatnya mutlak kebenarannya, universal, dan suci. Kebenaran dan kebaikan religi mengatasi rasio, perasaan, keinginan, nafsu-nafsu manusiawi, dan mampu melampaui subjektivitas golongan, ras, bangsa, stratifikasi sosial.

Nilai religi mempunyai dua segi, yaitu segi normatif dan segi operatif. Segi normatif menitikberatkan pertimbangan baik-buruk, benar-salah, hak-batil, diridhai-dikutuk. Sedangkan segi operatif mengandung lima kategori yang menjadi prinsip standarisasi perilaku manusia, yaitu baik (wajib), setengah baik (sunnah), netral (mubah),  setengah buruk (makruh), dan buruk (haram).

            Karena nilai bersifat ideal dan tersembunyi dalam setiap kalbu, pelaksanaan nilai tersebut harus disertai niat. Niat merupakan i’tikad seseorang yang mengerjakan sesuatu dengan penuh kesadaran. Dengan niat ini seseorang dikenai nilai, karena niatlah yang mendasari apakah aktivitas yang dilakukan subjek itu baik atau buruk. Aktivitas yang menyalahi kehendak ide, atau gagasan semula seseorang, maka keberlakuan nilai bukan terletak pada realitas yang ada, tetapi terletak di balik realitas tersebut. Seperti seseorang membunuh secara tidak sengaja, karena semula hendak menembak burung, tetapi meleset dan mengenai manusia.

Ø  Nilai Etika

Nilai etika mempunyai dua mantra, yaitu baik dan buruk. Pandangna tentang baik-buruk dalam etika sangat beragam. Hal itu karena sudut tinjauannya berbeda-beda, yang dapat kita lihat sebagai berikut:

1.      Aliran Empirisme

Baik-buruk sesuatu didasarkan atas pengalaman manusia.

2.      Aliran Intustionisme

Baik-buruk sesuatu ditentukan oleh intusi seseorang (berupa ilham bukan kalbu, naluri atau intusi).

3.      Aliran Rasionalisme

Baik-buruk sesuatu ditentukan atas dasar rasio (akal, pikiran) karena rasio merupakan sumber etika.

4.      Aliran Tradisionalisme

Baik-buruk sesuatu ditentukan oleh kekonsistenannya dengan tradisi atau adat kebiasaan yang berlaku.

5.      Aliran Hedonisme

Baik-buruk sesuatu didasarkan apakah perbuatan itu menghasilkan kebahagiaan. Penilaiannya menitikberatkan pada nila pragmatis.

6.      Al-Ghazali

Baik-buruk sesuatu dapat ditentukan oleh akal yang didasari oleh jiwa Al-quran dan As-sunnah.

Ø  Nilai Estetika

Nilai estetika mutlak dibutuhkan manusia, karena merupakan bagian hidup manusia yang tak terpisahkan, yang dapat membangkitkan semangat baru,  gairah berjuang. Nilai estetika tidak hanya berlaku pada satu institusi, tetapi berlaku dimana saja, pada agama, pendidikan, sosial, politik, hukum, ekonomi, idiologi, dsb. Nilai estetika lahir dari rangsangan cipta dalam rohani seseorang. Rangsangan tersebut untuk memberikan ekspresi dalam bentuk cipta dari suatu emosi yang dalam atau pemikiran yang agung, karya estetika akan melahirkan rasa yang disebut dengan “indah”.

Ø  Nilai logika

Apakah nilai logika itu? Nilai logika tentunya banyak mencakup pengetahuan, penelitian, keputusan, penuturan, pembahasan, teori atau cerita, yang temuannya termasuk nilai logika. Nilai logika ini bermuara pada pencarian kebenaran.

Kebenaran dalam nilai logika terletak pada empat hal, yang semuanya menimbulkan adanya persamaan dan perbedaan. Keempat hal itu adalah:

1.      Subjek pengamat

Pemahamannya tentang sesuatu dan situasi psikisnya pada saat mencari objek.

2.      Objek yang diamati

Kenyataan adanya barang atau benda yang diamati.

3.      Tempat berpijak

Sudut pandang (point of view) dan pangkal tolaknya (starting point).

4.      Keadaan perantara

Sifat penghubung antara subjek dan objek, misalnya masalah cahaya, udara, dan jarak.

Dari keempat hal di atas, muncullah teori-teori tentang kebenaran, yakni kebenaran dari nilai logika. John S. Brubacher dalam bukunya Model Philosophies of Education mengemukakan empat macam teori kebenaran yaitu:

a.       Teori koresponden.

b.      Teori konsistensi.

c.       Teori pragmatis.

d.      Teori religius.

Kebenaran dari nilai logika banyak ragamnya. Hal itu dapat kita lihat dari beberapa sudutnya, yaitu:

1.      Dilihat dari sudut perantaranya, kebenaran terbagi atas:

a.       Kebenaran indrawi (empiris) yang ditemui dalam pengamatan pengalaman.

b.      Kebenaran ilmiah (rasional), yang diperoleh lewat konsepsi akal.

c.       Kebenaran filosofis (reflective thinking), yang dicapai lewat perenungan murni.

d.      Kebenaran religius (supranatural), yang diterima melalui wahyu ilahi.

2.      Dilihat dari sudut kekuasaan, kebenaran terbagi atas:

a.       Kebenaran subjektif, yang hanya berlaku dan diterima oleh pengamat sendiri.

b.      Kebenaran objektif, yang mengakui bukan hanya subjek pengamat tetapi juga subjek-subjek lainnya.

3.      Dilihat dari sudut luas keberlakuannya, kebenaran terbagi atas:

a.       Kebenaran individu, berlaku bagi perseorangan.

b.      Kebenaran universal, berlaku untuk semua orang.

4.      Dilihat dari sudut kualitasnya, kebenaran terbagi atas:

a.       Kebenaran dasar, kebenaran yang paling rendah (minim).

b.      Kebenaran nisbi, kebenaran yang di atas tingkat dari kebenaran dasar, tetapi masih belum sempurna (relatif).

c.       Kebenaran mutlak, kebenaran yang sempurna, yang sejati dan yang hakiki (absolut).[5]

C. Sumber Nilai dalam Kehidupan Manusia

Menurut Muhaimin dan Abdul Mujib (1993: 114), sumber nilai yang berlaku dalam pranata kehidupan manusia dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu:

1.      Nilai Ilahi

Nilai Ilahi adalah nilai yang dititahkan oleh Tuhan melalui para rasul-Nya yang berbentuk takwa, iman, adil yang diabadikan dalam wahyu ilahi.

Agama Islam diturunkan di dunia mengandung implikasi ajaran tentang nilai-nilai dan moralitas yang sesuai dengan kemampuan tabi’in dalam menerima dan menjalankan syariat Islam yang ada di dalamnya (M. Arifin, 1996: 151).

Religi merupakan sumber yang pertama dan utama bagi para penganutnya. Dari segi religi, mereka menyebarkan nilai-nilai agar diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, nilai ini bersifat statis.

Nilai Ilahi tidak mengalami perubahan, nilai Ilahi yang fundamental mengandung kemutlakan bagi kehidupan manusia selaku pribadi dan selaku anggota masyarakat serta tidak cenderung untuk berubah mengikuti selera hawa nafsu manusia yang berubah-ubah sesuai dengan tuntutan perubahan sosial dan tuntutan individual.





2.      Nilai Insani

Nilai insani tumbuh atas kesepakatan hidup dan berkembang dari peradaban manusia. Nilai ini bersifat dinamis, sedangkan keberlakuan dan kebenarannya bersifat relatif nisbi yang dibatasi oleh masyarakat dan waktu.

Pada nilai insani, fungsi tafsir adalah lebih memperoleh konsep, lebih memperkaya konsep, atau untuk mengganti dengan konsep baru. Nilai-nilai insani kemudian melembaga menjadi tradisi-tradisi yang diwariskan turun-temurun dan mengikat anggota masyarakat.

Dalam pandangan Islam, tidak semua nilai yang telah melembaga dalam tatanan kehidupan masyarakat dapat diterima atau ditolak. Sikap Islam dalam menghadapi tatanan nilai yang ada dalam masyarakat dengan menggunakan lima macam klasifikasi, yaitu:

a.       Memelihara unsur-unsur nilai dan norma yang sudah mapan dan positif.

b.      Menghilangkan unsur-unsur nilai dan norma yang sudah mapan dan negatif.

c.       Menumbuhkan unsur-unsur nilai dan norma yang belum ada dan dianggap positif.

d.      Bersikap menerima, memelihara, memilih, mencerna, menggabung-gabungkan dalam dalam satu sistem dan menyampaikan pada orang lain terhadap nilai pada umumnya.

e.       Menyelenggarakan penyucian nilai atau norma agar sesuai dan sejalan dengan nilai-nilai dan norma-norma Islam sendiri.

Dengan begitu, diharapkan akan terwujud hubungan yang ideal antara nilai agama Islam dengan nilai yang ada dalam suatu kelompok masyarakat yang dijiwai dengan nilai-nilai Ilahi.[6]





















BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

       Aksiologi (nilai) pada hakikatnya adalah konsepsi-konsepsi abstrak di dalam diri manusia atau masyarakat, mengenai hal-hal yang dianggap baik, benar dan hal-hal yang dianggap buruk dan soleh.

       Pendidikan pada tahap selanjutnya merupakan proses transfomasi nilai, yang cenderung bersifat positif dan penuh makna kebaikan. Nilai selalu terserap dalam lapangan pendidikan. Pendidikan akan dapat menguji dan mengintegrasikan semua nilai di dalam kehidupan manusia dna membinanya di dalam kepribadian anak.

B. Saran-saran

       Penulis menerima saran dari pembaca guna pembenahan dan perbaikan makalah berikutnya.



















DAFTAR PUSTAKA



Khobir, Abdul. 2007.Filsafat Pendidikan Islam. Pekalongan: STAIN PRESS.



Muhaimin. 1993.Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis dan Kerangka

Dasar Operasionalisasinya. Bandung: Trigenda Karya.



Rahmat, Aceng. 2011.Filsafat Ilmu Lanjutan. Jakarta: Kencana Prenada Media

Group.

Rosyadi, Khoiron. 2004. Pendidikan Profetik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.











[1]Aceng Rahmat.,dkk, Filsafat Ilmu Lanjutan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), hlm. 154-156.


[2] Muhaimin dan Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, ( Bandung: Trigenda Karya, 1993), hlm. 109-110.


[3]Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 113-115.


[4]Muhaimin dan Abdul Mujib, Op. Cit., hlm. 110.


[5]Ibid., hlm. 114-122.


[6]Abdul Khobir, Filsafat Pendidikan Islam (Pekalongan: STAIN PRESS, 2007), hlm. 40-42.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : AKSIOLOGI FILSAFAT PENDIDIKAN"

Posting Komentar