TUJUAN PENDIDIKAN “DIVERSIFIKASI” : Fungsi Al-Qur’an


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
      Seperti yang kita ketahui, bahwa al-Qur’an adalah firman Allah (kalamullah) yang diturunkan kepada  Nabi Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril  secara berangsur-angsur yang merupakan mukjizat,dan berfungsi sebagi petunjuk bagi manusia dan penjelas atas petunjuk tersebut serta sebagai pembeda antara yang haq dan bathil agar bisa membebaskan manusia dari kesesatan menuju jalan yang lurus. Dalam al-Qur’an juga terdapat banyak nilai-nilai luhur yang mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang belajar untuk memahami serta mengamalkan nilai al-Qur’an dalam kehidupannya disebut dengan Insan Qur’ani.
       Atas dasar tersebut, saya akan mencoba menjelaskan tafsir surat Ali Imran ayat 138. Selain itu dalam makalah ini juga akan dibahas mengenai hakikat al-Qur’an dan cara bagaimana membentuk Generasi Qur’ani.

B.     Rumusan Masalah
1.                                                      Bagaimana hakikat al-Qur’an?
2.                                                      Apa dalil fungsi al-Qur’an?
3.                                                      Apa yang dimaksud dengan Bayan, Hidayah dan Mau’idhah?
4.                                                      Bagaimana membentuk Generasi Qur’ani?

C.       Tujuan Makalah
1.                     Untuk memahami hakikat al-Qur’an.
2.                     Untuk memahami fungsi al-Qur’an.
3.                     Untuk memahami Bayan, Hidayah dan Mau’idhah.
4.                     Untuk memahami cara membentuk Generasi Qur’ani.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hakikat Al-Qur’an
         Secara etimologi atau jika ditinjau dari bahasa, Al Qur'an berasal dari bahasa arab, yaitu bentuk jamak dari kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a - yaqra'u - qur'anan yang berarti bacaan atau sesuatu yang dibaca berulang-ulang. Konsep pemakaian kata tersebut dapat dijumpai pada salah satu surah al Qur'an yaitu pada surat al Qiyamah ayat 17 – 18. Sedangkan secara terminologi (istilah islam), al Qur'an diartikan sebagai kalam Allah swt, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw sebagai mukjizat, disampaikan dengan jalan mutawatir dari Allah swt sendiri dengan perantara malaikat jibril dan mambaca al Qur'an dinilai ibadah kepada Allah swt. Al Qur'an adalah murni wahyu dari Allah swt, bukan dari hawa nafsu perkataan Nabi Muhammad saw. Al Qur'an memuat aturan-aturan kehidupan manusia di dunia. Al Qur'an merupakan petunjuk bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Di dalam al Qur'an terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Al Qur'an merupakan petunjuk yang dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju jalan yang terang.      Menurut Muhammad Ali ash-Shabuni Al Qur'an adalah Firman Allah swt yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw penutup para nabi dan rasul dengan perantaraan malaikat Jibril as, ditulis pada mushaf-mushaf kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, membaca dan mempelajari al Qur'an adalah ibadah, dan al Qur'an dimulai dengan surat al Fatihah serta ditutup dengan surat an Nas.

B.      Dalil Fungsi Al-Qur’an
Al-Quran adalah mukjizat nabi Muhammad saw yang kekal dan mukjizatnya selalu diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Ia diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah saw untuk mengeluarkan manusia dari suasana yang gelap menuju terang, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus.[1] Al-Quran menegaskan dirinya sebagai pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus seperti firman Allah SWT dalam surat Ali-Imran ayat 138:

هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: ”Al-Quran ini adalah penerangan bagi seluruh manusia,dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. “ (Q.S.Ali Imran : 138).

1.     Tafsir Al-Maraghi
Penuturan yang telah lalu tersebut merupakan penjelasan tentang keadaan umat manusia, sekaligus sebagai petuah dan nasehat bagi orang-orang yang bertakwa dari kalangan mereka. Petunjuk ini sifatnya umum bagi seluruh umat manusia dan merupakan hujjah atau bukti bagi orang mukmin atau kafir, orang yang bertakwa atau fasik.
Dalam hal ini juga merupakan bantahan terhadap perkataan kaum musyrikin dan munafik yang melancarkan tuduhan kepada Nabi saw. Mereka mengatakan bahwa jika Muhammad memang benar-benar seorang utusan, maka pasti mereka tidak akan bisa dikalahkan dalam perang uhud. Hal itu juga mengandung petunjuk dan penjelasan bahwa sunnatullah juga berlaku bagi para nabi dan rasul, sebagaimanan berlaku bagi semua makhluk-Nya.
Sedang penjelasan ini adalah sebagai petunjuk dan petuah yang khusus bagi orang-orang yang bertakwa, karena mereka orang yang mau mengambil petunjuk dengan kenyataan-kenyataan seperti ini. Mereka juga mau mengambilnya sebagai pelajaran dalam menghadapi kenyataan-kenyataan yang sedang mereka alami. Berkat petunjuk ini, mereka berjalan lurus sesuai dengan metode yang benar, menjauh dari hal-hal yang mengakibatkan kelalaian yang sudah tampak jelas akibatnya, yakni membahayakan diri mereka. Orang mukmin sejati ialah orang yang mau mengambil hidayah dari Al-Kitab dan mau menerima penyuluhan nasehat-nasehatnya, sebagaimana yang telah diungkapkan oleh firman-Nya :
“ kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Al-Baqarah, 2:2).
Al-Qur’an telah memberikan petunjuk kepada kita tentang masalah-masalah strategi pertempuran menghadapi musuh, sampai bagaimana kita mempersiapkan diri. Dalam hal ini, kita dianjurkan mengetahui hakikat persiapan supaya kita melangkah dengan kewaspadaan dalam membela hak.
Dengan demikian, kita berjalan di atas sunnatullah dalam meraih nya dan memelihara kelestariannya. Hendaknya kita mengetahui kondisi musuh kita untuk dijadikan pertimbangan antara kekuatan kita dan kekuatan mereka. Apabila kita tidak menempuh jalan-jalan tersebut berarti kita tidak memakai jalan hidayah, dan kita termasuk orang-orang yang tidak mau mengambil pelajaran dari pengalaman.[2]
2.      Tafsir Al-Mishbah
Terdapat pesan-pesan yang dikandung oleh semua ayat-ayat yang lalu, atau al-Qur’an secara keseluruhan adalah penerangan yang memberi keterangan dan menghilangkan kesangsian serta keraguan bagi seluruh manusia, dan ia juga berfungsi sebagai petunjuk yang memberi bimbingan masa kini dan datang menuju ke arah yang benar serta peringatan yang halus dan berkesan menyangkut hal-hal yang tidak wajar bagi orang-orang yang bertakwa, yang antara lain mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari sunnatullah yang berlaku dalam masyarakat.
Demikian juga terlihat bahwa kitab suci al-Qur’an adalah kitab pertama yang mengungkap adanya hukum-hukum yang mengatur kehidupan masyarakat. Kitab suci itu berfungsi mengubah masyarakat dan mengeluarkan anggotanya dari kegelapan menuju terang benderang, dari kehidupan negatif menuju kehidupan positif. Al- Qur’an memang penerangan bagi seluruh manusia, petunjuk, serta peringatan bagi orang-orang yang bertakwa.
Pernyataan Allah ini adalah penjelasan buat manusia, juga mengandung makna bahwa Allah tidak menjatuhkan sanksi sebelum manusia mengetahui sanksi itu. Dia tidak menyiksa manusia secara mendadak, karena ini adalah penjelasan, petunjuk jalan, lagi peringatan.
3.     Tafsir Al-Azhar
“ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (ayat 138).
Mempelajari sejarah ummat-ummat yang dahulu dan melihat bekasnya dengan melawat mengembara dengan sendirinya akan memperoleh penjelasan, petunjuk, dan pengajaran. Ilmu kita akan bertambah-tambah tentang perjuangan hidup manusia di dalam alam ini.
Dengan memperhatikan orang memperoleh penjelasan, petunjuk dan pengajaran bagi orang yang bertakwa. Di sini kita dapat mengetahui lagi betapa luasnya arti takwa. Pokok arti, ialah memelihara(wiqayah). Maksud yang pertama, ialah takwa kepada Allah, memelihara hubungan dengan Allah dan takut kepadaNya. Tetapi dalam ayat ini ada arti yang lain, yaitu memelihara, menjaga, awas dan waspada. Maka dengan demikian takwa kepada Allah tidaklah cukup sekedar dengan ibadat shalat, berzakat, dan puasa saja. Tetapi termasuk lagi dalam rangka ketakwaan ialah kewaspadaan menjaga agama dari intaian musuh.
4.     Tafsir Ibnu Katsir
         Di dalam Al-Qur'an ini terkandung penjelasan semua perkara secara gamblang perihal apa yang dialami oleh umat-umat terdahulu bersama musuh-musuh mereka. dan petunjuk serta pelajaran. (Ali Imran: 138) Artinya, di dalam Al-Qur'an terkandung berita umat-umat sebelum kalian, petunjuk bagi hati kalian, serta peringatan bagi kalian agar kalian menghindari hal-hal yang diharamkan dan semua perbuatan dosa.

C.    Bayan, Hidayah dan Mau’idhah
1.                                 Bayan
Bayan berasal dari bahasa Arab berarti penjelasan (eksplanasi). Dalam kamus Bahasa Indonesia bayan berarti jelas, nyata dan terang. Jadi secara etimologi, bayan berarti menyingkap dan menjelaskan sesuatu atau menjelaskan maksud dari suatu pembicaraan dengan menggunakan lafal yang paling baik dan jelas.
Al Bayan merupakan salah satu dari sekian banyak nama lain dari kitab suci umat muslim yaitu Al-qur’an. Bisa jadi sebagian dari kita hanya mengenal nama-nama lain dari Al-qur’an yang populer saja seperti Al Furqon yang artinya pembeda antara yang haq dan yang bathil, Ad Dzikr yang artinya pengingat, As Syifa yang artinya obat dan nama-nama lain Al-qur’an yang populer lainnya. Al-Qur’an disebut juga dengan al-Bayan karena mempunyai fungsi sebagai penerang bagi seluruh umat manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang berta.
2.                                 Hidayah
Kata Hidayah adalah dari bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an yang telah menjadi bahasa Indonesia. Akar katanya ialah : hadaa, yahdii, hadyan, hudan, hidyatan, hidaayatan. Hidayah secara bahasa berarti petunjuk. Lawan katanya adalah : “Dholalah” yang berarti “kesesatan”. Secara istilah (terminologi), Hidayah ialah penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah.
Ahmad Mustafa al-Maraghi, membagi hidayah yang diberikan Allah untuk manusia kepada dua bentuk, yaitu: hidayah al-`’ammah (hidayah yang umum) dan hidayah al-khas (hidayah yang khusus).
1)      Hidayah al-`ammah (hidayah yang umum)
      Hidayah al-‘ammah (hidayah yang umum) ialah hidayah yang diberikan Allah kepada segenap manusia untuk dijadikannya sebagai petunjuk dalam hidupnya. Seperti yang diterangkan dalam al-Qur’an surat Thaha : 50. Pada ayat tersebut dapat diketahui bahwa Allah telah menganugerahkan sarana kelangsungan hidup manusia, memberi makanan untuk menghilangkan rasa lapar, memberi minum untuk menghilangkan rasa dahaga, dan memberikan manusia kesembuhan jika sakit menimpa, hal ini sudah barang tentu Allah juga menganugerahkan pembawaan sejak lahir sebagai penuntun diri, berupa kemampuan alamiah yang dimiliki sejak lahir. Al-Maraghi membagi hidayah umum ini kepada empat bentuk, yaitu:
a.                                 Hidayah al-wijdan (insting)
Tantawi al-Jawhari menyebutkan dengan hidayah al-gharizati. Menurutnya gharizati (insting) ialah gerak hati (impuls) yang terdapat dalam bakat manusia dan binatang. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah salah satu daya dorong yang utama pada manusia bagi kelangsungan hidupnya (seperti nafsu birahi, rasa takut, dan dorongan untuk berkompetisi).
b.                                Hidayah al-hawash (panca indera)
Ahmad Mustafa al-Maraghi menyebutkan bahwa al-hawash ialah indera badani yang peka terhadap rangsangan yang datang dari luar, seperti rangsangan cahaya, bunyi dan lain sebagainya. Keterangan mengenai hal ini dapat dilihat pada al-Qur’an surat al-Insan : 2-3.
c.                              Hidayah al-‘aql (akal)
Kata akal mengandung arti pengikat, penahan, pemahaman dan kebijaksanaan. Dalam pemahaman ahli bahasa, akal bukanlah daya yang dimiliki oleh otak, tapi merupakan daya jiwa yang berfungsi memahami dan mengetahui nilai-nilai etis (baik dan buruk), dan epistemologis (benar dan salah), serta memiliki fungsi sebagai pengikat, penahan dan pengendali hawa nafsu, sehingga berhasil mengangkat manusia menjadi makhluk yang bijaksana.
d.                             Hidayah al-din (agama)
Anugerah lain yang Allah berikan kepada manusia, diturunkannya wahyu melalui para Nabi dan RasulNya, yang tidak lain untuk memberikan petunjuk kepada manusia agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupannya yakni berupa tuntunan-tuntunan dan penjelasan tentang syariat keagamaan. Al-Qur’an merupakan tuntunan wahyu ilahi yang tidak diragukan lagi kebenarannya, berlaku sepanjang masa, meliputi berbagai aspek kehidupan, sebagai pembeda
antara hak dan yang bathil serta membenarkan dan menjelaskan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya. Sebagaimana dijelaskan dalama al-Qur’an surat al-Nahl: 89. Keberadaan agama disini adalah dalam rangka menfungsikan al-Qur’an sebagai wahyu petunjuk untuk kehidupan manusia.
2)       Hidayah al-khas (hidayah khusus)
Hidayah al-khas (hidayah khusus) ialah hidayah yang diberikan Allah
kepada manusia yang dikehendakiNya, dengan kata lain yang memiliki kualifikasi tertentu atau manusia yang memenuhi persyaratan khusus yang bias memperoleh hidayah ini. Hidayah semacam ini disebut dengan hidayah taufiq. Ayat yang berhubungan dengan hidayah ini adalah al-Qur’an surat al-Baqarah :272. Al-Asfahani membagi hidayah menjadi empat tingkatan. Pertama, hidayah yang didapati oleh seluruh mukallaf melalui akal, kecerdasan dan pengetahuan empiris. Hidayah yang seperti ini sifatnya lebih kurang sesuai kadar yang dilakukan. Kedua, hidayah yang didapati manusia melalui ketentuan Tuhan sebagaimana yang tergambar dalam kitab suci al-Qur’an. Ketiga, hidayah karena dicari oleh manusia dengan sungguh-sungguh melalui upaya maksimal sehingga hidayah yang dimaksud semakin bertambah melalui iman, amal shalih dan dengan melakukan jihad. Keempat, hidayah di akhirat untuk menuju surga. Keempat hidayah ini dilakukan secara berurutan sehingga tingkatantingkatannya terjadi setelah tingkatan awal terlampaui. [3]
3.                                 Mau’idhah
Secara harfiah, mauidhah berarti an-nushhu (nasihat) dan at-tadzkir bi al-‘awqib (memberi peringatan yang disertai dengan ancaman). Ibnu Sayyidih seperti yang dikutip oleh Ibnu Manzur mendefinisikan al-mauidhah itu kepada “peringatan yang diberikan kepada manusia untuk melunakkan hatinya, yang disertai dengan ganjaran dan ancaman”. Al-Isfihani dengan mengutip pendapat Al-Khalil, mendefiniskan bahwa mauidhah  itu kepada “peringatan untuk berbuat baik yang dapat melunakkan hati”. Atau secara umum dapat pula dikatakan bahwa al-mauidhah adalah hal-hal yang dapat melunakka hati yang keras, mengalirkan air mata yang beku dan memperbaiki kerusakan.
Dalam rangka menjalankan fungsi mauidhah tersebut maka dalam al-Qur’an banyak ditemukan berita-berita yang menggembirakan atau yang menyenangkan hati, yang membuat orang tertarik dalam kebenaran. Akan tetapi, tidaklah semua orang dapat menangkap mauidhahnya, orang yang benar-benar menangkap mauidhah hanyalah mereka yang benar-benar hatinya mencari dan merindukan kebenaran.[4]



D.    Membentuk Generasi Qur’ani
Kata “Generasi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti: “Turunan, angkatan, atau sekelompok orang yang mengalami hidup dalam masa yang sama, sekelompok masyarakat yang mengalami sejarah pada zaman yang sama.” Sedangkan kata “Qur’ani” diambil dari kitab al-Quran, yakni kumpulan wahyu Allah kepada Muhammad shallahu ‘alaihi wa sallam melalui Malaikat Jibril, yang disusun dalam mushaf, diriwayatkan secara mutawatir dari generasi ke generasi berikutnya, dan berpahala bagi yang membacanya. Merupakan kitab suci umat Islam, berisi petunjuk-petunjuk Allah untuk mereka dan dijadikan ajaran pokok dalam hidup beragama mereka, serta diyakini akan mengahantarkan kepada kebehagiaan dunia dan akhirat.
Jadi “Generasi Qur’ani” adalah generasi yang menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup mereka, meyakini kebenaran al-Quran, membaca dan memamahinya dengan benar dan baik, serta mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Generasi itulah yang menjadi idaman bagi umat Islam kapan dan di mana pun mereka hidup dan berada.
 Dalam kehidupan seoarang manusia, masa kanak-kanak merupakan masa peletakan dasar kepribadian yang akan menentukan perkembangan kepribadian dimasa selanjutnya. Masa kanak- kanak, sebagaimana dikatakan oleh John Lock yang dikenal dengan teori tabularasa, adalah masa kehidupan manusia yang masih bersih bagaikan kertas putih bersih yang belum ditulisi. Karena itu, apa yang mau dituliskan pada kertas putih itu, tergantung pada pihak lain terutama orang tua. Didalam agama Islam juga terdapat hadits Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa anak itu dilahirkan dalam keadaan suci, tergantung orang tuanya yang akan membentuk anak itu selanjutnya, apakah akan dibentuk menjadi orang yang beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Terlepas adanya teori-teori lain seperti teori Naturalisme dan Konvergensi yang berbeda dengan teori Tabularasa, John Lock, tetapi pendidikan di masa kanak-kanak mempunyai peran yang besar untuk memberikan dasar kepribadian pada anak tersebut.
Dewasa ini, kenakalan remaja baik dalam bentuk tawuran pelajar, penggunaan narkoba, dan yang lain, sampai pada tindakan amoral orang dewasa, seperti tawuran antar kampung, sikap materialistik yang menghalalkan segala cara, dan lain-lainnya, merupakan fenomena sosial yang terjadi setiap saat. Banyak ahli pendidikan yang mencoba menawarkan konsep untuk mencari solusi terhadap permasalahan tersebut, tetapi penyakit sosial tersebut hingga kini belum menunjukan gejala, padahal kondisi masyarakat kini, akan menentukan kondisi masyarakat di masa yang akan datang.
Para ahli pendidikan pada umum telah mengemukakan pendapatnya, bahwa untuk mendidik anak harus dilakukan sejak dini. Karena itu banyak lembaga pendidikan yang secara khusus menangani pendidikan anak sejak dari pendidikan pra sekolah. Akan tetapi pengaruh pendidikan sejak dari pra sekolah tersebut masih sangat kecil. Hal itu setidaknya bila diukur dengan fenomena negatif para remaja kini.[5]
Penerapan nilai-nilai luhur agama yang bersumber dari al-Qur’an dalam pendidikan semakin menjadi keniscayaan, khususnya di era globalisasi ini. Terlebih, dunia kini terasa seperti sebuah kampong kecil. Interaksi antar negara, peradaban dan budaya semakin mudah dilakukan. Proses saling mempengaruhi antar satu budaya dengan budaya yang lain semakin intens dan dengan proses yang cepat, baik budaya itu bersifat positif atau pun negatif. Proses saling mempengaruhi tersebut menjadikan suatu peradaban, budaya dan agama terkontaminasi dengan unsur-unsur yang lain. Hal ini menimbulkan kegoncangan bagi ideologi dan budaya lain yang tidak sesuai karakteristik sosial kulturalnya. Oleh karenanya, pendidikan moral dan penerapan nilai-nilai qur’ani sebagai filter harus benar-benar difungsikan.
Untuk dapat mewujudkan generasi Qur’ani sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia harus diusahakan secara teratur dan berkelanjutan baik melalui pendidikan informal seperti keluarga, pendidikan formal, atau melalui pendidikan non formal. Generasi Qur’ani tidak lahir dengan sendirinya, tetapi ia dimulai dari pembiasaan dan pendidikan dalam keluarga.[6]



















BAB III
PENUTUP

  1. Simpulan
Al Qur'an adalah Firman Allah swt yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad saw penutup para nabi dan rasul dengan perantaraan malaikat Jibril as, ditulis pada mushaf-mushaf kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, membaca dan mempelajari al Qur'an adalah ibadah, dan al Qur'an dimulai dengan surat al Fatihah serta ditutup dengan surat an Nas. Fungsi al-Qur’an dijelaskan pada firman Allah SWT dalam surat Ali-Imran ayat 183. Telah dijelaskan didalamnya bahwa al-Qur’an berfungsi sebagai bayan, hidayah dan mauidhah. Dalam al-Qur’an banyak terkandung nilai-nilai luhur yang mampu difungsikan pada anak zaman sekarang yang biasa disebut dengan Generasi Qur’ani. Generasi Qur’ani adalah generasi yang menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidup mereka, meyakini kebenaran al-Quran, membaca dan memamahinya dengan benar dan baik, serta mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan mereka.

  1. Saran
Sebagai orang islam seharusnya selalu berpedoman dan berpegang teguh kepada al-Qur’an dalam berperilaku di kehidupan sehari-hari. Karena al-Qur’an merupakan petunjuk bagi umat manusia agar tidak tersesat dan mampu mencapai kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat.




DAFTAR PUSTAKA
Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. 1993. Tafsir Al-Maraghi Juz 4. Semarang: PT. Karya Tulis.
Al-Asfahani, Al-Raghib. Mu’jam Mufradat li Alfadz Al Qur’an. (Beirut : Dar al Fikr, tt)
Nurwahidin. 2009. “Membentuk Generasi Qurani Melalui Pendidikan Anak Menurut Al-Qur’an”, Jurnal Studi Al-Qur’an; Membangun Tradisi Berfikir Qur’ani. Vol. 5, No. 1.
Raya, Ahmad Thib. “Huda” dalam Ensiklopedi Al Qur’an : Kajian Kosa Kata, ed.
Sahabuddin. Jakarta : Lentera Hati.
UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Implikasi Pedagogis Al-Quran Surat Al-Dzariyat Ayat 56 Dalam Kitab-Kitab Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan Tentang Tujuan Pendidikan Islam.
Yusuf, Kadar M. 2012. Studi Al-Qur’an, Jakarta: AMZAH.



















[1] UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Implikasi Pedagogis Al-Quran Surat Al-Dzariyat Ayat 56 Dalam Kitab-Kitab Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan Tentang Tujuan Pendidikan Islam, hlm. 1
[2] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi Juz 4, (Semarang: PT. Karya Tulis, 1993), hlm. 132-133
[3] Al-Raghib al-Asfahani, Mu’jam Mufradat li Alfadz Al Qur’an, (Beirut : Dar al Fikr, tt), 536-
540; Ahmad Thib Raya, “Huda” dalam Ensiklopedi Al Qur’an : Kajian Kosa Kata, ed.
Sahabuddin, (Jakarta : Lentera Hati, 2007), hlm. 316
[4] Kadar M. Yusuf, Studi Al-Qur’an, (Jakarta: AMZAH, 2012), hlm. 179-180
[5] Nurwahidin,  Membentuk Generasi Qurani Melalui Pendidikan Anak Menurut Al-Qur’an”, Jurnal Studi Al-Qur’an; Membangun Tradisi Berfikir Qur’ani, Vol. 5, No. 1, 2009, hlm. 40-41.
[6] Op. cit.,

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "TUJUAN PENDIDIKAN “DIVERSIFIKASI” : Fungsi Al-Qur’an "

Posting Komentar