KARAKTERISTIK ORANG BERILMU : Perilaku Orang Berilmu


KARAKTERISTIK ORANG BERILMU
(PERILAKU ORANG BERILMU)
QS. Az-Zumar 39:9
Disusun guna memenuhi tugas kelompok
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi I
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron, MSI



Disusun Oleh :
            Farah Falasifah (2117044)
Kelompok : 2

Kelas D

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018



KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua. Sehingga penulis dapat menyusun makalah Tafsir Tarbawi I yang berjudul “Karakteristik Orang Berilmu (Perilaku Orang Berilmu)”. Selain itu tujuan dari penyusunan makalah ini juga untuk menambah wawasan tentang pengetahuan bahasa secara luas. Dan tidak lupa pula kita sanjung pujikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam yang gelap gulita ke alam yang terang benderang ini. Dan juga saya berterima kasih kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku Dosen mata kuliah Tafsir Tarbawi I yang telah memberikan tugas ini kepada saya. Saya berharap makalah ini dapat berguna dalam mengetahui karakteristik orang berilmu dalam QS. Az-Zumar:9.
            Penulis pun menyadari bahwa didalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan kami buat dimasa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Mudah-mudahan makalah sederhana ini dapat dipahami oleh semua orang khususnya bagi pembaca, Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat kata-kata yang kurang berkenan. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih dan semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

                                                                                    Pekalongan,  September 2018

                                                                                   
                                                                                                Farah Falasifah



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
       Ilmu pengetahuan adalah sebaik-baik sesuatu yang disukai, sepenting-penting sesuatu yang dicari dan merupakan sesuatu yang paling bermanfaat dari pada selainnya. Allah SWT, tidak mau menyamakan orang yang berilmu dan orang tidak berilmu, disebabkan oleh manfaat dan keutamaan ilmu itu sendiri dari manfaat dan keutamaan yang akan didapat oleh orang yang berilmu.
       Dalam masalah kali ini, saya akan membahas surat az-zumar ayat 9 yang didalamnya terdapat anjuran untuk berilmu, untuk menjadi orang yang taat, dan anjuran untuk menjadi orang yang berjiwa ulul albab. Dan yang paling penting dalam masalah hal ini adalah
“ tidak sama antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui”.
       Uraian diatas hanyalah uraian yang singkat betapa pentingnya ilmu pengetahuan bagi manusia, baik untuk kehidupan dirinya pribadi, maupun dalam hubungan dirinya dengan benda-benda disekitarnya. Baik bagi kehidupan dunia maupun akhirat. Ada banyak hadits, irman Allah dan pendapat para ulama tentang pentingnya ilmu pengetahuan.
B.  Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini guna memenuhi mata kuliah Tafsir Tarbawi dan juga menambah pengetahuan penulis tentang perilaku orang berilmu, dan terdapat anjuran untuk berilmu, untuk menjadi orang yang taat dan anjuran untuk menjadi orang yang berjiwa ulul albab.




BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengetahuan Manusia
Ilmu adalah pengetahuan manusia mengenai segala hal yang dapat di lihat oleh potensi manusia (penglihatan, pendengaran, perasaan, dan keyakinan) melalui akal atau poses berfikir (logika). Sedangkan pengetahuan adalah informasi yang telah diproses dan diorganisasikan untuk memperoleh pemahaman, pembelajaran dan pengalaman yang terakumulasi sehingga bisa diaplikasikan kedalam masalah/proses tertentu.
Jadi, ilmu pengetahuan adalah suatu sistem berbagai pengetahuan yang didapatkan dari hasil pemeriksaan-pemeriksaan yang dilakukan secara teliti dengan menggunakan metode-metode tertentu.[1]
B.  Dalil Perilaku Orang Berilmu
Artinya:
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah diwaktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az-Zumar, 39:9)


C.  Tafsir QS. Az-Zumar, 39:9
1.      Tafsir Al-Maraghi
Apakah kamu, hai orang musyrik, lebih baik keadaan dan nasibmu dari pada orang yang senantiasa menunaikan ketaatan dan selalu melaksanakan tugas-tugas ibadah pada saat-saat malam, ketika ibadah lebih berat bagi jiwa dan lebih jauh dari riya, sehingga ibadah diwaktu itu lebih dekat untuk diterima, sedang orang itu dalam keadaan takut dan berharap ketika beribadah. Tidak diragukan, bahwa jawabannya tidak perlu diterangkan. Jadi kesimpulannya itu, apakah orang yang taat itu seperti halnya orang yang bermaksiat. Kedua-duanya tentu tidak sama.
Kemudian, Allah swt, menegaskan tentang tidak ada kesamaan di antara keduanya dan memperingatkan tentang keutamaan ilmu dan betapa mulianya beramal berdasarkan ilmu. Perkataan tersebut dinyatakan dengan susunan pertanyaan untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang pertama mencapai derajat kebaikan tertinggi, sedang yang lain jatuh kedalam jurang keburukan. Dan hal itu tidaklah sulit dimengerti oleh orang-orang yang sabar dan tidak suka membantah. Kemudian Allah swt menerangkan bahwa hal tersebut hanyalah dapat dipahami oleh setiap orang yang mempunyai akal. Karena, orang-orang yang tidak tahu, seperti tela disebutkan dalam hati mereka terdapat tutup sehingga tidak dapat memahami suatu nasihat dan tidak berguna bagi mereka suatu peringatan. Jadi kesimpulannya itu, seseungguhnya yang mengetahui perbedaan antara orang yang tahu dan orang yang tidak tahu hanyalah orang yang mempunyai akal pikiran sehat, yang dia pergunakan untuk berpikir.[2]
2.      Tafsir Al-Azhar
          “Ataukah orang-orang yang bertekun di tengah malam, dalam keadaan sujud dan berdiri, karena takut akan hari akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?’ (pangkal ayat 9). Dalam susunan ini adalah jumlah kata yang tidak tertulis atau terucap, tetapi jelas di dalam makna ayat. Yaitu di antara dua macam kehidupan. Kehidupan pertama ialah yang gelisah langsung berdoa menyeru Tuhan jika malapetaka datang menimpa dan lupa kepada Allah bila bahaya telah terhindar. Ada satu kehidupan lagi, yaitu kehidupan Mu’min yang selalu tidak lepas ingatannya dari Tuhan, sehingga baik ketika berduka atau ketika bersuka, baik ketika angin taufan mengahncurkan segala bangunan sehingga banyak orang kehilangan akal atau seketika angin demikian telah mereda, langit cerah dan angin sepoi jadi gantinya, namun orang itu tetap tenang tidak kehilangan arah. Dia serentak dari tidurnya tengah malam, dia bertekun mengingat Tuhan lalu bersujud memohon ampunan dan ridha ilahi, bahkan ada yang terus qiyamul-lail, berdiri tegak mengerjakan sembahyang. Yang mendorongnya untuk bertekun, berqunut ingat akan Tuhan, sampai bersujud dan sembahyang lain tidak ialah karena takut kalau di akhirat kelak amalannya mendapat nilai yang rendah di sisi Tuhan, malahan dia mengaharapkan Rahmat Ilahi, kasih sayang Tuhan yang tidak berkeputusan dan tidak berbatas.
          Nabi disuruh oleh Tuhan menanyakan pertanyaan untuk menguatkan hujjah kebenaran; “Katakanlah! “Apakah akan sama orang-orang yang berpengetahuan dengan orang-orang yang tidak berpengetahuan?” pokok dari semua pengetahuan ialah mengenal Allah sama artinya dengan bodoh. Sebab dia tidak tahu akan ke mana diarahkannya ilmu pengetahuan yang telah didapatnya itu. “Yang akan ingat hanyalah semata-mata orang-orang yang mempunyai akal budi.” (ujung ayat 9).
          Sampai ke langit pun pengetahuan, Cuma kecerdasan otak. Belumlah dia mencukupi kalau tidak ada tuntunan jiwa. Iman adalah tuntunan jiwa yang akan jadi pelita bagi pengetahuan.
         Albab kita artikan akal budi. Dia adalah kata banyak dari lubb, yang berarti isi, atau intisari, atau teras. Dia adalah gabungan di antara kecerdasan akal dari kehalusan budi. Dia meninggikan derajat manusia.[3]
D.      Orang Berilmu dan Orang Tak Berilmu
Allah SWT membedakan antara orang yang berilmu dan orang yang jahil. Keduanya tidak sama. Terlepas dari substansi ilmu pengetahuan, yang terpenting adalah antara orang yang berilmu dan orang yang bodoh jelas tidak sama. Seperti halnya antara orang buta dan orang melihat kegelapan dan cahaya, orang yang hidup dan mati, manusia dan hewan, serta antara penghuni surga dan penghuni neraka.[4]
E.    Aplikasi dalam kehidupan
1.      Menuntut ilmu.
2.      Belajar terus menerus dan mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan.
3.      Semakin banyak ilmu yang kita dapat, janganlah sombong tetapi layaknya padi semakin berisi semakin merunduk.
4.      Berfikir kritis dalam mengahadapi segala persoalan.
5.      Semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.










BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
       Orang yang berilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam ini, dan orang yang berilmu itu sangat berbeda sekali dengan orang yang tak berilmu atau bodoh. Dan Islam sangat memberikan apresiasi yang sangat besar dan memberikan derajat yang tinggi terhadap orang yang berilmu.
       ‘Alim (orang yang mengetahui): dia ketahui kebenaran dan mau mengamalkannya serta istiqomah padanya. Sedangkan jahil (orang yang bodoh): dia ketahui kebenarannya akan tetapi ia tidak mau untuk mengamalkannya atau mereka tidak ketahui kebenran dan kebathilan juga tidak mau untuk mengetahuinya dan orang yang bisa membedakan keduanya adalah ulul albab.
B.  Saran
Dari pemaparan materi di atas tentu saja masih banyak kekurangan dalam menjelaskan materi tentang Perilaku Orang Berilmu. Untuk itu kami berharap agar pembaca juga ikut serta dalam menanggapi serta memberi saran sebagai bekal kami untuk membuat makalah yang lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.








DAFTAR PUSTAKA
Qardhawi,Yusuf i. 1998. Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan.                            Jakarta: Gema Press, 1998.
Al-Maraghi, Ahmad Musthafa. 1992. Tafsir Al-Maraghi XXIII. Semarang: CV Tohaputra.
Hamka. 1982. Tafsir Al-Azhar Juz XXIV. Jakarta: Pustaka Panjimas.


BIOGRAFI PENULIS

Nama                                  : Farah Falasifah
Tempat, Tanggal Lahir       : Pemalang, 28 Desember 1998
Jenis Kelamin                     : Perempuan
Agama                                : Islam
Status                                 : Mahasiswi
Jurusan                               : Pendidikan Agama Islam
Fakultas                              : Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Alamat                                : Jl. Kembung Rt 01/ Rw 16 Krasak Sugihwaras Kec. Pemalang                                       Kab. Pemalang
Riwayat Pendidikan           :
1.    SD Negeri 03 Tanjungsari
2.    SMP Negeri 01 Pemalang
3.    MAN Pemalang
4.    IAIN Pekalongan





[1] Yusuf Qardhawi, Al-Qur’an Berbicara tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Gema Press, 1998), hlm.88-91
[2] Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi XXIII, (Semarang: CV Tohaputra, 1992), hlm. 259-261
[3] Hamka, Tafsir Al-Azhar Juz XXIV, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982), hlm. 18
[4] Yusuf Qardhawi, Op.Cit., hlm. 93

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "KARAKTERISTIK ORANG BERILMU : Perilaku Orang Berilmu "

Posting Komentar