TUJUAN PENDIDIKAN “DIVERSIFIKASI” : Merubah Keadaan (Nasib)


Tujuan Pendidikan “Diversifikasi”
Merubah Keadaan (Nasib)
QS. AR-RA’D 13 : 11
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu : Muhammad Hufron,M.S.I

Disusun oleh:
Supriyanto : 2117145
Kelas : D

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM (IAIN)
PEKALONGAN
2018






KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Syukur alhamdulilah penulis dapat merampungkan makalah Tafsir Tarbawi yang berjudul “Tujuan Pendidikan „Diversifikasi‟ Merubah Keadaan (Nasib)”. Tidak lupa pula kita panjatkan puji syukur kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah ke zaman yang penuh dengan teknologi ini. Dan juga saya berterima kasih kepada Bapak Muhammad Hufron, M.S.I selaku Dosen mata kuliah Tafsir Tarbawi, yang telah memberikan tugas ini kepada saya, guna melatih ketajaman dalam mengkaji ilmu tafsir tarbawi.
Penulis pun menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan adanya kritik dan saran demi perbaikan makalah yang akan kami buat dimasa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Kami berharap makalah sederhana ini dapat dipahami dan menambah wawasan bagi semua orang khususnya pembaca, Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya jika terdapat kata-kata yang kurang berkenan. Untuk itu kami mengucapkan banyak terima kasih dan semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.



Pekalongan, 16 Oktober 2018
Supriyanto








BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hidup adalah sebuah proses aktifitas manusia yang berjalam menurut waktu (disebut usia) diwarnai dengan berbagai kegiatan yang bersangkutan,sehingga akan memberikan corak atau warna mengenaikualitas seseorang memanfaatkan waktu tersebut.
Islam sebagai agama, diturunkan Allah SWT bukan hanya untuk mengisi atau menuntun manusia dalam perjalan waktu hidupnya sebagai alat peribadatan ritual saja sebagaimana persepsi kebanyakan manusia,namun juga merupakan alat bagaimana aktivitas manusia dapat dijadikan sebagai bentuk beribadatan yang mempunyai nilai dalam pandangan Allah SWT.
Allah swt juga memerintahkan kepada semua manusia untuk merubah keadaan mereka yang lebih baik dan Allah juga akan merubah keadaan mereka dari yang buruk ke yang baik begitupun sebaliknya dari yang baik ke yang tidak baik dan dari yang baik akan menjadi lebih baik dan yang buruk akan menjadi lebih buruk keadaannya(sesuai kehendak-Nya) dengan cara berusaha. Hal tersebut akan dibahas dalam makalah ini yang berjudul “Tujuan Pendidikan „Diversifikasi‟ Merubah Keadaan (Nasib)” dalam QS. Ar-Ra‟d/13 ayat 11..
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan pengertian nasib?
2. Apa dalil yang menjelaskan berusaha merubah keadaan supaya lebih baik?
3. Bagaimana yang dimaksud usaha itu wajib, hasil itu pasti ?
C. Tujuan Penulisan Makalah
1. Untuk mengetahui pengertian dari nasib.
2. Untuk dapat mengetahui dalil merubah keadaan yang lebih baik
3. Untuk dapat mengetahui usaha yang wajib dan usaha yang pasti.





BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Nasib
          Banyak manusia yang tidak bisa bisa membedakan antara nasib dan takdir, nasib bisa dirubah oleh manusia, kalaupun itu harus dengan ijin dari Yang Maha Kuasa, karena Tuhan berkata “ tidak akan kurubah nasib seseorang, ketika ia sendiri tidak mau merubahnya “, Bahasa Tuhan ini memberi isyarat bahwa Tuhan memberi ijin kepada manusia untuk merubah nasibnya dengan kerja keras dan doa. Sedangkan takdir milik Tuhan semata.      
       Takdir, adalah bahasa Tuhan. Dan itu tak bisa diubah, sudah merupakan kepastian. Dan kegagalan bukan merupakan takdir, maka bisa dirubah. Yang bisa merubahnya adalah manusia dengan izin Yang Maha Kuasa. Syaratnya adalah punya kemauan, berupaya, berusaha dan meminta izin dari Tuhan, maka “ GAGAL” bisa berubah menjadi “SUKSES”. Dengan kalam-Nya Tuhan sudah memberi isyarat, bahwa manusia punya hak untuk merubahnya. Pada sisi lain Tuhan, tidak megijinkan manusia untuk putus asa, dan itu sudah dicontohkan ketika penciptaan manusia pertama Adam dan Hawa, ketika kegagalan dialaminya, Adam dan Hawa dengan segala kemauan, upaya dan usahanya yang tak mengenal lelah serta memohon ampun guna merubah nasibnya, akhirnya merubah “ KEGAGALAN’ menjadi “ KESUKSESAN”.
       Pengertian Nasib Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) definisi takdir adalah ketetapan, ketentuan dan nasib. Sedangkan nasib menurut KBBI adalah sesuatu yang sudah ditentukan Tuhan atas diri seseorang, takdir. Jadi, secara bahasa Indonesia sendiri makna takdir dan nasib itu similar alias sama. Untungnya kedua kata di atas adalah sama² kata serapan dari Bahasa Arab. Dalam bahasa Arab kata taqdir adalah bentuk infinitif dari kata qoddaro yuqoddiru yang artinya menentukan, menetapkan, menghukumi, sesuai dengan ketetapan dan ketentuan. Jika dikatakan taqdîru „amalin artinya waznuhu hasaba qîmatihi (menimbang amalan tersebut sesuai dengan bobotnya) Sedangkan kata nasib dalam bahasa Arab, berasal dari kata nashîb نصب yang artinya adalah bagian dari sesuatu/bagian sesuatu yang telah ditentukan baginya. Kedua kata di atas, taqdir dan nashib terdapat dalam Al-Qur‟ân. Dalam Q.S Al Baqarah.
       Tuhan sudah memberi isyarat, bahwa nasib manusia bisa dirubah ketika manusia  mempunyai kemauan, usaha dan upaya tak kenal lelah. Tuhanpun telah memberi contoh terhadap kegagalan yang dialami oleh Adam dan Hawa. Tuhan memberi hak pada manusia untuk “ SUKSES”, Tuhanpun memberi hak untuk merubah “GAGAL” menjadi “SUKSES”. Adanya bahasa Tuhan, memperjelas bahwa setiap orang punya hak untuk merubah “KEGAGALAN “ menjadi “ KESUKSESAN”.[1]
B. Dalil Merubah Nasib
Nash QS. Ar-Ra‟d / 13 ayat 11
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ
Artinya: “ Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran,dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”.(Qs. Ar-Ra‟d/ 13 : 11)
i) Tafsir Al-Mishbah
Siapaun,baik yang bersembunyi dimalam hari atau berjalan terang-terangan di siang hari,masing-masing ada baginya pengikut-pengikut,yakni malaikat-malaikat atau makhluk yang selalu mengikutinya secara bergiliran,di hadapannya dan juga di belakangnya,mereka,yakni para malaikat itu menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum dari positif ke negatif atau sebaliknya dari negatif ke positif sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka,yakni sikap mental dan pikiran mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,tetapi ingat bahwa Dia tidak menghendakinya kecuali jika manusia mengubah sikapnya terlebih dahulu. Jika Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,maka ketika itu berlakulah ketentuan-Nya yang berdasar sunnatullah atau hukum-hukum kemasyarakatan yang ditetapkan-Nya bila itu terjadi,maka tidak ada yang dapat menolaknya dan pastilah sunnatullah menimpanya;dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka yang jatuh atasnya ketentuan tersebut selain Dia.[2]


iii) Tafsir Ibnu Katsir
“Bagi mnusia ada malaikat –malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya” . yakni seorang hamba memiliki sejumlah malaikat yang datang bergantian. Malaikat itu menjaganya malam dan siang serta memeliharanya dari aneka keburukan dan kejadian. Malaikat lainpun datang bergantian untuk menjaga amal hamba baik yang baik maupun yang buruk.
“ Mereka menjaganya atas perintah Allah.” Mereka menjaganya atas perintah Allah dengan seizin Allah .
“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mreka merubah yang ada pada diri mereka sendiri.“ ibnu Abbas Hatim meriwayatkan dari ibrahim, dia berkata: Allah mewahyukan kepada salah satu seorang nabi Bani Israil : katakanlah kepada kaummu ,” Tidaklah penduduk suatu negeri dan tidaklah penhuni suatu rumah ang berada dalam ketaatan kepada Allah,kemudian mereka beralih kepada kemaksiatan terhadap Allah melainkan Allah mengalihkan dari mereka apa yang mereka cintai kepada apa yang mereka benci.” Kemudian ibrahim berkata: pembenaran atas pernyataan itu terdapat pada kitab Allah ,”sesungguhnya Allah tidah mengubah keadaan suatukaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.”[3]
C. Cara merubah Nasib
Sudah dijelaskan  oleh Allah dalam Qs. Ar Rad ayat 11 “Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum kecuali , kaum tersebut merubah keadaan/nasib itu sendiri. Ayat diatas dapat diamil kesimpulan bahwa nasib itu bisa dirubah melalui
1.      Iradah (Tekad/Kemauan kuat)
            Ibn Taimiyah menjelaskan tentang iradah  atau tekad yang kuat akan menghasilkan aktifitas bila disertai dengan kemampuan karena apabila iradah yang mantap telah dimiliki dan disertai kemampuan yang sempurna pasti wujud pula aktifitas yang dikehendaki dan tersingkir penghalang[4].
2.      Ikhtiar
            Kata ikhtiarberasal dari bahasa arab yakni ikhtaara yang artinya memilih.dalam bentuk kata kerja ikhtiar berati pilihan atau memilih hal yang baik.
Sedangkan menurut istilah ikhtiar adalah usaha seorang hamba untuk memperoleh apa yang dikehendakinya atau usaha memenuhi kebutuhan dalam hidupnya,baik material,spiritual,kesehatan,dan masa depannya dalam usaha mendapatkan yang terbaik,agar tujuan hidupnya selamat sejahtera di dunia dan di akhirat.[3]
3.      Upaya dan Usahanya Yang Tak Mengenal Lelah
            Tuhan, tidak megijinkan manusia untuk putus asa, dan itu sudah dicontohkan ketika penciptaan manusia pertama Adam dan Hawa, ketika kegagalan dialaminya, Adam dan Hawa dengan segala kemauan[5]

























BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari makalah ini yang membahas tentang “Merubah Keadaan (Nasib)” dengan sub judul “ada usaha nyata untuk merubah nasib” yang termuat dalam Al-Qur‟an surat Ar-ra‟d/13 ayat 11 dapat disimpulkan bahwa setiap makhluk ciptaan Allah itu diawasi dan dijaga oleh dua malaikat yaitu malaikat yang berada disamping kanan dan kiri ( malaikat pencatat amal) serta dua malaikat lain menjaga dan memeliharanya (didepan dan dibelakangnya). Jadi semua makhluk ciptaan Allah itu diapit oleh empat malaikat di waktu siang hari dan empat malaikat di waktu malam hari secara bergantian.yakni dua malaikat penjaga dan dua malaikat pencatat amal dengan seizin Allah SWT. Kemudian Allah juga memerintahkan kepada makhluk ciptaan-Nya supaya berusaha untuk merubah nasibnya baik dari yang buruk ke yang jahat begitupun sebaliknya dari yang baik ke yang buruk atas kehendak-Nya. Dan jika Allah menghendaki keburukan maka tidak ada seorangpun yang dapat menolongnya.
Kita sebagai seorang muslim sudah sepatutnya harus mempercayai kepada takdir yang telah ditetapkan Allah SWT kepada kita ,maka kita tidak boleh menyerah saja kepada takdir. Kita mesti tahu bahwa Allah tidak akan merubah nasib kita,kalau kita sendiri tidak berusaha merubahnya. Oleh sebab itu, maka didalam segala kegiatan hidup,kita tidak pernah melepaskan ingatan kita kepada Tuhan,sehingga apapun yang bertemu ,namun jiwa kita telah bersedia menghadapinya dan tidak ada pelindung kita selain daripada Allah SWT .











DAFTAR PUSTAKA

Shihab Quraish, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta : Lentara Hati, 2002)
https://alwasathiyah.com/2017/06/12/qa-perbedaan-antara-takdir-dan-nasib/ diakses pada hari rabu, 3 okktober 2018, pukul 22:29
bahreesy, salim. 1988, terjemah singkat tafsir ibnu katsir, Surabaya: bina ilmu



[1] https://alwasathiyah.com/2017/06/12/qa-perbedaan-antara-takdir-dan-nasib/ diakses pada hari rabu, 11 okktober 2018, pukul 22:29
[2] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, ( Lentera Hati, Jakarta, 2002), hlm.564-565.
[3] Salim bahreesy, terjemah singkat ibnu katsir, (Surabaya: bina ilmu, 1988) hal 430-433
[4] Ibid hal 571
[5] Salim bahreesy, terjemah singkat ibnu katsir, (Surabaya: bina ilmu, 1988) hal 455

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "TUJUAN PENDIDIKAN “DIVERSIFIKASI” : Merubah Keadaan (Nasib) "

Posting Komentar