Makalah : BIMBINGAN BELAJAR DAN PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN PESERTA DIDIK


BIMBINGAN BELAJAR DAN PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN PESERTA DIDIK
Disusun guna memenuhi tugas
Mata kuliah: Bimbingan Konseling
Dosen pengampu: M. Fajar, M,Pd.I



Disusun oleh:
Melisa Fiskarini                  (2021116259) 
Tegar Aqida                        (2021116219) 
Nidaul Azza Khusna           (2021116343) 
Subhania Restu Putri           (2021116353)

Kelas: G
FAKULTAS TARBIYAH  DAN ILMU KEGURUAN/PAI
INSTITUTAGAMA ISLAM NEGERI
PEKALONGAN
2018

 
 
 
 
 
 
 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Bimbingan belajar merupakan bagian integral dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Bimbingan sebagai bagian dari pendidikan memilikitujuan khusus, yaitu membantu individu mengembangkan dirinya secaraoptimal sehingga ia dapat menemukan dirinya dan dapat mengadakan pilihankeputusan dan penyesuaian diri secara efektif. Oleh sebab itu bimbinganbelajar wajib dilaksanakan bagi setiap sekolah dalam upaya mencapaikeberhasilan belajar siswa secara keseluruhan. Dalam kenyataannya, pada saat siswa melakukan kegiatan belajar sebagai bagian proses pembelajaran banyaktimbul permasalahan.
Layanan bimbingan dan konseling diberikan oleh guru pembimbing/ guru bimbingan dan konseling (BK). Tugas guru pembimbing terkait dengan pengembangan diri siswa yang sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, dan kepribadian yang dimiliki siswa. Dengan pemberian layanan bimbingan yang tepat dan continue diharapkan siswa mampu memahami kelebihan dan kekurangannya, mandiri dan mampu mengoptimalkan potensi, bakat, dan minat yang dimiliki.

B.     Rumusan Masalah
1.      Pengertian bimbingan belajar ?
2.      Pengertian problematika pembelajaran ?
3.      Faktor terjadinya problematika pembelajaran ?
4.      Cara penanganan problematika pembelajaran ?
C.    Tujuan Pembuatan Makalah
1.      Mengetahui dan Memahami Pengertian Bimbingan Belajar.
2.      Mengetahui Pengertian, Faktor Terjadinya, dan Cara Penanganan Problematika Pembelajaran.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Bimbingan Belajar
Secara etimologis kata bimbingan merupakan terjemahan dari kata “Guidance” berasal dari kata kerja “to guide” yang mempunyai arti “menunjukkan, membimbing, menuntun, ataupun membantu”. Sesuai dengan istilahnya, maka secara umum bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan atau tuntunan. Namun, meskipun demikian tidak berarti semua bentuk bantuan atau tuntunan adalah bimbingan.
Definisi bimbingan yang pertama dikemukakan dalam Year’s Book of Education 1955, yang menyatakan:
Guidance is a process of helping individual through their own effort to discover and develop their potentialities both for personal happiness and social usefulness.
Bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.
Dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah merupakan proses pemberian bantuan yang terus menerus dari seorang pembimbing yang telah dipersiapkan kepada individu yang membutuhkannya dalam rangka mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya secara optimal dengan menggunakan berbagai macam media dan teknik bimbingan dalam suasana asuhan yang normatif agar tercapai kemandirian sehingga individu dapat bermanfaat baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya.[1]
Menurut Gagne, dalam buku The Condition of Learning menyatakan bahwa: “belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa hingga sedemikian rupa hingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi”. Sedangkan menurut Morga dalam bukunya Introduction of phychology belajar adalah setiap perubahan yang relative menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.[2] Sehingga dapat disimpulkan belajar adalah suatu perubahan dalam tingkah laku yang dipengaruhi oleh situasi stimulus yang dapat mempengaruhi kepada tingkah laku yang lebih baik atau kepada tingkah laku yang lebih buruk.
Jadi dapat disimpulkan pengertian antara keduanya bahwa bimbingan belajar adalah upaya untuk membantu siswa mengatasi masalah belajarnya dan untuk mengatasi agar bisa belajar lebih efektif. Selain itu bimbingan belajar juga mempunyai tujuan yaitu untuk membantu siswa agar mencapai perkembangan yang optimal sehingga tidak menghambat perkembangan belajarnya, serta agar siswa memilki kemandirian kemandirian dalam belajar.

B.     Pengertian Problematika Pembelajaran
Istilah problema/problematika berasal dari bahasa Inggris yaitu "problematic" yang artinya persoalan atau masalah. Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia, problema berarti hal yang belum dapat dipecahkan yang  menimbulkan permasalahan.[3]Adapun masalah itu sendiri “adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik, agar tercapai hasil yang maksimal”. Syukir  mengemukakan problematika adalah suatu  kesenjangan yang mana  antara harapan dan kenyataan yang diharapkan dapat menyelesaikan atau dapat diperlukan.[4]
Sedangkan secara sederhana istilah pembelajaran sebagai upaya untuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang melalui berbagai upaya (efforts) dan berbagai strategi, metode dan pendekatan kearah pencapaian tujuan yang telah direncanakan. Pembelajaran dapat juga dikatan sebagai kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional untuk membuat peserta didik belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar.  Dengan kata lain bahwa pembelajaran merupakan upaya membelajarkan peserta didik untuk belajar. Kegiatan ini mengakibatkan peserta didik mempelajari sesuatu dengan cara yang lebih efektif dan efesien.
Dari pengertian tentang “Problematika dan Pembelajaran” yang telah disebutkan diatas, bahwa problematika pembelajaran adalah kesukaran atau hambatan yang menghalangi terjadinya belajar. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian problematika pembelajaran adalah kendala atau persoalan dalam proses belajar mengajar yang harus dipecahkan agar tercapai tujuan yang maksimal.

C.    Faktor Terjadinya Problematika Pembelajaran
Dimyati dan Sudjiono mengemukakan bahwa problematika pembelajaran berasal dari dua faktor yaitu faktor intern dan ekstern.
1.   Faktor Intern
Dalam belajar siswa mengalami beragam masalah, jika mereka dapat menyelesaikannya maka mereka tidak akan mengalami masalah atau kesulitan dalam belajar. Terdapat berbagi faktor intern dalam diri siswa, yaitu:
a.    Sikap Terhadap Belajar
Sikap merupakan kemampuan memberikan penilaian tentang sesuatu, yang membawa diri sesuai dengan penilaian. Adanya penilaian tentang sesuatu, mengakibatkan terjadinya sikap menerima, menolak, atau mengabaikan.
b.      Motivasi belajar
Motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar.
c.       Konsentrasi belajar
Konsentrasi belajar merupakan kemampuan memusatkan perhatian pada pelajaran.
d.        Kemampuan mengolah bahan belajar
Merupakan kemampuan siswa untuk menerima isi dan cara pemerolehan ajaran sehingga menjadi bermakna bagi siswa. Dari segi guru, pada tempatnya menggunakan pendekatan-pendekatan keterampilan proses, inkuiri, ataupun laboratori.
e.         Kemampuan menyimpan perolehan hasil belajar
Menyimpan perolehan hasil belajar merupakan kemampuan menyimpan isi pesan dan cara perolehan pesan. Kemampuan menyimpan tersebut dapat berlangsung dalam waktu pendek yang berarti hasil belajar cepat dilupakan, dan dapat berlangsung lama yang berarti hasil belajar tetap dimiliki siswa.
f.          Menggali hasil belajar yang tersimpan
Menggali hasil belajar yang tersimpan merupakan proses mengaktifkan pesan yang telah diterima. Siswa akan memperkuat pesan baru dengan cara mempelajari kembali, atau mengaitkannya dengan bahan lama.
g.         Kemampuan berprestasi 
Siswa menunjukkan bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar atau mentransfer hasil belajar.   Dari pengalaman sehari -hari di Sekolah bahwa ada sebagian siswa yang tidak mampu berprestasi dengan baik.
h.      Rasa percaya diri siswa
Dalam proses belajar diketahui bahwa unjuk prestasi merupakan tahap pembuktian “perwujudan diri” yang diakui oleh guru dan teman sejawat siswa.
i.           Intelegensi dan keberhasilan belajar
Dengan perolehan hasil belajar yang rendah, yang disebabkan oleh intelegensi yang rendah atau kurangnya kesumgguhan belajar, berarti terbentunya tenaga kerja yang bermutu rendah.
j.        Kebiasaan belajar
Dalam kegiatan sehari-hari ditemukan adnya kebiasaan yang kurang baik. Kebiasaan belajar tersebut antara lain: belajar diakhir semester, belajar tidak teratur,  menyia-nyiakan kesempatan belajar, bersekolah hanya untuk bergengsi, datang terlambang bergaya pemimpin dam lain sebagainya.
k.         Cita-cita siswa
Dalam rangka tugas perkembangan, pada umumnya setiap anak memiliki cita-cita. Cita-cita merupakan motivasi intrinsik, tetapi gambaran yang  jelas tentang tokoh teladan bagi siswa belum ada. Akibatnya siswa hanya berperilaku ikut-ikutan.
2.   Faktor Ekstern
Ditinjau dari segi siswa, maka ditemukan beberapa faktor eksternal  yang berpengaruh pada aktivitas belajar. Faktor- faktor eksternal tersebut adalah sebagai berikut:
a)         Guru sebagai pembina siswa dalam belajar
Sebagai pendidik, guru memusatkan perhatian pada kepribadian siswa, hususnya berkenaan dengan kebangkitan belajar. Kebangkitan belajar tersebut merupakan wujud emansipasi diri siswa. Sebagai   guru, ia bertugas mengelola kegiatan belajar siswa di Sekolah. Guru juga menumbuhkan diri secara profesional dengan mempelajari profesi guru sepanjang hayat.
b)      Sarana dan prasarana pembelajaran
Lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Lengkapnya sarana dan prasarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik. Hal itu tidak berarti bahwa lengkapnya sarana dan prasarana menentukan jaminan terselenggaranya proses belajar yang baik.
c)      Kebijakan penilaian
Keputusan hasil belajar merupakan puncak harapan siswa. Secara kejiwaan, siswa terpengaruh atau tercekam tentang hasil belajarnya. Oleh karena itu, Sekolah dan guru diminta berlaku arif dan bijak dalam menyampaikan keputusan hasil belajar siswa.
d)     Lingkungan sosial siswa di sekolah
Siswa siswi di Sekolah membentuk suatu lingkungan sosial siswa. Dalam lingkungan sosial tersebut ditemukan adanya kedudukan dan peranan tertentu. Ada yang menjabat sebagai pengurus kelas, ketua kelas, OSIS dan lain sebagainya. Dalam kehidupan tersebut terjadi pergaulan seperti hubungan akrab, kerja sama, bersaing, konflik atau perkelahian.[5]

D.    Cara Penanganan Problematika Pembelajaran
Menghadapi masalah itu, ada kecendrungan tidak semua siswa mampu memecahkannya sendiri. Seseorang mungkin tidak mengetahui cara yang baik untuk memecahkan masalah sendiri. Ia tidak tahu apa sebenarnya masalah yang dihadapi. Ada pula seseorang yang tampak seolah tidak mempunyai masalah, padahal masalah yang dihadapinya cukup berat. Agar bimbingan dapat lebih terarah dalam upaya menemukan siswa yang mengalami problematika belajar, maka perlu diperhatikan langkah-langkah berikut :
1.      Indentifikasi
Adalah suatu kegiatan yang diarahkan untuk menemukan siswa yang mengalami kesulitan belajar, yaitu mencari informasi tentang siswa dengan melakukan :
a)      Data dokumentasi hasil belajar mereka
b)      Menganalisis absensi siswa di dalam kelas
c)      Mengadakan wawancara dengan siswa
d)     Teruntuk memberi data tentang kesulitan belajar atau permasalahan yang sedang dihadapi
2.      Diagnosis
Adalah keputusan atau penentuan mengenai hasil  dari pengelolaan data tentang siswa yang mengalami  kesulitan belajar dan jenis kesulitan yang dialami siswa. Diagnosis ini dapat berupa hal-hal sebagai berikut :
a)      Keputusan mengenai hasil kesulitan belajar siswa
b)      Keputusan mengenai jenis mata pelajaran apa yang mengalami kesulitan belajar
3.      Prognosis
Prognosis merujuk pada aktivitas penyusunan rencana atau program yang diharapkan dapat membantu mengatasi masalah kesulitan belajar siswa.
4.      Terapi
Terapi di sini adalah pemberian bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar sesuai dengan program yang telahdisusun pada tahap prognosis.Bentuk terapinya antara lain :
a)      Bimbingan belajar kelompok
b)      Bimbingan belajarin dividu
c)      Pengajaran remedial
d)     Pemberian bimbingan pribadi
e)      Alih tangan kasus
5.      TindakLanjut
Adalah usaha untuk mengetahui keberhasilan bantuan yang telah diberikan kepada siswa dan tindak lanjut yang didasari evaluasi.[6]






BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Bimbingan dan konseling merupakan proses yang berkesinambungan dalam membantu individu agar dapat mengarahkan dan mengembangkan dirinya secara optimal sesuai kemampuannya dan agar individu memahami diri dan menyesuaikan dengan lingkungannya. Di sekolah, bimbingan dan konseling secara tidak langsung menunjang tujuan pendidikan dengan menangani masalah dan memberikan layanan secara khusus pada siswa, agar siswa dapat mengembangkan dirinya secara penuh.
Tujuan bimbingan di sekolah ialah membantu siswa dalam mengatasi kesulitan belajar. Megatasi kebiasaan yang tidak baik dalam belajar dan hubungan sosial. Mengatasi kebiasaan yang tidak baik dalam belajar dan hubungan sosial, mengatasi kesulitan dengan kesehatan jasmani, masalah kelanjutan studi, kesulitan yang berhubungan dengan perencanaan dan pemilihan pekerjaan.
B.     Saran
Demikian pembahasan makalah ini, semoga dapat menambah wawasan bagi kita semua terutama bagi penulis. Sebagai penulis, kami sangat menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak luput dari kekhilafan dan salah, itulah kodrat manusia. Sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk perbaikan makalah  selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA
Hallen. 2002. Bimbingan dan Konseling Dalam Islam. Jakarta: Ciputat Pers

Debdikbud. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakart : Bulan Bintang

Mudjiono dan Dimyati. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Purwanto, Ngalim. 2000. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,

Syukir. 1983.  Dasar-dasar  Strategi Dakwah Islami. Surabaya: Al-Ikhlas.



[1] Hallen, Bimbingan dan Konseling Dalam Islam (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal. 3-8.
[2]Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), hlm. 84-85.
[3]Debdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia(Jakarta : Bulan Bintang, 2002), hal. 276.
[4]Syukir,  Dasar-dasar  Strategi Dakwah Islami(Surabaya : Al-Ikhlas, 1983), hal. 65.
[5]Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran(Jakarta: Rineka Cipta, 2010),  hal. 235-254
[6]H. Partowisatro, Diagnosa dan Pemecahan Problematika Belajar I, (Jakarta: Erlangga, 1986), hlm. 121-122.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : BIMBINGAN BELAJAR DAN PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN PESERTA DIDIK"

Posting Komentar