Makalah : PENDEKATAN ANTROPOLOGI


MAKALAH
PENDEKATAN ANTROPOLOGI
Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas 
Mata kuliah : Metodologi Studi Islam
Dosen Pengampu : Fairuzzabady Al Baha’i, M.Pd.I



Disusun oleh :

1.   Khomsatun Rosalina               (2117063)
2.   Umi Sa’adah                           (2117022)
3.   Dwi Ari Ariyanti                     (2117118)
4.   Mustofa                                   (2117206)
5.   Khoirudin                                (2117285)
6.   Diajeng Kurnia NA                 (2117134)
7.   Fadilaturrohmah                      (2117302)




Kelas E

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2018








 

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Pemahaman isi Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama ajaran Islam tidak lagi terbatas pada pemahaman tekstual/tersurat saja, tetapi perlu dikembangkan ke arah pemahaman yang kontekstual/tersirat. Pendekatan yang digunakan dalam studi Islam tidak lagi hanya menggunakan pendekatan normatifitas saja, tapi  perlu  menggunakan  pendekatan-pendekatan  baru yang sesuai dengan perkembangan pemikiran, dinamika sosial bahkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Agar Islam dapat diterima, dipelajari, dipahami dan diamalkan  ajarannya oleh umat manusia yang berbeda-beda suku, adat istiadat, ras, bahasa, letak geografis, dan lainnya, maka perlu tindakan nyata yang lebih arif dan bijaksana dari para ilmuwan Islam.
Salah satu pendekatan yang perlu diterapkan dalam studi Islam adalah pendekatan antropologi. Antropologi seperti semua disiplin ilmu pengetahuan lainnya, harus membebaskan dirinya dari visi yang sempit. Ia harus mempelajari sesuatu yang baru, sederhana, tetapi kebenaran yang primordinal dari semua ilmu pengetahuan yaitu kebenaran pertama Islam. 
Antropologi sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dengan dibekali oleh pendekatan yang holisik dan komitmennya tentang manusia, sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut. 
1.      Bagaimana definisi dari antropologi dan perkembangannya?
2.      Bagaimana pengertian pendekatan antropologi?
3.      Apa saja objek kajian pendekatan antropologi?
4.      Bagaimana pendekatan antropologi dalam studi Islam?
5.      Bagaimana cara kerja pendekatan antropologi?
6.      Bagaimana kelebihan dan kekurangan pendekatan antropologi?

C.  Tujuan
1.      Untuk mengetahui definisi antropologis
2.      Untuk mengetahui definisi pendekatan antropologis
3.      Untuk mengetahui objek pendekatan antropologis
4.      Untuk mengetahui pendekatan antropologi dalam studi Islam
5.      Untuk mengetahui cara kerja pendekatan antropologis
6.      Untuk kelebihan dan kekurangan pendekatan antropologi












BAB II
PEMBAHASAN
A.      PENGERTIAN ANTROPOLOGI
Antropologi terdiri dari kata Antropos dan logos. Antropos berarti manusia sedangkan Logos berarti Ilmu. Dengan kata lain Antropologi diartikan sebagai ilmu tentang manusia. Secara terminologi, antropologi diartikan sebagai ilmu tentang manusia khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat dan kepercayaan pada masa lampau.[1]
Adapun definisi lain yang dikemukakan oleh pakar antropologi, setidaknya antara lain adalah menurut James I. Peacock, pengertian antropologi itu menitik beratkan pada aspek pemahaman kemanusiaan dalam bentuk keanekaragaman secara menyeluruh. Dalam antropologi termasuk didalamnya masalah yang menyangkut biologi, ekonomi, sosiologi, estetika, dan politik.
Perkembangan Antropologi dibagi menjadi 4 fase, yakni ;
1)      Fase pertama (sebelum abad 18)
Sejak abad 15 hingga permulaan abad ke 16, bangsa eropa menularkan pengaruh besar terhadap berbagai suku, bangsa, masyarakat hingga budaya setempat. Mereka melakukan penjajahan tiga benua, afrika, asia, dan amerika. Ketika bangsa eropa menemukan suatu hal yang aneh, suatu hal-hal yang baru ditempat jajahanya. Mereka meluncurahkan pengalaman-pengalaman yang mereka dapat ke sebuah tulisan. Kimpulan-kumpulan tulisan itu disebut Etnographi. Terdapat beberapa pendapat dalam segi sudut pandang seseorang dalam  memaknainya. Mulai dari yang beranggapan mereka (bangsa yang dijajah) adalah makhluk liar hingga sebutan-sebutan keturunan iblis dilontarkan. Ada juga yang mencoba mengumpulkan barang antik lalu mengumpulkannya untuk diperlihatkan ke semua orang.
2)      Fase kedua (sekitar abad 19)
Pada pertengahan abad ke 19 ini, antropologi lebih condong digunakan untuk mengklafikasikan tingkat-tingkat budaya dengan meniliti sejarah penyebaran kebudayaan-kebudayaan di muka bumi. Orang eropa menganggap kebudayaan bangsa-bangsa diluar eropa adalah bangsa yang kuno. Dengan mempelajarinya sama halnya mecari tahu sejarah penyebaran kebudayaan manusia. Masyakat dan kebudayaan manusia berevolusi dengan sangat lambat hingga memerlukan waktu yang sangat lama.
3)      Fase ketiga (permulaan abad 20)
Pada permulaan abad 20, bahan-bahan etnografi lebih difahami lagi demi mengetahui seluk-beluk satu bangsa yang mempelajari kelemahan-kelemahannya lalu menaklukannya. Masa ini memperlihatkan bahwa disiplin ilmu antropologi berperan aktif sebagai ilmu terapan. Tujuannya hanya untuk mengetahui pengertian masyarakat masa kini yang kompleks dan berfungsi untuk menundukan bangsa-bangsa lain seperti benua amerika, asia dan juga afrika yang sudah ada dalam genggaman eropa barat.
4)      Fase keempat (setelah tahun 1930-an)
Pada masa ini perkembangan antropologi bertambah pesat dan luas. Bertambahnya pengetahuan yang lebih teliti  dan letajaman dalam metode ilmiahnya sangat mengesankan. Adanya perkembangan yang pesat ini mengakibatkan hilangnya sedikit demi sedikit masyarakat primitif dan kebudayaan-kebudayaan kuno.
Antropologi dimasa ini berperan dalam dua hal yaitu, dalam bidang akademik dan juga tjuan praktis. Tujuan dalam bidang akademiknya berusaha untuk mencapai pengertian manusia dengan mempelajari keragaman bentuk fisik, masyarakat dan kebudayaanya. Sedangkan tujuan praktisnya adalah mempelajari, memahami dan membangun masyarakat suku bangsa.[2]

B.       PENDEKATAN ANTROPOLOGI
Menurut Parsudi Suparlan, makna dari pendekatan sama dengan metodologi yaitu sudut pandang atau cara melihat dan memperlakukan sesuatu yang menjadi perhatian atau masalah yang dikaji. Adapun maksud pendekatan di sini ialah cara pandang atau paradigma yang terdapat di dalam suatu bidang ilmu yang kemudian akan digunakan dalam memahami agama. Antropologi adalah ilmu tentang manusia dan kebudayaan. Antropologi memerhatikan terbentuknya pola-pola perilaku manusia dalam tatanan nilai yang dianut dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini kebudayaan mencakup tiga aspek yaitu pemikiran, kelakuan, dan hasil kelakuan. Kebudayaan manusia pada dasarnya adalah serangkaian aturan atau kategorisasi, serta nilai-nilai. Kebudayaan memiliki beberapa unsur, yaitu sistem bahasa, sistem sosial, dan komunikasi.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan antropologis ialah sudut pandang atau paradigma sesuatu gejala yang menjadi perhatian dengan menggunakan kebudayaan dari gejala yang dikaji tersebut sebagai acuan dalam melihat,  memperlakukan,  dan menelitinya. Pendekatan antropologis dapat diartikan sebagai upaya dalam memahami agama dengan melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Pendekatan ini diperlukan adanya, sebab banyak berbagai hal yang dibicarakan agama bisa dijelaskan dengan tuntas melalui pendekatan antropologis. dalam ajaran agama terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan melalui bantuan ilmu antropologi dengan berbagai cabangnya.[3]



C.      OBJEK KAJIAN ANTROPOLOGI
  Abdul Shomad dalam M. Amin Abdullah mengemukakan bahwa objek kajian psikologi dapat dibagi menjadi dua bidang, yaitu antropologi fisik yang mengkaji makhluk manusia sebagai organisme biologis, dan antropologi budaya dengan tiga cabangnya: arkeologi, linguistik dan  etnografi. Meski antropologi fisik menyibukkan diri dalam usahanya melacak asal usul nenek moyang manusia serta memusatkan studi pada variasi manusia, tetapi para ahli menyediakan kerangka yang diperlukan oleh antropologi budaya. Sebab tidak ada kebudayaan tanpa manusia.
a.       Keanekaragaman bentuk fisik manusia
Mengkaji dan meneliti manusia sebagai organisme biologis.bidang lain dariantropologi fisik adalah studi tentang variasi umat manusia, seperti variasi warna kulit, bentuk hidung, golongan darah.
b.      Keanekaragaman budaya sebagai hasil dari cipta , karsa dan rasa manusia.
Cipta, rasa, dan karsa adalah faktor yang menghasilkan kebudayaan. Cipta adalah kemampuan akal pikiran yang menghasilkan kebudayaan. Rasa adalah kemampuan indra yang mendorong manusia menghasilkan karya seni. Dan karsa adalah sebuah kehendak manusia terhadap kesempurnaan hidup, kemuliaan dan kebahagiaan.
Agama sebagai sebuah sistem makna yang tersimpan dalam simbol-simbol suci sesungguhnya adalah pola makna yang diwarisi manusia sebagai ethos dan juga worldview-nya. Clifford Geertz mengartikan ethos sebagai “tone, karakter dan kualitas dari kehidupan manusia yang berarti juga aspek moral  maupun  estitika  mereka.”  Bagi  Geertz  agama  telah  memberikan karakter yang khusus bagi manusia yang kemudian mempengaruhi tingkah laku kesehariannya. Di samping itu agama memberikan gambaran tentang realitas yang hendak dicapai oleh manusia. Berdasar pada pengertian ini agama sebagai ethos telah membentuk karakter yang khusus bagi manusia, yang kemudian dia bisa memenuhi gambaran realitas kehidupan (world view) yang hendak dicapai oleh manusia.[4]
       Antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam, sebagai alat untuk memahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikkan Islam yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagamaan manusia. Melihat agama di masyarakat, bagi antropologi adalah melihat bagaimana agama dipraktikkan, diinterpretasi, dan diyakini oleh penganutnya. Jadi pembahasan tentang bagaimana hubungan agama dan budaya sangat penting untuk melihat agama yang dipraktikkan. [5]
       Jika budaya tersebut dikaitkan dengan agama, maka agama yang dipelajari adalah agama sebagai fenomena budaya, bukan ajaran agama yang datang dari Allah. Antropologi tidak membahas salah benarnya suatu agama dan seperangkatnya, seperti kepercayan, ritual dan kepercayaan kepada yang sakral. Wilayah antropologi hanya terbatas pada kajian fenomena yang muncul. Menurut Atho Mudzhar , ada lima fenomena agama yang dapat dikaji, yakni:
1)      Scripture atau naskah sumber ajaran dan simbol agama.
2)      Para penganut atau pemimpin atau pemuka agama, yakni sikap, perilaku dan penghayatan para penganutnya.
3)      Ritus, lembaga dan ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan, dan waris.
4)      Alat-alat seperti masjid, gereja, lonceng , peci dan semacamnya.
5)      Organisasi keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Gereja Protestan, Syi’ah dan lain-lain.
Kelima fenomena diatas dapat dikaji dengan pendekatan antropologi, karena memiliki unsur-unsur budaya dari hasil pemikiran ataupun kreasi manusia dan merupakan praktik dalam kehidupan manusia.[6]
D.      PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM STUDI ISLAM
Dengan mempelajari antropologis kita bisa menyadari keragaman budaya umat manusia dan pengaruh dalam pendidikan. Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.
Pertautan antara agama dan realita budaya dimungkinkan terjadi karena agama tidak berada dalam realita yang vakum selalu original. Mengingkari keterpautan agama dengan realitas budaya berarti mengingkari realitas agama sendiri yang selalu berhubungan dengan manusia, yang pasti dilingkari oleh budayanya. Pada saat manusia melakukan interpretasi terhadap ajaran agama, maka mereka dipengaruhi oleh lingkungan budaya primodial yang telah melekat didalam dirinya. [7]
Abudin Nata mengungkapkan adanya banyak keterkaitan agama dengan beberapa hal yang menyangkut tentang manusia. Diantaranya:
1.      Adanya hubungan antara agama yang berkolerasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat.
2.      Hubungan positif antara agama dengan ekonomi dan politik. Masyarakat dengan golongan kurang mampu lebih tertarik pada gerakan menjanjikan perubahan tatanan kemasyarakatan. Sedangkan golongan atas cenderung mempertahankan tatanan kaum mapan dalam hal ekonomi untuk keuntungan pihaknya masing-masing.
3.      Agama mempunyai hubungan dengan mekanisme pengorganisasian dalam masyarakat. Misalnya pembagian klasifikasi sosial masyarakat Muslim di Jawa menjadi 3 yaitu santri, priyayi, dan abangan.
4.      Melalui pendekatan antropologis fenomenologis terdapat hubungan antara agama dan negara. Seperti di Indonesia mayoritas beragama Islam, tetapi menjadikan pancasila sebagai asas tunggal.
5.      Adanya keterkaitan antara agama dengan psikoterapi, seperti pendapat Segmun Freud yang menghubungkan agama dengan Oedipus Complex, yakni pengalaman infantil seorang anak yang tidak berdaya dihadapan kekuatan dan kekuasaan bapaknya.[8]

E.       CARA KERJA PENDEKATAN ANTROPOLOGI
Pendekatan antropologi lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partitipatif. Dari sini timbul kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya induktif yang mengimbangi pendekatan deduktif sebagaimana digunakan dalam pengamatan sosiologis. Penelitian antropologis yang induktif dan grounded, yaitu turun ke lapangan tanpa berpijak pada, atau setidak-tidaknya dengan upaya membebaskan diri dari kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak sebagaimana yang dilakukan dibidang sosiologi dan ekonomi yang menggunakan model matematis, banyak juga memberi sumbangan kepada penelitian historis.[9]
Menurut Amin Abdullah, cara kerja yang di dalam hal ini  bisa kita artikan  sebagai langkah dan tahapan  pendekatan antropologi dalam studi Islam memiliki empat  ciri fundamental yang meliputi:
1.      Bercorak descriptive, bukannya normative.
Pendekatan antropologi bermula dan diawali dari kerja lapangan (field work), berhubungandengan orang, masyarakat, kelompok setempat yang diamati dan diobservasi dalam jangka waktu yang lama dan mendalam. Inilah yang biasa disebut dengan thick description (pengamatan dan observasi di lapangan yang dilakukan  secara serius, terstruktur, mendalam dan  berkesinambungan). Thick description dilakukan dengan cara antara lain Living in, yaitu hidup bersama masyarakat yang diteliti, mengikuti ritme  dan pola  hidupsehari- hari mereka dalam  waktu yang cukup lama.
2.      Local practices, yaitu  pendekatan antropologi disertai praktik konkrit dan nyata di lapangan.Praktik hidup yang dilakukan sehari- hari, agenda mingguan, bulanan dantahunan, lebih- lebih ketika  - hari atau peristiwa-peristiwa penting dalam menjalani  kehidupan. Seperti ritus-ritus dan amalan-amalan saat terjadinya peristiwa kehidupan, misalnya kelahiran, perkawinan, kematian, pemakaman, dll.
3.      Keterkaitan antar berbagai domain kehidupan  secara utuh (connections across social domains)`
Hubungan antara wilayah ekonomi, social, agama, budaya  dan politik. Kehidupan tidak  dapat dipisah- pisah. Keutuhan dan saling keterkaitan antar berbagai domain kehiduan manusia. Hampir-hampir tidak ada  satu domain wilayah kehidupan yang dapat  berdiri sendiri,  terlepas dan  tanpa  terkait dan terhubung  dengan yang lainnya.
4.      Comparative (berbandingan)
Artinya studi dan pendekatan antropologi memerlukan perbandingan dari berbagai tradisi, social budayadan agama- agama.[10]
                        Meskipun menyebut local practise untuk era globalisasi sekarang adalah debatable, tetapi  ada  empat  rangkaian  tindakan  keagamaan yang perlu dicermati oleh  penelitian antropologi. Pertama adalah  seseorang  dan atau kelompok  melakukan praktik- praktik  local  dalam mata  rantai  tindakan keagamaan yang terkait  dengan  dimensi social, ekonomi, politik  dan budaya. Sebagai contoh ada ritus baru yang disebut“walimah al safar” , yang biasa dilakukan orang sebelum berangkat haji. Apa makna dan praktik tindakan local  ini dalam keterkaitannya dengan agama, sosial, ekonomi, politik dan  budaya? Religious Ideas yang diperoleh dari teks atau ajaran pasti ada di balik tindakan  ini.  Bagaimana tindakan ini membentuk  emosi dan menjalankan fungsi sosial dalam kehiddupan yang luas?. Bgaiamana Walimah safar yang tidak saja dilakukan di rumah  tetapi juga  dilaksanakan di pendopo kabupaten? Oleh karenanya, keterkaitan dan keterhubungan antara local practices, religious ideas, emosi individu dan kelompok maupun kepentingan sosial- politik tidak dapat dihindari. Semuanya membentuk satu tindakan yang utuh.
F.       KELEBIHAN DAN KEKURANGAN PENDEKATAN ANTROPOLOGI
1.    Kelebihan
Kelebihan yang terdapat pada pendekatan antropologi dalam studi Islam, yaitu:
a.    Pendekatan antropologi bercorak deskriptif dan dengan melakukan pengamatan langsun, sehingga peneliti mengetahui dengan sebenarnya praktik keberagaman (local practices) praktik yang nyata di suatu tempat.
b.    Antropologi selalu mencari keterkaitan atau hubungan antara berbagai domain kehidupan secara lrbih utuh dan melakukan perbandingan dari berbagai tradisi.
c.    Dengan antrropologi, dapat diteliti asal-usul agama, dan mengerti cara berpikir manusia yang menganut agama tersebut pada zamannya. sehingga dengan melakukan kajian lewat agama dapat diketahui pola berpikir manusia pada zaman dahulu, karena pasti aa keterkaitan antara agama dan manusia.
d.   Antropologi lebih terfokus pada symbol-symbol dan unsur-unsur dakam agama seperti sholata, puasa, haji, golongan agama, pemuka agama, dan sebagainya, karena hal itu dapat mempengaruhi manusia.
2.    Kekurangan
Kekurangan yang terdapat pada pendekatan antropologi dalam studi Islam, yaitu:
a.    Antropologi tidak membahas fungsi agama bagi manusia, tetapi membahas hal dan unsur-unsur pembentuk dalam agama itu berkaitan dengan manusia dan kebudayaan sehingga akan sulit mengamati terjadinya sekularisasi
b.    Dalam kehidupan terjadinya pembauran antara budaya dan agama, sehingga dalam praktiknya jika kita tidak cermat mengamatinya, maka tidak dapat dibedakan antara agama dan budaya.[11]













BAB III
PENUTUP
A.      KESIMPULAN
            Antropologi sebagai sebuah ilmu yang mempelajari tentang manusia, menjadihal yang sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari semua manusia dan segala perilaku manusia untuk dapat memahami perbedaan-perbedaan manusia. Antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya. Pendekatan antropologi dalam studi Islam meneliti praktek keberagamaan yang dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, politik, ekonomi, geografis, dan lain-lain.
       Kajian agama melalui pendekatan antropologi lebih bisa menggambarkan perann manusia/masyarakat dalam melakukan tindakan keagamaannya, sehingga agama lebih dimaknai sebagai bagian dari kehidupan (budaya) individu atau kelompok, yang masing-masing pemeluk memiliki otoritas dalam memahami agama serta mengaplikasikannya.

B.       SARAN
Makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis dengan senang hati bersedia menerima segara kritik dan saran yang membangun untuk kebaikan penulis dalam menyusun makalah yang akan datang.






DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Moh. Toriqul. 2014. “Pendekatan Antropologi dalam Studi Islam”, Jurnal At-Tahdzib, Vol. 2, No. 2, hlm. 0-17.
Huda, M. Dimyati. 2016. “Pendekatan Antropologis Dalam Studi Islam” Jurnal Didaktika Religia,  Vol. 4, No. 2. hlm. 139-162.
Kodir, Koko Abdul. 2014. Metodologi Studi Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Mansur. 2016. “Pendekatan Antropologi dalam Studi Islam”. http://menzour.blogspot.co.id/2016/11/pendekatanantropologi.dalam.html?m=1 (diakses pada tanggal 8 April 2018).
Mudzhar, M. Atho. 1998.  Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nata, Abudin. 2014. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Rajawali Pers.



[1] Koko Abdul Kodir, Metodologi Studi Islam,(Bandung: Pustaka Setia, 2014), hlm. 113-114.
[2] Moh. Toriqul Chaer, “Pendekatan Antropologi dalam Studi Islam”, Jurnal At-Tahdzib, Vol. 2, No. 2, 2014, hlm. 15-16.
[3] Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), hlm. 38.
[4] M. Dimyati Huda, “Pendekatan Antropologis Dalam Studi Islam”, Jurnal Didaktika Religia, Vol. IV, No. 2 2016,hlm. 158.
[5] Ibid,. 159.
[6] M. Atho mudzhar, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 13-15
[7] M. Dimyati Huda, Op. Cit., hlm.  153.
[8] Abudin Nata, Op. Cit., hlm. 35-38.
[9] M. Dimyati Huda, Op. Cit., hlm. 153-154.
[10] Moh. Toriqul Chaer, Op. Cit., hlm. 10-11.
[11]Mansur, “Pendekatan Antropologi dalam Studi Islam”,  http://menzour.blogspot.co.id/2016/11/pendekatan-antropologi.dalam.html?m=1 (diakses pada tanggal 8 April 2018, pukul 07.15)

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : PENDEKATAN ANTROPOLOGI"

Posting Komentar