MAKALAH
PENDEKATAN ANTROPOLOGI
Makalah ini dibuat guna memenuhi tugas
Mata kuliah : Metodologi Studi
Islam
Dosen Pengampu : Fairuzzabady Al Baha’i, M.Pd.I
Disusun oleh :
1.
Khomsatun
Rosalina (2117063)
2.
Umi Sa’adah (2117022)
3.
Dwi Ari
Ariyanti (2117118)
4.
Mustofa (2117206)
5.
Khoirudin (2117285)
6.
Diajeng Kurnia
NA (2117134)
7.
Fadilaturrohmah (2117302)
Kelas E
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PEKALONGAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masalah
Pemahaman isi Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama ajaran
Islam tidak lagi terbatas pada pemahaman tekstual/tersurat saja, tetapi perlu
dikembangkan ke arah pemahaman yang kontekstual/tersirat. Pendekatan yang
digunakan dalam studi Islam tidak lagi hanya menggunakan pendekatan
normatifitas saja, tapi
perlu menggunakan pendekatan-pendekatan baru yang sesuai
dengan perkembangan pemikiran, dinamika sosial bahkan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Agar Islam dapat diterima,
dipelajari, dipahami dan diamalkan ajarannya oleh umat manusia yang
berbeda-beda suku, adat istiadat, ras, bahasa, letak geografis, dan lainnya,
maka perlu tindakan nyata yang lebih arif dan bijaksana dari para ilmuwan
Islam.
Salah satu pendekatan yang perlu diterapkan dalam
studi Islam adalah pendekatan antropologi. Antropologi seperti semua
disiplin ilmu pengetahuan lainnya, harus membebaskan dirinya dari visi yang
sempit. Ia harus mempelajari sesuatu yang baru, sederhana, tetapi kebenaran
yang primordinal dari semua ilmu pengetahuan yaitu kebenaran pertama Islam.
Antropologi
sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami
agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk
dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dengan dibekali oleh pendekatan
yang holisik dan komitmennya tentang manusia, sesungguhnya antropologi
merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya
dengan berbagai budaya.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang diatas, dapat dirumuskan
masalah sebagai berikut.
1.
Bagaimana
definisi dari antropologi dan perkembangannya?
2.
Bagaimana
pengertian pendekatan antropologi?
3.
Apa saja objek
kajian pendekatan antropologi?
4.
Bagaimana
pendekatan antropologi dalam studi Islam?
5.
Bagaimana cara
kerja pendekatan antropologi?
6.
Bagaimana
kelebihan dan kekurangan pendekatan antropologi?
C.
Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi antropologis
2. Untuk mengetahui definisi pendekatan antropologis
3. Untuk mengetahui objek pendekatan antropologis
4. Untuk mengetahui pendekatan antropologi dalam studi Islam
5. Untuk mengetahui cara kerja pendekatan antropologis
6. Untuk kelebihan dan kekurangan pendekatan antropologi
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
ANTROPOLOGI
Antropologi
terdiri dari kata Antropos dan logos. Antropos berarti manusia sedangkan Logos
berarti Ilmu. Dengan kata lain Antropologi diartikan sebagai ilmu tentang
manusia. Secara terminologi, antropologi diartikan sebagai ilmu tentang manusia
khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat dan
kepercayaan pada masa lampau.[1]
Adapun definisi
lain yang dikemukakan oleh pakar antropologi, setidaknya antara lain adalah
menurut James I. Peacock, pengertian antropologi itu menitik beratkan pada
aspek pemahaman kemanusiaan dalam bentuk keanekaragaman secara menyeluruh.
Dalam antropologi termasuk didalamnya masalah yang menyangkut biologi, ekonomi,
sosiologi, estetika, dan politik.
Perkembangan
Antropologi dibagi menjadi 4 fase, yakni ;
1)
Fase pertama
(sebelum abad 18)
Sejak abad 15 hingga
permulaan abad ke 16, bangsa eropa menularkan pengaruh besar terhadap berbagai
suku, bangsa, masyarakat hingga budaya setempat. Mereka melakukan penjajahan
tiga benua, afrika, asia, dan amerika. Ketika bangsa eropa menemukan suatu hal
yang aneh, suatu hal-hal yang baru ditempat jajahanya. Mereka meluncurahkan
pengalaman-pengalaman yang mereka dapat ke sebuah tulisan. Kimpulan-kumpulan
tulisan itu disebut Etnographi. Terdapat beberapa pendapat dalam segi sudut
pandang seseorang dalam memaknainya. Mulai
dari yang beranggapan mereka (bangsa yang dijajah) adalah makhluk liar hingga
sebutan-sebutan keturunan iblis dilontarkan. Ada juga yang mencoba mengumpulkan
barang antik lalu mengumpulkannya untuk diperlihatkan ke semua orang.
2)
Fase kedua
(sekitar abad 19)
Pada
pertengahan abad ke 19 ini, antropologi lebih condong digunakan untuk
mengklafikasikan tingkat-tingkat budaya dengan meniliti sejarah penyebaran
kebudayaan-kebudayaan di muka bumi. Orang eropa menganggap kebudayaan
bangsa-bangsa diluar eropa adalah bangsa yang kuno. Dengan mempelajarinya sama
halnya mecari tahu sejarah penyebaran kebudayaan manusia. Masyakat dan
kebudayaan manusia berevolusi dengan sangat lambat hingga memerlukan waktu yang
sangat lama.
3)
Fase ketiga
(permulaan abad 20)
Pada permulaan
abad 20, bahan-bahan etnografi lebih difahami lagi demi mengetahui seluk-beluk
satu bangsa yang mempelajari kelemahan-kelemahannya lalu menaklukannya. Masa
ini memperlihatkan bahwa disiplin ilmu antropologi berperan aktif sebagai ilmu
terapan. Tujuannya hanya untuk mengetahui pengertian masyarakat masa kini yang
kompleks dan berfungsi untuk menundukan bangsa-bangsa lain seperti benua
amerika, asia dan juga afrika yang sudah ada dalam genggaman eropa barat.
4)
Fase keempat
(setelah tahun 1930-an)
Pada masa ini
perkembangan antropologi bertambah pesat dan luas. Bertambahnya pengetahuan
yang lebih teliti dan letajaman dalam
metode ilmiahnya sangat mengesankan. Adanya perkembangan yang pesat ini
mengakibatkan hilangnya sedikit demi sedikit masyarakat primitif dan
kebudayaan-kebudayaan kuno.
Antropologi dimasa ini berperan dalam dua hal yaitu, dalam bidang
akademik dan juga tjuan praktis. Tujuan dalam bidang akademiknya berusaha untuk
mencapai pengertian manusia dengan mempelajari keragaman bentuk fisik,
masyarakat dan kebudayaanya. Sedangkan tujuan praktisnya adalah mempelajari,
memahami dan membangun masyarakat suku bangsa.[2]
B.
PENDEKATAN
ANTROPOLOGI
Menurut Parsudi Suparlan, makna dari pendekatan
sama dengan metodologi yaitu sudut pandang atau cara melihat dan memperlakukan
sesuatu yang menjadi perhatian atau masalah yang dikaji. Adapun maksud
pendekatan di sini ialah cara pandang atau paradigma yang terdapat di dalam
suatu bidang ilmu yang kemudian akan digunakan dalam memahami agama.
Antropologi adalah ilmu tentang manusia dan kebudayaan. Antropologi
memerhatikan terbentuknya pola-pola perilaku manusia dalam tatanan nilai yang
dianut dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini kebudayaan mencakup tiga aspek
yaitu pemikiran, kelakuan, dan hasil kelakuan. Kebudayaan manusia pada dasarnya
adalah serangkaian aturan atau kategorisasi, serta nilai-nilai. Kebudayaan
memiliki beberapa unsur, yaitu sistem bahasa, sistem sosial, dan komunikasi.
Dengan
demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan antropologis ialah sudut pandang
atau paradigma sesuatu gejala yang menjadi perhatian dengan menggunakan
kebudayaan dari gejala yang dikaji tersebut sebagai acuan dalam melihat, memperlakukan, dan menelitinya. Pendekatan antropologis
dapat diartikan sebagai upaya dalam memahami agama dengan melihat wujud praktik
keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Pendekatan ini
diperlukan adanya, sebab banyak berbagai hal yang dibicarakan agama bisa
dijelaskan dengan tuntas melalui pendekatan antropologis. dalam
ajaran agama terdapat uraian dan informasi yang dapat dijelaskan melalui
bantuan ilmu antropologi dengan berbagai cabangnya.[3]
C.
OBJEK KAJIAN
ANTROPOLOGI
Abdul Shomad dalam M. Amin Abdullah
mengemukakan bahwa objek kajian psikologi dapat dibagi menjadi dua bidang,
yaitu antropologi fisik yang mengkaji makhluk manusia sebagai organisme
biologis, dan antropologi budaya dengan tiga cabangnya: arkeologi, linguistik
dan etnografi. Meski
antropologi fisik menyibukkan diri dalam usahanya melacak asal usul nenek
moyang manusia serta memusatkan studi pada variasi manusia, tetapi para ahli
menyediakan kerangka yang diperlukan oleh antropologi budaya. Sebab tidak ada kebudayaan
tanpa manusia.
a.
Keanekaragaman
bentuk fisik manusia
Mengkaji dan meneliti manusia sebagai organisme biologis.bidang
lain dariantropologi fisik adalah studi tentang variasi umat manusia, seperti
variasi warna kulit, bentuk hidung, golongan darah.
b.
Keanekaragaman
budaya sebagai hasil dari cipta , karsa dan rasa manusia.
Cipta, rasa, dan karsa adalah faktor yang menghasilkan kebudayaan.
Cipta adalah kemampuan akal pikiran yang menghasilkan kebudayaan. Rasa adalah
kemampuan indra yang mendorong manusia menghasilkan karya seni. Dan karsa
adalah sebuah kehendak manusia terhadap kesempurnaan hidup, kemuliaan dan
kebahagiaan.
Agama sebagai sebuah sistem makna yang tersimpan dalam
simbol-simbol suci sesungguhnya adalah pola makna yang diwarisi manusia sebagai
ethos dan juga worldview-nya. Clifford Geertz mengartikan ethos sebagai “tone,
karakter dan kualitas dari kehidupan manusia yang berarti juga aspek moral maupun
estitika mereka.” Bagi
Geertz agama telah
memberikan karakter yang khusus bagi manusia yang kemudian mempengaruhi
tingkah laku kesehariannya. Di samping itu agama memberikan gambaran tentang
realitas yang hendak dicapai oleh manusia. Berdasar pada pengertian ini agama
sebagai ethos telah membentuk karakter yang khusus bagi manusia, yang kemudian
dia bisa memenuhi gambaran realitas kehidupan (world view) yang hendak dicapai
oleh manusia.[4]
Antropologi sangat
diperlukan untuk memahami Islam, sebagai alat untuk memahami realitas
kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikkan Islam yang menjadi
gambaran sesungguhnya dari keberagamaan manusia. Melihat agama di masyarakat,
bagi antropologi adalah melihat bagaimana agama dipraktikkan, diinterpretasi,
dan diyakini oleh penganutnya. Jadi pembahasan tentang bagaimana hubungan agama
dan budaya sangat penting untuk melihat agama yang dipraktikkan. [5]
Jika budaya tersebut
dikaitkan dengan agama, maka agama yang dipelajari adalah agama sebagai
fenomena budaya, bukan ajaran agama yang datang dari Allah. Antropologi tidak
membahas salah benarnya suatu agama dan seperangkatnya, seperti kepercayan,
ritual dan kepercayaan kepada yang sakral. Wilayah antropologi hanya terbatas
pada kajian fenomena yang muncul. Menurut Atho Mudzhar , ada lima fenomena
agama yang dapat dikaji, yakni:
1)
Scripture atau naskah sumber ajaran dan simbol agama.
2)
Para penganut
atau pemimpin atau pemuka agama, yakni sikap, perilaku dan penghayatan para
penganutnya.
3)
Ritus, lembaga
dan ibadat, seperti shalat, haji, puasa, perkawinan, dan waris.
4)
Alat-alat
seperti masjid, gereja, lonceng , peci dan semacamnya.
5)
Organisasi
keagamaan tempat para penganut agama berkumpul dan berperan, seperti Nahdatul
Ulama, Muhammadiyah, Gereja Protestan, Syi’ah dan lain-lain.
Kelima fenomena diatas dapat dikaji dengan pendekatan antropologi,
karena memiliki unsur-unsur budaya dari hasil pemikiran ataupun kreasi manusia
dan merupakan praktik dalam kehidupan manusia.[6]
D.
PENDEKATAN
ANTROPOLOGI DALAM STUDI ISLAM
Dengan mempelajari antropologis kita bisa menyadari keragaman
budaya umat manusia dan pengaruh dalam pendidikan. Pendekatan antropologis
dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama
dengan cara melihat wujud praktek keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam
masyarakat. Melalui pendekatan ini agama nampak akrab dan dekat dengan
masalah-masalah manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya.
Pertautan antara agama dan realita budaya dimungkinkan terjadi
karena agama tidak berada dalam realita yang vakum selalu original. Mengingkari
keterpautan agama dengan realitas budaya berarti mengingkari realitas agama
sendiri yang selalu berhubungan dengan manusia, yang pasti dilingkari oleh
budayanya. Pada saat manusia melakukan interpretasi terhadap ajaran agama, maka
mereka dipengaruhi oleh lingkungan budaya primodial yang telah melekat didalam
dirinya. [7]
Abudin
Nata mengungkapkan adanya banyak keterkaitan agama dengan beberapa hal yang
menyangkut tentang manusia. Diantaranya:
1.
Adanya hubungan
antara agama yang berkolerasi dengan etos kerja dan perkembangan ekonomi suatu masyarakat.
2.
Hubungan
positif antara agama dengan ekonomi dan politik. Masyarakat dengan golongan
kurang mampu lebih tertarik pada gerakan menjanjikan perubahan tatanan
kemasyarakatan. Sedangkan golongan atas cenderung mempertahankan tatanan kaum
mapan dalam hal ekonomi untuk keuntungan pihaknya masing-masing.
3.
Agama mempunyai
hubungan dengan mekanisme pengorganisasian dalam masyarakat. Misalnya pembagian
klasifikasi sosial masyarakat Muslim di Jawa menjadi 3 yaitu santri, priyayi,
dan abangan.
4.
Melalui pendekatan
antropologis fenomenologis terdapat hubungan antara agama dan negara. Seperti
di Indonesia mayoritas beragama Islam, tetapi menjadikan pancasila sebagai asas
tunggal.
5.
Adanya
keterkaitan antara agama dengan psikoterapi, seperti pendapat Segmun Freud yang
menghubungkan agama dengan Oedipus Complex, yakni pengalaman infantil seorang
anak yang tidak berdaya dihadapan kekuatan dan kekuasaan bapaknya.[8]
E.
CARA KERJA
PENDEKATAN ANTROPOLOGI
Pendekatan
antropologi lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya
partitipatif. Dari sini timbul kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya induktif
yang mengimbangi pendekatan deduktif sebagaimana digunakan dalam pengamatan
sosiologis. Penelitian antropologis yang induktif dan grounded, yaitu turun ke
lapangan tanpa berpijak pada, atau setidak-tidaknya dengan upaya membebaskan
diri dari kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak
sebagaimana yang dilakukan dibidang sosiologi dan ekonomi yang menggunakan
model matematis, banyak juga memberi sumbangan kepada penelitian historis.[9]
Menurut Amin
Abdullah, cara kerja yang di dalam hal ini
bisa kita artikan sebagai langkah
dan tahapan pendekatan antropologi dalam
studi Islam memiliki empat ciri
fundamental yang meliputi:
1. Bercorak descriptive, bukannya normative.
Pendekatan antropologi bermula dan diawali dari kerja lapangan (field work), berhubungandengan orang, masyarakat, kelompok setempat yang diamati dan diobservasi dalam jangka waktu yang lama dan mendalam. Inilah yang biasa disebut dengan thick description (pengamatan dan observasi di lapangan yang dilakukan secara serius, terstruktur, mendalam dan berkesinambungan). Thick description dilakukan dengan cara antara lain Living in, yaitu hidup bersama masyarakat yang diteliti, mengikuti ritme
dan pola hidupsehari- hari mereka dalam waktu yang cukup lama.
2. Local practices, yaitu pendekatan antropologi disertai praktik konkrit
dan nyata di lapangan.Praktik hidup yang dilakukan sehari- hari, agenda
mingguan, bulanan dantahunan, lebih- lebih ketika - hari atau peristiwa-peristiwa penting dalam
menjalani kehidupan. Seperti ritus-ritus
dan amalan-amalan saat terjadinya peristiwa kehidupan, misalnya kelahiran,
perkawinan, kematian, pemakaman, dll.
3. Keterkaitan antar berbagai domain kehidupan secara utuh (connections across social domains)`
Hubungan antara wilayah ekonomi, social, agama, budaya dan politik. Kehidupan tidak dapat dipisah- pisah. Keutuhan dan saling keterkaitan antar
berbagai domain kehiduan manusia. Hampir-hampir tidak ada satu domain wilayah kehidupan yang dapat berdiri sendiri, terlepas dan
tanpa terkait dan terhubung dengan yang lainnya.
4. Comparative (berbandingan)
Artinya studi dan pendekatan antropologi memerlukan perbandingan dari berbagai tradisi, social budayadan agama- agama.[10]
Meskipun menyebut local practise untuk era globalisasi sekarang adalah debatable, tetapi ada empat rangkaian tindakan keagamaan yang perlu dicermati oleh penelitian antropologi. Pertama adalah
seseorang dan atau kelompok melakukan praktik- praktik local dalam mata rantai tindakan keagamaan yang terkait dengan dimensi social, ekonomi, politik dan budaya. Sebagai contoh ada ritus baru yang disebut“walimah al safar” ,
yang biasa dilakukan orang sebelum berangkat haji. Apa makna dan praktik tindakan local ini dalam keterkaitannya dengan agama, sosial, ekonomi, politik dan
budaya? Religious Ideas yang diperoleh dari teks atau ajaran pasti ada di balik tindakan ini. Bagaimana tindakan ini membentuk emosi dan menjalankan fungsi sosial dalam kehiddupan
yang luas?. Bgaiamana Walimah safar yang tidak saja dilakukan di rumah tetapi juga
dilaksanakan di pendopo kabupaten? Oleh karenanya, keterkaitan dan keterhubungan antara local practices, religious ideas, emosi individu dan kelompok maupun kepentingan sosial- politik tidak dapat dihindari. Semuanya membentuk satu tindakan yang utuh.
F.
KELEBIHAN DAN
KEKURANGAN PENDEKATAN ANTROPOLOGI
1.
Kelebihan
Kelebihan yang terdapat pada pendekatan antropologi dalam studi
Islam, yaitu:
a.
Pendekatan
antropologi bercorak deskriptif dan dengan melakukan pengamatan langsun,
sehingga peneliti mengetahui dengan sebenarnya praktik keberagaman (local
practices) praktik yang nyata di suatu tempat.
b.
Antropologi
selalu mencari keterkaitan atau hubungan antara berbagai domain kehidupan
secara lrbih utuh dan melakukan perbandingan dari berbagai tradisi.
c.
Dengan
antrropologi, dapat diteliti asal-usul agama, dan mengerti cara berpikir
manusia yang menganut agama tersebut pada zamannya. sehingga dengan melakukan
kajian lewat agama dapat diketahui pola berpikir manusia pada zaman dahulu,
karena pasti aa keterkaitan antara agama dan manusia.
d.
Antropologi
lebih terfokus pada symbol-symbol dan unsur-unsur dakam agama seperti sholata,
puasa, haji, golongan agama, pemuka agama, dan sebagainya, karena hal itu dapat
mempengaruhi manusia.
2.
Kekurangan
Kekurangan yang terdapat pada pendekatan antropologi dalam studi
Islam, yaitu:
a.
Antropologi tidak
membahas fungsi agama bagi manusia, tetapi membahas hal dan unsur-unsur
pembentuk dalam agama itu berkaitan dengan manusia dan kebudayaan sehingga akan
sulit mengamati terjadinya sekularisasi
b.
Dalam kehidupan
terjadinya pembauran antara budaya dan agama, sehingga dalam praktiknya jika
kita tidak cermat mengamatinya, maka tidak dapat dibedakan antara agama dan
budaya.[11]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Antropologi
sebagai sebuah ilmu yang mempelajari tentang manusia, menjadihal yang sangat
penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari semua manusia dan segala
perilaku manusia untuk dapat memahami perbedaan-perbedaan manusia. Antropologi
merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya
dengan berbagai budaya. Pendekatan antropologi dalam studi Islam meneliti
praktek keberagamaan yang dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, politik,
ekonomi, geografis, dan lain-lain.
Kajian agama melalui pendekatan
antropologi lebih bisa menggambarkan perann manusia/masyarakat dalam melakukan
tindakan keagamaannya, sehingga agama lebih dimaknai sebagai bagian dari
kehidupan (budaya) individu atau kelompok, yang masing-masing pemeluk memiliki
otoritas dalam memahami agama serta mengaplikasikannya.
B.
SARAN
Makalah ini
sangat jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis dengan senang hati bersedia
menerima segara kritik dan saran yang membangun untuk kebaikan penulis dalam
menyusun makalah yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Moh. Toriqul. 2014.
“Pendekatan Antropologi dalam Studi Islam”, Jurnal At-Tahdzib, Vol. 2,
No. 2, hlm. 0-17.
Huda, M. Dimyati. 2016. “Pendekatan Antropologis Dalam Studi Islam” Jurnal
Didaktika Religia, Vol. 4, No. 2.
hlm. 139-162.
Kodir, Koko Abdul. 2014. Metodologi
Studi Islam. Bandung: Pustaka Setia.
Mansur. 2016. “Pendekatan
Antropologi dalam Studi Islam”. http://menzour.blogspot.co.id/2016/11/pendekatanantropologi.dalam.html?m=1 (diakses pada tanggal 8 April 2018).
Mudzhar, M. Atho. 1998. Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan
Praktek. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Nata, Abudin. 2014. Metodologi Studi Islam. Jakarta:
Rajawali Pers.
[1]
Koko Abdul Kodir, Metodologi Studi Islam,(Bandung: Pustaka Setia, 2014),
hlm. 113-114.
[2]
Moh. Toriqul Chaer, “Pendekatan Antropologi dalam Studi Islam”, Jurnal
At-Tahdzib, Vol. 2, No. 2, 2014, hlm. 15-16.
[3]
Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2014),
hlm. 38.
[4]
M. Dimyati Huda, “Pendekatan Antropologis Dalam Studi Islam”, Jurnal Didaktika
Religia, Vol. IV, No. 2 2016,hlm. 158.
[5]
Ibid,. 159.
[6]
M. Atho mudzhar, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1998), hlm. 13-15
[7]
M. Dimyati Huda, Op. Cit.,
hlm. 153.
[8]
Abudin Nata, Op. Cit., hlm. 35-38.
[9]
M. Dimyati Huda, Op. Cit., hlm. 153-154.
[10]
Moh. Toriqul Chaer, Op. Cit., hlm. 10-11.
[11]Mansur,
“Pendekatan Antropologi dalam Studi Islam”,
http://menzour.blogspot.co.id/2016/11/pendekatan-antropologi.dalam.html?m=1
(diakses pada tanggal 8 April 2018, pukul 07.15)

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : PENDEKATAN ANTROPOLOGI"
Posting Komentar