Makalah : ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN


MAKALAH
ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Ilmu Pendidikan
Dosen Pengampu : M. Irsyad, M.Pd.I

 

Disusun Oleh :


1. Asti Zaeni                  (2117289)
2. Ana Faikhana Nadia  (2117287)
3. Khoirudin                   (2117285)

Kelas G

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PEKALONGAN
2018

 
 
 
 
 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan memiliki nuansa berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga banyak bermunculan pemikiran-pemikiran yang dianggap sebagai penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan yang diperlukan. Karenanya, banyak teori yang dikemukakan para pemikir yang bermuara pada munculnya berbagai aliran pendidikan. Pemahaman terhadap pemikiran-pemikiran penting dalam pendidikan akan membekali tenaga kependidikan dengan wawsasan kesejarahan, yakni kemampuan memahami kaitan antara pengalaman-pengalaman masa lampau, tuntutan dan kebutuhan masa kini, serta perkiraan atau antisipasi masa datang.
Aliran-aliran pendidikan telah dimuali sejak awal hidup manusia, karena setiap kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian aliran pendidikan?
2.       Apa saja macam-macam aliran pendidikan?

C.    Tujuan
1.       Untuk mengetahui pengertian aliran pendidikan.
2.       Untuk mengetahui macam-macam aliran pendidikan







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Aliran Pendidikan
Aliran-aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan dalam dunia pendidikan. Pemikiran tersebut berlangsung seperti suatu diskusi berkepanjangan, yakni pemikiran-pemikiran terdahulu selalu ditanggapi dengan pro dan kontra oleh pemikir berikutnya, sehingga timbul pemikiran yang baru, dan demikian seterusnya. Agar diskusi berkepanjangan itu dapat dipahami, perlu aspek dari aliran-aliran itu yang harus dipahami. Oleh karena itu setiap calon tenaga kependidikan harus memahami berbagai jenis aturan-aturan pendidikan[1]

B.     Aliran-Aliran Pendidikan
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan memiliki nuansa berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga banyak bermunculan pemikiran-pemikiran yang dianggap sebagai penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan yang diperlukan. Karenanya, banyak teori yang dikemukakan para pemikir yang bermuara pada munculnya berbagai aliran pendidikan.

1.      Aliran Nativisme
Nativisme berasal dari bahasa latin. Asal kata nativus (terlahir). Seseorang berkembang berdasarkan apa yang dibawanya dari lahir. Hasil akhir perkembangan dan pendidikan manusia ditentukan oleh pembawaannya dari lahir. Pembawaan itu ada yang baik dan ada yang buruk. Oleh karena itu, manusia akan berkembang dengan pembawaan baik maupun buruk yang dibawa dari lahir. Pendidikan tidak berpengaruh sama sekali terhadap perkembangan seseorang. Pendidikan yang diberikan tidak sesuai dengan pembawaan seseorang tidak ada gunanya untuk perkembangannya. Oleh karena itu, aliran ini merupakan aliran pesimis dalam pendidikan (pesimisme).
Pelopornya adalah Schopenhauwer (1788-1880), filosof kebangsaan jerman. Ia perpendapat mendidik ialah membiarkan seseorang tumbuh berdasarkan pembawaannya (Idris, 1992: 6). Aliran nativisme bertolak dari Leibnitzian Tradition yang menekankan kemampuan dalam diri anak, sehingga faktor lingkungan termasuk faktor pendidikan kurang berpengaruh terhadap perkembangan anak. Hasil perkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh sejak kelahiran. Lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan perkembangan anak. Hasil pendidikan tergantung pada pembawaan, oleh sebab itu hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini, maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Ditekankan bahwa “ yang jahat akan menjadi jahat, dan yang baik akan menjadi baik”. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri.
Terdapat suatu pendapat aliran Nativisme yang berpengaruh luas yakni bahwa dalam diri individu terhadap suatu inti pribadi yang mendorong manusia untuk mewujudkan diri, mendorong manusia dalam menentukan pilihan dan kemauan sendiri, dan menempatkan manusia sebagai makhluk aktif yang mempunyai kemauan bebas. Pandangan-pandangan tersebut tampak antara Humanistik Psychologi dari Carl R. Rogers ataupun pandangan phenomenology/humanistik lainnya. Meskipun pandangan ini mengakui pentingnya belajar, namun pengalaman dalam belajar itu ataupun penerimaan dan presepsi seseorang banyak ditentukan oleh kemampuan memberi makna kepada apa yang dialaminya itu. Dengan kata lain, pengalaman belajar ditentukan oleh “internal trame of reference” yang dimilikinya. Pendekatan ini sangat mementingkan pandangan holistik (menyeluruh, gestalt) serta pemahaman perilaku orang dari sudut pandang prilaku.
Terdapat variasi pendapat dari pendekatan phenomenologi/humanistik tersebut, yaitu:
a.       Pendekatan aktualisasi atau non-direktif (client centered) dari Carl R. Rogers dan Abraham Maslow.
b.      Pendekatan “Personal Constructs” dari George A. Kelly yang menekankan betapa pentingnya memahami hubungan transaksional antara manusia dan lingkungannya sebagai bekal awal memahami perilakunya.
c.       Pendekatan “Gestalt”, baik yang klasik (Max Wartheimen dan Wolgang Kphler) maupun pengembangan selanjutnya.
d.      Pendekatan “Search for Meaning” dengan aplikasinya sebagai “Logotherapi” dari Viktor Franki yang mengungkapkan betapa pentingnya semangat untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapinya.[2]

2.      Aliran Empirisme
Tokoh aliran empirisme adalah John Lock, filosof Inggris yang hidup pada tahun 1632-1704. Teorinya dikenal dengan Tabulae rasae (meja lilin), yang menyebutkan bahwa anak yang lahir ke dunia seperti kertas putih yang bersih. Kertas putih akan mempunyai corak dan tulisan yang digores oleh lingkungan. Faktor bawaan dari orangtua (faktor keturunan) tidak dipentingkan. Pengalaman diperoleh anak melalui hubungan anak dengan lingkungan (sosial, alam, budaya). Pengaruh empiris yang diperoleh dari lingkungan berpengaruh besar terhadap  perkembangan anak. Menurut aliran ini, pendidik sebagai faktor luang memegang peranan secara penting, sebab pendidikan menyiapkan lingkungan pendidikan  bagi anak, dan anak menerima pendidikan sebagai pengalaman. Pengalaman tersebut akan membentuk tingkah laku, sikap, serta watak anak sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
Misalnya: suatu keluarga yang kaya raya ingin memaksa anaknya menjadi pelukis. Segala alat diberikan dan pendidik ahli didatangkan. Akan tetapi gagal, karena bakat melukis anak itu tidak ada. Akibatnya dalam diri anak terjadi konflik, pendidikan mengalami kesukaran dan hasilnya tidak optimal.
Contoh lain, ketika dua anak kembar sejak lahir dipisahkan dan dibesarkan dilingkungan yang berbeda. Satu dari mereka dididik di desa oleh keluarga petani golongan miskin, yang satu dididik dilingkungan keluarga kaya yang hidup dikota dan disekolahkan di sekolah modern. Ternyata pertumbuhannya tidak sama.
Kelemahan aliran ini adalah hanya mementingkan pengalaman. Sedangkan kemampuan dasar yang dibawa sejak lahir dikesampingkan. Padahal, ada anak yang berbakat dan berhasil meskipun lingkungan tidak mendukung.[3]
3.      Aliran Naturalisme
Nature artinya alam atau apa yang dibawa sejak lahir. Hampir senada dengan aliran nativisme, maka aliran ini (naturalisme) berpendapat bahwa pada hakikatnya semua anak sejak dilahirkan adalah baik. Bagaimana hasil perkembangannya kemudian sangat ditentukan oleh pendidiknya yang diterima atau yang mempengaruhinya. Jika pengaruh/pendidikan itu baik, akan menjadi baik dan juga sebaliknya.
Seperti yang dikatakan oleh tokoh aliran ini yaitu J. Rousseau sebagai berikut, “semua anak adalah baik pada waktu baru datang dari tangan Sang Pencipta, tetapi semua menjadi rusak ditangan manusia”. Oleh karena itu, sebagai pendidik Rousseau mengajukan pendidikan alam. Artinya, anak hendaklah dibiarkan tumbuh dan berkembang sendiri menurut alamnya; manusia atau masyarakat jangan banyak mencampurinya. Pendapat Rousseau ini terlihat pula pada pendiriannya tentang hukuman dalam pendidikan.[4]

4.      Aliran Konvergensi
Perintis aliran ini dalah William Stern (1871- 1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak lahir di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun buruk.  Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak baik faktor pembawaan maupun lingkungan sama- sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal, kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. Sebagai contoh, hakikat kemampuan anak berbahasa dengan kata- kata adalah juga hasil konvergensi. Pada anak manusia ada pembawaan untuk berbicara melalui situasi lingkungannya, anak belajar berbicara dalam bahasa tertentu. Lingkunganpun mempengaruhi anak didik dalam mengembangkan pembawaan bahasanya. Karena itu tiap anak manusia mula- mula menggunakan bahasa lingkungannya, misalnya bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Inggris, dan sebagainya.
Kemampuan dua orang anak ( yang tinggal dalam satu lingkungan yang sama ) untuk mempelajari bahasa mungkin tidak sama. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan kuantitas pembawaan dan perbedaaan situasi lingkungan, biarpun lingkungan kedua anak tersebut menggunakan bahasa yang sama. William Stern berpendapat bahwa hasil pendidikan itu tergantung dari pembawaan dan lingkungan.[5]
Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia. Meskipun demikian terdapat variasi pendapat tentang faktor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh kembang itu.[6]
5.      Aliran Behaviorisme
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi antara stimulus (rangsangan) dan respon (tanggapan). Dengan kata lain, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan pada tingkah lakunya.
Menurut teori ini hal yang paling penting adalah input (masukan) yang berupa stimulus dan output (keluaran) yang berupa respon. Menurut toeri ini, apa yang tejadi diantara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati hanyalah stimulus dan respon. Oleh sebab itu, apa saja yang diberikan guru (stimulus) dan apa yang dihasilkan siswa (respon), semuanya harus dapat diamati dan diukur. Teori ini lebih mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadinya perubahan tungkah laku tersebut. Faktor lain yang juga dianggap penting adalah faktor penguatan. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan diitambahkan maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi maka responpun akan dikuatkan. Jadi, penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan (ditambahkan) atau dihilangkan (dikurangi) untuk memungkinkan terjadinya respon.






















BAB III
PENUTUP
A.    Simpulan
Aliran-aliran pendidikan adalah pemikiran-pemikiran yang membawa pembaharuan dalam dunia pendidikan. Terdapat berbagai aliran dalam pendidikan, diantaranya :
1.      Aliran Nativisme
2.      Aliran Empirisme
3.      Aliran Naturalisme
4.      Aliran Konvergensi
5.      Aliran Behaviorisme














DAFTAR PUSTAKA
http://mahasiswauntirtapgsd.blogspot.com/2016/12/pengertian-aliran-aliran-pendidikan.html
Suwarno Wiji. 2013. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. (Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIA).
Maunah Binti. 2009. Ilmu Pendidikan. (Yogyakarta: SUKSES Offset).
Purwanto Ngalim. 2000. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya).
Kadir Abdul, dkk. 2012. Dasar-dasar Pendidikan. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group)



[1] http://mahasiswauntirtapgsd.blogspot.com/2016/12/pengertian-aliran-aliran-pendidikan.html
[2]  Binti Maunah, Ilmu Pendidikan (Yogyakarta: Sukses offset), hlm 122-125
[3] Wiji Suwarno, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, ( Jogjakarta: Ar-ruzz Media), hlm 49-51
[4] Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya), hlm 59
[5] https://cecepkustandi.wordpress.com/2016/05/12/jenis-jenis-aliran-pendidikan/
[6] Abdul Kadir dkk, Dasar-dasar Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), hlm 129

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Makalah : ALIRAN-ALIRAN PENDIDIKAN"

Posting Komentar