SUBJEK “HAKIKI” PENDIDIKAN DALAM
AL-QUR’AN
(ALLAH SEBAGAI PENDIDIK)
Q.S. AR-RAHMAN : 1-4
Disusun
guna memenuhi tugas
Mata Kuliah : Tafsir Tarbawi
Dosen Pengampu: Muhammad Hufron, MSI
Disusun
Oleh:
Septiani
Khajaroh
(2117159)
Kelas:
D
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
TARBIYAH DAN ILMU
KEGURUAN
INSTITUT
AGAMA ISLAM (IAIN) PEKALONGAN
2018
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Pendahuluan
Menurut Abd al-Wahab
al-Khallaf, Al-Qur’an adalah firman Allah Swt yang diturunkan melalui malaikat
jibril (ruh al-amin) kepada hati Rosulullah Saw. Kehadiran Al-Qur’an
telah memberikan pengaruh yang luar biasa bagi lahirnya berbagai konsep yang
diperlukan manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Dari sekian masalah yang
menjadi fokus kajian Al-Qur’an adalah pendidikan. Melalui bukunya yaitu education
Quranic outlook, Salih Abdul Salih sampai pada kesimpulan bahwa, Qur’an
adalah “Kitab Pendidikan”.
Dilihat dari surah yang
pertama kali diturunkan adalah surah yang berkaitan dengan pendidikan, yaitu
surah al-Alaq (96) ayat 1-5 surah tersebut yang artinya “Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia
dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia
dengan pena, mengajar manusia apa yang tidak diketahuinya.”
B.
Rumusan Masalah
1. Apa
hakikat pendidik?
2. Apa
hakikat mengajar?
3. Apa
dalil yang menyebutkan Allah Swt sebagai pendidik?
4. Apakah
Allah Swt sebagai pendidik seluruh makhluk?
C.
Tujuan
1. Dapat
mengetshui hakikat pendidik.
2. Dapat
mengetahui hakikat mengajar.
3. Dapat
menjelaskan dalil yang menyebutkan Allah Swt sebagai pendidik.
4. Dapat
menjelaskan Allah Swt sebagai pendidik seluruh makhluk.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat Pendidik
Pendidik adalah orang
yang mendidik.[1]
Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan
kegiatan mendidik. Dalam perspektif Islam, pendidik dapat dikategorikan
sebagai:
1. Mu’allim
artinya
bahwa seorang pendidik itu adalah orang yang berilmu (memiliki ilmu)
pengetahuan luas, dan mampu menjelaskan/mengajarkan/mentransfer ilmu tersebut
kepada peserta didik, sehingga peserta didik dapat mengamalkannya dalam
kehidupan.
2. Mu’adib
(addaba-yuaddibu-ta’diiban)
yang berarti mendisiplinkan atau menanam sopan santun. Yang dilandasi dengan
etika, moral, dan sikap yang santun, serta mampu menanamkannya kepada peserta
didik melalui contoh untuk di tiru.
3. Mudarris
artinya
orang yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual lebih, dan berusaha
membantu, menghilangkan menghapuskan kebodohan/ketidaktahuan peserta didik
dengan cara melatih imtelektualnya melalui proses pembelajaran sehingga peserta
didik memiliki kecerdasan intelektual dan keterampilan.
4. Mursyid
artinya orang yang memiliki kedalaman spiritual atau memmiliki tingkat
penghayatan yang mendalam terhadap nilai-nilai keagamaan, ketaatan ibadah dan
berakhlak mulia.[2]
Sifat-sifat
pendidik yaitu:
1. Memiliki
sifat kasih dan sayang,
2. Lemah
lembut,
3. Rendah
hati,
4. Menghormati
ilmu lainnya,
5. Adil,
6. Menyenangi
ijtihad,
7. Konsekuen,
8. Sederhana.[3]
Jika dilihat dari prespektif al-qur’an, al qur’an itu berasal
dari Allah, yang dalam beberapa sifat-Nya ia memperkenalkan diri-Nya sebagai
pendidik. Didalam surat al fatihah (1) ayat pertama dinyatakan :
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya:
segala puji bagi Allah,Tuhan semesta alam.
Imam
al- Maraghi ketika menafsirkan ayat tersebut menyatakan bahwa rabb adalah al
sayyid, al murabbi, al- ladzi yasusu man yurabbihi wa yudabbiru syu’unahu,yang
artinya sebagai pemelihara, pendidik orang yang didiknya dan memikirkan keadaan
perkemmbangannya. Dilihat dari segi kandungannya pendidik yang diberikan Allah
kepada umat manusia itu terbagi dua, yang pertama, pendidikan yang bersifat
keduniaan (khalqiyah) yang ditandai dengan pertumbuhan fisik, hingga menjadi
dewasa, pendidikan jiwa dan akalnya. Kedua, pendidikan agama dan akhlak yang
disampaikan kepada setiap individu yang dapat mendorong manusia mencapai
tingkat kesempurnaan akal dan kesucian jiwanya.[4]
B.
Hakikat Mengajar
Secara harfiah kata
“mengajar” diartikan kepada “memberikan pelajaran”. Dalam Al-Qur’an, mengajar
menggunakan kata ‘allama. Kata ini berasal dari ‘alima yang telah
mendapat tambahan ‘ain fi’il-nya yang kemudian dignati dengan tasydid
sehingga menjadi ‘allima. Menurut Luis Ma’luf, kata ‘allima mempunyai
arti “membuat orang mengetahui”. Dengan demikian, mengajar dapat diartikan
suatu aktivitas atau kegiatan untuk membuat seseorang mengetahui dan menguasai
suatu ilmu.
Al-Qur’an menggunakan
kata ‘allama sebanyak 41 kali dalam dua sigha (pola), yaitu fi’il madi
dan mudari’. Pada ayat-ayat tersebut menggambarkan Allah-lah yang
mengajar manusia. Artinya Allah Swt. melimpahkan ilmu kepada manusia baik
secara langsung maupun tidak. Manusia yang pertama diajar adalah Nabi Adam.
Allah Swt. mengajari Nabi Adam mengenai nama segala sesuatu. Allah Swt.
berfirman dalam surah al-Baqarah (2) ayat 31-31 :
Artinya:
dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia
perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “sebutkan kepada-Ku nama
semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” Mereka menjawab, “Maha suci Engkau,
tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.
Sungguh, Engakau Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
Allah Swt. mengajarkan
Nabi apa saja yang tidak diketahui, dan Allah juga mengajarkan semua manusia.
Seperti dalam surah al-‘Alaq (96) ayat 3-5:
Artinya:
“bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena.
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.
Allah Swt. bukan hanya menciptakan
manusia, tetapi Dia juga melimpahkan ilmu kepada manusia. Allah Swt. yang
membuat manusia itu berilmu dengan menciptakan potensi dalam diri manusia,
dengan potensi tersebut manusia dapat menggali dan mencari ilmu pengetahuan
serta menerimanya. Allah Swt mengajari manusia dengan melalui alam ciptaan-Nya
dan wahyu yang disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw.[5]
C.
Dalil Allah Sebagai Pendidik
Q.S,
Ar-Rahman : 1-4
الرَّحْمَنُ (١) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (٢) خَلَقَ
الإنْسَانَ (٣) عَلَّمَهُ
الْبَيَانَ (٤)
Artinya:
1. (Tuhan) yang Maha Pemurah,
2. yang telah mengajarkan Al Quran.
3. Dia menciptakan manusia.
4. mengajarnya pandai berbicara.
Ayat ini
menjelaskan bahwa Allah mengajarkan Al-Qur’an dan Al-Bayan kepada manusia.
Pengajaran ini dimulai dari nama-Nya Al-Rahman yang artinya kasih sayang, tidak
dimulai dari nama yang lain terutama menggambarkan kekuasaan-Nya yang mutlak
seperti al-Mutakabbir, al-Qahhar, dan al-Jabbar.
1.
Tafsir Al- Azhar
“Ar-Rahman, Yang Maha Pemurah”
Arti dari Ar-Rahman adalah amat
luas, kalimat dalam pengambilannya ialah RAHMAT. Yang berarti kasih sayang,
cinta, pemurah. Dia meliputi kepada segala segi dari kehidupan manusia dan
terbentang didalam segala makhluk yang wujud di dunia ini. Dalam al qur’an kita
sering menjumpai kalimat rahman, rahim, rahmat, dan lain sebagainya, dan
semuanya itu mengandung akan arti kasih sayang, pemurah, kesetiaan dan
lain-lain. Bahkan dalam memulai membaca surat dalam al-qur’an selalu diawali
dengan Bismmillahirahmanirrahim, maka didalam surat ini dikhususkanlah
menyebut Allah dengan sifatNya yang paling meminta perhatian kita. Kalau Allah
pun bersifat rahman, seharusnya kita meniru pula sifat Allah. Setelah itu Allah
memperincikan rahmat-Nya itu.
“Yang mengajarkan Al-Qur’an”
Inilah salah satu dari
Rahman, atau kasih sayang Tuhan kepada manusia. Yaitu diajarkan kepada manusia
itu Al-Qur’an, yaitu wahyu ilahi yang diwahyukan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW
yang dengan al-qur’an itu manusia dikeluarkan dari pada gelap gulita pada
terang benderang. Dibawa kepada jalan yang lurus. Maka datangnya pelajaran
Al-Qur’an kepada manusia adalah sebagai menggenapkan kasih Tuhan kepada
manusia. Rahmat ilahi yang paling utama ialah ilmu pengetahuan yang
dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Mengetahui itu adalah suatu kebahagiaan,
apalagi yang diketahui itu al-qur’an.
“Yang menciptakan manusia”
Penciptaan manusia pun
adalah satu diantara tanda Rahman Tuhan kepada alam ini. Sebab diantara begitu
banyak makhluk ilahi didalam alam, manusialah satu-satunya makhluk paling
mulia. Maka terbentanglah alam luas ini dan berdiamlah mereka diatasnya. Maka
dengan rahmat Allah yang ada pada manusia tadi, yaitu akalnya dan fikirannya
dapatlah manusia itu menyesuaikan dirinya dengan alam. Misalnya hujan turu, air
mengalir dan manusia membuat sawah.
Manusia dengan akal budinya menembus
jarak dan perpisahan yang jauh, membuat bahtera dan kapal untuk menghubungkan yang
satu dengan yang lain. Manusia lah yang dikaruniai perkembangan akal dan
fikiran. Sehingga timbulah tabiat manusia itu ialah hidup yang lebih maju.
“Yang mengajarkannya berbicara”
Barulah rahman Allah
pada manusia lebih semburna lagi, karena manusia pun diajar oleh tuhan
menyatakan perasaan hatinya dengan kata-kata. Itulah yang didalam bahasa arab
disebut al-bayaan yaitu menjelaskan, menerangkan, apa yang terasa
dihati. Sehingga timbulah bahasa-bahasa. Dijelaskan bahwa pemakaian bahasa
adalah salah satu diantara Rahman Allah dimuka bumi ini. Beribu-ribu bahkan
sampai berjuta-juta buku dikarang, dalam beragam bahasa, semuanya menyatakan
apa yang terasa dihati sebagai penyelidikan, pengalaman dan kemajuan hidup.[6]
2. Tafsir
Al- Maraghi
1.) Tafsir
al-mufradat
Ar-Rahman:
salah satu diantara nama-nama Allah yang indah (asma ul husna)
Al insan:
Umat manusia
Al bayan:
kemampuan manusia untuk mengutarakan isi hati dan memahamkannya kepada orang
lain
Bi husban:
dengan perhitungan yang teliti dan teratur
An Najm:
tumbuh tumbuhan yang berbatang, seperti kurma dan jeruk
Yasjudan:
keduanya tunduk kepada Allah dengan tabiatnya, seperti halnya orang-orang
mukhalaf tunduk dengan pilihannya (ikhtiar)
Rafa’aha:
Allah menciptakan langit dalam keadaan terangkat tinggi, tempat dan
tingkatanya.
Al-Mizan:
keadilan dan peraturan
Aqimu al Wazna bi al- qitshi:
Luruskanlah timbangan kalian dengan adil
La Tukhsirul mizan:
janganlah kamu mengurangi neraca
Lil Anam:
untuk makhluk Allah
Al-Akman:
jamak dari kim ( huruf kaf dikasrahkan ) :kelompok kurma
Al –Ashf:
Daun tumbuh-tumbuhan yang berada pada bulir biji
Ar-Raihan:
tumbuh-tumbuhan apa saja yang berbau harum
Al-A’la:
Jamak dari ila’alan (huruf hamzah difathahkan atau dikasrahkan) dan juga ilyun
dan ilwun. Artinya, kenikmatan.[7]
2.) Penjelasan
Ø Ayat
1dan 2, ayat ini turun sebagai jawaban kepada penduduk makkah, pada surat ini
Allah menganugerahkan kepada hambanya kenikmatan yang merupakan nikmat terbesar
kedudukannya dan besar manfaatnya bahkan paling sempurna faidahnya. Yaitu
nikmat diajarkannya al-qur’annurl karim, karena dengan al-qur’an akan
memperoleh kebahagiaan didunia dan diakhirat. Setelah menyebut nikmat tersebut,
maka Allah swt menyebutkan pula nikmat penciptaan yang merupakan pangkal dari
segala urusan.
Ø Ayat
3 dan 4,ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dan mengajarinya
apa saja yang terlintas didalam hatinya dan terdetik dalam sanubarinya. Oleh
karena itu manusia itu makhluk sosial ,yang tidak bisa hidup kecuali
bermasyarakat dengan sesamanya maka haruslah ada bahasa untuk memahamka
sesamanya. Dan menulis untuk sesamanya pada tempat-tempat yang jauh dan
negeri-negeri sebrang. Ini adalah nikmat ruhani terbesar yang tidak bisa
tertandingi. Dengan nikmat lainya.
Pertama-tama Allah menyebutkan hal
yang harus dipelajari, yaitu al- qur’an, yang dengan itulah diperoleh
kebahagiaan. Selanjutnya menyebutkan tentang belajar, dialanjutkan dengan
menyebutkan cara belajar, seterusnya barulah menyebutkan benda langit yang di
manfaatkan oleh manusia dalam penghidupan mereka.[8]
D.
Pendidik Seluruh Makhluk
Dalam
prespektif falsafah pendidikan islam, semua makhluk pada dasarnya adalah
peserta didik. Sebab dalam islam sebagai murabbi, mu’alim, atau mu’addib, Allah
swt pada hakikatnya adalah pendidik bagi
seluruh makhluk ciptaanNya. Dialah yang mencipta dan memelihara seluruh
makhluk. Pemeliharaan Allah swt mencakup sekaligus kependidikannya, baik dalam
arti tarbiyah, ta’lim maupun ta’dib. Karenanya dalam prespektif falsafah
pendidikan islam, peserta didik mencakup seluruh makhluk Allah swt. Seperti
malaikat, jin, manusia, tumbuhan, hewan, dan sebagainya.
Dalam
islam, hakikat ilmu itu berasal dari Allah swt, dan dia sendiri adalah al-
alim. Karenanya sebagai muta’allim,peserta didik adalah manusia yang belajar
kepada Allah, mempelajari al-asma kullah
yang terdapat pada ayat-ayat kauniyah dan qur’aniyah untuk sampai pada
pengenalan,peneguhan dan akulturasi syahadah primodial yang telah diikrarkan
dihadapan Allah swt.
Dalam
islam esensi adap dan akhlak yaitu syariat yang menata idealitas interaksi atau
komunikasi antara manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan
makhluk lainnya atau semesta alam dan dengan Tuhan maha pencipta, pemelihara,
dan pendidik semesta alam.[9]
BAB
III
PENUTUP
A. Simpulan
Al-Qur’an memandang
bahwa pendidikan merupakan persoalan pertama dan utama dalam membangun dan
memperbaiki kondisi umat manusia di muka bumi ini. Ajaran yang dikandung di
dalamnya berupa akidah tauhid, akhlak mulia, dan aturan-aturan.
Setelah kita
mempelajari surah Ar-Rahman ayat 1-4, kita dapat mengambil pelajaran, dimana
Allah sebagai pendidik utama di muka bumi dan alam semesta ini. Dalam surah
Ar-Rahman kita diajarkan menjadi pendidik yang sebenarnya, yang harus memiliki
sifat kasih sayang, dan sebagai seorang pendidik kita harus mengajari apapun
dengan sejelas-jelasnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-rasyidin. 2008.
Falsafah Pendidikan Islami. Medan: Citra Pustaka Media Perintis.
Hamka. 2000. Tafsir
Al-Azhar Juzu’ XXV11. Jakarta: Pustaka Panjimas.
Mustafa Al-
Maraghi, Ahmad. Tafsir AL-Maraghi. Semarang: CV Toha Putra.
M. Yusuf, Kadar.
2011. Tafsir Tarbawi. Jakarta: Amzah.
Nata, Abudin.
2016. Pendidikan dalam Prespektif Al-qur’an. Jakarta : PRENAMEDIA GROUP.
Yasin, A. Fatah.
2008. Dimensi-dimensi Pendidikan Islam. Malang: Sukses Offset.
[1]
A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam, (Malang: Sukses
Offset, 2008), hal. 68
[2]
Ibid, hal. 85
[3]
Ibid, hal. 89
[4]
Abudin Nata, Pendidikan dalam Prespektif Al-qur’an,(Jakarta : PRENAMEDIA
GROUP ,2016), hal. 3
[5]
Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi, (Jakarta: Amzah, 2011), hal. 58-60
[6]
Hamka, Tafsir Al-Azhar Juzu’ XXV11 (Jakarta: Pustaka Panjimas, 2000) hlm
179-182
[7]
Ahmad Mustafa Al- Maraghi, Tafsir AL-Maraghi ,(Semarang:CV Toha Putra)
hlm. 194
[8]
Ibid, hlm 195- 197
[9]
Al-rasyidin, Falsafah Pendidikan Islami (Medan:Citrapustaka Media
Perintis,2008)hlm, 148-149

Belum ada tanggapan untuk "SUBYEK PENDIDIKAN “HAKIKI” (Allah sebagai Pendidik)"
Posting Komentar